Mengenal 3 Motif Batik Temanggung

by - 8/16/2019





Kemarin teman saya update status di WA dengan caption “ motif batik Temanggung”. Saya langsung reply, kenapa nggak ngajak saya jalan-jalan melihat perkembangan Temanggung waktu saya pulang kampung. 😀😀

Hal yang paling saya sukai saat pulang kampung, selain menikmati keindahan dan kesunyian kota, adalah kemajuan kota tempat saya tumbuh, kota Parakan pada khususnya, dan Temangugng pada umumnya.

Saya sering memilih untuk tidak nge-bid project apapun demi menikmati kemajuan pembangunan kota di kaki gunung Sindoro-Sumbing ini.

Dulu, orang mungkin akan bertanya, “Di Temanggung, main kemana saja?”, dan saya pasti mikir lama.

Beda dengan sekarang, obyek wisata tersebar dari pinggir kota hingga lereng gunung Sindoro-Sumbing.

Dan di lebaran tahun ini, saya bertemu dengan hal baru di kota Temanggung, batik Temanggung.

Motif batik Temanggung 

Batik Temanggung sebetulnya memiliki banyak motif, bahkan setiap desa terus mengembangkan motif batik sebagai identitas khas daerah.

Misalnya desa Purwosari yang berada di kecamatan Kranggan mengembangkan motif rendeng, kembang kop, putri malu, dan duren. Alasanya, karena ketiga hal tersebut memang banyak dijumpai di desa Purwosari

Tapi kali ini RPB akan cerita 3 motif khasnya saja, ya. Lain waktu, insya Allah diupdate lagi.

#1. Motif Tembakau atau mbako



Kota kelahiran saya ini memang sekarang punya komoditi lain sebagai icon budaya, yaitu batik Temanggung.

Batik Temanggung memiliki motif khas berupa kopi dan tembakau. Motif Tembakau dipilih karena dulu, Temanggung memang dikenal sebagai kota emas hijau.

Emas yang dimaksud ya, daun tembakau ini. Disebut emas, karena tembakau berharga cukup mahal, dan bisa membuat penjual atau pemiliknya kaya mendadak. 😊

Masih jelas dalam ingatan saya, betapa geliat ekonomi di Temanggung menjadi lebih semarak setiap kali musim Tembakau datang. Pasar lebih ramai, toko perhiasan penuh, orang membeli sepeda motor, selayak membeli kacang godog (kacang rebus) di pinggir jalan.

Masih ditambah dengan munculnya pedagang musiman yang membuat musim tembakau selalu dinantikan oleh warga Temanggung. Hampir semua orang bergembira setiap musim tembakau datang, karena mereka pasti kecripatan rejeki (dapat tambahan penghasilan) di musim tembakau, apapun profesinya.

Tapi seiring dengan gaung gaya hidup sehat, kampanye pemerintah terhadap bahaya merokok, juga pergantian musim yang sering tidak menentu, aura tembakau Temanggung mulai surut.

Kualitasnya banyak ditolak oleh pabrik-pebrik rokok. Masih ditambah dengan beberapa petani yang nakal, musim tembakau di Temanggung kini kehilangan masa jayanya. Banyak petani mulai merugi. 

Disaat itulah pemerintah mulai mencari alternatif lapangan kerja untuk warga Temanggung. Dan muncullah ide untuk membuat sentra-sentra ekonomi di beberapa desa, dengan komoditinya adalah wisata budaya, kopi, dan batik.

Dan untuk mengenang sebutan emas hijau, motif tembakau dipilih sebagai salah satu motif di batik Temanggung. Motif batik tembakau selain menggambarkan bentuk tanaman tembakau, juga menggambarkan seluruh kegiatan pertanian tembakau.

Motifnya biasanya berupa daun dan bunga tembakau juga rigen (rigen merupakan anyaman bambu yang digunakan untuk menjemur tembakau).

Warna dingin seperti hijau dan biru sering digunakan dalam motif batik tembakau. Beberapa juga ada yang mengkombinasikannya dengan warna merah dan kuning, juga warna netral lain seperti biru tua dan hitam.

#2. Motif kopi 



Seperti namanya, batik ini menggambarkan biji-bijian kopi yang disusun diantara motif bunga kopi. Beberapa batik menggunakan motif ukel sebagai isen (pengisi ruang kosong) diantara susunan kopi dan bunga.

Eh, tapi saya nggak punya banyak cerita tentang motif kopi ini, kemarin nggak diceritain banyak tentang kopi Temanggung ini sih. Jadi, segini aja yang saya tahu, maafken, ye ... 🙏

 #3. Motif mliwis 



Motif yang satu ini tidak banyak dikenal masyarakat. Dilansir dari situs antaraTV, batik mliwis ini hanya dikenal di kalangan tertentu saja.(dengan alasan apa, saya juga belum tahu, nih.) 

Motif mliwis malah sudah ada sebelum ada motif tembakau dan kopi. Pertama kali dikemabngkan oleh ibu Sri Rahayu, seorang pengrajin batik yang tinggal di Temanggung.

Mliwis merupakan slah satu burung yang ada di legenda Anglingdarma.

Batik Mliwis pertama kali dirancang tahun 1966, tapi lebih serius dikembangkan sejak tahun 2010, saat batik mulai giat dikembangkan di daerah Temanggung.

Nah, gitu deh, selintas cerita tentang batik Temanggung. Sampai jumpa di cerita kota Temanggung lainnya, ya.

You May Also Like

4 komentar

  1. Batik memang budaya khas Indonesia banget yah mbak, karenanya satu daerah aja motif batiknya bisa beragam apalagi kalau dikumpulin motif batik seluruh Indonesia, bangga deh pokoknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indonesia itu sebetulnya kaya, hanya kadang kita yang lupa.

      Delete
  2. aku naksir yg motif kopi, kl liat kain cantik gituh sbnrnya sayang ya digunting buat jd baju

    ReplyDelete
  3. Betul mbak, apalagi batik Temanggung ini,- sejauh yang aku tahu,- belum ada versi capnya. Jadi ya, sepotong kain sepanjang 2,5 m saja harganya bisa sampai Rp500rb. Sayang banget kalau dipotong 🤭.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk saat hanya pengguna Google dulu yang dapat berkomentar. Insya Allah nanti akan saya tambah dengan kolom untuk komentar Facebook.