Reksa Dana, Cara Nabung Andalan Saya dan Bagaiamana Cara Memilihnya

by - Maret 06, 2020

reksa-dana-pengertian-dan-cara-memilihnya


Artikel ini terinspirasi dari pertanyaan mbak Widi Utami saat hendak membeli reksa dana. Akhirnya, di teracuni juga dengan bujukan saya, nabung recehan di reksa dana. 😄😄

Waktu itu mbak Widi bertanya, bagaimana cara menabung di reksa dana dan bagaimana memilihnya.

Well, sebelum saya nulis apa itu reksa dana, dan kenapa saya memilihnya sebagai cara menabung, saya release disclaimer dulu, ya

Saya bukan ahli keuangan atau pakar investasi. Cuma Alhamdulillah, dulu sering mengikuti tulisan Ryan Filbert dan ahli keuangan lain. Plus, sudah praktek dengan membeli beberapa unit reksa dana. Jadi apa yang saya tulis disini bukan panduan, ya, tapi hanya sekedar berbagi pengalaman. Ya, siapa tahu, bisa jadi bahan pertimbangan Sahabat dalam berinvestasi.  

Reksa dana, apakah itu?


Mengutip dari buku Ryan Filbert "Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksa Dana" reksa dana diartikan sebagai wadah dan pengelolaan modal/ dana bagi investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksa dana.

Yang dimaksud unit penyertaan adalah satuan yang menunjukkan kepemilikan kita dalam reksa dana. Jumlah unit penyertaan ini tetap, selama uang yang kita setorkan pada Manager Investasi juga tetap. Tapi akan berkurang jika menjual sebagian.

Cara gampang memahaminya, kalau dalam saham, kita menyebutnya dengan "punya saham xxx lembar", atau "sahamku jumlahnya xxx lot". Nah, kalau di reksa dana disebutnya dengan "unit".

Dengan membeli unit di reksa dana, berarti kita menyerahkan sebagian uang kita untuk diinvestasikan oleh Manager Investasi pada instrumen-instrumen investasi seperti saham, obligasi, pasar uang dan instrumen investasi lainnya. 

Lalu bagaimana cara kita memilih reksa dana yang menguntungkan untuk kita?

Cara memilih reksa dana

Sebelum tahu cara memilih reksa dana, perlu ditanamkan dalam pikiran kita, jika tidak ada investasi yang nol resiko. Artinya, semua investasi pasti ada resikonya, besar ataupun kecil. Kalau ada kala kita untung, maka pasti kita akan rugi.

Nah, untuk meminimalisir resiko, kita ketahui dulu ilmunya. Dari situlah nanti kita akan bisa memilih, jenis investasi (dalam hal ini reksa dana) mana yang akan dipilih.

Kalau saya pribadi dengan memulainya dengan sering membaca buku juga artikel tentang reksa dana. Terus sering menyimak kalau Ryan Filbert bikin sesi sharing online.

Baru dari situ, saya mulai berani mencoba membeli reksa dana, dan inilah cara saya memilih reksa dana.

Langkah #1. Menetapkan tujuan
Ya, seperti kita kalau mau pergi, investasi pun juga butuh menetapkan tujuan. Waktu awal beli sih, memang hanya untuk alokasi dana darurat. Tapi sekarang sudah lebih serius, menggunakan reksa dana untuk nabung dana pensiun.

Menetapkan tujuan ini penting, karena nanti akan membantu kita memilih jenis reksa dana yang tepat.

Oya, dalam menetapkan tujuan ini, nggak hanya tentang "nantinya uang ini mau buat apa", tapi juga termasuk "berapa lama rencana investasi yang ingin Sahabat lakukan". 

Langkah #2. Mengenali profil resiko
Yang disebut dengan profil resiko investasi adalah indikator untuk mengetahui seberapa besar toleransi Sahabat RPB terhadap potensi rugi investasi.

Semakin tinggi nilai profil resiko, maka Sahabat dianggap lebih siap dengan potensi kerugian dalam investasi.

Untuk tahu jenis profil resiko investasi, Sahabat RPB dapat mengunjungi situs-situs Manajer Investasi. Oya, Sahabat perlu mendaftar pada situs Manajer Investasi sebelum dapat menggunakan fasilitas cek profil resiko ini.

Umumnya investor pemula, akan mendapatkan profil resiko investasi rendah.



Langkah #3. Memilih Manager Investasi
Menurut daftar di OJK, saat ini Indonesia memiliki 98 Manager Investasi. Dan untuk memilih MI mana yang terbaik kita dapat melihat berdasarkan:


  1. Kinerja Manager Investasi
  2. Produk reksa dana dan produk kelolaan lainnya
  3. Histori dana kelolaan berdasarkan returnnya
  4. Pengalaman masalah yang pernah dialami. 
Bagi saya yang masih awam, melihat daftar Manager Investasi yang sebanyak itu sudah pasti mblenger duluan. Jadi, dulu saya pakai cara by pass, 😂 saya browsing ranking Manajer Investasi terbaik berdasar tahun berjalan (waktu itu kalau nggak salah IPOT, deh). 

Setelah itu, baru melihat kinerja dan produk reksa dananya. 

Langkah #4. Memilih produk reksa dana
Berhubung saya masih pemula, jadi resiko profil investasi saya tentu saja masih rendah. Dan karena tujuan investasi saya dibawah lima tahun, maka waktu itu saya disodori pilihan reksa dana: pasar uang dan pendapatan tetap. 

Ada 4 jenis reksa dana di Indonesia, yaitu 

  1. Reksa dana Pasar uang; reksa dana ini cocok untuk Sahabat dengan profil resiko rendah dan jangka waktu investasi dibawah 5 tahun. 
  2. Reksa dana pendapatan tetap; dana yang masuk pada reksa dana ini dikelola untuk berinvestasi pada efek utang seperti obligasi. Cocok untuk investor dengan profil resiko rendah.
  3. Reksa dana saham; merupakan reksa dana dengan imbal balik paling besar, sekaligus dengan resiko yang paling besar juga. Reksa dana ini cocok dimiliki oleh investor dengan resiko tinggi. 
  4. Reksa dana campuran; dana yang dikelola biasanya diinvestasikan pada saham dan obligasi. Reksa dana ini cocok untuk Sahabat dengan profil resiko menengah hingga tinggi. 
Nah, seperti itulah cara saya memilih reksa dana. Agak-agak ngawur, tapi Alhamdulillah so far aman. Dan karena itulah saya tetap memilih jenis investasi untuk tabungan jangka panjang. 

Alasan saya memilih reksa dana untuk tabungan

Alasan utama saya memilih reksa dana adalah, karena nggak ada biaya admin bulanan. 😂😂 
Ya Allah ... saya kok bener-bener nggak mau rugi, ya? 

Beda memang dengan tabungan, reksa dana kan dihitung berdasar unit penyertaan, jadi yang naik turun hanya nilai NAB kita saja (untuk istilah lain dalam reksa dana nanti akan saya buat post terpisah), bukan unit penyertaan. Selama unit tersebut tidak kita jual, nilai uang kita Insya Allah aman. 

Alasan yang kedua, karena nilai lebih yang saya terima bukan bunga, melainkan hasil dari kinerja MI. Jadi, ketika MI mengalami penurunan kinerja saya pun juga akan mengalami penurunan hasil. Buat saya, ini lebih fair lah, dibanding dengan bunga. 

Alasan ketiga, nilai return reksa dana dapat mengikuti persentase inflasi, jadi Insya Allah tetap untung. 


Begitulah pengalaman saya menabung dengan reksa dana dan bagaimana saya dulu memilih reksa dana sebagai salah satu cara menabung. Semoga bermanfaat, sampai jumpa di artikel investasi berikutnya. 



Rahayu, untuk rahayupawitriblog.com
Pertanyaan dan kerja sama dapat menghubungi: 081312658622


You May Also Like

0 komentar