-->

Review Kelas Online Tantangan Produktivitas 27 Hari

review kelas online tantangan produktivitas 27 hari



Seperti yang saya janjikan di post My Awesome 2018, saya ingin bercerita tentang salah satu kelas produktivitas yang saya ikuti dan sanggup mengubah hidup saya pada bulan-bulan akhir tahun 2018. 

Nama kelasnya " Tantangan Produktivitas 27 Hari" yang diciptakan oleh coach Darmawan Aji.

Tentang kelas online "Tantangan Produktivitas 27 Hari"


Seperti namanya, kelas ini didesain untuk membantu kita memiliki gambaran bagaimana agar lebih produktif dan bahagia selama 27 hari. 

Bahagia? Yups, karena setiap kita mampu melakukan satu keberhasilan, kemenangan, atau kesuksesan meskipun kecil, maka kita akan merasa lebih bahagia. 

Tantangan produktivitas 27 hari merupakan kelas online; setiap hari coach Aji akan mengirimkan satu tantangan produktivas melalui surel yang harus peeserta lakukan.  

Diakhir hari, peserta melaporkan hasil tantangan yang ia lakukan pada halaman Facebook yang telah ditentukan atau membalas surel tersebut. 

Peserta juga diberikan kesempatan untuk konsultasi baik melalui surel ataupun nomor Whatsapp coach Aji. 

Tentang coach Darmawan Aji



Darmawan Aji adalah seorang Professional Life Coach yang berfokus pada pengembangan diri, dan juga mengajarkan NLP (Neuro-Linguistic Programming) 

Beliau juga ketua NLP-Society, yang merupakan komunitas pembelajar NLP di Indonesia.

Buku Beliau yang terkenal dan menjadi Best Seller adalah Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, dan Productivity Hack.

Isi kelas Tantangan Produktivitas 27 Hari 


Karena namanya sudah 27 hari berarti ada 27 materi dalam kelas ini. Materi dalam kelas tersebut antara lain:

review kelas online tantangan produktivitas 27 hari


Review kelas Tantangan Produktivitas 27 Hari


Saya baru saja hendak menyerah membuat time mapping saat coach Aji malah memberikan tugas log activity selama satu minggu. Tujuan dari tantangan hari pertama ini adalah mengetahui, "ngapain aja sih, kita selama seminggu ini?". 

Coach Aji memberikan template berupa form yang berisi jam, hari dan kolom aktivitas. 

Tapi karena coach Aji membebaskan peserta untuk membuat form catatannya sendiri, saya memilih menggunakan aplikasi log activity, aTimeLogger untuk mencatat kegiatan saya sehari-hari.

aTimeLogger membuat saya lebih mudah mencatat detil waktu, tinggal pencet saja, maka aplikasi akan menghitung detil menit dan detik kegiatan saya. 


Peserta diminta mencatata kegiatan mereka selama seminggu, dan selama waktu itu peserta tidak boleh mengubah kegiatan, hanya karena sadar jika kegiatannya "useless", terlalu banyak stalking sosial media, atau malah nonton drakor. #eh 😀

Jujur, bagi saya ini sudah dua tantangan.

Tantangan pertama, tidak mengubah kebiasaan itu sudah cukup berat. Lha wong tahu useless, kenapa juga dilanjutkan kan? Sementara coach Aji wanti-wanti, nggak boleh diubah. 😀😀😀 Trus aku kudu piye, coba? Bener-bener menguji kejujuran kan?

Eh, tapi OOT dikit ya, mencatat kegiatan itu memang men-trigger kita untuk berubah, tapi ni kalau nggak kuat hati, saat ada gangguan, let's say, di hari ketiga, maka bisa saja akan kehilangan semangat lagi dan kembali ke kebiasaan lama. Termasuk malas untuk mencatat kebiasaan. 😁😁 #pengalamanpribadi. 

Bener-bener harus punya kekuatan hati yang besar untuk tetap rajin dan konsisten mencatat. 

Tantangan yang keduanya adalah, ya itu tadi konsisten mencatat. Apalagi beberapa kebiasaan saya sudah terbentuk, dan itu membuat saya "gedhe rumangsa, jumawa" dan malas mencatat kegiatan lagi. Tapi Alhamdulillah, sih, bisa menyelesaikan catatan seminggu itu meski bolong dua hari. 😀😀

Selama seminggu mencatat, tidak berarti tidak ada materi, tetap saja coach Aji memberikan tantangan lain; seperti memanfaatkan waktu satu menit, membangun micro habit, membangun kebiasaan baik, dan memetakan komitmen. 

Setelah satu minggu, barulah peserta diminta untuk melakukan tinjauan pekanan. Setelah hari ketuju inilah, tantangan produktif lainnya mulai dilakukan. Mulai dari membuat blok waktu, sampai bagaimana membuat perencanaan bulanan. 

Saat mengikuti kelas ini awalnya saya hanya membuat jawaban dibuku, tanpa melampirkan materi. Just do it!.

Nah, saat melakukan review untuk artikel ini, ternyata saya banyak yang lupa dengan materi atau terlewat detil tugas.

Karena itulah, meski kelas telah usai, saya kembali mencatat materi dan menggabungkan jawaban. 

Mencatat ini ternyata menjadi lebih efektif, karena kita bisa menggunakannya setiap saat, terutama saat melakukan review kegiatan mingguan atau bulanan. 

💡Jadi, saran saya, jika memang hendak mengikuti kelas ini, lebih baik dicatat dibuku terpisah atau malah dibuat tabel dan di print. Suatu saat butuh tinggal buka lagi, nggak pelru scrolling surel satu per satu.

Dan karena kelas ini adalah kelas online, tentu saja keberhasilan kelas sangat tergantung pada peserta masing-masing. Setiap peserta perlu jujur apakah ia sudah melakukan atau belum tantangan di hari itu.

Saya paling seneng kalau laporan di halaman Facebook, karena selain dapat berinteraksi dengan peserta lain, saya juga bisa ngintip progres dari peserta lain. 😀 Jadi bikin semangat maksudnya, karena kan ada temen, dan kalau dia bisa, kenapa sih aku enggak he he he.

Sekitar akhir November, kelas ini usai. Dan Alhamdulillah saya jadi punya gambaran untuk melangkah. Nggak selalu sukses dan well done sih ngatur waktunya, tapi ketika sudah mulai melenceng, materi di kelas ini membuat saya lebih mudah menemukan jalan untuk kembali. #tsah

Eh, saya juga jadi berhenti nonton drakor lho, gara-gara ikut kelas ini. Setiap menit jadi terasa berharga. Masih ngintip kegiatan D.O (anggota EXO) sesekali sih, tapi jadi nggak terlalu lama. Alarm itu seolah ada di kepala, "tunggu akhir minggu saja,si DO nggak akan kemana-mana." 😀😀😀😀😀😀

Harga kelas Tantangan Produktivitas 27 Hari


Saat pertama kali coach Aji membuka kelas ini, harga kelas ditawarkan hanya Rp99rb, dari harga normal Rp297rb. 

Tapi terakhir mengakses halamannya, kelas ini sekarang ditawarkan dengan harga Rp349rb. 

Pros dan Cons kelas online Tantangan Produktivitas 27 Hari


Pros
  1. Memicu peserta untuk benar-benar lebih produktif karena materinya sederhana, dan do-able
  2. Mudah diakses, hanya membutuhkan surel saja
  3. Mudah dilakukan karena materi diberikan secara bertahap
Cons
  1. Benar-benar membutuhkan komitmen tinggi, dan mungkin cukup berat bagi mereka yang baru memulai belajar produktivitas
  2. Tidak ada feedback langsung dari tantangan yang telah dilakukan, seperti koreksi atau komentar

Kesimpulan:

Terlepas ada atau tidaknya feedback, menurut saya ini kelas produktivitas yang keren; memberikan panduan praktek belajar lebih produktif dalam waktu satu bulan. And it worked for me, yeay!

Buat saya, dari 1-5 bintang, maka kelas online ini dapat 🌟🌟🌟🌟


Thank you for reading, see you at another review post


My Awesome 2018; My Review and my Thank you

review tahun 2018


Saya tidak tahu harus menulis judul apa untuk post kali ini. Yang saya tahu, saya menutup tahun 2018 dengan bahagia. Ada perasaan puas, meski itu tidak dalam bentuk materi. Dan hal itu membuat saya lebih meyakini bahwa saya akan lebih baik di tahun 2019 nanti.

Banyak pencapaian "keren" yang saya peroleh di akhir tahun ini; pencapaian yang membuat banyak perubahan dalam hidup saya.

Pencapaian terkeren  di tahun 2018


#1. Berdamai dengan masa lalu

Bermula dari sebuah pekerjaan review, saya kenal dengan metode self-healing dari Hawai, Ho'oponopono.

Dulu saya pernah di bully, salah seorang guru malah pernah meramal saya tidak akan pernah sukses dan sanggup menyelesaikan satu pekerjaan pun. Saya juga membawa masa lalu gelap, yang setiap mengingatnya, membuat saya menangis berhari-hari, plus menuntut jawab pada Tuhan, "Kenapa saya harus dilahirkan?"

Dan hal itu membuat saya tenggelam dalam "I am notthing, I am looser" dan seterusnya (can you see how power words here?).

Alhamdulillah, memahami Ho'oponopono membuat saya berdamai (sekaligus dalam proses memaafkan) tiga hal tersebut.

Jurnal-jurnal yang saya buat setiap hari membuktikan, jika saya dapat menyelesaikan pekerjaan. Aktivitas meditasi membantu saya memahami bahwa, berat-ringan masalah adalah bagaimana cara memandangnya. Terselesaikan atau tidak, itupun tergantung bagaimana reaksi saya terhadap masalah tersebut.

Begitu juga dengan "dendam masa lalu", akhirnya saya bisa menerima, jika semua ini adalah cara Allah mendidik saya. Toh, jika tidak menghadapi semua masalah ini, apa iya saya akan belajar hidup sejauh ini?

#2. Menemukan track produktivitas 

Sedari 2013 saya belajar time management, dan nggak pernah sukses. Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya bertemu dengan coach Aji. Tips yang Beliau berikan membantu saya menganalisa dimana kesalahan saya selama ini. Bagian ini akan saya ceritakan pada post terpisah.

#3. Bertemu dengan kawan-kawan remote worker

Pernah mendengar tentang remote worker?

Pekerja remote worker adalah mereka yang bekerja dari jarak jauh. Mereka bisa saja seorang freelancer atau pekerja lepas, bisa juga seorang pekerja full time.

Kawan-kawan yang berada dalam grup ini rata-rata adalah para developer (developer digital ye... bukan developer rumah 😀), penterjemah, copy writer, dan masih banyak lagi.

Menyimak pembicaraan, juga cara mereka bekerja memberi saya wawasan baru, diluar sana benar ada kesempatan dan pekerjaan yang bisa dicoba, selama kita mau terbuka.

#4. Akhirnya punya blog bahasa Inggris

Ini sebetulnya merupakan janji lama pada mbak Widi, pemilik blog Mustika Ungu. Beliau sering colek-colek mencari blog berbahasa Inggris, untuk job placement yang diperolehnya.

Sayang, blog berbahasa Inggris masih jarang di Indonesia. Jadi, waktu itu doi colek-colek, mengajak membuat blog berbahasa asing.

Setelah sekian lama ngumpet tiap kali dicolek 😀, akhirnya saya bisa memulaianya juga.

Bermula dari coba-coba promo hosting blog di Dewaweb, akhirnya lahirlah agrowingblog.com, yang rencananya akan menjadi versi Inggris dari rahayupawitriblog.com.

Masih dalam tahap membangun saat ini, artikelnya pun baru ada dua, tapi Insya Allah, seperti namanya, she's growing soon. 😊



Itulah 4 hal terkeren yang saya peroleh di tahun 2018. Hal-hal yang semula tidak pernah terpikir saya akan mampu melakukannya, ternyata saya bisa membuktikan kepada diri saya, bahwa saya bisa.

Insya Allah, saya memasuki tahun 2019 dengan pandangan dan semangat baru. Alhamdulillah. Sungguh saya bersyukur, bahwa Allah telah menjalankan saya hingga sejauh ini.

Nah, bagaimana denganmu Sahabat, apa pencapaian terkerenmu di tahun 2018?