-->

Inspirasi Cara Mengatur Waktu dari CEO Indscript, Indari Mastuti

tips mengatur waktu untuk ibu rumah tangga dan bekerja


Mengatur waktu bagi seorang ibu rumah tangga sangatlah penting. Manajemen waktu yang baik bisa membantu ibu menyelaraskan peran sebagai ibu rumah tangga, profesional, anggota masyarakat, dan kebutuhan ibu untuk tetap belajar dan bertumbuh. 


Sahabat RPB tentu sudah banyak membaca tips produktivitas di blog ini. Nah, kali ini kita belajar dari ibu Indari Mastuti, yuk, Founder Ibu-ibu Doyan Nulis, Ibu-ibu Doyan Bisnis, dan CEO Indscript. 


Seperti yang ceritakan di artikel "Indscript, Membantu para Ibu untuk Produktif dari Rumah", bu Indari adalah satu sosok yang menjadi panutan saya. Saya belajar tentang mengatur waktu pertama kali dari Beliau, tepatnya tahun 2013, saat seorang kawan mengajak saya bergabung di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis. Sebagai seorang ibu dan pebisnis, kesibukan Beliau sangatlah banyak, tapi Beliau selalu punya waktu untuk upgrade diri dan memperhatikan keluarganya. 


Guna mendukung jaringan bisnis, komunitas, sekaligus sebagai salah satu wujud dari misi Beliau membantu para ibu produktif dari rumah, ibu Indari saat ini rutin mengadakan pembelajaran pagi. Kegiatan pagi yang diberi nama "Sarapan IIDB" ini dilakukan setiap jam 6.30 WIB, waktu-waktu hectic bagi para ibu. 😁 


Bisa Sahabat RPB bayangkan, bagaimana Beliau rapi sekali mengatur waktu, jam 6.30 saja sudah bisa tune in menyapa jaringan dan anggota komunitasnya. 


Mau tahu bagaimana ibu Indari mengatur waktu? Terus baca sampai tuntas, ya. 


Cara mengatur waktu agar ibu rumah tangga tetap bisa belajar


Sudah dua bulan ini saya bergabung dalam salah satu grup bisnis bu Iin, begitu saya biasa memanggilnya. Di dalam grup ini, Beliau seringkali mengingatkan kami, para ibu hectic tapi suka nambah penghasilan, agar senantiasa belajar hal baru. Belajar apa saja, yang bisa membantu kami untuk produktif dari rumah. 


Saat Beliau mengingatkan tentang kewajiban belajar, saya ingin banget bertanya apa tips Beliau agar kami bisa punya kesempatan untuk belajar. Alhamdulillah, saya dapat jawabannya di "Sarapan IIDB" edisi Senin, 30 Mei 2022, dengan topik "Cara Ibu Tetap Belajar Meski Sibuk Mengurus Keluarga dan Bisnis." 


Berikut ini tips yang Beliau bagikan. 


#1. Mulai dari perencanaan


Sudah bukan rahasia jika pekerjaan ibu rumah tangga itu banyak, apalagi jika ia juga berprofesi ganda. Tanpa memiliki perencanaan matang, kemungkinan besar ibu akan kesulitan memenuhi kewajiban sebagai ibu rumah tangga dan kewajiban profesionalitasnya. 

Jadi, planning bagi seorang ibu bekerja, planning tidak hanya tentang deadline, sub task, dan lainnya. Bagaimana pekerjaan rumah tangga akan dikerjakan, juga perlu direncakan. Misalkan merencanakan menu harian untuk keluarga. 

Sepeti yang ibu Indari contohkan, Beliau memiliki rencana menu harian dan bekal untuk anak selama sepekan (seingat saya, Beliau malah punya rencana masakan selama sebulan). Agar lebih mudah, libatkan anak dalam menyusun menu bekal atau makanannya sehari-hari. 


Supaya di pagi hari urusan dapur bisa selesai lebih cepat, ada baiknya bahan masakan sudah disiapkan di malam hari. Misalnya bumbu-bumbu sudah dicincang, sayur dan lauk goreng sudah dipotong-potong dan lain sebagainya. Siapkan juga perlengkapan untuk bekal anak (botol, tempat bekal) di satu tempat agar saat dibutuhkan, tidak perlu mencari lagi. 



Memiliki rencana masakan tidak hanya akan membantu ibu menghemat waktu di dapur, tapi juga menghindari keributan di pagi hari. 


Coba ibu ingat, betapa sulitnya memilih menu masakan setiap hari. Mau bergerak ke pasar saja berat, karena bingung mau beli apa. Sampai di pasar malah asal beli, mana yang terlihat enak di hati. Giliran sampai rumah, masih bingung mau masak apa dengan bahan yang dibeli. Aduh, stres combo jadinya! 😀😀 


Oya, ada satu hal lagi yang kadang tidak banyak orang sadari, memiliki rencana membantu kita menghemat energi pikiran karena tidak perlu berkali-kali membuat keputusan. Pikiran kita sesungguhnya juga punya energi. Jika dipakai terus-menerus untuk membuat keputusan, energi tersebut bisa habis dan membuat kita mengalami decision fatigue. Akibatnya kita susah fokus, kreativitas terhambat, dan susah membuat keputusan-keputusan penting dengan tepat. 


Parahnya lagi, energi untuk membuat keputusan sepele ini sama banyaknya dengan energi yang digunakan untuk membuat keputusan-keputusan penting. Kebayang dong, "kerugian" kita jika energi habis hanya untuk membuat keputusan, "Hari ini mau masak apa". 


Jadi, yuk Bu, mulai belajar mengatur waktu dan membuat rencana. 


#2. Komunikasikan kegiatan ibu 

Tips yang kedua adalah mengomunikasikan kegiatan ibu pada anak.


Mengomunikasikan rencana kegiatan ibu kepada anggota keluarga membantu mereka menyesuaikan kegiatan. Cara ini juga bisa melatih anak untuk memahami kapan ibu beraktivitas bersama, dan kapan ibu perlu bekerja. 


tips mengatur waktu untuk ibu rumah tangga dan bekerja
Mengatur ritme aktivitas anak, membantu ibu 
membangun sistem manajemen waktu yang tepat


#3. Patuhi jadwal tidur 

Tidak disiplin dengan jam tidur bisa mengganggu aktivitas harian ibu. Tidak hanya beresiko bangun kesiangan, tapi kebutuhan tidur ibu juga akan terganggu. 

Hubungan mengatur waktu dengan disiplin waktu tidur memang seperti lingkaran yang tidak ada ujung  pangkalnya. Dengan mengatur waktu, ibu akan mampu mematuhi jam tidur, dan dengan mematuhi jam tidur usaha ibu untuk mengatur waktu akan lebih sukses. 

#4. Delegasikan sebagian pekerjaan

Ibu juga perlu mempertimbangkan untuk mulai mendelegasikan tugas. 

Mendelegasikan tugas ini tidak selalu harus memilik ART di rumah, ibu bisa menggunakan jasa laundry untuk tugas mencuci dan setrika baju misalnya; tugas anta-jemput anak dengan jasa ojek atau bus antar-jemput dan lain sebagainya. Silahkan ibu pilih dan sesuaikan dengan kemampuan ibu. 


Yang penting jangan pernah fokus pada masalah, tapi fokuslah pada solusi. Jika tidak bisa delegasi dengan cara A, maka pilihlah B, C, atau yang lainnya. Sistem mengatur waktu tidak perlu harus ideal seperti orang lain, lakukan saja apa yang bisa dilakukan. Seringkali penyempurnaan itu bisa dilakukan sambil jalan. 


Kadang kala, yang kita butuhkan hanya lakukan saja. Kondisi ideal, sempurna, lakukan saja sambil berjalan. 

Masalah yang mungkin ibu hadapi saat berusaha mengatur waktu 

Sistem mengatur waktu setiap ibu tentu berbeda-beda. Kita tidak bisa meng-copy paste kegiatan ibu Indari plek-ketiplek tanpa membuat penyesuaian apapun. Toh salah satu prinsip produktivitas memang  personal kan sifatnya? 


Nah, beberapa curhatan ibu-ibu saat acara tadi pagi di bawah ini mungkin membantu ibu mendapatkan sistem mengatur waktu yang tepat. 

#1. Ibu sering mengikuti ritme anak, misalnya anak balita yang sering tidur malam, apa yang perlu dilakukan
Solusi: latih anak untuk mengikuti ritme aktivitas yang tepat. Tidur larut tidak baik untuk anak. Karena itu ibu perlu mulai membangun rutinitas yang tepat dan sesuai untuk anak. 

Saat ini banyak tips parenting yang dibagikan di media sosial atau YouTube. Ada banyak sekali tips parenting yang bisa ibu tiru dan aplikasikan. Daripada scrolling konten yang kurang bermanfaat, lebih baik gunakan saja untuk mencari solusi masalah kita. 


#2. Kegiatan banyak, bingung mau mulai darimana. 
Solusi: mulai buat scheduling, dan dicatat agar review dan koreksi mudah dilakukan.


#3. Bangun pagi bolehkah tidur lagi? 
Jawaban: fleksibel, yang penting ada obrolan dengan anak. Biasakan juga mengomunikasikan kegiatan dengan anak. Jangan biasakan mengikuti kemauan anak terus agar kedisiplinan lebih mudah dijaga. 


#4. Bagaimana jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan sampai pagi?
Solusi: buat to-do list dan mulai buat prioritas. Usahakan tetap mematuhi jadwal tidur. 


Ibu juga bisa memilih melakukan pekerjaan dengan multitasking. Tentu saja, pilih pekerjaan yang mempunya tingakt atensi atau fokus yang berbeda, misalnya menunggu cucian digiling sambil menyapa grup reseller, membaca buku, melakukan stretching, dan masih banyak lagi. 



Itulah beberapa inspirasi mengatur waktu ibu rumah tangga agar dapat memiliki waktu untuk belajar.


Sumber artikel: Channel YouTube Rumah Teh IIn



Penasaran dengan prinsip produktivitas dan membuat prioritas? 
Artikel saya di motiva.id dan retizen ini mungkin membantu





Apakah Kamu Merasa Sedih Saat Ramadhan Berakhir?

saat ramadhan berakhir

Lebaran hari ke-4. 

Saat mendekati lebaran kemarin, saya nemu beberapa status iseng, nanyain 

"Yakin, kamu sedih karena Ramadhan pergi? Bukannya kamu seneng karena sudah lebaran?"


Well, pertanyaan tersebut cukup bikin nyengir, sih. 😁 Berpotensi membuat pertentangan di hati, dijawab "enggak", kok rasanya jadi hamba yang buruk gitu. Di jawab "iya", tapi kenyataannya seneng. Orang iseng itu memang ngeselin, ya. 😀


Jujurly, saya termasuk golongan kedua, "seneng karena lebaran sudah datang."


Ya, saya tahu, ada banyak pahala di bulan Ramadhan, tapi sepertinya iman saya belum seindah itu untuk merasa melow ketika Ramadhan pergi. 


Dan hei, siapa yang tidak suka lebaran; waktu untuk ketemu dengan sanak saudara dan keluarga besar yang tinggal berjauhan bukan? Apalagi seperti saya, kesempatan tersebut kadangkala hanya datang sekali setahun. Pulang kampung perlu nunggu anak atau suami libur kerja cukup panjang. 


Ya saya tahu sih. di luar sana ada beberapa teman, yang sudah mengubah budaya keluarga dan pandangannya tentang Idul Fitri. Hari raya besar mereka adalah Idul Adha, bukan Idul Fitri.

But again, itu belum terjadi di keluarga saya. Paling tidak sampai lebaran 1443 H ini, kami masih dengan budaya yang sudah turun temurun, Idul Fitri adalah hari raya yang sesungguhnya. So, asli saya seneng tuh, kalau lebaran sudah datang. 😁


Alasan yang kedua, karena sampai saat ini saya menganggap Ramadhan adalah bulan latihan. Yap, latihan untuk menyeimbangkan ibadah dan urusan dunia, mengusahakan bekal akhirat, tapi tetap mengusahakan dunia dengan sebaik-baiknya. So, the real challenge will be those days after Ramadhan


Setidaknya, sampai saat ini, ukuran keberhasilan saya beribadah adalah bagaimana saya mempertahankan kebiasaan baik selama Ramadhan selama setahun ke depan. 


Lalu bagaimana jika tahun depan tidak ada lagi kesempatan bertemu Ramadhan? Ya, itu kan sudah takdir, sudah tertulis dari jaman saya belum lahir. Itulah mengapa fokus saya malah pada bagaimana setiap hari memperbaiki ibadah, nggak hanya di bulan Ramadhan. Challenging banget itu. Ciyus deh. 😁.


Bagaimana dengan pahala? Ya tentu saya pengen. Tapi gimana ya, pahala kan di luar kendali saya juga, tugas saya mengusahakan sebaik-baiknya. Dan bagi saya, kalau selepas Ramadhan bisa mengusahakan kebiasaan baik seperti saat Ramadhan, -interaksi dengan Al-Quran tetap intensif, sholat tepat waktu, ibadah sunah malam tidak ketinggalan-, itu sudah termasuk pahala. 


Bener, lho, asli nggak gampang ibadah seperti itu, apalagi bila Sahabat hidup di lingkungan yang kuantitas ibadahnya "B" aja (saya nggak bilang kualitas ya, susah dinilai itu). 


Karena itu, usai lebaran begini, saya biasanya mulai review bagaimana saya menjalankan ibadah saat Ramadhan kemarin. Apalagi di tahun ini saya berusaha menyiapkan "membangun good habit saat Ramadhan" dengan lebih baik. Jadi agak exiciting gitu, review-nya, he he he. 


Ya, usaha saya memang tidak sekeren mereka yang dapat khatam Al-Qur'an berkali-kali di bulan Ramadhan. Bagi saya yang kuantitas ibadahnya (dan mungkin kualitas juga) masih "B" aja, sanggup membiasakan diri dengan konsisten itu sudah keren banget. 


Eh, ini nggak bermaksud sombong, ya, sekedar menghargai usaha diri sendiri saja. Modal membangun kepercayaan diri, bahwa hal yang awalnya saya pikir nggak mungkin, bisa juga saya kerjakan. Yang saya butuhkan hanya usaha, melebarkan sedikit zona nyaman


Jadi, bagaimana dengan Sahabat RPB, apakah biasanya merasa sedih saat Ramadhan berakhir? Share dong, ceritanya. 


PS. Semua yang saya tulis di atas hanya pendapat pribadi, ya, jangan dijadikan ukuran dan pedoman untuk Sahabat RPB. Dan jika pemikiran saya salah, tolong dikoreksi, ya. Colek saja saya di WA atau Instagram @rahayu_pawitri. Thank you for dropping by ....

How to Choose Bodysuit for Pear-shaped Women

bodysuit for pear-shape



As women, we often think that choosing the right clothes to wear is not easy. No wonder, guideline articles on how to choose perfect clothes are always on-trend. 

Well, in my opinion, choosing your best clothing should not be a daunting task as long as you know what is your shape and the clothes you are comfortable in. 

So, when it comes to choosing a bodysuit, let's start our hunting from our body shape. 

Choosing the perfect bodysuit for Pear-shaped 


If we summarize all of the tips from the clothes guiding articles that guide, there are two important measurements that must be considered in choosing clothes, those are model and size. 

But before jumping into a specific style for pear-shaped, let's remember some characteristics that often apply: 

Our hips and thighs are wider than our body 
We have a gorgeous waist, which is smaller than our hips 

So, what kind of bodysuit is perfect for pear-shaped women? 

 #1. Best style for pear-shaped 

Some of the advice we often get is to balance our shoulders, bust, waist, and hips. We also can do it by emphasizing our favorite parts and being smart about the colors we choose. 

So, if you love your waist most, you can opt for a bodysuit that shows your waist more like those with a belt or a structured waistline will define your smallest part. 

bodysuits for women
Pict. source: popilush.com



Another option to choose is a bodysuit that focuses on top detail, like a bodysuit with a dramatic neckline, or a V neckline. 

#2. The size 

One of the reasons why we love bodysuits is because they help us to tuck in our shirt or those high-waisted pants which just won’t cooperate. It also helps us to have more options on style. 

Thus it is important to choose the perfect size to wear. You may ever hear that we should go one or two upper than our original size. But it is best to go with the basic guidelines when choosing  bodysuits for women. 

Pict. source: popilush.com



The first thing we should consider is the length. Of course, we all want it to cover us without it riding up or being too baggy. So it is best to have it a try before deciding to bring it home. Don't forget to wear your best sports bra and do a few squats when you try it on.   

As for the overall fit, check how it fits your bum, bust, and tummy. There should not be any underarm spillage, a cheeky indent on your bum, or constricting feeling. 

Another option is choose a two pieces bodysuit, which allowing you to go with so many clothes. 

bodysuit for pear-shape
Pict. source: popilush.com



We hope this guide helps you to choose your best one or two (or perhaps three) bodysuits. Happy shopping.