-->

6 Rekomendasi Makanan Sehat untuk Ibu Menyusui yang juga Vegetarian

rekomendasi makanan sehat untuk ibu menyusui


Ibu baru seringkali sudah terlalu lelah menyusun menu makanan sehat untuk ibu menyusui dengan benar dan tepat.

Dan tantangan tersebut menjadi dobel ketika ibu juga seorang vegetarian.

Menu makanan ibu menyusui tetaplah harus memenuhi semua nutrisi yang bayi butuhkan, tidak peduli apakah ibu seorang vegetarian atau bukan. Sayangnya, banyak sekali sumber nutrisi yang bayi butuhkan justru dari produk hewani seperti daging dan ikan.

Meskipun begitu, jangan dulu menyerah, ya, Bu, masih ada banyak kok alternatif pilihan makanan nabati yang bisa Ibu konsumsi.

6 Rekomendasi makanan sehat untuk ibu menyusui yang juga seorang vegetarian 

Kunci dari kecukupan ASI pada ibu menyusui adalah kecukupan nutrisi. Dan sudah tahukah Ibu, kecukupan nutrisi pada ASI ternyata juga memberikan rasa yang lezat pada ASI?

Karena itu, fokuslah memilih jenis makanan yang sehat, cukup bervariasi, tapi tetap mudah Ibu siapkan.

Berikut ini RPB punya 6 rekomendasi makanan vegetarian, untuk membantu ibu yang sedang menyusui memenuhi kebutuhan nutrisi pada ASI, plus tips praktis untuk menyiapkannya di rumah. 

#1. Blueberries

Kita semua tahu, makanan berwarna ungu ini memiliki nutrisi yang sangat lengkap, termasuk antioksidan. Bahkan bagi ibu menyusui, blueberi bisa sebagai sumber energi, plus vitamin A dan K, kalium juga kalsium.

Ibu bisa menambahkan bluberi sebagai toping sereal, yogurt, atau malah mengolahnya sebagai smoothie. Ingin lebih segar dan praktis? Mengapa tidak mencoba mengkonsumsinya langsung begitu keluar dari freezer. Anggap saja, blueberi tersebut adalah ice cream yang segar di tengah siang hari bolong.

Untuk mendapatkan manfaat optimal, pilih bluberi dengan warna yang lebih gelap.

Tips praktis: simpan persediaan bluberi segar dalam freezer, daripada Ibu harus bolak-balik ke mini market terdekat. Alternatif lainnya, stok saja beberapa kue muffin blueberi atau buat salad buah bluberi.

#2. Alpukat

Alpukat memberi kontribusi 60% kalium lebih banyak dibanding pisang, mengandung lebih banyak asam folat, vitamin C, lutein dan lemak baik, dan serat yang lebih banyak dibanding buah yang lain.

Alpukat juga baik untuk ibu menyusui karena dapat membantu meningkatkan energi ibu.

Konsumsi alpukat langsung dalam bentuk potongan atau selipkan ke dalam roti sandwich kesukaan Ibu.

Tips praktis: memilih alpukat yang matang kadang cukup menyulitkan. Cobalah cari rekomendasi penjual online yang menyediakan layanan pesan antar dan menjamin jika alpukat yang Ibu beli memang cukup matang.

#3. Yogurt

Yogurt merupakan jenis makanan yang sangat praktis dengan kandungan kalsium yang tinggi, probiotik, vitamin B12, magnesium, dan nutrisi penting lainnya.

Bagi ibu vegetarian yang menyusui, Ibu masih bisa memilih yogurt yang berasal dari susu kedelai. 

Yogurt susu kedelai juga masih mengandung cukup banyak protein, vitamin C, vitamin D, dan kalsium.

Tips praktis: lengkapi isi lemari es Ibu dengan satu pack yogurt, jika ingin lebih bervariasi, Ibu bisa menyimpannya di freezer, dan mengkonsumsinya dalam bentuk es krim.

#4. Beras merah

Beras merah sudah lama direkomendasikan sebagai makanan sumber karbohidrat yang sehat.

Beras merah mengandung banyak sekali sumber vitamin B, magnesium, fosfor, kalium, zinc, copper dan selenium.

Beras merah juga mengandung kolin, salah satu nutrisi penting yang membantu perkembangan otak pada bayi, menguatkan ingatan, juga mencegah kerusakan hati.

Tips praktis: beras merah seringkali lebih lama dimasak. Karena itu pastikan ibu telah menyiapkannya dipagi hari, atau pilih beras merah instan yang lebih mudah untuk disiapkan.

#5. Kacang-kacangan

Kacang-kacangan mengandung serat cukup banyak, vitamin E, lemak sehat dan juga kalsium. Kacang juga praktis untuk dikonsumsi.

Penelitian terbaru malah menyebutkan, kacang-kacangan (yang diolah dengan tepat) dapat membantu menurunkan kadar kolesterol, membantu mencegah penyakit jantung, dan meningkatkan kerja aliran darah.

Untuk ibu yang sedang menyusui pilihlah kacang-kacangan yang diolah tanpa garam (unsalted nuts). Jika mungkin, pilih kemasan kacang yang berisi campuran aneka jenis kacang-kacangan, agar Ibu dapat memperoleh nutrisi yang bervariasi.

Tips praktis: lengkapi stok cemilan ibu dengan kacang siap konsumsi seperti hazelnut, kacang almond, atau kacang panggang.

#. Sayuran berdaun hijau gelap

Sayuran berdaun hijau gelap mengandung kalsium, serat, vitamin C, dan asam folat.

Ibu vegetarian yang menyusui seringkali merasa risau jika tidak mencukupi kebutuhan besi untuk si Kecil. Tapi Ibu tidak perlu kawatir, karena dalam sayuran berdaun hijau ini, ada banyak sekali sumber Fe yang bisa Ibu peroleh.

Ibu dapat mengonsumsi sayuran berdaun hijau ini dalam bentuk jus. Atau jika sedang ada waktu Ibu bisa menumis atau mengolahnya sebagai sup yang segar.

Tips praktis: cara paling cepat untuk mengonsumsi sayuran berdaun hijau adalah dengan mengolahnya sebagai jus. Tapi pastikan Ibu telah mencuci sayuran dengan air mengalir. Jika mungkin, beli saja sayuran organik dari penjual online agar ibu tidak perlu repot-repot pergi ke pasar. 



Dengan 6 jenis rekomendasi makanan sehat untuk ibu menyusui diatas, semoga Ibu tidak galau dan bingung memilih menyusun menu makanan meski ibu seorang vegetarian.

Jangan lupa, lengkapi kelengkapan nutrisi dengan mengonsumsi air yang cukup.

Agar mudah, sediakan botol berkapasitas 2 liter di dekat ibu. Penelitian telah membuktikan jika air juga termasuk penambah energi. Karena saat Ibu keurangan air atau dehidrasi, ibu akan merasa pusing dan cepat merasa lelah.

Jika ibu bosan dengan rasanya yang tawar, coba sesekali buatlah infuse water dengan memasukkan sedikit potongan lemon atau malah buah bluberi.

Selamat mencoba 6 rekomendasi makanan sehat untuk ibu menyusui diatas, ya, salam saya untuk si Kecil di rumah.

Rekomendasi Buku Agenda Paling Tepat untuk Ibu Rumah Tangga, agar Sukses Mengatur Waktu di Rumah

Apa buku agenda yang paling tepat untuk ibu rumah tangga?
(sumber gambar: freepik.com)


"Mbak, apa buku agenda yang paling oke untuk ibu rumah tangga? Aku kagok kalau pakai buku agenda kerja yang dijual di pasaran."
Seperti itulah kira-kira curhatan beberapa ibu yang juga sedang belajar mengatur waktu di rumah.

Seperti juga trik mengatur waktu yang paling tepat, bagi saya, buku agenda atau buku catatan yang paling tepat, ya buku yang sesuai dengan keseharian kita.

Saya pribadi menggunakan buku tulis spiral biasa untuk mencatat to-do-list dan non-to-do-list. Catatan tersebut saya jadikan satu dengan journaling saya.

Iya, buku journaling saya memang all in one, semua tumplek bleg disana. Isi journal saya memang gado-gado, ada gratitude journal, ada daftar belanja, rencana masak mingguan, time mapping, catatan kesehatan, kegalauan, journal mimpi, semua ada.  😀😀😀

Kalau kata teman saya, saya ini tipe prefeksionist, jadi cocok dengan catatan all ini one. 

Bagian perfeksionisnya mungkin bener ya, tapi saya juga punya tujuan kenapa memilih menjadikan satu semua catatan; biar nggak repot, itu saja. Kalau semua ada di satu tempat, mau pergi kemana aja, tinggal cukup bawa satu buku kan?

Alasan lain sih, hidup kita ini kan nggak selalu berjalan sesuai rencana; jadi kadang ada janji, task, atau hal lain yang terlupa. Mengumpulkan semua yang terlewat dalam satu tempat membantu saya lebih mudah menjadwal ulang atau tidak lupa.

Nah, karena itu, sebelum memilih agenda yang tepat, kenali dulu kebutuhan Ibu, catatan seperti apa yang Ibu inginkan. 

Masih bingung? Saya punya beberapa rekomendasi buku agenda yang bisa Ibu pilih, nih.

Aneka ragam buku agenda, agar ibu sukses mengatur waktu


#1. Buku agenda kerja

Ini sih, jenis agenda yang umum, ya. Biasanya didalamnya sudah berisi kolom harian, mingguan, juga bulanan. Beberapa malahan dilengkapi juga dengan lembar untuk mencatat nomor telepon, pengeluaran harian, goals (cita-cita), dan lain sebagainya.

Untuk Ibu rumah tangga, mungkin buku agenda seperti ini terasa berlebihan, ya? Tapi menurut saya, tidak ada salahnya dicoba. Kan sedang mencari "pasangan tepat" untuk mengatur waktu dengan baik? Setiap orang kan punya preferensi masing-masing.

Agenda yang cantik bisa membuat ibu tambah semangat mengatur waktu, lho. Plus, bagian bonusnya juga bisa ibu manfaatkan untuk mencatat pengeluaran, nomor telepon penting, dan masih banyak lagi.

Oya, buku agenda kerja seperti ini, biasanya juga sudah dilengkapi dengan tanggal, tahun, jam, jadi ibu tinggal isi saja dengan kegiatan, atau to-do-list. Praktis banget.


#2. Dream planner

Nah, kalau yang ini cocok untuk Ibu yang sedang punya cita-cita tertentu; seperti menurunkan berat badan, pengen beli rumah, ingin segera khatam menghafal Al-Qur'an dan seterusnya.

Menurut saya, dream planner itu keren lho, karena membantu kita untuk fokus pada tujuan.

Beberapa hari memakainya, saya merasa lebih bersemangat untuk mengatur waktu, dan tidak mudah goyah dengan godaan-godaan kecil yang mampir.

Dalam dream planner, Ibu akan diajak untuk mengenali apa sih, sebetulnya goals ibu; mengapa goals itu penting, bagaimana ibu akan mencapainya, memperkirakan hambatan, rencana bulana, mingguan, hingga to-do-list harian. Komplit kan? 

Hal lain yang saya suka dari agenda dream planner adalah, enggak ada tanggalnya. Jadi bisa mulai diisi kapan saja, dan sampai kapan saja.

#3. Agenda produktivitas

Saya baru nemu buku agenda ini setelah mengikuti kelas produktivitas coach Aji Darmawan. Dan sepertinya, tidak banyak (atau malah belum ada, ya) agenda seperti ini dipasaran.

Hampir mirip dengan dream planner, agenda produktivitas ini juga dilengkapi perencanaan mingguan, bulanan, dan harian.

Karena agenda ini lebih fokus ke produktivitas, maka Ibu akan diajak untuk menentukan juga prioritas kegiatan utama, kedua, dan ketiga.

Oya, buku agenda produktivitas ini dibuat dalam bentuk tri wulan atau 12 pekan. Karena dalam prinsip produktivitas, perencanaan efektif, akan kelihatan per tiga bulan.

Buku agenda produktivitas ini juga un-dated; alias nggak ada tanggalnya. Jadi, ibu bisa mulai kapan saja menggunakan buku agenda ini, tanpa khawatir ada penanggalan yang kadaluarsa.

#4. Buku tulis biasa

Ini nih, buku agenda favorit saya. Bagi saya, yang konvensional itu lebih asik. 😀

Tapi saya nggak pakai buku tulis biasa, saya memilih pakai buku tulis yang rada cantik; yang kertasnya polos, sampulnya yang hard cover atau plastik, dan jilidnya pun yang kuat atau dari spiral.

Nggak ada tujuan utama sih, biar beda saja dengan buku tulis catatan sekolah Hana.


Oya, selain keempat buku diatas, Ibu juga bisa menggunakan aplikasi Android atau IOS sebagai buku agenda. Hanya saja, kalau sedang low bat, jadi agak repot pengen lihat jadwal harian yang berjalan.

Alternatif lainnya, pakai board agenda. Tapi sejauh ini, saya baru lihat Indscript saja yang meluncurkan agenda serupa. Bentuknya sih, cukup kecil, bisa dilipat, jadi Ibu juga akan lebih mudah membawanya kemana saja.


Itulah Ibu, beberapa rekomendasi buku agenda yang bisa Ibu coba agar sukses mengatur waktu dan produktif di rumah. Semoga bermanfaat, dan selamat mencoba!

Kulineran Favorit untuk Buka Puasa Bareng di Kota Parakan, Temanggung



Ada yang mau mudik via kota Parakan, tapi kawatir mau buka puasa dimana? Tenang, pilihannya banyak kok, enak-enak lagi.

Seperti yang pernah saya ceritakan di post Pasar Legi Parakan, jika kampung halaman saya ini sekarang terus berbenah dan menjadi semakin cantik. Tidak hanya fasilitas umum yang diperbaiki, tapi juga sarana lain seperti kulineran juga dibenahi.

Jadi, jika saat ini Sahabat ingin mudik melewati kota Parakan nggak perlu kawatir lagi tentang masalah makan. Banyak pilihannya.

Rekomendasi kulineran di kota Parakan untuk buka puasa


1. Warung makan Ani

Ini adalah resto makanan legendaris di kota Parakan. Selain jadi salah satu favorit tempat makan warga sekitar, bisanya para pendatang, mudikers, atau siapa saja yang melewati kota Parakan pasti tidak lupa mampir di warung ini.

Menu yang ditawarkan di Warung Makan Ani ini juga beragam, mulai dari soto ayam, rawon, gudeg, dan masih banyak lagi.

Warung makan Ani gampang banget kok dicari. Kalau Sahabat datang dari arah barat dan melewati jembatan Kali Galeh, maka Warung Makan Ani terletak di sebelah kiri jalan. Persis di pertigaan Parakan - Temanggung - Kedu. Lebih tepatnya ada di Jl. Raya Parakan - Kedu Km. 2, Campursari, Temanggung.

2. Kuliner Malam Pasar Legi, Parakan

Mau cari apa aja disini ada; bakso, soto, sate, mie ayam, bubur kacang ijo, semuuuaaa.... ada! Silahkan dipilih.

Seperti namanya, letaknya tentu saja di Pasar Legi, Parakan. Tepatnya disebelah utara pasar.

Kalau Sahabat datang dari arah Wonosobo, deretan kiosnya ada disebelah kiri setelah belokan Pasar Legi. Tapi kalau Sahabat datang dari arah Ngadirejo, ya harus muter dulu. Bisa lewat kantor polisi Parakan, atau agak jauh, muter di tugu Bambu Runcing.

Seperti namanya, pasar malam, kios-kios makanan disana buka mulai jam 6 sore. Pas banget untuk buka puasa. Apalagi, letaknya juga tidak jauh dari masjid Kauman, atau mushola-mushola kecil yang ada disetiap gang (lupa anmanya, maaf 😀).

3. Warung mie godog sore

Ini saya agak lupa nama tepatnya sih, tapi dia ada di dekat pertigaan Djanoko, Parakan. Warung lama, dan favorit saya sejak kecil. Mie rebusnya uenak buanget, khas mie godhog jawa.

Kalau dari arah perempatan kantor pos, tinggal lurus aja, letaknya ada disebelah kanan.

Nanti deh, kalau pulang, saya update info lengkapnya, ya.

4. Kuliner Jl. Diponegoro

Di malam hari, sepanjang Jl. Diponegoro (arah barat menuju Pasar Legi Parakan) saat sebetulnya juga banyak warung-warung tenda yang biasa digunakan untuk buka puasa bersama.

Mulai dari goreng sore, warung pecel lele dan ayam goreng, nasi goreng, juga sego kucing. Tinggal milih suka jajanan apa.

5. Warung brongkos bu Ramijan

Ini adalah warung must visit setiap kali saya pulang ke Parakan. Aromanya nasi anget  plus kuah brongkos dan daging sapi empuk diatasnya, nggak akan pernah saya lupa. Nulis begini saja rasanya saya ngecium aromanya. Lebay? Pasti akan bilang "enggak" kalau sudah nyobain makan disini.

Dari jaman saya TK, saya sudah sering jajan kesini. Dulu tuh, saya beli nasi dan kuah brongkos cuma Rp100,- disini. 😀😀

Bahkan saya punya cerita aneh bin ajaib yang berkaitan dengan warung ini. Nanti aja deh, saya cerita di post terpisah, ya.

Warung ini amat sangat populer bagi para pendatang di kota Parakan. Warungnya nggak pernah sepi dari pengunjung. Tapi sayang bukanya hanya di jam tertentu.

Pokoknya kalau lewat kota Parakan, cobain deh, mampir. Nggak jauh kok, hanya beberapa meter dari perempatan kantor pos.


Hmm... ada lagi nggak, ya? Ada sih sebetulnya, kalau sampai di Parakan masih agak sore (jam 4-5), di seputaran tugu Bambu Runcing dan Pasar Legi Parakan, juga banyak tukang takjil untuk berbuka puasa.

Tapi saya jarang main kesini, paling sering mampir ya, di kelima tempat diatas. Kurang sreg saja sama beberapa makanannya, lebih suka masakan ibu. He he he

Oke deh, itulah beberapa rekomendasi tempat buka puasa bareng di kota Parakan. Semoga bermanfaat, ya. Selamat mudik, semoga selamat sampai tujuan dan hepi kumpul bareng keluarga.


Buka Puasa Bersama, Agar Tak Menjadi Sekedar Wacana Forever



Buka puasa identik dengan buka puasa bersama. Meski ya...kebanyakan hanya menjadi wacana forever. 😀

Ada beberapa alasan mengapa orang akhirnya menjadikan buka puasa hanya sebatas wacana saja. Misalnya karena kawatir ibadah wajib menjadi tertunda, lokasi yang dipilih terlalu jauh, atau alasan klasik, waktunya nggak pas.

Kalau hanya sebagai peserta, bukan pemakrasa sih, nggak masalah, karena tidak punya beban tanggung jawab. Tapi bagaimana kalau kita termasuk panitia yang memang diamanahi untuk mengadakan buka puasa bersama?

Tentu saja harus pintar-pintar cari cara agar semua peserta komitmen dengan kesepakatan buka puasa bersama.

Buka puasa bersama, agar tidak hanya menjadi wacana forever


Agar buka bersama berjalan sukses, beberapa trik berikut ini mungkin bisa Sahabat coba

#1. Pilih lokasi dengan tempat ibadah yang mudah diakses

Tujuannya tentu saja menghindari mereka yang kawatir ibadah utamanya akan terabaikan, tetap bersemangat menghadiri buka puasa bersama.

Kalau saran RPB, lebih baik pilih lokasi di rumah salah satu peserta, agar ibadah lebih mudah dilakukan, tidak perlu bergiliran seperti di mall atau tempat umum lainnya. Malahan kalau di rumah peserta, ibadahnya bisa bareng dengan peserta yang lain.

Jika ingin berada di mall, pastikan setiap peserta tahu alternatif tempat ibadah yang mudah diakses. Beberapa mall kadang menyediakan tempat ibadah di beberapa lantai.

Alternatif lain, coba acara bukbernya di masjid besar saja, dijamin deh, pasti banyak yang mau.

#2. Waktu buka puasa sebaiknya di awal atau 10 hari pertama

Ramadhan adalah bulan utama, banyak yang sudah berencana untuk lebih khusuk menjalankan ibadah. Karena itu kadang "ingin beribadah lebih khusuk" suka menjadi alasan untuk menolak ajakan buka puasa bersama.

Solusinya, coba adakan acara bukbernya di awal-awal Ramadhan. Selain masih bersemangat, biasanya orang pun masih belum repot dengan keperluan Idul Fitri, sehingga masih lebih mudah meluangkan waktu untuk kumpul bersama teman.

Bagi Sahabat yang bekerja di kota besar, coba adakan buka puasa bersama seusai jam kantor. Bisanya sambil nunggu situasi lalu lintas sedikit lebih lengang, bisa tuh, ngobrol bareng sambil buka puasa.

#3. Rencanakan jauh-jauh hari

Yang satu ini emang tips kalsik, tapi merencanakan jauh-jauh hari akan membantu genk atau keluarga Sahabat untuk bersiap dan mengosongkan jadwal jauh-jauh hari.

Lebih baik pilih saat weekend, awal weekend (jum'at atau Sabtu). Biasanya mereka yang sudah berkeluarga tetap ingin menghabiskan waktu buka puasa dengan keluarga inti masing-masing.

Tentukan juga budget yang perlu dikeluarkan. Sebaiknya pilih menu makanan yang budget friendly agar kesempatan untuk ikut semakin terbuka lebar.

#4. Buka puasalah dengan peserta yang ada

Meski hanya terkumpul  orang yang bersedia hadir, tetap saja bulatkan tekad untuk meneruskan rencana. Sedikit lebih baik, daripada banyak, tapi malah berpotensi gagal kan?


Itulah 4 hal yang bisa Sahabat coba agar buka puasa bersama tak menjadi sekedar wacana. Selamat berbuka puasa, ya....

Tradisi Menyambut Datangnya Bulan Ramadhan

tradisi-menyambut-datangnya-bulan-ramadhan


Hari pertama Ramadhan masih sangat sepi di komplek Graha Prima ini. Hanya terdengar suara mobil satu dua yang melintas. Selebihnya sepi... 😊😊

Kesunyian ini (duh, bahasanya ...) membuat saya ingat dengan kampung halaman di kota Parakan sana. Dulu hari pertama Ramadhan biasanya malah sedikit rame. Usai subuh anak-anak akan keluar main agar lupa dengan rasa lapar dan haus yang dirasakan.

Kalau jaman saya dulu bulutangkis biasanya menjadi mainan favorit, tidak tahu kalau saat ini. Mungkin kalau sekarang, anak-anak malah lebih tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bersama gadget kesayangan.

Iya, disana rata-rata anak kecil malah sudah punya hape sendiri, meski emak-bapaknya kadang malah tidak paham benar bagaimana menggunakan atau mengoperasikan perangkat pintar tersebut.

Tapi Alhamdulillah, masih ada satu tradisi yang belum hilang di kampung saya, namanya tradisi padusan.

Tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan

Sepanjang hidup saya (#tsah...) saya mengenal dua tradisi untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dan menjadi tiga tradisi setelah si Hana masuk sekolah.

Tiga tradisi menyambut datangya bulan Ramadhan tersebut adalah padusan, punggahan, dan tarhib Ramadhan.

#1. Tradisi padusan, mandi suci untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan

Padusan adalah tradisi menyambut bulan Ramadhan yang paling saya kenal sejak kecil.

Padusan berasal dari kata "adus" yang dalam bahasa Jawa berarti "mandi".

Jadi padusan kira-kira artinya mandi bersuci dengan air yang mengalir atau mandi berendam lebih dari satu kolah. Makna dari padusan ini adalah mandi bebersih untuk menyongsong datangnya bulan Ramadhan.

Karena mandi dengan air mengalir atau air satu kolah lebih, padusan seringnya dilakukan di sungai atau di kolam renang. Anak-anak kecil biasanya lebih memilih mandi di kolam renang. Selain bertujuan untuk mandi bersih, padusan di kolam renang juga menjadi alasan untuk jalan-jalan.

Iya, bagi kami dulu, pergi ke kolam renang masih merupakan hal yang mewah, dan tidak semua orang dapat pergi kesana. Kalau sekarang sih, sudah kebalikan. Kolam renang sudah menjadi tempat rekreasi mingguan untuk masyarakat disana.

Orang dewasa umumnya melakukan padusan di rumah, mandi keramas di bawah kucuran air kran (yang dinginnya sedingin air kulkas). Usai mandi bisanya juga diikuti dengan aktivitas bebersih lainya seperti memotong kuku, mempersiapkan peralatan sholat yang bersih, juga bebersih rumah.

Dari cerita ayah dan ibu kemarin, saat ini padusan memang lebih banyak dilakukan di rumah masing-masing, hanya satu-dua orang saja yang pergi ke kolam renang, atau malah mandi di sungai.

Sungai kebanggan kami, Kali Galeh, memang sudah tidak bersih lagi sekarang. Ditambah airnya pun sekarang sudah sangat berkurang, akibatnya susah sekali mencari kedung (salah satu titik sungai yang untuk ciblonan (mandi berendam atau berenang di sungai).

#2. Punggahan, opor untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan

Saya kenal tradisi punggahan ini sejak bekerja dan menetap di Jakarta. Awalnya bingung, kenapa awal puasa kok pasar menjadi lebih ramai dari hari biasanya. Saat orang menyebut kata "punggahan" pun saya bingung.

Konon punggahan atau kadang disebut juga munggahan berarti naik, yang maknanya naik menuju bulan suci atau bulan yang tinggi derajatnya.

Tradisi punggahan biasanya diisi juga dengan ziarah ke makam dan saling bermaafan.

Ada yang unik tentang tradisi bermaafan ini. Waktu itu pintu kamar saya diketuk oleh ibu kos yang datang untuk bermaafan. Saya bingung, kenapa belum Idul Fitri kok sudah bermaafan.

Ternyata begitulah, di Jawa Barat, khusunya mereka yang asli Sunda, masuk bulan Ramadhan ini ternyata tidak hanya suci secara lahiriah, tapi juga batiniah, termasuk bersih dari dosa terhadap orang lain.

Ada yang bercerita, punggahan juga merupakan wujud syukur kepada Allah SWT karena diberi kesempatan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan, serta wujud doa, semoga dihindarkan dari perbuatan buruk selama menjalankan ibadah puasa.

#3. Tarhib Ramadhan, pawai keliling menyambut datangnya bulan Ramadhan

Orang Jawa Barat tuh, tradisinya memang banyak ya. Sudah ada punggahan, masih juga ada tarhib Ramadhan.

Saya kenal tradisi ini sejak Hana masuk ke SDIT. Setiap tahun menjelang Ramadhan, siswa kelas 1-3 biasanya berpawai keliling daerah sekitar sekolahan sambil membawa spanduk dan membagikan makanan kecil, permen, coklat dan lain sebagainya.

Selain sebagai syiar Islam, tarhib Ramadhan juga merupakan cara untuk mengajak anak-anak kecil bergembira dan bersemangat berpuasa di bulan Ramadhan.


Itulah tiga tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan yang saya kenal selama ini. Seru, dan semua memiliki makna yang baik menurut saya. Karena tujuannya adalah menebar semangat dan bergembira menyambut datangnya bulan yang penuh berkah ini.

Udah dulu deh, ceritanya. Mau balik kerja dulu. Selamat berpuasa ya, Sahabat. Semoga puasa tahun ini membawa keberkahan dan keberkahan untuk Sahabat sekeluarga.

Btw, kamu punya tradisi unik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan? Share dong di kolom komentar.


Sumbu Pendek dan Rasa Sakit



Siang ini saya baru saja kembali dari kontrol trombosit, setelah seminggu yang lalu dokter menyatakan jika trombosit saya di bawah standar.

Rasanya bahagia sekali sewaktu dokter mengatakan semua sudah normal, "Hanya perlu makan teratur, tidak boleh telat, pastikan istirahat cukup, dan minum vitamin."

Well, bukan sebuah kondisi yang cocok untuk merasa sedih dengan backsound mengharubiru kan? Meski sesekali, ujung jari saya masih terasa kesemutan, plus otot jari tangan dan kaki terasa kaku, but it's okay, yang penting saya tidak perlu terus-terusan meletakkan kepala diatas bantal.

Sakit kali ini rasanya beda dengan sakit-sakit saya yang lalu. Selain waktu penyembuhannya yang lama, entah, emosi saya seolah ikut-ikutan down kali ini.

Sumbu pendek dan rasa sakit


Sejak harus masuk rumah sakit karena suhu tubuh terlalu tinggi hingga kalium yang ada dalam tubuh terserap dan otot jemari saya kaku, saya sepertinya jadi membenci orang-orang disekitar saya, terutama Hana dan ayah.

Di mata saya, apapun yang mereka lakukan selalu terlihat salah. Ayah yang tak juga mengerti jika istrinya butuh istirahat total, Hana yang seolah menjadi bengal karena saya yang tidak mampu mengawasi detil kesehariannya, semua terasa menyesakkan! Sampai akhirnya muncul keinginan untuk menepi terlebih dahulu di kampung halaman, istirahat total.

Sebuah jalan keluar yang sebenarnya juga bukan solusi yang tepat. Karena tentu, Bapak dan Ibu (yayi dan kakung Hana) malah akan lebih khawatir tentang Hana. Dan mungkin Hana pun akan lebih tidak terurus mengingat si Ayah belum pernah sekalipun saya tinggal berhari-hari hanya dengan Hana.

Tapi sungguh, saat itu saya hanya ingin satu hal, istirahat total.

Setiap hari saya hanya bisa marah, marah, dan marah.

Saat sendiri, jujur saya merasa sangat kawatir, takut tidak dapat berpikir positif. Saya juga khawatir jika saya tidak bisa berpikir jernih lagi, dan kembali ke saya yang dulu; apatis, terbiasa dengan pikiran buruk, dan tidak pernah bisa melihat sisi positif dari apapun.

Saya sangat takut, karena seberapa keras saya mencoba untuk tetap berpikir positif, bahkan sekedar istigfar pun saya tidak sanggup. Pikiran dan hati saya terus saja melayang entah kemana. Saya hanya bisa marah pada apapun yang ada di depan saya.

Marah, tidur, dan makan, itu pekerjaan saya sehari-hari.

Untunglah, ketika packing saya belum selesai, saya harus kembali lagi ke RS karena saya merasakan kram di bagian wajah dan dada.

Di rumah sakit, setelah jarum infus terpasang di lengan kanan, saya akhirnya menyerah. Semua standar "seharusnya" saya letakkan. Dan saya memilih untuk tidur, tidak peduli ayah yang sempat menunggu, kemudian pergi dan akhirnya datang bersama Hana. Saya hanya ingin tidur.

Sekembali dari RS untuk kedua kalinya itu, saya mencoba "berdamai" dengan semua standar saya.

Jika dulu saya merasa kasihan dan tidak enak hati jika si Ayah harus repot nyuci dan bangun pagi menyiapkan sarapan, sekarang semua saya biarkan. Abaikan saja rasa tidak enak hati itu.

Jika kemarin saya marah-marah pada Hana karena tas dan sepatunya yang berantakan, sekarang saya hanya bilang rapikan. meski saya harus berkali-kali mengingatkan, saya tidak peduli. Saya hanya ingin melepaskan apa yang ada dipikiran saya.

Jujur, ada rasa takut saat melihat si ayah, saya pikir dia akan marah karena artinya dia harus kerja dobel. Tapi syukurlah, dia mau mengerti dan tidak banyak mengeluh.

Di saat itu saya jadi berpkir, seperti inikah perasaan mereka yang sedang sakit; merasa mampu melakukan banyak hal, merasa ingin melakukan ini itu, merasa tidak enak pada mereka yang merawat dan mengurusi; tapi karena tidak mampu akhirnya mereka hanya bisa marah? 

Pernah saya berpikir, jika mereka yang sakit kenapa susah sekali diajak mengatur makan. Tapi setelah sakit kemarin, akhirnya saya bisa memaklumi,-setidaknya,- sebagian alasannya.

Saat sakit, memang sulit sekali untuk berpikir jernih, apalagi jika tidak terbiasa melatih pikiran untuk tetap positif. Yang dibutuhkan saat sakit adalah fakta pendek, jika "Aku bisa sembuh" bukan penjelasan panjang lebar, "kamu nggak boleh makan ini, kamu nggak boleh melakukan itu". Bukan, bukan seperti itu yang diharapkan oleh si sakit.

Lebih tepatnya, kami butuh ditenangkan, dimengerti, diredakan dari pikiran buruk, dan lainnya.

"Tapi kan faktanya memang seperti itu, ada beberapa hal yang dilarang."

"Kami tidak mau tahu. Yang kami tahu, saat sakit kami ingin punya pikiran tenang. itu saja"


Begitulah, sakit kemarin benar-benar membawa pemahaman baru untuk saya, terutama bila nanti berhadapan dengan saudara, orangtua, atau sesiapa yang sedang sakit.

Saat sakit, kadang rasanya memang masih ingin melakukan banyak hal. Tapi bila hal tersebut membuat kita bersumbu pendek, marah-marah, dan hampir tidak kenal dengan diri kita, mungkin ada baiknya melepaskan keinginan itu, dan mulai menerima. Percayalah, memiliki pikiran yang lapang, sungguh membantu bagi kesembuhan.

Bagi Sahabat yang sedang menghadapi si sakit, semoga Tuhan memberkahi dengan kesabaran yang banyak, melapangkan hati, menguatkan punggung Sahabat...