-->

Pengertian dari Penyakit Maag, dan Pebedaannya dengan Penyakit Gastroentritis dan GERD

penyakit-maag-dan-bedanya-dengan-gastroenteritis-dan-gerd


Sudah tahu belum apa beda pengertian dari penyakit maag? Apakah betul menyebut maag sama dengan asam lambung? Kira-kira apa bedanya dengan GERD? 

Sama-sama penyakit perut, ternyata ketiga penyakit mempunyai perbedaan yang besar, terutama penyebab dari ketiga penyakit tersebut. 

Maag, dan perbedaanya dengan Gastroentritis dan GERD


Tiap telat makan atau salah pilih jenis kopi hitam, lambung saya pasti protes. Perut langsung nggak nyaman, melilit, dan rasanya seperti ada banyak angin dalam perut.  

Kalau ditanya Hana saya sakit apa, biasanya saya suka bilang kalau maag kambuh dan asam lambung naik ke tenggorokan. 

Eh tapi, jawaban saya ini salah, lho; ada beda antara sakit maag, dan asam lambung yang naik. Simak yuk, perbedaan ketiganya pada uraian di bawah ini. 

#1. Pengertian penyakit maag

Sakit maag ternyata nama lainnya bukan asam lambung, melainkan dispepsia. 

Gejala yang umum terjadi pada penyakit maag adalah rasa nyeri dan panas pada lambung. 

Sakit maag biasanya terjadi karena 
  • Adanya luka yang terbuka pada lapisan dalam lambung atau tukak lambung 
  • Infeksi bakteri helicobacter pylori 
  • Efek samping dari penggunaan obat, terutama obat anti inflamasi non steroid 
  • Stres
  • Terlalu banyak mengkonsumsi makanan pedas dan berlemak
  • Kebiasaan makan banyak dan cepat

Di Indonesia, penyakit ini merupakan penyakit yang umum diderita oleh masyarakat Indonesia. Dan hampir 85% nya merupakan dispepsia fungsional. Artinya sakit perut yang dirasakan terjadi tanpa adanya luka dan tidak ada penyebab yang jelas. 

Karena itu sebagian besar penyakit maag tidak memerlukan konsultasi dokter. Penanganan yang paling dibutuhkan adalah mengurangi faktor-faktor yang memicu sakit maag atau dispepsia fungsional ini. 

Gejala dari dispepsia fungsional biasanya berupa 

  • Kembung
  • Sendawa berulang kali
  • Mual
  • Merasa kenyang
  • Ada sensasi terbakat atau tidak nyaman terutama dibagian perut atau dada bawah

Meskipun begitu, Sahabat RPB perlu segera ke dokter jika rasa sakit ini terjadi terus-menerus dan disertai dengan muntah, sulit menelan, nyeri ulu hati, dan berat badan turun tanpa sebab. Terlebih bila saat ini Sahabat telah berusia 55 tahun atau lebih. 

Sakit maag juga dapat disebabkan karena adanya radang pada pankreas atau usus yang tersumbat. Jadi, jika memang merasa tidak nyaman, atau khawatir dengan kondisi yang Sahabat alami, tidak ada salahnya segera berkonsultasi pada dokter. 

#2. Gastroenteritis

Nama lain dari gastroenteritis adalah flu perut. Gejala yang umum terjadi adalah muntah dan diare. 

Penyakit ini terjadi karena infeksi atau peradangan pada dinding saluran pencernaan yang disebabkan oleh serangan virus, bakteri, atau konsumsi obat-obatan tertentu. 

Di Indonesia gastroenteritis biasa disebut dengan muntaber.  Gejala biasanya mulai muncul setelah 1-3 hari terinfeksi. Selain muntah dan diare gastroenteritis juga menunjukkan gejala lain seperti 
  • Demam disertai menggigil 
  • Sakit kepala 
  • Mual 
  • Penurunan nafsu makan 
  • Sakit perut 
  • Nyeri otot dan sendi. 
Infeksi bisa terjadi umumnya karena kita tidak menjaga kebersihan dengan baik. Misalnya tidak mencuci tangan setelah buang air, sebelum makan, atau setelah beraktivitas di luar rumah. 


#3. GERD

GERD merupakan singkatan dari gastroesophageal reflux disease. 

GERD terjadi karena adanya gangguan katup pada kerongkongan yang melemah. Katup atau sfingter ini akan menutup setelah makanan atau minuman masuk ke dalam lambung. 

Pada penderita gerd katup ini melemah sehingga tidak dapat menutup dengan sempurna. Akibatnya, makanan yang telah bercampur dengan asam lambung, akan naik kembali ke kerongkongan. 

Apabila ini terjadi berulang kali, lapisan kerongkongan akan teriritasi sehingga terjadi peradangan dan lama-kelamaan menjadi lemah. 

Gejala yang umum terjadi saat GERD adalah asam lambung yang naik diikuti rasa asam atau pahit di mulut, timbul sensasi perih atau panas terbakar di dada dan ulu hati, terutama saat penderita membungkuk berbaring dan makan

Sahabat RPB dikatakan menderita GERD jika kenaikan asam lambung ini terjadi setidaknya 2 kali dalam seminggu. 

Gejala lain yang menyertai biasanya berupa 

  • Kesulitan menelan (seperti ada benjolan di tenggorokan)
  • Gangguan pernafasan misalnya batuk atau sesak nafas
  • Suara menjadi serak 
  • Mual dan muntah 
  • Sakit tenggorokan 
  • Kadang isi lambung keluar tanpa disadari 
  • Gangguan tidur 
  • Bau mulut 
  • Gigi rusak karena adanya asam lambung yang naik

Oh ya, kadang gejala GERD disalah artikan dengan serangan jantung. Karena baik GERD ataupun serangan jantung sama-sama menimbulkan rasa perih di dada dan nyeri ulu hati. 

Bedanya, pada serangan jantung, rasa nyeri di ulu hati atau dada biasanya lebih lebih terasa berat, dan menjalar sampai ke lengan, leher, atau rahang. Rasa nyeri biasanya juga muncul seusai melakukan aktivitas fisik. 

Sementara pada GERD, nyeri ulu hati disertai dengan adanya rasa asam pada mulut. Nyeri juga tidak muncul setelah aktivitas fisik. Rasa sakit yang dirasakan juga tidak menyebar ke bagian tubuh lain. Hanya saja nyeri akan semakin berat dirasakan pada saat penderita berbaring. 


Nah jelas kan sekarang apa beda penyakit maag, gastoenteritis, dan GERD.

Semoga artikel diatas bermanfaat dan dapat membantu Sahabat RPB lebih paham dengan gejala-gejala awal gangguan perut yang dirasakan. 

6 Ciri-ciri Diabetes Tipe 2 dan Bagaimana Membedakannya dengan Kondisi Harian Kita

ciri-ciri-diabetes-tipe-2


Kalau dengar berita duka cita dan penderita dikabarkan menderita diabetes, saya suka-suka bertanya-tanya, apa ya sebetulnya ciri-ciri diabetes, terutama diabetes tipe 2?

Meskipun bukan termasuk penyakit menular, tapi diabetes telah menajdi salah satu penyakit yang mematikan saat ini. Karena diabetes, bisa memicu kegagalan fungsi organ lain sehingga menyebabkan kematian. 

Makanya, paling ngeri banget kalau susah dengar penyakit yang satu ini. Dan jujur, diabetes juga yang membuat saya lebih rajin olahraga dan bergerak mengubah gaya hidup. 

Terlebih saat ini saya sudah masuk usia 40-an, usia dimana mulai rawan terkena penyakit diabates. Namun tidak menutup kemungkinan untuk terjadi pada anak-anak dan remaja. Anak-anak dan remaja yang menderita diabetes tipe 2, umumnya pernah mengalami kelebihan berat badan di masa kanak-kanaknya. 

Ciri-ciri diabetes tipe 2, dan kapan harus ke dokter


Penyakit diabetes tipe 2 sering disebut sebagai penyakit seumur hidup ini karena tubuh tidak lagi dapat menggunakan insulin sebagaimana seharusnya. Btw, saya pernah membahas tentang diabetes tipe 2 ini dan kaitannya dengan resistensi insulin di artikel "Tanpa Anda Sadari, Anda Dapat Saja Menderita Resistensi Insulin". 

Sayang kita tidak dapat mengetahui tanda-tanda apakah kita sudah menderita diabetes tipe 2 atau belum. Gejala diabetes sering datang bertahap. Karena itu sangat disarankan untuk melakukan tes kesehatan secara rutin, dan segera konsultasi ke dokter jika mengalami keenam tanda dibawah ini.

Ciri diabetes #1.Mudah kelelahan


Wajar jika: merasa lelah setelah beraktivitas. Rasa lelah itupun akan segera hilang setelah beristirahat. 

Tanda diabetes jika: meski sudah beristirahat, rasa lelah tidak juga hilang. 

Alasan merasa lelah: 
  • Kenaikan level gula darah
  • Adanya dari gejala diabetes lainnya (misalnya bolak-balik ke toilet yang menyebabkan kelelahan, rasa lapar yang tak tertahankan)
  • Komplikasi dari penyakit lain
  • Kondisi mental dan emosi (cemas berlebih)
  • Kelebihan berat badan
Jika rasa lelah sering datang dan Sahabat curiga dengan kondisi kesehatan Sahabat, segeralah ke dokter untuk konsultasi. 

Ciri diabates #2. Sering buang kecil


Wajar jika: banyak minum 

Tanda diabetes jika: frekunsi buang air kecil meningkat di malam hari, dan kebiasaan baru tersebut membuat Sahabat sangat lelah di pagi hari. 

Alasan sering berkemih: Penderita diabetes sering berkemih karena kadar dula dalam darahnya terlalu tinggi. Sehingga ginjal harus bekerja keras mengeluarkan kelebihan gula. Hal inilah yang menjadi pemicu keinginan berkemih. 

Ciri diabetes #3. Mudah merasa haus


Wajar jika: kurang minum, usai berolahraga atau aktivitas berat lainnya, berkeringat sangat banyak, makan manakan pedas atau asin, atau malah memang karena kita kurang minum. 

Tanda diabetes jika: yang patut diwaspadai, jika rasa haus tersebut berlangsung terus-menerus meski kita sudah berkali-kali minum. 

Alasan sering merasa harus: rasa haus ini terjadi karena ginjal butuh banyak air untuk "memaksa tubuh" berkemih lebih sering. Ginjal butuh menetralkan kadar gula dalam tubuh kita. Dan untuk melakukannya, ginjal akan membuat tubuh kita bolak-balik berkemih dan mengeluarkan urine pun dalam jumalh yang banyak. 

Berkemih lebih sering inilah yang membuat tubuh kita sering merasa haus. Jadi, coba perhatikan lagi frekuensi minum dan berkemih Sahabat, ya. 

Ciri diabetes #4. Mudah lapar

Wajar jika: menjadi sangat lapar sangatlah wajar jika kita terlambat makan, sehabis melakukan olahraga keras, beraktivitas yang membuat stres, atau sedang mengalami depresi. 

Tanda diabetes jika: tetap merasa lapar meski sudah menambah porsi makanan atau bolak-balik makan.

Alasan sering merasa lapar: rasa lapar yang timbul terutama setelah makan  berat adalah tanda jika hormon insulin tidak bekerja dengan baik. 

Seperti kita tahu, hormon insulin merupakan hormon yang membantu tubuh mengubah gula dalam makanan menjadi energi. 

Jika tubuh tidak bisa lagi memproduksi insulin atau tidak mampu merespon insulin dengan baik, maka kebutuhan energi tidak terpenuhi dan tubuh mengirimkan sinyal kepada otak jika tubuh perlu tamabahan asupan makanan. 

Segera ke dokter jika Sahabat RPB merasa khawatir dengan perubahan selera makan. 


Ciri diabetes #5. Gangguan penglihatan


Saat lelah, mungkin kita akan mengalami penglihatan  yang memburuj atau malah kabur dan buram. Hal ini tentu wajar jika terjadi pada mereka yang berusia lanjut. Namun dapat menjadi tanda waspada jika terjadi pada usia yang sangat muda.

Kadar gula darah yang berlebih juga bisa menyebabkan keursakan saraf dan pembuluh darah, terutama di daerah sekitae mata. 

Ciri diabetes #6. Kulit kering


Kulit kering umum terjadi jika kita berada di musi dingin atau penghujan. 

Tapi kulit kering ternyata bisa menjadi pertanda diabtes tipe 2 juga, lho. Kulit kering terjadi karena tubuh kehilangan banyak cairan pada saat kita berkemih terus-terusan. 

Ciri-ciri gangguan kesehatan diabetes kadang uga ditandai dengan menurunnya sensitivitas saraf dan melambatnya sirkulasi darah. 

Gula darah yang tinggi juga dapat menyebabkan perdangan pada tubuh.  Peradangan ini yang kemudian memicu timbunya gejala kulit kering, gatal, dan pecah-pecah. 

Karena itu jika sudah mulai ada satu atau lebih tanda diatas mulai ada, lebih baik segera konsultasikan hal tersebut ke dokter. Apalagi jika usia juga sudah mencapai 40 tahun. 

Tidak ada salahnya untuk lebih menjaga diri dari segala kemungkinan yang terburuk. 

Menyiapkan Anak Kembali ke Sekolah di Masa New Normal

menyiapkan-anak-kembali-ke-sekolah-di-masa-pandemi


Beranda Facebook saya masih berseiweran tentang kegalauan para orangtua yang sekolah anaknya sudah memberitahukan kemungkinan masuk sekolah di tahun ajaran baru nanti. 

Tidak beda jauh dengan kami yang menjadi wali murid di sekolah Hana. Waktu kemarin terima rapor, masih banyak ibu-ibu yang tidak ikhlas jika anak-anak masuk saat tahun ajaran baru nanti. 

Kita semua tahu kan, anak-anak sering lupa dan tidak bisa menahan diri untuk main bareng atau sekedar jaga jarak.Apalagi sudah lama tidak ketemu kan? 

Kami semua berharap, semoga keputusan pemerintah jika orangtua punya hak penuh untuk mengijinkan anaknya sekolah atau tidak. 

Jujur sih, kalau protokol keselamatan di sekolah Hana sebetulnya sudah oke. Saat kami terima rapot kemarin, kami pun wajib jaga jarak dan kedatangan wali murid diatur dalam shift. Sehingga kemungkinan bergerombol sangat kecil. 

Pihak sekolah pun belum memberikan keputusan final. Dan tetap patuh pada peraturan pemerintah daerah. 

Meskipun begitu, saya memilih bersiap untuk kemungkinan yang berbeda dengan keinginan saya; Bekasi sudah menjadi zona hijau, dan anak-anak mulai masuk sekolah. 

Menyiapkan anak kembali ke sekolah selama "New Normal"


Saat ini, kabupaten Bekasi masih masuk masa PSBB (tinggal sehari, sih), dan belum ada kabar terbaru apakah PSBB ini hendak diperpanjang atau tidak. 

Selain menyiakan keperluan Tahun Ajaran Baru nanti, saya juga menyiapkan Hana jika nanti akhirnya, harus tetap masuk sekolah. 

#1. Mengembalikan rutinitas sekolah Hana

Kemungkinan masuk sekolah untuk Hana memang masih lama, sekitar dua minggu lagi. Tapi berdasar pengalaman kemarin-kemarin, mengembalikan rutinitas Hana dalam waktu seminggu itu nggak cukup. Apalagi doi sudah cukup lama santai di rumah. 

Sejak belajar di rumah, dari hari ke hari sepertinya bangun pagi Hana semakin bergeser ke jam siang. 
Tiap habis Subuh, dia suka tidur lagi, dan bangun sekitar jam 8. 

Jadi, biar nanti nggak kaget, saya minta dia menahan untuk tidur usai Subuh. Dan menggunakan jam tersebut untuk membaca atau menghafal Al Qur'an, belajar lettering, atau bersihin kamar. 

#2. Ngobrol 

Keputusan anak sekolah lagi atau tidak memang masih ditangan orangtua, tapi menurut saya, penting juga bagi kita untuk tahu apa pendapat anak tentang hal tersebut. 

Beberapa hari lalu, saya pernah tanya sih, apakah ia ingin sekolah lagi atau lebih suka belajar di rumah. 

Dan saya cukup kaget saat dia bilang lebih suka di rumah. Alasannya sederhana, "Aku nggak mau sakit."

Saya seneng sih, dia bisa memilih apa yang menurutnya baik dan tidak. Dan sejak itu, karena obrolan tersebut, saya jadi lebih mudah mengarahkan. Kami juga sering diskusi tentang "bagaimana nanti jika memang harus kembali ke sekolah", bagaimana perasaan Hana, keperluan apa saja yang menurut Hana wajib disiapkan, dan lain sebagainya. 


#3. Menyiapkan keperluan menjaga kesehatan

Dalam bayangan saya, mungkin Hana perlu ada di sekolah sekitar 2-4 jam, jadi mungkin ia akan butuh lebih banyak masker, hand sanitizer, dan mungkin juga face shield. 

Jadi, selain mulai nyicil beli buku da peralatan sekolah untuk tahun baru nanti, saya juga mulai nyicil ngumpulin masker, dan keperluan yang mungkin Hana butuhkan saat wajib mengikuti protokol kesehatan di sekolah nanti. 

#4. Bersiap kondisi terburuk

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti jika anak sudah mulai kembali ke sekolah. Untuk persipana keaddan darurat, saya instal aplikasi Halodoc di Hp saya. Selain menggunakannya untuk konsultasi dokter jarak jauh (karena waktu itu si Ayah sempat terkena infeksi telinga), saya juga menggunakannya untuk mendapat informasi akurat terkait pandemi ini. 

Dan sekarang aplikasi Halodoc pun dilengkapi dengan fitur "Tes Covid-19". Layanan untuk mempersingkat prosedur tes Covid di rumah sakit terdekat. 



Dengan adanya aplikasi ini, saya cukup tenang, jika nanti tiba-tiba Hana kesehatannya terganggu setelah kembali ke sekolah. Saya bisa menggunakan fitur chat "Chat dengan Dokter" yang tersedia selama 24 jam. 

Teman-teman yang ingin melakukan Covid Test Jakarta atau daerah lain juga bisa menggunakan fitur ini. Rekanan rumah sakit Halodoc, tersebar hampir di seluruh Indonesia. 


#5. Jaga kesehatan anak dan keluarga

Kita semua tentu paham pentingnya menjaga kesehatan, baik disaat kondisi normal, terlebih di masa pandemi ini. 

Jadi, saya tetap mengusahakan Hana untuk mau makan sayur, istirahat cukup dan olahraga. Yang terakhir ini sebetulnya agak sulit, meski saya biasa olahraga di rumah, tapi agak sulit untuk mengajak Hana turut serta. Dia lebih asik olahraga jempol, daripada gerak badannya. 😅

Tapi untunglah, beberapa hari ini sudah mulai mau menggerakkan badannya. Karena akhirnya dia sadar, akalu siang kurang gerak, malamnya dia pasti sulit tidur. 😁😁

Begitulah upaya saya, menyiapkan anak kembali sekolah masa pandemi. Standar saja sepertinya, agak riweh juga prakteknya, tapi saya rasa ini adalah upaya terbaik yang bisa saya lakukan untuk menyiapkan Hana terhadap rutinitas barunya nanti. 

Bagaimana dengan Sahabat RPB, sudahkah menyiapkan anak untuk kembali ke sekolah? 

Penanganan Pasca Stroke Untuk Pemulihan Yang Lebih Cepat

penanganan-pasca-stroke-rahayupawitriblog


Gaya hidup manusia di era modern seperti sekarang ini,-diakui atau tidak-, membawa efek negatif pada kesehatan manusia. Misalnya, tanpa kita sadari, penciptaan teknologi membuat manusia minim bergerak karena banyak hal bisa dilakukan dengan menggunakan gadget saja. Padahal menggerakkan tubuh merupakan kegiatan yang sangat penting, mengingat otot tubuh perlu dilatih untuk bisa kuat. 

Selain itu, menggerakkan tubuh juga bermanfaat untuk membakar lemak, kolesterol dan zat lainnya yang bisa menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. 


Gaya hidup buruk penyebab stroke

Gaya hidup yang buruk bagi manusia ini, menyebabkan berbagai jenis penyakit salah satunya adalah stroke yang disebabkan karena pembuluh darah otak mengalami penyumbatan sehingga supply darah terganggu. 

Otak sebagai organ yang sangat penting untuk manusia memerlukan oksigen yang dibawa oleh darah setiap saat melalui pembuluh darah. Pembuluh darah yang berbentuk seperti pipa lunak ini, sayangnya, dapat tersumbat oleh lemak, kolesterol hingga zat kapur yang terbentuk dari makanan atau kurangnya metabolisme di dalam tubuh. 

Sumbatan tersebut menghalangi darah menuju otak sehingga asupan oksigen yang dibutuhkan otak juga terhenti. Kondisi ini membuat kerusakan pada jaringan otak. Semakin lama tertundanya atau sedikitnya aliran oksigen yang diterima maka semakin besar kerusakan otak yang bisa terjadi. 

Hal inilah yang disebut stroke. Biasanya pasien akan mengalami gejala seperti 
  • Tiba-tiba kehilangan kesadaran
  • Sakit kepala 
  • Mati rasa 
  • Kehilangan pandangan hingga mengalami koma.   

Penanganan pasca stroke untuk mempercepat pemulihan

Pasien yang mengalami stroke memerlukan penanganan dengan segera untuk menghilangkan penyumbatan pada pembuluh darahnya. 

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan tim kedokteran dan harus dilakukan dalam waktu yang cepat agar pasien bisa selamat, diantaranya adalah 

#1. Trombolisis

Trombolisis merupakan terapi yang dilakukan dengan cara memberikan obat pengencer darah kepada pasien dengan tujuan agar bekuan darah yang menyumbat dapat larut. Akan tetapi terapi ini juga memiliki efek samping menyebabkan pendarahan. 

#2. Trombektomi. 

Terapi pasien stroke yang dilakukan dengan cara kateterisasi pembuluh darah yang mengalami penyumbatan untuk mengeluarkan bekuan darah. Terapi trombektomi ini harus dilakukan secepatnya agar mendapatkan hasil yang terbaik. 

Setelah pasien stroke mendapatkan penanganan pertama yang sangat menentukan keselamatan jiwanya, kemudian pasien disarankan untuk melakukan fisioterapi pasca stroke. 

Fisioterapi ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi tubuh yang hilang atau berkurang akibat stroke. 

Pada saat stroke, otak yang tidak dialiri oksigen bisa mengalami kematian jaringan baik sementara maupun permanen yang berhubungan dengan fungsi bagian tubuh yang diaturnya. Karena itu pasien stroke umumnya mengalami ketidakmampuan menggerakkan tubuh. 

Kondisi inilah yang akan diminimalisir dengan melakukan fisioterapi. Fisioterapi bisa dilakukan di rumah sakit yang memiliki stroke center. 

Sahabat RPB yang bertempat tinggal di Jakarta sangat beruntung karena ada banyak rumah sakit yang di dalamnya memiliki stroke centre dengan fasilitas fisioterapi. Bahkan hampir semua rumah sakit besar di Jakarta sudah memilikinya sehingga Sahabat bisa dengan mudah mendapatkan pertolongan. 

Selain melakukan fisioterapi di rumah sakit, Sahabat juga bisa mengundang terapis untuk melakukan terapi di rumah secara profesional. Namun pastikan terapis yang Sahabat pilih adalah terapis profesional yang didatangkan dari fasilitas layanan rumah sakit. 

Terapi untuk pasien stroke bisa membutuhkan waktu yang panjang agar pasien bisa benar-benar pulih seperti sedia kala. Ada juga beberapa pasien bisa mengidap gangguan stroke permanen, dan tidak bisa lagi menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti sebelum terkena serangan stroke.

Jadi, jangan lupa untuk segera menghubungi dokter jika ada yang keluarga yang mengalami gejala stroke, ya. Dan untuk Sahabat yang masih sehat, yuk, kita jaga kesehatan dengan lebih baik lagi. 

Pentingnya Melacak Waktu untuk Freelancer

pentingnya-melacak-waktu-untuk-freelancer


Akhir-akhir ini saya sedang merasa nggak produktif banget. Target tulisan yang saya harapkan tidak dapat tercapai. Saya jadi merasa gagal sebagai seorang freelancer. 

Emang sih, ada beberapa kejadian yang menguras emosi, dan hal tersebut cukup menghambat kerja nulis saya. Saat itu saya merasa seperti benang basah yang coba ditegakkan. #tsah 😀😀

Meskipun sudah bertahun-tahun kerja dari rumah, tapi sejak Hana juga belajar di rumah, banyak banget penyesuain pekerjaan yang harus saya buat. Ritme kegiatan Hana yang melambat, membuat saya juga ikutan melambat. Masih ditambah jadwal kerja ayah yang seringkali berubah-ubah setiap minggunya. 

Dan hasilnya, saya merasa setiap waktu ada saja yang harus dikerjakan, tapi khusus untuk pekerjaan blogging dan konten malah jalan di tempat. 

Hmm ... kayaknya sekarang waktunya saya kembali melacak waktu yang saya gunakan sehari-hari; kenapa saya merasa kehabisan waktu terus, tapi hasil yang saya peroleh jauh dari harapan. 

Mau produktif? Jangan lupa melacak waktu kegiatan


Freelancer memang berarti pekerja yang punya kebebasan untuk mengatur waktu kerjanya sendiri. Tapi sayangnya, kalau mau sukses dan menghasilkan uang yang cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari (dan masa depan); kita butuh tekad yang kuat, dan bergepok-gepok motivasi.

Okay, di luar sana memang ada nasehat 

"it is okay not always to be okay"
"it is okay if you have your own time frame work"
"it is okay kalau kamu punya metode disiplin sendiri"

..... dan masih banyak okay, okay yang lain. 

Sayangnya, "the okays" ini bisa jadi bumerang bagi freelancer. 

Nggak berarti semua nasehat tentang "it is okay" itu salah, but again, kalau nggak punya tekad dan motivasi, nasehat tersebut bisa jadi malah membuat freelancer tidak produktif. 

Saya bisa bilang gini karena sudah ngalamin, lho. Ada masa dimana saya punya begitu buaaanyaakkk alasan untuk menunda memulai pekerjaan alias procastinating. Dengan alasan, "Nggak papa kalau mau istirahat dulu", "Nggak papa kalau mau nyantai dulu", dan seterusnya. Cuma ya itu, masalahe lupa menetapkan waktu "nggak papanya" ini, akhire kebabalasan. Keasikan nonton TKEM, stalking dedek Min Ho, sampai lupa waktu. 😂😂😂

Jadi, jangan hanya memperhatikan tentang "it is okay" saja, sebagai freelancer amat sangat wajib utuk menepati jadwal dan apa yang sudah direncanakan. Tentu saja, kita semua tetap harus fleksible dengan waktu. Tapi sebaiknya dukung ke-fleksibelan tersebut dengan sistem kerja yang tepat juga. 

Nah, karena penasaran dengan ketidak produktifan tersebut, saya kembali mencoba untuk melacak waktu kerja. Yach, meskipun sebetulnya malas banget sih, kalau harus melacak waktu lagi. Soalnya musti bolak-balik ngecek dan mencatat waktu yang digunakan. 

Sayangnya, nggak ada cara lain untuk tahu bagaimana waktu sehari-hari digunakan, selain dengan mencatat kegitan dan durasi yang digunakan. 

Ya, syukurnya sih, ada aplikasi seperti Time a Logger yang bisa bantu melacak penggunaan waktu. Jadi "proyek" melacak waktu pun bisa jadi lebih mudah. 

Dan untuk freelancer, "tahu kemana perginya waktu" kita, tuh penting banget. Bagi Freelancer, waktu adalah salah satu modal kerja juga. Jadi, wajib menggunakannya dengan sebaik mungkin. 

Masih butuh alasan lain, mengapa melacak waktu itu penting untuk freelancer? Ada 6 alasan lain yang membuat melacak waktu itu penting untuk freelancer. 

6 Alasan pentingnya melacak waktu untuk freelancer


#1. Landasan membuat sistem kerja

Kunci produktivitas itu sebetulnya satu, sistem yang paling tepat untuk bantu kita menyelesaikan pekerjaan yang kita rencanakan. Jadi, tolok ukurannya bukan "berapa hasil", tapi "bagaimana menghasilkan". 

Sebagai seorang freelancer,- demi meningkatkan pendapatan kita,- seringkali kita harus bekerja untuk beberapa klien. Tentu saja kita butuh perencanaan matang dan sistem yang tepat agar dapat menyelesaikan semua pekerjaan yang sudah kita sanggupi 'kan? 

Dengan melacak penggunaan waktu, kita akan tahu, pekerjaan mana yang membuat kita menggunakan waktu lebih banyak dan membuat project lain terbengkelai. 

Misalkan setelah melacak waktu kerja, akhirnya saya tahu, kalau untuk riset dan menulis artikel game itu butuh waktu lama, dibanding kalau harus menulis artikel kesehatan. 

Saya butuh waktu lebih dari satu setengah jam untuk menulis artikel game, karena sama sekali nggak tahu istilah-istilah yang digunakan dalam permainan, apalagi memainkannya. Padahal panjang artikel juga sama, 500 kata. 

Pemahaman ini tentu membantu saya untuk lebih selektif dalam memilih topik pekerjaan yang diterima, atau jika memang saya ingin menguasainya, maka saya bisa menyisihkan waktu tersendiri untuk riset dan latihan menulis artikel dalam topik yang berbeda. 

Melacak penggunaan waktu membantu kita untuk mengidentifikasi masalah dan membuat rencana strategis berikutnya. 

Dan dengan menggunakan data penggunaan waktu selama kurun waktu tertentu, kita akan tahu, sejauh mana sih, sebetulnya kemampuan kita dalam manajemen waktu, dan apakah kita butuh meningkatkan ketrampilan dalam hal ini agar tujuan bisnis menulis kita tercapai?

Sungguh, amat sangat impossible membangun sistem kerja, tanpa tahu bagaimana kita menggunakan waktu. 

#2. Membantu lepas dari prokrastinasi

Apa musuh terbesar freelancer? Prokrastinasi, alias menunda-nunda, ntar-sok. 

Media sosial seringkali disebut sebagai time vampires. Ironinya disisi lain, freelancers butuh untuk menghadirkan dirinya di lingkup digital, agar diri mereka mudah ditemukan oleh klien yang potensial. Dan salah satunya, melalui media sosial. 


pentingnya-melacak-waktu-untuk-freelancer
Melacak waktu membantu freelancer
lepas dari musuh prokrastinasi


Masih ditambah, freelancer juga butuh banyak referensi dari dunia digital. Potensi untuk drowning di jagad yang satu ini, memang sangat besar. 😀

Nggak masalah sih, tetap update dengan berita terkini. Bagaimanapun, media sosial, platform berita, bisa jadi sumber referensi. Lihat saja televisi saat ini, bahkan sering menggunaka media sosial sebagai sumber berita terbaru kan?

Hanya, saja kegiatan ini akan menjadi masalah jika membuat kita terjebak scroll beranda dan melupakan tenggat waktu pekerjaan. Even, seorang media sosial officer pun, wajib fokus pada apa yang sedang dikerjakan, nggak boleh larut scroll explorer dengan alasan riset. 

Oke, beberapa boleh mengaku sebagai deadliners warrior. Tapi ini juga akan menjadi masalah jika kemudian kualitas pekerjaan dipertanyakan. 

Kreativitas memang kadang muncul disaat kepepet, tapi pernah nggak terpikir, seandainya penyelesaian pekerjaan itu ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari yang ktia rencanakan? Dan karena tenggat waktu sudah datang, akhirnya kita hanya menyelesaikan seadanya saja, lalu kira-kira bagaimana hasilnya? 

Sebagi blogger saya sering banget mengalami ini. Misalnya nih, pengen ikut lomba. Merasa topiknya bisa saya kuasai, maka prioritas saya buat ringan, jadwal ke skip pun tidak saya pemasalahkan. 

Saat mendekati deadline, ide berhamburan, dan ketika sampai pada outline, baru sadar jika ingin hasil maksimal, artikel tersebut tidak akan selesai dalam kurun waktu 1-2 jam saja. 

Jadi, meski hanya rehat sebentar scrolling di sosial media, penting banget tuh dilacak penggunaan waktunya. Apalagi bila scrolling nya adalah bagian dari pekerjaan. 

Dengan melacak penggunaan waktu, meski saat kita menggunakan media sosial, kita akan terhindar dari prokrastinasi. Karena kita tahu jika telah banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang belum tentu terkait langsung dengan pekerjaan kita. Kita pun akan lebih aware dan akhirnya membuat keputusan cerdas terkait dengan waktu yang kita miliki. 

#3. Menghindarkan dari multitasking

Sudah tahu kan kalau multitasking justu menurunkan produktivitas sebanyak 40%? 

Multitasking memang sepertinya efisien, tapi sayangya, berpindah satu fokus ke fokus lainnya hanya akan membuat waktu bekerja kita menjadi lebih lama. Karena pada dasarnya, otak kita pun desainnya hanya bisa melakukan satu pekerjaan.

Melacak penggunaan waktu adalah salah satu cara untauk menghindari multitasking. Nggak percaya? Ya, coba aja tracking time saat mengerjakan beberapa pekerjaan, pasti susah. 😀😀

Tujuan dari melacak penggunaan waktu adalah tahu berapa lama kita bisa menyelesaikan satu pekerjaan, dan karena kita fokus pada melacak waktu, kita akan cenderung menghindari browsing tanpa tujuan atau sekedar ngecek notifikasi Facebook dan WA saat sedang bekerja. 

#4. Lebih selektif memilih klien

Seperti yang saya contohkan diatas, bila kita tahu ternyata waktu yang kita butuhkan untuk mengerjakan pekerjaan dari klien A lebih lama dibanding klien B, kita akhirnya akan berpikir ulang menerima pekerjaan serupa. 

Selain mengganggu potensi dapat penghasilan tambahan, tentu klien jadi tidak percaya jika kita bisa menyelesaikan setiap deadline tepat waktu. 

Selain itu, saat ini masih masih banyak juga lho, klien yang minta kita melakukan pekerjaan A-Z tapi nggak mau menaikkan rate atau memberikan tambahan pembayaran. Bolak-balik minta revisi, dan kelengkapan ini itu. Apalagi kalau pekerjaan kita berdasarkan jam (hour rate), maka pencatatan waktu akan sangat berguna bagi kita untuk negosiasi dan menunjukkan jika kita sudah bekerja sesuai perjanjian. 


#5. Membuat keputusan finansial lebih baik 

Yang satu ini, tentu sudah jelas banget kan, ya. Ngapain kita mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama tapi dengan penghasilan yang lebih rendah? Buat saya sih, itu "bunuh diri" namanya. 

Yo, nggak papa sih kalau sesekali. Misal untuk kerja volunteer, meningkatkan portofolio, oke aja. Tapi sebaiknya tidak dilakukan selamanya. We need to payour data bills, right? 

#6. Tahu kapan waktunya mendelegasikan pekerjaan

Ingin meningkatkan pendapatan tapi waktu selalu habis untuk menghitung pajak, biaya operasional, menjawab chat klien, atau malah gawean rumah? (itu akuuuu) 

Jika itu sering terjadi, itu tandanya kita mulai butuh untuk mendelegasikan tugas-tugas kita. 

Bentuknya bisa macam-macam, sih. Misal outsource pekerjaan managerial seperti keuangan dan pajak, atau malah pekerjaan rumah tangga. Eh, kalau tugas kedua mungkin lebih tepat buat para emak freelancer, ya. Biar mamak bisa lebih fokus kerja dan nggak stres karena beban pekerjaan yang banyak. 💕💕 (tolong jangan julid, "emak kerja nggak boleh lupa tugas utama, ngurusin rumah ..."; karena dua itu hal yang berbeda, menurutku. Kapan-kapan aku tulis pendapatku tentang itu). 


So, sekarang setuju ya, kalau melacak waktu itu penting buat freelancer.

Sekarang tinggal mikir nih, bagaimana sebaiknya cara melacak waktu kita. 

Cara melacak waktu bagi freelancer

Seperti yang saya ceritakan diatas, kalau kita bisa melacak waktu kita dengan dua cara, yaitu menggunakan aplikasi atau dicatat konvensional, tulis di buku kertas, whatever. 

Mana yang terbaik? Senyaman Sahabat aja, sih. Saat ini saya menggunakan metode konvensional, karena hp mulai teriak "penyimpanan penuh mlulu". Eh, tapi gabung juga dengan pomodoro yang ada di aplikasi Tick Tick sih. Jadi kombinasi keduanya. 

Kalau ingin mencatata dengan aplikasi digital bisa gunakan aTimeLogger. Review dan cara menggunakannya sudah saya post di artikel "Nggak Punya Waktu Kerja? Coba Cek Waktumu"

Jika lebih suka dengan mencatat, bisa lakukan setiap break makan siang dan malam hari saat hendak tidur. Kan masih ingat tuh, kegiatan yang dilakukan dalam sehari. 

Nggak usah lama-lama, seminggu saja cukup. (Warning: biasanya di hari ketiga sudah down banget saat  sadar kalau produktivitas kita ternyata rendah). 😀😀 

Setelah itu, segera lakukan re-schedule, atau jika tidak mungkin, rapikan saat weekend. 

Seperti saya kemarin, setelah sadar apa saja yang membuat saya down, akhirnya saya membuat beberapa perbaikan di weekend kemarin. Insya Allah saya buat post terpisah tentang ini, deh. Tapi ijinkan saya coba sistem baru saya dulu ya, kalau berhasil, nanti saya cerita lagi. 


Okay, thank you for dropping by, hope my notes will be useful for you. 

Rahayu Pawitri
Content Writer | Part time Blogger
081312658622

Ketahui Jenis-jenis Data Center Yang Penting

jenis-data-center


Pernah mendengar tentang data center? Sesekali kenalan yuk, dengan pusat penyimpanan data. 

Data center atau pusat data merupakan salah satu hal yang harus dipersiapkan saat hendak membangun sebuah bisnis, seperti e-commerce misalnya. Bisnis pemasaran yang keseluruhannya menggunakan data-data digital. 

Mengapa harus dipersiapkan? Hal ini dikarenakan pusat data adalah sebuah wadah untuk server, komponen, atau sistem-sistem yang berkaitan dengan komputer. 

Meski pusat data merupakan sebuah layanan jasa, pemilik dari perusahaan pun tetap bisa dengan mudah mengakses datanya. 

Data Center ada beberapa jenis, yang kategori pembagiannya disebut dengan Tier. Pembagian ini sudah diatur sejak tahun 2005 oleh Telecommunication Industry Associations di jurnal TIA-942. Lalu direvisi pada tahun 2008, dan tahun 2010. 

Setiap pusat data yang menggunakan Tier ini tergantung dari adanya power, tingkat ketersediaannya, sistem pendinginnya, dan fasilitas lain yang memang diadakan oleh layanan pusat data itu. 

Jenis data center dan siapa penggunanya


Jika Sahabat RPB saat ini membutuhkan tempat penyimpanan data, akan lebih baik jika Sahabat tahu terlebih dahulu jenis data center serta besaran ruang simpannya. Selain agar tak salah pilih, juga untuk efektivitas dari biaya operasional bukan? 

Berikut ini penjelasan mengenai jenis-jenis pusat data. 

#1. Tier 1 

Pusat data dengan jenis Tier 1 ini merupakan jenis data center yang paling rendah. Disebut termasuk Tier paling rendah karena Tier 1 hanya menggunakan 1 sistem pendingin dan 1 jalur untuk sistem kelistrikan, bahkan tidak memiliki komponen untuk redundansi. 

Perusahaan yang menggunakan Tier 1 biasanya adalah perusahaan-perusahaan yang masih termasuk kecil. 

Tingkat availability-nya juga paling rendah, hanya sampai 99.671 persen l, dengan downtime selama 28 jam. 

Jika perusahaan tergolong baru atau masih masuk perusahaan kecil, dan data yang dimiliki masih sedikit, Tier 1 sangatlah cocok. 

#2. Tier 2 

Antara Tier 1 dengan Tier 2 ini memang tidak terlalu kentara perbedaannya. Karena masih sama-sama menggunakan satu jalur kelistrikan, serta satu buah sistem pendingin. Yang membedakan adalah adanya komponen untuk redundansi. 

Untuk tingkat availability-nya, Tier 2 lebih tinggi tentunya dibandingkan Tier 1, yaitu 99.841 persen. 

Apabila perusahaan yang cocok untuk Tier 1 adalah perusahaan kecil, maka Tier 2 sangat cocok untuk perusahaan-perusahaan menengah. Waktu downtime-nya juga lebih cepat, yaitu 22 jam. 

Tier 2 biasanya banyak digunakan untuk perusahaan kelas menengah. . 

#3. Tier 3 

Semakin tinggi nama tier-nya, semakin tinggi pula kualitas yang ditawarkan. Karena itu, Tier 3 tentu lebih baik dibandingkan dengan Tier 1 dan Tier 2. 

Pada Tier 3, tersedia beberapa jalur kelistrikan serta sistem pendingin, meski yang bisa aktif hanya satu jalur dan sistem saja. 

Meskipun begitu, Sahabat tidak perlu khawatir, karena Tier 3 sudah lengkap fasilitasnya. Misal komponen redudansinya sudah memiliki tingkat availability sebesar 99.982 persen. 

Dengan fasilitas-fasilitas tersebut, maka kamu pun jangan heran jika yang menggunakan jenis Tier 3 ini adalah perusahaan-perusahaan besar. Ditambah lagi, waktu untuk downtime-nya tidak lama, yaitu hanya 1.6 jam. Perusahaanmu termasuk perusahaan besar? Gunakan Tier 3 untuk mendapatkan fasilitas yang lebih baik. 

#4. Tier 4 

Jenis Tier 3 yang sudah cocok digunakan untuk perusahaan besar pun, masih kalah unggul jika dibandingkan dengan Tier 4. 

Apa sih, perbedaannya? Tentu saja pada fasilitasnya. Pada Tier 4, semua jalur kelistrikan dan sistem pendingin, meskipun lebih dari satu buah, semuanya aktif. 

Tier 4 juga punya komponen redudansi dan tingkat availibity sampai 99.995 persen. Untuk lama downtime-nya, hanya 0.04 jam. 

Oya, jika Sahabat butuh data center dengan salah satu tier diatas, Sahabat dapat menggunakan layanan data center NEX. Silahkan kujungi situs resmi NEX Indonesia untuk mendapatkan informasi terkait dengan data center yang Sahabat butuhkan. 

Furniture Kantor yang Wajib Dimiliki

furnitur-kantor-yang-wajib-dimiliki


Sedang membangun kantor untuk usaha baru? Atau sekedar ingin mengubah pojokan di rumah jadi kantor mungil? 

Meskipun kerja dari rumah sekarang menjadi trend baru, tapi masih banyak juga lho, yang lebih suka melakukan pekerjaanya di kantor. 

Apapun pilihannya, kerja di kantor atau kerja dari rumah, yang terpenting adalah gunakan perlengkapan dan atau furniture yang tepat dan mendukung pekerjaan. Furniture kantor yang nyaman tentu membantu kita untuk kerja lebih produktif dan nyaman juga kan? 

Tapi kira-kira furniture apa aja ya, yang wajib ada di tempat kerja? Ambil kertas kebutuhan furnitur kantor Sahabat, dan cek daftar di bawah apakah ketiga furnitur ini sudah ada dalam daftar atau belum. 


3 Furniture kantor yang wajib dimiliki


1. Meja kantor 

Tentu saja ini merupakan furniture paling penting dan pokok. Pekerjaan di kantor akan lebih mudah dikerjakan dan lebih nyaman dengan adanya meja kantor yang tepat. 

Kategori meja kantor juga banyak, mulai dari yang ramping, minimalis atau malah meja besar yang memenuhi ruangan. 

Berdasarkan fungsinya, meja kantor juga bermacam-macam, seperti meja tulis dan komputer, meja untuk resepsionis, meja meeting, meja direktur, dan masih banyak lagi. 

Jika dilihat dari desainnya, maka akan ada 
  • Meja kerja minimalis; Meja kerja jenis minimalis kadang dirancang untuk menggabungkan antara pekerjaan menulis dan mengetik. Meja kerja seperti ini cocok untuk ruang kantor dengan luas ruangan yang terbatas. Meja kerja minimalis bisa menjadi meja kerja pengisi ruangan, diletakkan di depan dinding, atau malah digabungkan dengan meja lainnya. Biasanya meja seperti ini juga dilengkapi dengan kompartemen laci yang terpisah, agar mudah dipindahkan tempatnya. 
  • Meja kantor rak; Sesuai dengan namanya, meja kantor ini dilengkapi dengan rak-rak dibagian bawah, baik untuk penyimpanan dokumen atau pun alat-alat tulis yang diperlukan karyawan. 
  • Meja kantor sudut atau siku; Meja kantor ini bisa diletakkan di sudut ruangan dan digunakan bersama oleh beberapa karyawan. 

2. Partisi kantor

Seperti namanya, partisi biasa digunakan untuk memisahkan antara satu meja dengan meja lainya, atau dari satu meja dengan ruangan lainnya. Partisi juga bisa menjadi pemisah fungsi ruangan. 

Dalam beberapa hal, partisi bisa juga membantu karyawan lebih fokus pada pekerjaanya. 

Ada beberapa jenis partisi, seperti 
  • Penyekat bilik; Partisi ini paling banyak digunakan di perkantoran. Umumnya terdiri dari 4 dinding dengan bukaan untuk keluar masuk pengguna meja kerja. Penyekat ini banyak digunakan karena mudah diubah tata letaknya sesuai kehendak penggunanya. 
  • Penyekat portable; Banyak perusahaan yang sekarang memilih menyewa ruangan kantor untuk operasionalnya sehari-hari. Jika memang kantor Sahabat sering berpindah, maka jenis partisi ini cocok dipilih
  • Penyekat accordion; Penyekat ini selain portable juga mudah diatur dan disusun ulang sesuai kebutuhan pengguna
  • Penyakta kaca; Selain meredam kebisingan, penyekat ini juga memberikan privasi lebih kepada penggunanya karena dapat meredam suara dari luar. 

3. Lemari arsip

Furniture satu ini juga wajib ada di kantor. Banyaknya dokumen dan arsip penting dari pekerjaan yang Sahabat lakukan, tentu harus diletakkan dengan rapi agar tidak mudah rusak dan mudah dicari saat dibutuhkan. 

Dengan adanya lemari arsip, dokumen tidak akan berserakan dimana-mana sehingga suasa dan kenyamanan dapat tetap terjaga. 


Itulah tiga jenis furnitur kantor yang wajib masuk ke daftar keperluan furnitur kantor. Pastikan untuk memilih desain, dan fungsinya dengan tepat, agar sesuai dengan kebutuhan karyawan dan pekerjaan Sahabat. 

Sebagai referensi jenis dan model furnitur kantor, Sahabat RPB dapat mengunjungi arkadia furniture. Ada banyak model meja kerja dan partisi kantor yang dapat Sahabat pilih. Jangan lupa, sesuaikan pilihan Sahabat dengan kebutuhan pekerjaan, ya. 



Masa New Normal, Kamu Pilih Mana, Tetap WFH atau WFO?

new normal WFH atau WFO



1 Juni 2020

Masih banyak orang yang membicarakan new normal. Sebagian menanggapi dengan sinis, sebagian lagi menerima, karena tahu, ini adalah pilihan terbaik untuk semua. 

Bagaimana dengan Sahabat RPB? 

Jujur, saya termasuk yang pertama, pada awalnya. Tapi tak bisa dipungkiri jika hidup perlu terus berjalan, dan roda perekonomian perlu terus berjalan. Kita harus mengambil jalan tengah yang dapat menjadi solusi untuk semua. 

Sebetulnya, kalau buat saya pribadi sih, ada new normal atau tidak, semua nyaris sama saja. Terlebih karena saya memang bekerja dari rumah. 

Kalau lah ada yang berubah dan butuh penyesuaian, semata menyesuaikan jadwal Hana sama si Ayah saja. Jika dulu selesai beberes rumah bisa langsung kerja, sekarang harus jadi guru dulu. Jadwal Ayah pun bergeser, sekarang ada shift malam untuknya, jadi mau tidak mau, saya harus mengundurkan jam tidur jika si Ayah dapat shift malam. 

Plus minus WFH dan WFO


Tapi jujur sih, memang waktu saya jadi lebih banyak terganggu, sejak Hana belajar dari rumah, yang utama sebagian waktu kerja saya harus bergeser. Dan itu membuat kegiatan saya nyaris tanpa henti. 

Jugling dari tugas sebagai emak, pindah jadi guru, tengok sebentar pekerjaan konten, balik lagi jadi emak ... dan akhirnya baru bisa fokus bekerja di siang atau malah kadang malam hari. Saya harus lebih pagi, jika tidak ingin aktivitas penting saya terganggu. 

Kerepotan WFH seperti ini, ternyata tidak hanya dialami oleh saya, banyak para pekerja kantoran yang juga mengeluh karena kerja dari rumah membuat mereka tidak ada jeda waktu jelas antara kerja dan kegiatan di rumah. 

Seperti yang saya baca di artikel terbaru Kumparan, tentang "Siapa Masih Butuh Kantor?". Banyak pekerja yang bisa WFO (Work from Office) mengeluh karena sejak WFH waktu mereka jadi lebih lama. 

Meski tidak dipungkiri, jika kerja dari rumah juga ada positifnya, seperti 

  • Mengurangi waktu perjalanan, sehingga sisa waktu yang ada bisa digunakan untuk meningkatkan ketrampilan. 
  • Meeting pun jadi lebih mudah dilakukan, karena cukup melalui video cofference, sehingga resiko telat datang meeting pun bisa dikurangi. 

Ya, seperti halnya semua yang terjadi di dunia ini, setiap pilihan pasti ada positif dan negatifnya; begitu juga dengan pilihan WFH atau WFO di masa new normal ini. 

Dan setiap pilihan tentu juga butuh penyesuaian. Misalnya, yang tetap masih harus kerja dari rumah seperti saya, 
  • Maka perlu untuk membuat jadwal baru
  • Mengatur waktu dan mentaati jadwal yang dibuat dengan lebih disiplin
  • Menetapkan batas jelas kapan waktu bekerja, kapan waktu untuk kegitan di rumah

Begitu juga yang harus kembali ke kantor, maka perlu 
  • Wajib bersiap dengan protokol kesehatan yang lebih ketat
  • Meningkatkan daya tahan tubuh
  • Menerapkan dan menjaga gaya hidup sehat dengan lebih serius

Dengan cara ini, semoga kita dapat melalui new normal ini dengan lebih baik. 

Oya, bagi Sahabat RPB yang butuh inspirasi bagaimana menghadapi new normal dengan lebih baik, bisa berkunjung ke situs berita Kumparan. Banyak informasi terbaru terkait rencana pemerintah tentang new normal, juga bekerja dari rumah, termasuk info terbaru tentang perkembangan Corona. 

Saya termasuk penyuka situs berita yang satu ini. Bahasanya rapi, tidak hanya sekedar memenuhi jumlah kata. Iklan di platform ini pun tidak terlalu banyak, sehingga loading situs tidak terlalu lama. 

Sebagai pekerja konten, kecepatan adalah segalanya buat saya. Apalagi kalau sedang cari referensi untuk tulisan. Paling BT tuh, kalau harus nunggu loading situs, yang kadang ditinggal bikin kopi saja masih belum selesai loading. 

Antara judul dan isi pun nyambung, tidak sekedar click bait dan membuat kita menyesal sudah klik judulnya. Bisa jadi karena jurmalis di Kumparan juga telah tersertifikasi ya, jadi keakuratan berita, juga bagaimana mengabarkan pada masyarakat, tentulah dijunjung tinggi. 😆 Laf... pokoknya. 

Eh, tapi gimana, buat Sahabat RPB, pilih mana nih, WFH atau WFO?