-->

Mitos Kusta dan Upaya Pemberantasan Kusta di Indonesia

Mitos kusta dan upaya pemberantasan kusta

 

Apa yang Sahabat RPB bayangkan saat mendengar kata kusta? 


Dulu pertama kenal kusta dari sinetron jadul di TVRI (sayang, lupa judulnya), saat bocah pemeran utama dilarang bergaul dengan seorang kakek pembuat tembikar yang menderita kusta. Diceritakan dalam sinetron tersebut, jika si Kakek bisa menularkan kusta, penyakit kulit yang dapat membuat kita kehilangan salah satu anggota tubuh. 


Cerita dalam sinetron itu bener-bener membekas lho, di ingatan saya. Sampe dulu kalau ketemu orang dengan kelainan kulit jadi mikir yang enggak-enggak. 


Dan ternyata, hingga saat ini stigma di masyarakat tentang penyakit kusta masih tetap ada. 


Mitos penyakit kusta


Ada beberapa mitos tentang penyakit kusta yang masih terus dipercaya oleh masyarakat, diantaranya

#1. Kusta mudah menular

Banyak yang beranggapan (termasuk saya) jika kusta bisa menular hanya dengan bersentuhan. Akibatnya, banyak penderita kusta yang kemudian dikucilkan. 


Kusta akan menular jika penderita batuk atau bersin (droplet), dan udara yang tercampur dengan bakteri penyebab kusta terhirup oleh kita. Tapi ini pun tidak begitu saja menginfeksi. Orang dewasa yang punya kekebalan tubuh yang baik, akan sulit tertular penyakit ini. 


Kusta akan mudah menular jika si penderita terlambat atau tidak segera diobati. Karena itu, jika menemui orang yang terindikasi menderita kusta, sebaiknya kita tidak buru-buru mengucilkan. Tapi mintalah padanya untuk segera memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat agar segera mendapat perawatan. 


Di Puskemas nanti, petugas kesehatan akan memberikan panduan bagaimana cara minum obat agar cepat sembuh. 


#2. Kusta tidak bisa disembuhkan

Kepercayaan ini juga membuat penderita kusta dijauhi oleh masyarakat. Faktanya, penderita kusta memiliki kesempatan bisa sembuh total, dan tidak akan menulari orang lain bila sudah sembuh (Penderita kusta butuh waktu penyembuhan selama 6-12 bulan agar dapat sembuh dengan tuntas). 


Kusta juga tidak akan menular jika penderita sudah minum obat. 


Kemungkinannya untuk re-infeksi (terinfeksi kembali) juga sangat kecil; tapi bisa mengalami reaksi seperti nyeri saraf, dan demam). Karena itu bila kita mengenal kawan, atau keluarga yang terindikasi kusta, bantu penderita untuk mau menjalani pengobatan hingga tuntas. 

#3. Kusta menyebabkan penderitanya cacat

Faktanya, bakteri penyebab kusta biasanya akan menyerang saraf, dan membuat si penderita tidak merasakan sakit (mati rasa). Akibatnya, jika bagian tersebut luka, penderita tidak akan menyadari, dan memicu kerusakan yang permanen. 


Kondisi ini sebetulnya dapat dicegah jika penderita segera melapor ke Puskesmas. Di Puskesmas nanti, penderita akan di bimbing bagaimana menangani bagian tubuhnya saat terjadi luka atau mengalami infeksi penyakit lain. 

Upaya pemerintah memberantas kusta dan memperbaiki stigma di masyarakat

Banyak yang mengira, penyakit kusta sudah tidak ada di Indonesia. Kenyataanya, justru Indonesia menduduki peringkat ketiga terbanyak terkait dengan jumlah penderita kusta. 


mitos kusta dan upaya pemberantasan kusta


Ada beberapa upaya yang pemerintah telah lakukan untuk memberantas dan mengubah stigma di masyarakat tentang Kusta di masa pandemi ini. Seperti yang disampaikan oleh bapak Komarudin, S. Sos.M.Kes, dalam obrolan Ruang Publik bersama KBR, Wasor Kusta Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. 

1. Mengkampanyekan 3M dalam menangani kusta. Dan tidak hanya penderita, tapi petugas kesehatan pun wajib melaksanakan prokes 3M ini. 
2. Mengadakan program perekrutan petugas/ kader untuk mencegah perluasan kusta.
3. Mengadakan pemeriksaan kelainan kulit. 
4. Melatih penderita yang sudah sembuh agar mampu memberikan testimoni guna mengurangi stigma kusta di masyarakat. 
5. Memberikan pelatihan ketrampilan hidup kepada penderita agar kelak mereka dapat mandiri dan memenuhi kebutuhan hidupnya. 


Sebagai anggota masyarakat, kita juga dapat mendukung upaya pemerintah dalam pemberantasan dan mengubah stigma kusta ini dengna tidak mengucilkan atau mendiskriminasi penderita kusta. 


Seperti yang disampaikan oleh bapak Dr. Rohman Budijanto SH Mh , Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-otonomi-JPIP; media nasional Jawa Pos yang tidak membedakan antara calon tenaga kerja yang sehat jasmani atau disabilitas. Termasuk apakah calon tenaga kerja menderita kusta ataupun tidak. Bagi Jawa Pos, fisik seseorang tidak akan mempengaruhi, selama skill atau ketrampilan bekerja mereka sesuai dengan kebutuhan Jawa Pos. 


Saat ini, vaksin untuk mencegah penyakit kusta memang belum ditemukan, tapi dapat didiagnosa sejak dini agar pengobatan dan perawatan yang tepat dapat segera dilakukan. 


Tidak ada komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan komentar pada pertanyaan atau hubungi WA 08131 2658 622 untuk kerjasama dan diskusi.