-->

Brain Dump, Arti, Manfaat, dan Bagaimana Cara Melakukannya

manfaat journaling


Saat mengunggah tentang brain dump di status Facebook, ada seorang kawan yang bertanya, apa sebetulnya brain dump, dan apa manfaatnya. So, daripada jawabnya panjang, saya buat tulisan saja deh, tentang brain dump ini. 


Brain dump, arti dan manfaatnya

Brain dump, sebetulnya merupakan aktivitas yang biasa digunakan untuk "melepaskan" pikiran, perasaan, ide, atau apa saja yang ada dikepala,- pada media lain, misalnya buku atau catatan digital. Secara umum, brain dump membantu kita untuk menguraikan dan mengorganisasikan pikiran yang mungkin membuat kita cemas, berpikir kurang jelas (brain frog), dan lain sebagainya. 


Jika Sahabat RPB adalah penggemar film Harry Potter, tentu Sahabat ingat kebiasaan Albus Dumbledore yang suka memindahkan pikirannya ke dalam sebuah bejana (pensieve). Ya, kira-kira seperti itulah brain dumping. 


Manfaat brain dump


Hidup kita sebagai manusia tentu saja tidak hanya berfokus pada satu hal. Pekerjaan, tugas rumah tangga, tanggung jawab sosial, juga kewajiban untuk terus sebagai individu, tentu membutuhkan banyak perhatian. Tidak heran jika kita sering mudah merasa kewalahan, stres, sulit berpikir dengan kreatif, karena ... ya, terlalu banyak hal di dalam pikiran kita. 


Disinilah fungsi brain dump, membantu menjernihkan pikiran. 
Merekam pikiran dan perasaan kita di media lain akan membantu kita menemukan gambaran besar dari sebuah masalah. Sehingga kita akan lebih mudah menemukan solusi, atau tahu mana masalah yang perlu kita tinggalkan atau ditindak lanjuti. 


Dan sebagai seorang freelancer, yang kadang mengerjakan beberapa project dalam satu waktu, brain dump banyak membantu saya untuk memetakan pikiran, membantu membuat prioritas, dan tentu saja mencegah lupa. 😁


Bagaiman cara melakukan brain dump


Ada banyak cara orang melakukan brain dump, diantaranya: 

1. Mind map

Ini salah satu cara favorit saya untuk melakukan brain dumping. Saat hendak menulis artikel, atau punya rencana baru, seringkali ada banyak ide yang bermunculan di kepala. Dan dengan menuangkannya pada mind map, saya bisa melihat hal mana saja yang memang terkait dengan subject yang sedang saya kerjakan, dan mana yang tidak. 


2. Menuangkan pada catatan digital

Bentuknya bisa beragam, sebagian ada yang memilih dengan menggunakan dokumen, sementara lain memilih menggunakan journal online. 


Saya sendiri memilih menggunakan Google Keep. Fitur labelling dan warna yang ada pada Google Keep membantu saya mengkategorikan semua hal dengan lebih mudah.

3. Kertas atau buku catatan biasa

Beberapa teman saya yang menyukai bullet journal, lebih menyukai melakukan brain dump di atas kertas atau buku. Bagi mereka cara ini juga isa menjadi sarana healing yang murah meriah. 😁

Ya, siapa sih yang tidak suka mencorat-coret buku dengan gambar atau tulisan semau kita? 


Selain menggunakan Google Keep, saya juga memiliki catatan konvensional yang biasa saya gunakan untuk melakukan brain dumping. 


Catatan saya ada dua macam, lifebook dan journal. Khusus untuk journal saya membaginya menjadi empat macam, journal produktivitas, journal emosi, journal habit, dan journal bersyukur. 


Di dalam journal-journal itulah biasanya saya meletakkan brain dump, planing, dan insight harian atau quote yang tiba-tiba terlintas di pikiran. 


Agar tidak membingungkan begini saya membagi "catatan pikiran" saya. 


#1. Lifebook 


Ini merupakan buku besar semua perkembangan hidup saya. Tujuan hidup saya, alasan saya memilih tujuan tersebut, break down rencana mewujudkan, pencapaian penting dalam hidup -, semua ada di buku ini.  Dan tentu saja, jika ada brain dump terkait tujuan hidup, saya tulis disini juga. 


Lifebook ini tidak saya tidak saya sering isi, hanya di awal dan akhir tahun, atau saat ada momen tertentu yang sekira bisa mengubah life plan saya. 


#2. Journal


Pada journal lah, semua catatan keseharian biasanya saya simpan. 

Seperti namanya, journal adalah catatan keseharian yang memiliki tema tertentu. Dan milik saya adalah journal produktivitas, journal emosi, habit, dan bersyukur.

Saya memilih empat hal tersebut, karena empat hal itulah yang menjadi hal penting dalam hidup saya. 


Journal produktivitas saya berisi catatan ritme produktivitas sehari-hari. Isinya antara lain: 

  • Project yang sedang saya kerjakan
  • Bagaimana saya menyelesaikan pekerjaan 
  • Berapa lama waktu saya bekerja dan menghasilkan berapa (log focus)
  • Trial sistem produktivitas 
  • Insight harian saya
  • Brain dump terkait pekerjaan

Journal kategori ini paling tebal, karena saya menyimpan semua pikiran dan rencana karir saya disini. 


Journal yang kedua adalah journal emosi. 

Journal ini saya buat karena dulu saya punya kecenderungan overthinking dan ini sering membuat emosi saya naik turun. Di journal ini saya biasa menuliskan hal kurang baik yang terjadi, bagaimana saya menghadapinya, dan insight atau hikmah apa yang saya peroleh dari kejadian tersebut. 

Journal ini banyak membuat saya lebih tenang, dan mengendalikan overthinking saya. Sedikit membuat saya lebih bijak juga sih, #eh 😃


Journal ketiga adalah journal habit atau catatan kebiasaan yang sedang saya bangun.  

Tapi journal ini bukan habit tracker ya,. Karena saat ini saya masih menggunakan habit tracker di aplikasi ticktick saya hanya menggunakan journal habit ini sebagai review perkembangan habit saja. 

Misalnya kebiasaan olahraga selama bulan juni berapa persen, tilawah setelah sholat berapa persen, sarapan buah berapa persen dan lain sebagainya. 

Biasanya saya mengisinya di akhir bulan, atau saat tiba-tiba ada hal baru terkait dengan habit yang sedang saya bangun. 


Bagaimana denga jurnal bersyukur atau gratitude journal? Ya, tentu saja berisi catatan hal-hal apa yang saya syukuri di hari berjalan. 


Banyak ya, catatan saya? 

Ya, begitulah, hidup saya memang penuh dengan tulisan. 😁


Seperti yang pernah saya tulis pada artikel "Manfaat Journaling", semua catatan tersebut sebetulnya hanya berfungsi sebagai tracker. Dalam ilmu perkembangan diri, semua hal yang tidak dicatat, maka tidak akan bisa dilihat kesalahan dan kemajuannya. Akibatnya, kita pun akan kesulitan melihat perkembangannya. 


Dan tentu saja, inilah cara saya untuk melakukan brain dumping, mengeluarkan pikiran atau apa yang dirasakan pada media lain, tepat seperti pensieve-nya Dumbledore. 😀 Terkadang membaca journal membuat saya bersyukur dan bangga, bahwa sudah ada banyak perubahan yang saya buat. Mengetahui hal ini memotivasi saya untuk terus belajar dan tumbuh, juga yakin jika pada saatnya, saya akan sampai pada tujuan.


Ide-ide yang saya simpan di Google Keep, selain membantu saya tidak melupakan hal penting, juga biasa menjadi sumber inspirasi saat saya butuh ide-ide segar untuk project yang berjalan. 


Jadi, yuk, biasakan untuk melakukan brain dump, agar pikiran lebih lega, dan kita bisa menghasilkan hal-hal kreatif yang bermanfaat untuk sesama. 


Terima kasih sudah bersedia berkunjung, semoga ulasan di atas bermanfaat untuk Sahabat. 

Rahayu Pawitri for rahayupawitriblog.com

1 komentar

  1. Baru-baru ini udah sering nemuin kayak Juny Dump dan bulan-bulan lainnya baru tahu ada brain dump. Unik juga ternyata, sama seperti self healing sistemnya tapi lebih cenderung ke melepaskan perasaan. Mantep bisa diterapkan ini, terima kasih sharingnya!

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan komentar atau pertanyaan terkait dengan artikel di atas. Oya, komentar dengan link tidak akan di publikasi, ya.
Untuk kerjasama dan diskusi lanjut, silahkan temukan saya di WA 08131 2658 622 atau rahayupawitri@gmail.com