Time Blocking, Cara Mengatur Waktu untuk Bunda yang Memiliki Banyak Pekerjaan

by - 9/08/2019



Sudah dua minggu saya mencoba metode manajemen waktu yang baru. Baru untuk saya maksudnya. Kabarnya teknik ini membantu kita untuk lebih fokus dan cocok banget buat emak macam saya yang pekerjaanya nggak hanya menulis saja. Nama tekniknya adalah time blocking.

Alasan saya mencoba teknik ini karena dalam bulan ini saya memegang banyak project. Dan setelah kemarin mendapat pencerahan di kelas HIIP, How to Blog professionally, saya jadi sadar, jika ada banyak banget pekerjaan Blogger yang belum saya penuhi dengan baik dan benar. 😀

Nggak heran, blog saya rasanya kok hanya jalan di tempat, staristik nggak naik, pekerjaan konten ya gitu-gitu saja .... Pokoke nggak puas, deh.

Di sisi lain, saya merasa waktu saya semua sudah terisi dengan kegiatan; baik karena pekerjaan rumah tangga, menulis, juga belajar.

Karena itu, selain mencoba tracking time lagi, saya juga mencoba mapping, sebetulnya ada berapa jam jatah waktu yang saya miliki untuk pekerjaan menulis (blogging dan content writing).

Time blocking, alternatif cara mengatur waktu untuk Ibu dengan banyak pekerjaan


Sering stres nggak sih, karena to-do list kita tidak pernah selesai? Padahal rasanya sudah mengambil jeda hanya sebentar, cuma satu-dua tarikan napas saja? #halah
Tapi kenapa ya, to-do kok tidak berkurang, sepertinya malah makin panjang?

Kalau dari pengalaman yang saya lalui selama ini (puitis mode on), to-do nggak pernah kelar karena kita nggak realistis.

To-do yang kita buat atau tulis, ya to-do aja, nggak ada gambaran waktu kapan mengerjakan atau malah tidak untuk diselesaikan.

Pakai time mapping sebetulnya bisa, tapi kalau sedang mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu (contoh satu minggu pegang beberapa project, gitu), buat saya, time mapping nggak cukup.

Karena disana masih ada pertanyaan lanjutan, kapan dan berapa lama pekerjaan A akan dikerjakan? Bagaimana dengan pekerjaan B, berapa lama waktu yang harus dialokasikan?

Karena itulah, mulai Agustus kemarin, saya mencoba teknik time blocking.

Banyak yang mengatakan jika time blocking adalah teknik manajemen waktu pengganti to-do list.

Tapi setelah mempraktekkan teknik ini selama dua minggu, saya lebih suka menganggap jika blocking time adalah lanjutan dari to do list atau cara mengeksekusi to-do list yang telah dibuat. 

Jika dalam to do list kita hanya membuat daftar pekerjaan yang akan kita lakukan, dengan time blocking, to do list tersebut akan memperoleh gambaran waktu yang lebih nyata, kapan bisa dikerjakan, serta berapa lama pekerjaan tersebut akan dilakukan.

Sebagai ibu yang juga harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tentu Bunda sadar jika ada beberapa pekerjaan atau kegiatan yang tidak bisa Bunda geser-geser lagi waktunya. Misalnya, antar-jemput anak, menyiapkan masakan di pagi hari, membersihkan rumah, dan seterusnya.

Waktu-waktu seperti inilah yang kadang kita lupa untuk perhitungkan. Padahal justru di waktu-waktu inilah yang bisa membuat to-do kita semakin panjang.

Dengan kata lain, dengan membuat blocking time, Bunda akan memiliki gambaran waktu yang lebih realistis tentang to-do atau planning harian Bunda.

Aneka cara time blocking


Saya mengenal istilah time blocking pertama kali saat mengikuti kelas produtivitas coach Aji Darmawan. Tapi saat itu cara hanya ini digunakan sebagai waktu yang telah ditetapkan untuk belajar, bukan mengatur waktu secara keseluruhan.

Cara orang membuat time blocking memang berbeda-beda, diantaranya:

#1. Time blocking waktu kerja

Cara ini seperti cara yang dikenalkan coach Aji, yaitu mengalokasikan waktu tertentu untuk bekerja dengan durasi sesuai kebutuhan. 

Bagi kebanyakan orang, bisa saja berupa 8-9 jam kerja, mulai jam 8 sampai jam 5 sore. Dengan cara ini maka kita memiliki waktu untuk bekerja kira-kira 40 jam dalam seminggu. 

Setelah tahu alokasi yang waktu yang dimiliki, Bunda tinggal membagi waktu yang dimiliki untuk jenis pekerjaan yang hendak digunakan. 

Cara ini sangat bermanfaat untuk Bunda atau Sahabat RPB yang bekerja dalam bidang kreatif. Karena saat waktu kreatif terganggu, biasanya juga mengganggu fokus kreatif atau ide yang dimiliki.

#2. Time blocking waktu pribadi

Jika Bunda bebas menentukan waktu kerja, maka bukan jam atau hari bekerja yang ditentukan, tapi justru waktu pribadi yang sebaiknya Bunda alokasikan terlebih dahulu. 

Waktu pribadi yang dimaksud adalah waktu untuk memasak, mencuci, olahraga, dan lains sebagainya. 

Dengan melakukan time block pada aktivitas ini, Bunda akan tahu berapa waktu (juga hari) yang Bunda miliki untuk bekerja. 

Ini juga cara yang sedang saya coba sejak Agustus lalu. 

Saya menentukan terlebih dahulu waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, belajar dan mengaji, dan barulah membagi waktu yang tersisa untuk bekerja. 

Saya memilih cara ini, karena saat ayah sedang shift siang, waktu memasak jadi pindah lebih siang. Karena itu, setelah up down mencoba time blocking waktu kerja, metode blocking waktu pribadi sepertinya lebih tepat untuk saya saat ini. 

#3. Time blocking sesuai target

Cara ini cocok untuk Bunda yang target kerjanya ditentukan oleh waktu. Kerja remote sebagai customer service, admin sosial media, biasanya menggunakan target waktu dalam bekerja. 

Bunda yang sedang memiliki target tertentu (menurunkan berat badan, hapalan surat, berpartisipasi dalam ODOJ) juga bisa menggunakan time blocking ini untuk mencapai target yang diinginkan.

Misalkan Bunda harus menurunkan persentase lemak dan perlu berolahraga selama 2 jam di pagi dan sore, maka, blok waktu mama berdasar waktu tersebut.

Tahap-tahap membuat time blocking


1. Buat daftar pekerjaan, baik pekerjaan yang penting, pekerjaan penting satu, pekerjaan penting 2

2. Masukkan juga keperluan pribadi seperti mandi, masak, atau Bunda yang harus bekerja di luar rumah, masukkan juga waktu "dalam perjalanan" (commute time)

3. Pilih metode time blocking, dan buatlah  time blocking Bunda.


Gunakan warna berbeda untuk setiap pekerjaan. Waktu dalam perjalanan, menunggu anak disekolahan, termasuk waktu dead-time. Waktu ini juga perlu diperhitungkan, agar gambaran waktu Bunda lebih realistis.

Masukkan juga waktu untuk cek email dan sosial media. Karena kadang kita tanpa sadar menghabiskan waktu untuk kedua hal tersebut. Dengan mengalokasikan waktu, kita jadi tidak terjebak scrolling media sosial berjam-jam, dan akhirnya sadar, waktu satu jam sudah berlalu. 😀

Pengalaman mencoba time blocking selama 1 bulan


Time blocking pertama saya, gagal total. 😁

Karena di awal saya menggunakan metode waktu bekerja. Sayangnya, diantara waktu tersebut, sering banget mendapat gangguan seperti tiba-tiba diajak riyungan makan, ayah shift malam, jadi harus masak siangan, jadwal ngaji tiba-tiba berubah, dan lainnya.

Di minggu kedua, saya mencoba blocking waktu pribadi. Dengan cara ini pola produktivitas saya mulai terlihat.

Sayangnya, waktu produktivitas saya malah di pagi hari, saat koneksi internet lebih lancar, dan juga belum ada gangguan dari luar.

Jadi, saya memutuskan untuk bangun lebih pagi. Tapi ya, gitu deh, harus hati-hati, karena kalau malam telat tidur, besoknya pasti telat bangun. Akhirnya harus re-schedule, deh.

Alhamdulillah, di akhir minggu ketiga, tubuh saya mulai beradaptasi. Tanpa alarm pun, saya mulai bangun jam 2 pagi. 

Sejauh ini saya merasa time blocking membantu saya untuk lebih fokus pada pekerjaan, karena sudah yakin, semua sudah punya waktu untuk dikerjakan.


Oya, time blocking ini awalnya memang ribet, karena harus membuat tabel, dan teliti dengan jadwal seminggu ke depan. Tapi Insya Allah, membantu keberhasilan kita dalam mengatur waktu.


Demikian ide cara mengatur waktu untuk Bunda yang memiliki banyak pekerjaan. Semoga bermanfaat.... 😊

You May Also Like

1 komentar

  1. Wah sepertinya saya mau mencoba tipsnya nih hihi. Biar bisa mengatur waktu dengan baik

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk saat hanya pengguna Google dulu yang dapat berkomentar. Insya Allah nanti akan saya tambah dengan kolom untuk komentar Facebook.