-->

Meraih Keberkahan Waktu Lewat Membangun Kebiasaan Baik Baca Al-Qur'an di bulan Ramadhan

agar bisa baca Qur'an seusai sholat


Bulan Ramadhan tinggal hitungan hari. Sebagian kita mungkin sudah mulai menyiapkan keperluan selama bulan puasa. Daftarnya bisa mulai bayar hutang puasa, menyiapkan aneka resep yang mudah dimasak di bulan puasa, hingga sounding ke anak apa yang harus dilakukan saat bulan Ramadhan nanti. 


Beberapa teman blogger juga mulai menulis artikel seputar bulan Ramadhan, seperti mbak Anis Khoir, Blogger Tuban yang menulis topik tips puasa saat menyusui, mbak Arinta (mamakepiting.com) dengan resepnya, dan masih banyak lagi.


Aku sendiri memilih memulai membangun kebiasaan baik membaca Al-qur'an selama 15 menit setiap habis sholat, dan dalam keadaan puasa. 


Kebiasaan baca Al-Quran sebetulnya sudah terbentuk, tapi tiap kali puasa, rasanya kok berat banget; terutama kalau habis sholat Dhuhur dan Asar. Bawaanya tuh, pasti pengen merem aja. Sementara tahun ini aku pengen bisa khatam Al Qur'an dalam sebulan. 


Artikel terkait: Agar Bisa Baca Qur'an Seusai Sholat


Dibayangan aku, target khatam Al-Qur'an selama Ramadhan masih terlihat besar dan berat, nggak yakin juga kalau aku bisa konsisten. Jadi, daripada langsung "terjun" masuk bulan Ramadhan bongkar pasang jadwal untuk kejar target, mendingan sebelum Ramadhan aja aku mulai cobain pola waktu yang pas agar target baca qur'an selaras sama aktivitas sehari-hari. 


Upaya meraih berkah waktu dengan membangun kebiasaan membaca Al-Qur'an

Judulnya keren, ya? 😀 

Tapi memang itu sih yang jadi salah satu resolusiku tahun ini, punya keberkahan atas waktu. Salah satu cirinya adalah bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan meski dalam waktu terbatas. 


Ide tentang berkah waktu ini aku peroleh dari cerita coach Darmawan Aji. Beliau pernah bertemu dengan seorang profesor yang menulis dua buku dalam bahasa arab setebal lebih dari 1000 halaman. Yang paling keren, aktivitas bapak Profesor ini banyak (mengajar, nulis buku, mengisi kajian), tapi selalu punya waktu untuk mengkhatamkan Al-Qur'an setiap minggu. 😮


Menurut bapak Profesor tersebut (maaf ya, aku lupa nama Beliau), inilah salah satu ciri dari keberkahan waktu; waktu yang kita miliki tidak banyak, tapi kita sanggup menyelesaikan target-target yang bermakna. 


Alasan kedua, selama ini setiap bulan Ramadhan, pekerjaanku malah sering keteteran. Dugaaanku, mungkin karena aku mesti masak lebih banyak, kalau hari biasa cukup sekali, maka di bulan Ramadhan jadi dua kali. Belum lagi harus kompromi dengan badan yang lemes dan mudah ngantuk. 


So, mumpung lagi punya target pengen bisa khatam Al-Qur'an selama Ramadhan, plus cari ritme yang pas buat kerja, ya udah sekalian aja, aku coba bangun sistem produktivitas lewat kebiasaan baca Al-Qur'an seusai sholat. 


Eh, tapi memang ada hubungannya antara sistem produktivitas sama baca Qur'an? 


Gini lho, buat muslim itu produktivitas tidak hanya terkait dengan "mampu menyelesaikan X pekerjaan dalam waktu Y", enggak gitu. Produktivitas dalam Islam itu tujuannya untuk menyeimbangkan tubuh, pikiran, dan jiwa.


Jadi, kalau ada porsi untuk kebutuhan dunia, maka perlu ada juga porsi untuk kebutuhan spiritual/ jiwa, dan juga sosial. 


Langkah untuk membangun kebiasaan baik baca Al-quran


Dan inilah pengalamanku saat mencoba membangun kebiasaan baca Al-Quran 15 menit seusai sholat. 


#1. Menentukan tujuan besar

Langkah pertama yang aku lakukan adalah menentukan tujuan besar terlebih dahulu, yaitu khatam quran selama Ramadhan. 


#2. Menentukan performance goals

Pernah dengar tentang performance goals dan goals process? Kedua goals ini termasuk dalam sub goals/ sub tujuan. 


Untuk mencapai sebuah tujuan besar, sudah sewajarnya kita membuat performance goals dan process goals. Saat membangun kebiasaan baik, action yang perlu kita lakukan sebaiknya mudah untuk dilakukan dan tidak membuat kita terllau terbebani. Dengan kata lain, aktivitas yang kita lakukan itu perlu yang actionable. 


Kadangkala, performance dan process goals ini jauh sekali dari tujuan besar. 

Misalnya, target atau tujuan yang diharapkan adalah sanggup lari maraton. Maka performance goal-nya bisa berupa "bagaimana berlari dengan benar" (lari dengan teknik tepat akan membantu mengatur ritme lari), sementara proses goal-nya adalah "lari setiap pagi keliling komplek sebanyak 8 putaran."


Kegiatan lari tersebut mungkin memang tidak mencerminkan jika "sanggup lari maraton", tapi kegiatan itu akan memberikan landasan yang kuat agar bisa lari maraton. 


Terkait dengan goal yang aku tetapkan, maka performance goal-ku adalah

  • Mencoba teknik mengatur energi agar tidak mudah ngantuk
  • Mengatur waktu agar setiap hari kebutuhan tidur terpenuhi


Sementara proses goal-ku adalah membaca Al-Qur'an selama 15 menit seusai sholat. 


Kedua goals ini memang bukan goals besar, tapi dari dua goals inilah aku berharap bisa membangun sistem (cara khusus) yang membantu bisa khatam Al-Qur'an


#3. Menentukan kuota terkecil

Tujuan dari penentuan ukuran terkecil ini untuk mencegah aku dari menghukum diri sendiri, sampai akhirnya memilih berhenti atau tidak melakukan karena alasan tidak sanggup memenuhi target. 


Seperti kita tahu, dunia itu tidak seindah drama korea, eh, maksudnya hidup kan nggak selalu berjalan sesuai rencana. Kadang jadwal sudah rapi dibuat, eh, nggak tahunya bangun kesiangan, anak tiba-tiba sakit, internet yang lelet bikin waktu kerja molor dan lain sebagainya, dan seterusnya. 


Dengan menentukan kuota terkecil, kita memotivasi diri kita sendiri agar tetap melakukan kebiasaan meski standarnya tidak sempurna 100%. Kalau James Clear bilang, "Reduce the scope, but stick to the goal"


Dan kuota terkecilku adalah "kalau tidak sanggup membaca 15 menit, maka paling tidak membaca 20 ayat".


#4. Antisipasi hambatan

Selain menentukan kuota terkecil, cara mengatasi hambatan yang mungkin muncul juga perlu ditentukan. 


Masalah terbesarku adalah, ngantuk 😀😀, terutama kalau habis sholat dhuhur. Agar target tercapai aku bisa dua pilihan, tidur sebelum dhuhur, atau membaca sesuai dengan kuota terkecil. 


Masalah yang kedua adalah jam sholat Asar biasanya adalah waktu masak. Jadi biar target baca Al-Qurannya nggak terganggu, maka pagi hari aku bisa potong sayur terlebih dahulu agar masak bisa tetep dilakukan seusai baca Qur'an. 


Hasil percobaan selama dua minggu

Susah, Mak ....! 😀
Aku bolak balik kebayang waktu kerja melulu. 😁
Sekuat tenaga aku afirmasi, "setiap aktivitas ada waktunya. Tenang, kamu sudah perhitungkan semua. Ayo, dicoba". 😀😀😀


Aku juga coba mengubah tujuan menjadi identitas, "mau jadi muslim yang seperti apa" biar goals proses tuh tercapai dengan lebih mudah. (Oya, ada dasar ilmunya sih, pemikiran ini, nanti kapan-kapan aku tulis, ya)


Hasilnya Alhamdulillah cukup lumayan, aku bisa selesai 5 juz. Prosentase bolong dari usaha baca 15 menit juga kecil, 20%. 



Oya, kondisi aku waktu itu bener-bener puasa full, karena kebetulan puasa tahun lalu belum kelar bayar. 



Masalah mulai datang di minggu kedua, saat si Ayah jadwal kerjanya bolak-balik berubah. Aku kurang tidur, dan akhirnya ambruk. Padahal minggu kedua ini aku puasanya selang-seling lho, nggak full seperti minggu pertama. 



Ya, begitulah, gangguan saat membangun sistem tuh memang akan selalu ada. Tapi pengalaman di minggu pertama, Alhamdulillah sudah bisa memberi gambaran, kendala dan solusi yang bisa aku lakukan agar target khatam Qur'an tercapai.


Hal lain yang aku peroleh adalah aku nggak bisa kompromi dengan masalah tidur, Kuota tidur 6-7 jam sepertinya wajib aku penuhi jika nggak pengen ambruk. Belum ketemu gimana akan ngaturnya, tapi kemarin dapat ide dari productive moslem untuk membagi waktu istirahat dalam 2-3 term. Belum aku pelajari lebih jauh sih, Insya Allah nanti aku coba baca lagi. 


Oke, itulah kegiatanku untuk mempersiapkan Ramadhan tahun ini. Semoga bisa jadi ide Sahabat RPB untuk mempersiapkan Ramadhan, ya. 


Oya, bagaimana denganmu, Mak, persiapan apa yang sudah kamu lakukan untuk menyambut bulan Ramadhan? Punya usaha membangun kebiasaan baik juga? Yuk, share. 


Rahayu Pawitri
untuk rahayupawitriblog.com