-->

Trik Menumbuhkan Minat dan Meningkatkan Literasi Baca pada Anak



"Ibu, jadi kenapa bioenergi itu baik?"
"Menurut Adik, kenapa?"
"Nggak tahu, enggak ada di buku."

Dan saat saya membuka ESPS IPA-nya, ternyata memang tidak ada kalimat yang meyebutkan apa manfaat bioenergi. Namun ada sebaris kalimat yang menyebutkan "Energi Alternatif umumnya tidak mencemari lingkungan karena tidak menghasilkan zat-zat buangan yang berbahaya bagi lingkungan." ①

Saat itulah saya sadar ternyata kemampuan literasi membaca, terutama untuk buku non fiksi, putri saya masih kurang.

Pentingnya literasi membaca pada anak dan apa yang bisa dilakukan orangtua untuk menumbuhkannya


Bagi saya pribadi, kemampuan memahami bacaan, sama pentingnya dengan kemampuan membaca.

Dengan memahami apa yang dibaca, anak tidak akan salah mengartikan informasi yang ia terima. Bagi saya, pada tahap inilah, seorang anak sudah dapat dikatakan memiliki literasi baca yang baik.

Arti literasi


Sahabat RPB tentu sering mendengar tentang literasi. Tapi sudah tahu belum apa arti literasi? 

Kata literasi memang sering dikaitkan dengan membaca dan menulis. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, literasi berarti kemampuan menulis dan membaca. 



Dan ketika literasi dikaitkan dengan baca tulis, artinya adalah 

"Literasi baca tulis: kemampuan untuk memahami isi teks tertulis (tersurat ataupun tersirat) dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan, potensi diri, serta kemampuan menuangkan ide atau gagasan ke dalam tulisan untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial"

Sayangnya, meski saat ini sebagian besar rakyat Indonesia sudah mampu membaca, namun kemampuan literasi baca di Indonesia masih sangat kurang.

Penelitian PBB (UNESCO) pada 2016 terhadap 61 negara, menunjukkan jika literasi baca Indonesia masih ada di peringkat 60. ②

Menurut Bapak Lukman Solihin, peneliti di Pusat Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Kemendikbud, akses rakyat Indonesia terhadap buku bacaan atau media baca alternatif lainnya masih sangat kurang.

Akses inilah yang menghalangi terwujudnya perilaku dan kebudayaan membaca di masyarakat kita.

Manfaat literasi baca pada anak

Saat ini pemerintah sedang giat menggalangkan kampanye literasi baca pada masyarakat, dan anak-anak utamanya.

Banyak kegiatan yang dilakukan demi naiknya literasi baca. Seperti yang dilakukan Perpusnas di lebaran tahun ini.
Nasional

membagikan buku gratis di beberapa titik terminal untuk menemani pemudik menuju kampung halamannya.

Bahkan 8 September lalu, Gubernur Anies Baswedan meresmikan ruang baca di stasiun MRT Bundaran HI.

Mengapa literasi baca penting? Karena literasi dapat meningkatkan pola pikir juga kecakapan individu.

Pada anak-anak, literasi baca akan membantu mereka

  • Menjadi seorang pembaca yang baik, 
  • Meningkatkan performa disekolah, dan
  • Meningkatkan pengalaman belajarnya. 
Anak yang hobi membaca dan mampu memahami bacaan, juga akan lebih kaya dengan pengalaman. Pengalaman yang bisa saja menjadi solusi saat kelak menemui masalah. 

Anak juga tidak akan mudah menjadi bosan karena ia mempunyai banyak "teman buku" yang mampu bercerita dan memberinya banyak wawasan. 


Peran keluarga dalam meningkatkan literasi baca pada anak


Seperti telah disebutkan diatas, jika saat ini akses membaca sangat mempengaruhi literasi baca, terutama pada anak.

Dan bicara tentang anak, tentu tidak dapat lepas dari keluarga, sebagai lingkungan yang paling dekat dengan anak.

Keluarga memiliki peran sangat penting salam meningkatkan literasi baca pada anak. Bagi anak, keluarga merupakan sekolah pertama, tempat belajar pertama bagi anak setelah ia lahir di dunia.

Sedari kecil, anak juga menghabiskan masa awal belajarnya dalam keluarga. Disinilah peran orangtua akan sangat menentukan tingkat literasi baca tulis pada anak.


Jadi, kira-kira apa saja yang dapat orangtua lakukan untuk menumbuhkan juga meningkatkan literasi pada anak?

Cara meningkatkan literasi baca pada anak 


Menurut saya, ada beberapa trik yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan dan meningkatkan literasi baca pada anak.

Dan ini, dapat kita lakukan semenjak dini.

Berikut ini adalah cara saya memupuk minat dan menumbuhkan literasi baca pada anak saya.

1. Mengenalkan media baca pada anak sejak dini

Pernah tidak terbayang mengenalkan buku sejak dini pada anak, sedari bayi malah?

Orangtua jaman sekarang sebetulnya memiliki banyak sarana dan prasarana untuk memupuk literasi baca pada anak.

Sahabat bisa menggunakan buku yang terbuat dari kain sebagai mainan juga media mengenalkan buku pada anak.

Saya memberikan buku kain saat Hana mulai tengkurap. Saat itu belum ada banyak penjual buku flanel seperti saat ini. Jadi, saya membuatnya dari kain perca yang ada di rumah.

Saya juga menggunakan album kain sebagai alternatif buku yang lain. Di dalamnya saya letakkan foto aktivitas Hana. Sambil bermain dengan bukunya, saya ajak dia ngobrol tentang aktivitas yang ia lakukan pada foto.

Saat ia beranjak besar, saya mulai mengenalkan hard book padanya.

Ada banyak hard book di pasaran; baik yang hanya berisi cerita, ataupun buku pop up yang dapat mengeluarkan suara sesuai gambar pada buku.

Percaya deh, kita tidak akan mati gaya pada aktivitas ini. Ada banyak sarana juga cara yang bisa kita lakukan untuk mengenalkan buku sejak dini pada anak.

Oya, satu lagi, membiasakan anak membuka lembaran buku, ternyata terbukti meningkatkan kemampuan motorik jari anak juga,lho.

Saya masih ingat, di usianya yang baru dua tahun, Hana sudah rapi memegang pensil.

Jadi, jangan ragu lagi, masukkan buku kain dalam daftar belanja perlengakapan bayi ya... 😉.

2. Sediakan tempat dan waktu khusus untuk membaca

Langkah yang kedua dapat kita lakukan saat anak sudah lebih besar. Lebih tepatnya saat ia sudah punya banyak aktivitas bermain di luar yang lebih banyak.

Saat hendak tidur (baik siang atau malam), saya sering mendongengkan cerita untuknya.

Alhamdulillah, sedari kecil Hana memiliki ritme waktu yang teratur, jadi mudah bagi saya untuk mengajaknya membaca di waktu tertentu.

Saya juga letakkan buku anak di tempat yang mudah Hana raih. Saat ingin membaca (diluar waktu mendongeng), biasanya ia akan asik dengan bukunya di dekat rak buku koleksinya.

Bagaimana jika di rumah tidak ada tempat untuk rak buku? Mudah saja, gunakan saja kotak sejenis dengan kotak mainan. Dan usahakan buku dan mainan dipisah. Selain memudahkan anak mencari, cara ini juga akan menjaga koleksi buku anak agar tidak mudah rusak.

3. Biasakan menanyakan pada anak isi bacaan yang ia baca

Saat Hana masih kecil, paling saya akan mengajukan pertanyaan tentang isi cerita yang baru saja ia dengar. Misalnya cerita tentang awan putih.

Saya akan menunjuk gambar awan pada buku yang baru saja kami baca. Saya biasanya bertanya ada apa dengan si Awan, mengapa awan menangis, dan apa yang kemudian terjadi pada Awan akhirnya.

Setelah memasuki usia sekolah, saya mengenalkan Hana pohon pikiranyang merupakan adaptasi dari mind map Tony Busan. 

Untuk mempermudah ia merangkum bacaan atau pelajaran, saya ajak ia menggunakan metode 5W+1H (apa, dimana, siapa, kapan, mengapa, dan bagaimana).

Cara ini cukup membantu Hana dalam memahami pelajaran ataupun bacaannya.

Tapi mungkin karena kemarin saya kurang intens menemani dia belajar, trik ini mulai dia lupakan. Dan begitulah, pemahamannya akan bacaan jadi sedikit menurun.

Aktivitas belajar Hana kemarin, benar-benar menjadi koreksi untuk saya, nih.

4. Ajak anak ke toko buku atau perpustakaan

Jika kita amati, anak-anak kita ini sebetulnya punya minat baca yang tinggi, lho. Tapi seringkali kita, para orangtuanya, tidak memberikan akses pada bacaan.

Jadi, yuk kita kurangi belanja barang yang tidak penting dan gunakan sebagai ongkos untuk mengajak anak ke perpustakaan atau jalan-jalan di toko buku.

Disana, Sahabat akan melihat, betapa antusiasnya anak memilih buku bacaan.

5. Gunakan media selain buku

Membaca tidak hanya tentang buku. Jika memang akses pada bacaan jauh (seperti di kota kecil saya, yang perpustakaan letaknya jauh atau tidak ada toko buku bacaan), kita dapat menggunakan media lain untuk meningkatkan litrasi baca anak. Misal dengan membaca baliho, iklan, brosur, dan lain sebagainya.

Untuk anak yang lebih besar, apalagi sudah kenal ponsel pintar, aplikasi Google Book, iPusnas, situs sahabatkeluarga.kemendikbud.go.id juga biasa gunakan sebagai sarana menambah bacaan anak.

Tips tambahan agar sukses meningkatkan litarasi baca pada anak

Menurut banyak pakar kepengasuhan, cara terbaik untuk mendidik anak adalah dengan contoh. Begitu juga dengan membaca, orangtua wajib memberikan contoh sebagai pembaca yang baik.

Tunjukkan jika Sahabat juga suka membaca, tidak hanya membaca buku, tapi juga gambar, tanda-tanda di jalan, pola sebuah peristiwa atau kejadian, dan lain sebagainya.

Pilihkan juga bacaan yang sesuai dengan tingkat usia dan kehidupan anak. Pada anak yang lebih kecil, Sahabat juga dapat mengubah bacaan menjadi lagi, atau sajak berirama. 



Dari apa yang saya uraikan di atas, semoga Sahabat RPB memiliki gambaran, jika ada banyak hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan literasi baca pada anak. Percayalah, ada banyak manfaat yang akan kita,-sebagai orangtua,- juga anak akan peroleh dengan memiliki kemampuan literasi baca yang baik.

Semoga ulasan diatas bermanfaat ya, sampai jumpa di ulasan perkembangan anak lainnya.





① Irene, ESPS IPA kelas 4, 2016, 81,Erlangga, Jakarta
https://edukasi.kompas.com/read/2019/06/23/07015701/literasi-baca-indonesia-rendah-akses-baca-diduga-jadi-penyebab Indonesia Rendah, tanggal akses 20 September 2019

E Voucher Sodexo, Voucher Belanja untuk Segala Kebutuhan

e-voucher-sodexo-voucher-belanja-untuk-segala-kebutuhan


Kalau pas awal bulan, dan browsing kebutuhan bulanan di aplikasi minimarket dekat rumah, saya sering kepikiran Bapak-ibu.

"Sabun Ibu, masih nggak, ya?"
"Wah, minyak favorit Ibu lagi diskon lumayan nih."

Kadang rasanya ingin pesanin dan tinggal minta antar ke rumah Bapak dan Ibu. Tapi seringnya saya urungkan dengan pertimbangan, belanja kebutuhan keluar rumah, bisa jadi alasan Bapak dan Ibu untuk jalan-jalan.

Meski ya, kendala lainnya, Bapak-Ibu harus berjalan jauh dulu kalau ingin ke ATM untuk ambil uang.

Ya, nggak masalah sih, tapi kadang kalau kondisi Berdua sedang tidak sehat, saya khawatir jika ada apa-apa di jalan.

Ngarep sih, ada voucher belanja yang nggak perlu dikirim via layanan antar, gitu. Kan uang pengirimannya juga cukup lumayan untuk tambahan voucher.

Sodexo, voucher untuk segala kebutuhan Anda


Sudah pernah dengar tentang sodexo? Sama, saya juga baru kenalan, kok.

Sodexo ini merupakan sebuah perusahaan Internasional yang sudah berpengalaman dalam meningkatkan kualitas hidup manusia dengan menggunakan voucher hadiah.

Sepintas memang seperti dengan voucher yang lain, namun Sodexo ini punya beberapa keunggulan, diantaranya:

  1. Dimulai dari nominal yang kecil 
  2. Berlaku di banyak merchant, baik online ataupun offline sehingga penerima voucher lebih bebas memilih merchant sesuai kebutuhan (fashion, supermarket, gerai makanan/ minuman/ minimarket, bahkan perjalanan) 
  3. Dapat dipersonalisasi, misalkan dengan memberi pesan singkat pada penerima 
  4. Lebih hemat dan lebih mudah didistribusikan karena dapat berupa email (yang bisa dicetak oleh penerima), SMS, atau voucher fisik.  
  5. Tingkat keamanan tinggi 


Aneka voucher Sodexo


Selain kemudahan dalam penggunaan, voucher sodexo ini juga banyak jenisnya, lho.

  1. Sodexo Gift Pass 
  2. Sodexo Epass 
  3. Sodexo Reward Pass 
  4. Sodexo Food Pass 
  5. Sodexo Discount Pass 
  6. Sodexo Loyalty program 


Seperti yang saya sebutkan diatas, jika voucher Sodexo ini juga dapat digunakan di banyak merchant dengan banyak kategori layanan baik online maupun offline. Lebih tepatnya di lebih dari 400-an merchant dan 19.000-an outlet yang menerima voucher Sodexo.

Beberapa merchant yang telah bekerja sama adalah gerai mini market (contoh: Alfamart. Alfamidi, dan Indomaret), gerai buku (misalnya Gramedia), layanan kecantikan (contoh: PerfectBeauty.id), layanan investasi (contoh: Pluang), Food and Beverage (misal toko buah Omiyago), agen perjalanan seperti Dwidaya Tour, dan masih banyak lagi.

Voucher Sodexo ini memang unik. Jika voucher lain biasanya hanya dapat dipakai untuk merchant-merchant besar dan hanya dengan kategori tertentu, voucher Sodexo membebaskan pengguna untuk memilih sendiri bagaimana hendak menggunakan voucher Sodexo.

Tapi tentu saja, sebelum berangkat, kita pun wajib cek terlebih dahulu, merchant yang kita tuju, apakah menerima voucher sodexo atau tidak dalam transaksinya.

Caranya bagaimana? Gampang kok, bisa langsung cek di situs resmi Sodexo, pada halaman “Cara Menggunakan e voucher Sodexo (ikuti tautan disamping dan Sahabat akan langsung menuju halaman daftar merchant yang bekerja sama dengan Sodexo).

Cara membayar dengan voucher Sodexo


Jika voucher Sodexo berbentuk digital, bagaimana cara menggunakannya? 

Sebelum kita ngobrolin cara membayar dengan voucher Sodexo, catat dulu ya, kalau voucher Sodexo juga ada yang berbentuk fisik seperti voucher lainnya.

Nah, kalau yang bentuknya fisik, kita tinggal sodorkan saja ke kasir saat membayar barang kebutuhan kita. Atau kalau ingin menggunakan untuk pembelian online, tinggal ketikkan kode voucher Sodexo pada kolom voucher yang tersedia.

Jika voucher Sodexo kita dalam bentuk email, kita bisa print out voucher tersebut dan tunjukkan pada kasir. Kalau Sahabat ingin hemat kertas (Love our earth!), ya tinggal tunjukkan saja kode voucher yang ada di email Sahabat.

Begitu juga jika voucher Sodeo yang Sahabat miliki dalam bentuk SMS atau bentuk digital lain. Sesimpel, dan semudah itu.

Cara membeli voucher Sodexo 


Jadi kalau kita ingin beli voucher Sodexo untuk keluarga, Sahabat, atau keperluan lainnya, caranya gimana dong?

Caranya ya, sama saja, cukup kunjungi situs resmi Sodexo, dan pilih produk voucher sesuai kebutuhan Sahabat. Kalau bingung, hubungi saja Customer Service untuk bantu pilih produk vouchernya.


Semoga informasi diatas bermanfaat, ya. Saya mau pilih voucher Sodexo untuk Bapak-Ibu dulu.
Sampai jumpa di ulasan produk lainnya, ya.

Time Blocking, Cara Mengatur Waktu untuk Bunda yang Memiliki Banyak Pekerjaan



Sudah dua minggu saya mencoba metode manajemen waktu yang baru. Baru untuk saya maksudnya. Kabarnya teknik ini membantu kita untuk lebih fokus dan cocok banget buat emak macam saya yang pekerjaanya nggak hanya menulis saja. Nama tekniknya adalah time blocking.

Alasan saya mencoba teknik ini karena dalam bulan ini saya memegang banyak project. Dan setelah kemarin mendapat pencerahan di kelas HIIP, How to Blog professionally, saya jadi sadar, jika ada banyak banget pekerjaan Blogger yang belum saya penuhi dengan baik dan benar. 😀

Nggak heran, blog saya rasanya kok hanya jalan di tempat, staristik nggak naik, pekerjaan konten ya gitu-gitu saja .... Pokoke nggak puas, deh.

Di sisi lain, saya merasa waktu saya semua sudah terisi dengan kegiatan; baik karena pekerjaan rumah tangga, menulis, juga belajar.

Karena itu, selain mencoba tracking time lagi, saya juga mencoba mapping, sebetulnya ada berapa jam jatah waktu yang saya miliki untuk pekerjaan menulis (blogging dan content writing).

Time blocking, alternatif cara mengatur waktu untuk Ibu dengan banyak pekerjaan


Sering stres nggak sih, karena to-do list kita tidak pernah selesai? Padahal rasanya sudah mengambil jeda hanya sebentar, cuma satu-dua tarikan napas saja? #halah
Tapi kenapa ya, to-do kok tidak berkurang, sepertinya malah makin panjang?

Kalau dari pengalaman yang saya lalui selama ini (puitis mode on), to-do nggak pernah kelar karena kita nggak realistis.

To-do yang kita buat atau tulis, ya to-do aja, nggak ada gambaran waktu kapan mengerjakan atau malah tidak untuk diselesaikan.

Pakai time mapping sebetulnya bisa, tapi kalau sedang mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu (contoh satu minggu pegang beberapa project, gitu), buat saya, time mapping nggak cukup.

Karena disana masih ada pertanyaan lanjutan, kapan dan berapa lama pekerjaan A akan dikerjakan? Bagaimana dengan pekerjaan B, berapa lama waktu yang harus dialokasikan?

Karena itulah, mulai Agustus kemarin, saya mencoba teknik time blocking.

Banyak yang mengatakan jika time blocking adalah teknik manajemen waktu pengganti to-do list.

Tapi setelah mempraktekkan teknik ini selama dua minggu, saya lebih suka menganggap jika blocking time adalah lanjutan dari to do list atau cara mengeksekusi to-do list yang telah dibuat. 

Jika dalam to do list kita hanya membuat daftar pekerjaan yang akan kita lakukan, dengan time blocking, to do list tersebut akan memperoleh gambaran waktu yang lebih nyata, kapan bisa dikerjakan, serta berapa lama pekerjaan tersebut akan dilakukan.

Sebagai ibu yang juga harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tentu Bunda sadar jika ada beberapa pekerjaan atau kegiatan yang tidak bisa Bunda geser-geser lagi waktunya. Misalnya, antar-jemput anak, menyiapkan masakan di pagi hari, membersihkan rumah, dan seterusnya.

Waktu-waktu seperti inilah yang kadang kita lupa untuk perhitungkan. Padahal justru di waktu-waktu inilah yang bisa membuat to-do kita semakin panjang.

Dengan kata lain, dengan membuat blocking time, Bunda akan memiliki gambaran waktu yang lebih realistis tentang to-do atau planning harian Bunda.

Aneka cara time blocking


Saya mengenal istilah time blocking pertama kali saat mengikuti kelas produtivitas coach Aji Darmawan. Tapi saat itu cara hanya ini digunakan sebagai waktu yang telah ditetapkan untuk belajar, bukan mengatur waktu secara keseluruhan.

Cara orang membuat time blocking memang berbeda-beda, diantaranya:

#1. Time blocking waktu kerja

Cara ini seperti cara yang dikenalkan coach Aji, yaitu mengalokasikan waktu tertentu untuk bekerja dengan durasi sesuai kebutuhan. 

Bagi kebanyakan orang, bisa saja berupa 8-9 jam kerja, mulai jam 8 sampai jam 5 sore. Dengan cara ini maka kita memiliki waktu untuk bekerja kira-kira 40 jam dalam seminggu. 

Setelah tahu alokasi yang waktu yang dimiliki, Bunda tinggal membagi waktu yang dimiliki untuk jenis pekerjaan yang hendak digunakan. 

Cara ini sangat bermanfaat untuk Bunda atau Sahabat RPB yang bekerja dalam bidang kreatif. Karena saat waktu kreatif terganggu, biasanya juga mengganggu fokus kreatif atau ide yang dimiliki.

#2. Time blocking waktu pribadi

Jika Bunda bebas menentukan waktu kerja, maka bukan jam atau hari bekerja yang ditentukan, tapi justru waktu pribadi yang sebaiknya Bunda alokasikan terlebih dahulu. 

Waktu pribadi yang dimaksud adalah waktu untuk memasak, mencuci, olahraga, dan lains sebagainya. 

Dengan melakukan time block pada aktivitas ini, Bunda akan tahu berapa waktu (juga hari) yang Bunda miliki untuk bekerja. 

Ini juga cara yang sedang saya coba sejak Agustus lalu. 

Saya menentukan terlebih dahulu waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, belajar dan mengaji, dan barulah membagi waktu yang tersisa untuk bekerja. 

Saya memilih cara ini, karena saat ayah sedang shift siang, waktu memasak jadi pindah lebih siang. Karena itu, setelah up down mencoba time blocking waktu kerja, metode blocking waktu pribadi sepertinya lebih tepat untuk saya saat ini. 

#3. Time blocking sesuai target

Cara ini cocok untuk Bunda yang target kerjanya ditentukan oleh waktu. Kerja remote sebagai customer service, admin sosial media, biasanya menggunakan target waktu dalam bekerja. 

Bunda yang sedang memiliki target tertentu (menurunkan berat badan, hapalan surat, berpartisipasi dalam ODOJ) juga bisa menggunakan time blocking ini untuk mencapai target yang diinginkan.

Misalkan Bunda harus menurunkan persentase lemak dan perlu berolahraga selama 2 jam di pagi dan sore, maka, blok waktu mama berdasar waktu tersebut.

Tahap-tahap membuat time blocking


1. Buat daftar pekerjaan, baik pekerjaan yang penting, pekerjaan penting satu, pekerjaan penting 2

2. Masukkan juga keperluan pribadi seperti mandi, masak, atau Bunda yang harus bekerja di luar rumah, masukkan juga waktu "dalam perjalanan" (commute time)

3. Pilih metode time blocking, dan buatlah  time blocking Bunda.


Gunakan warna berbeda untuk setiap pekerjaan. Waktu dalam perjalanan, menunggu anak disekolahan, termasuk waktu dead-time. Waktu ini juga perlu diperhitungkan, agar gambaran waktu Bunda lebih realistis.

Masukkan juga waktu untuk cek email dan sosial media. Karena kadang kita tanpa sadar menghabiskan waktu untuk kedua hal tersebut. Dengan mengalokasikan waktu, kita jadi tidak terjebak scrolling media sosial berjam-jam, dan akhirnya sadar, waktu satu jam sudah berlalu. 😀

Pengalaman mencoba time blocking selama 1 bulan


Time blocking pertama saya, gagal total. 😁

Karena di awal saya menggunakan metode waktu bekerja. Sayangnya, diantara waktu tersebut, sering banget mendapat gangguan seperti tiba-tiba diajak riyungan makan, ayah shift malam, jadi harus masak siangan, jadwal ngaji tiba-tiba berubah, dan lainnya.

Di minggu kedua, saya mencoba blocking waktu pribadi. Dengan cara ini pola produktivitas saya mulai terlihat.

Sayangnya, waktu produktivitas saya malah di pagi hari, saat koneksi internet lebih lancar, dan juga belum ada gangguan dari luar.

Jadi, saya memutuskan untuk bangun lebih pagi. Tapi ya, gitu deh, harus hati-hati, karena kalau malam telat tidur, besoknya pasti telat bangun. Akhirnya harus re-schedule, deh.

Alhamdulillah, di akhir minggu ketiga, tubuh saya mulai beradaptasi. Tanpa alarm pun, saya mulai bangun jam 2 pagi. 

Sejauh ini saya merasa time blocking membantu saya untuk lebih fokus pada pekerjaan, karena sudah yakin, semua sudah punya waktu untuk dikerjakan.


Oya, time blocking ini awalnya memang ribet, karena harus membuat tabel, dan teliti dengan jadwal seminggu ke depan. Tapi Insya Allah, membantu keberhasilan kita dalam mengatur waktu.


Demikian ide cara mengatur waktu untuk Bunda yang memiliki banyak pekerjaan. Semoga bermanfaat.... 😊