-->

Cara Berkata Tidak, Meski itu Terasa Tidak Nyaman

cara_mengatakan_tidak


Pagi ini saya bangun dengan mata yang bener-bener, amat sangat mengantuk! Kepala juga terasa berat. Kalau nggak ingat Hana harus sekolah, bener deh, saya rasanya ingin peluk bantal lebih lama lagi.

Sudah beberapa hari ini saya sering lembur. Jika biasanya jam 9 (maksimal 9.30) sudah menutup mata, tapi sudah tiga hari kemarin tidur pasti diatas jam 11 malam.

Sudah dari awal minggu memang niat pengen lembur, dan sebetulnya semua akan berjalan baik-baik saja, jika pekerjaan yang sudah saya rencanakan selesai rencana.

Sayangnya, meski sudah lembur hingga malam, malah kadang hak Hana terabaikan, tidak ada satupun pekerjaan yang saya rencanakan selesai. Ada beberapa hal yang membuat saya harus merelakan waktu bekerja untuk hal lain.

Tak mengapa jika itu hanya 1 atau 2 pomodoro (sekitar 1 jam), sayangnya, koneksi internet yang kadang ngadat, membuat gangguan tersebut terpaksa saya kerjakan hingga malam.

Dan semua kegagalan tersebut membuat saya lelah banget! Akhirnya saya berpikir, It is time for me to stop and say "no".

Begitulah pada akhirnya, kita semua harus memilih kan? Meski sebetulnya saya juga kurang nyaman dengan pilihan tersebut.

Cara berkata "tidak" dengan perasaan yang lebih nyaman


Hidup di Indonesia dengan unggah-ungguh yang masih dipegang erat, berkata "tidak" memang bukan hal yang mudah, termasuk saya. Apalagi sebagai orang Jawa, ibu seringkali mengingatkan agar lebih "menimbang perasaan orang lain" sebelum berkata-kata atau berbuat; berkata "tidak" benar-benar bukan hal yang mudah.

Untunglah sejak sadar bahwa, bertahun-tahun level hidup saya tidak benar-benar maju, saya mulai belajar berani berkata "tidak".

Dan inilah beberapa hal yang pernah saya coba agar orang lain dapat mengerti jika adakalanya saya harus berkata "tidak".

#1. Katakan "tidak" dengan cara lain

Saya mengawalinya dengan memberitahu orang lain tentang keseharian saya.

Sejak beberapa bulan berprofesi sebagai freelancer, saya sadar jika 15 menit saja waktu terlewat dari jadwal, maka to-do-list di hari berjalan pasti berantakan. Itulah mengapa saya punya "jam tertentu" dimana saya tidak mau diganggu (istilah produktivasnya; blocking time).

Agar orang dalam lingkaran pertemanan saya tahu kebiasaan saya itu, sesekali saya unggah to-do-list atau planning mingguan saya di halaman media sosial dan/ atau status WA.

Dengan cara itu saya ingin memberitahu siapa saja dalam lingkaran saya, jika saya memiliki "time table" sendiri.

Alhamdulillah cara ini cukup berhasil. Saat ini jika ada yang hendak menelpon atau sekedar mengajak ngobrol biasanya bertanya dulu, "Lagi free, nggak?", "Jam istirahat nggak, nih?" atau malah janjian dulu, "Weekend aku mau ngobrol, ye". πŸ˜€


#2. Berikan saja alasan

Pengalaman lain, saat kemarin seorang kawan mengajak untuk berolahraga bersama.

Sayangnya, olahraga rutin yang biasa kawan saya lakukan ini durasinya terlalu lama, sehingga saya malah kelelahan dan tidak bisa melanjutkan aktivitas di hari berjalan.

Akhirnya, ketika ia mengajak olahraga bareng lagi, saya katakan saja keberatan saya apa adanya.

Jujur ada sedikit perasaan tidak enak waktu itu. Yach, bagaimanapun kita semua tahu, mengatur jadwal, punya time-table, masih belum terbiasa di masyarakat kita. Jadi, rasanya agak gimana gitu he he he.

Tapi memberikan alasan yang tepat ternyata benar-benar "menyelamatkan" semuanya, lho. πŸ˜€ Jadi cobalah, katakan saja apa alasan yang membuat Sahabat keberatan.

#3. Ulur waktu

Kadang perasaan ingin menolak muncul tanpa alasan yang jelas, sekedar tidak ingin saja.

Saya punya dua cara untuk mengatasi hal ini.

Bila momen tidak nyaman tersebut terjadi dalam komunitas, biasanya saya hanya diam saja, nggak komen apa-apa. Jika nanti sudah diputuskan, dan ternyata saya punya kewajiban, baru saya sampaikan keberatan saya.

Nah, jika momen tidak enaknya terjadi dalam hubungan personal, saya lebih suka mengulur waktu. He he he. Misalnya dengan bilang, "Aku mikir dulu, deh", atau "Aku cek jadwal dulu, ye...".

Nge-gantung jawaban alias PHP sebenarnya bukan hal yang baik (nyebelin yang pasti), tapi dengan mengulur waktu, kita bisa mengumpulkan keberanian untuk akhirnya berkata "tidak".

#4. Awal dengan kata "terima kasih"

Aslinya nih, kabar buruk akan selalu jadi kabar buruk, jawaban "enggak" tetap akan terasa tidak enak. Tapi kita bisa mengurangi kadar "ketidak enakan" tersebut dengan cara mengucapkan terima kasih.


  • "Terima kasih sudah meluangkan waktu, ...", 
  • "Terima kasih sudah bersedia mengundang, ...", 
  • "Terima kasih sudah mempertimbangkan dan mikirin aku ..." dan seterusnya.


#5. Pakai intro 😊

Masih belum cukup berani langsung bilang enggak? Coba awali dengan kalimat lain,

"Aku tertarik sih, tapi ..."
"Gimana ya, aku nggak berani kalau harus, ..."
"Hmm... kayaknya bisa sih, cuma aku ..."

Gimana, cukup nggak untuk latihan berkata "tidak"? Semoga cukup, ya.

Ngerti sih, bagi sebagian kita berkata "tidak" itu memang benar-benar berat. Pokoknya bisa jadi beban seumur hidup. Tapi menurut saya, daripada kita menyesal nanti dan akhirnya malah benci diri sendiri karena nggak bisa tegas, lebih baik mulai belajar deh, cara berkata tidak meski di awal terasa tidak nyaman.


Okay, thank you for dropping by, see you at another productivity post.  


Jangan Salah Pilih Tempat Tidur Bayi; Merk Dialogue adalah Pilihan Tepat

Demi kenyamanan bayi, berhati-hatilah saat memilih termpat tidur bayi (sumber gambar: pexels)

Memilih tempat tidur bayi saat ini bisa dibilang susah susah gampang, apalagi untuk Sahabat yang baru saja dikaruniai putra atau putri pertama.
Sebagai orangtua, Sahabat pasti ingin memberikan yang terbaik untuk si Kecil termasuk memastikan jika tempat tidurnya aman serta nyaman. 

Walaupun sebagai orangtua, Sahabat akan memonitor si Kecil sepanjang waktu, tidak ada salahnya juga jika mempertimbangkan memilih perlengkapan bayi baru lahir yang masuk kategori aman. 
Ini
Salah satu rekomendasi merek yang dapat Sahabat pilih, adalah tempat tidur bayi merek Dialogue. Kelebihan tempat tidur ini, selain dapat berfungsi sebagai kasur bayi, dapat juga digunakan sebagai sofa bagi si Kecil ketika beranjak besar nanti. 

Agar tidak salah pilih tempat tidur bayi

Tempat tidur bayi merek Dialogue, alternatif tempat tidur bayi yang aman
(sumber gambar: bukalapak,com)

Ada beberapa hal yang sebaiknya Sahabat perhatikan saat memilih tempat tidur bayi, diantaranya:

1. Sebaiknya pilih tempat tidur baru
Seperti perkembangan teknologi, saat ini para produsen tempat tidur bayi juga terus berinovasi, tidak hanya pada model atau kenyamanan tempat tidur, tapi juga keselamatan bayi. 

Seringnya terdengar kasus bayi cidera karena terjatuh dari tempat tidur dan juga kasus alergi bayi pada material pembuat tempat tidur; membuat para produsen terus berusaha mengembangkan produk mereka agar memenuhi standar keselamatan bayi. 

Karena itu, membeli tempat tidur yang terbaru bisa menjadi tambahan pertimbangan saat memilih tempat tidur untuk si Kecil. Logikanya, produk terbaru biasanya juga dibuat berdasar inovasi terakhir. Dan karena pertimbangannya adalah keselamatan bayi, maka tidak ada ruginya memilih tempat tidur bayi dari seri terbaru produsen, guna memastikan si Kecil mendapat desain dan fitur keamanan yang lebih baik.

Lalu bagaimana bila budget untuk pembelian tempat tidur terbatas? Poin kedua, mungkin bisa menjadi alternatif. 

2. Usia tempat tidur bayi
Jika jika sahabat terpaksa membeli tempat tidur bayi pada tangan kedua, saya sarankan untuk membeli tempat tidur bayi yang furniturenya tidak lebih dari 3 sampai 10 tahun. 

Seperti disebutkan diatas, ada kemungkinan tempat tidur second hand sudah tidak memenuhi standar keselamatan terbaru. 

Di Amerika Serikat, pemerintahnya malah menyarankan orangtua menghindari membeli tempat tidur bayi bekas. Bahkan merekaakan menindak tegas apabila ada oranguta atau pihak mana saja yang menjual tempat tidur bayi bekas. Sekedar informasi, kegiatan jual beli perlengkapan bayi yang satu ini termasuk ilegal, lho!

3. Desain tempat tidur 

Jika kita perhatikan,  banyak sekali model tempat tidur bayi dengan pagar tempat tidur yang bisa dinaik-turunkan. 

Sepintas model tempat tidur bayi ini aman, karena dapat melindungi bayi. Selain itu orangtua pun akan mudah mengangkat dan meletakkan bayi tanpa harus membungkuk. 

Tapi apakah tempat tidur bayi dengan model seperti ini aman? Belum tentu, lho. 

Model tempat tidur drop-side ternyata lumayan berbahaya bagi anak. Hal ini terkait dengan kemungkinan kesalahan selama perakitan. 

Saat bayi semakin besar dan mulai belajar berdiri, biasanya sisi tempat tidur menjadi sandaran saat bayi belajar berdiri. Dan jika salah merakit, bisa saja pagar pelindung ini justru akan turun sendiri dan membahayakan keselamatan si Kecil. 

Jadi meskipun di Indonesia belum ada larangan khusus terkait model tempat tidur bayi, ada baiknya jika Sahabat memilih model yang didesain lebih kuat dan stabil.

Maka dari itu, cobalah pertimbangakan tempat tidur bayi merek Dialogue. Untuk informasi lebih lanjut bisa diakses pada halaman ini.

4. Lepaskan plastik dari matras tempat tidur

Selain karena alasan yang tidak nyaman, ada kemungkinan anak dapat menjangkau ujung sprei. Dan tanpa sengaja kulit bayi yang sangat sensitif, dapat bertambah parah kondisinya jika terpapar plastik yang higienitas-nya tidak terjamin.

5. Pastikan jarak antar teralis aman

Jika bicara soal tempat tidur bayi mungkin salah satu hal yang paling dikhawatirkan oleh orang tua adalah kemungkinan anak terjepit antara teralis.

Jarak antara dua buah teralis yang mengelilingi tempat tidur bayi ideal nya tidak melebihi 2⅜ inchi. Ukuran ini adalah ukuran standar yang telah dipastikan tidak akan muat dengan badan bayi.
Jika jarak anatar telaris tempat tidur bayi renggang, dikawatirkan bayi dapat memasukkan badan atau kepala mereka pada lubang teralis.
Selain memastikan tentang jarak antar terali, pasti kan juga terlalu tersebut cukup kokoh untuk menahan berat badan bayi.
.

Itulah beberapa hal yang sebaiknya Sahabat perhatikan saat memilih tempat tidur bayi. Untuk referensi lebih lengkap sahabat dapat membeli perlengkapan bayi dapat Sahabat akses disini.

Ngayal jadi Orang Kaya Mendadak, Kalau Dapat Duit 100 juta, Saya Mau ...



Setelah kemarin membuat pengakuan, topik kali ini tentang berandai-andai...

He he, ini topik alternatif sebetulnya. Topik utamanya sih, tentang tempat makan favorit. Berhubung saya bukan tukang nongkrong atau jajan, akhirnya ya, sudah, mari mengkhayal, kalau dapat duit 100 juta, saya mau....

#1. Sedekah, dong
Saya cinta banget sama semua yang sudah saya hasilkan dari pekerjaan saya. Dan pengen saya bawa sampai nanti kalau saya mati.

Caranya? Ya disedekahin dong.

Rumah bisa hancur, duit banyak juga bisa habis, atau malah jadi milik orang. Punya saham ratusan lembar pun, bisa bangkrut. Tapi enggak bakal habis kalau disedekahin, kan? Hasilnya kebawa terus sampai nanti di hari perhitungan.

Minimal 10% dari total hadiah, masuklah ke sedekah.

Nah, kalau simpenan akhirat sudah diisi, waktunya ngayal buat urusan dunia, dong. πŸ˜ƒ

#2. Tambahan tabungan DP rumah

Iya tahu, uang segitu paling cukup buat DP doang, tapi nggak papa, cukup kok untuk perumahan syariah yang saya taksir. Baru naksir aja, karena lokasi doi belum cucok di jiwa.

Ya, gitu lah, beli rumah memang susah-susah gampang, ye. Giliran cucok dihari, nggak cucok di budget. Cocok di budget, nggak cocok lokasi lah, pasangan nggak sreg lah....pokoknya ada saja kendalanya. Akhirnya, sampai sekarang masih tertunda, deh. 

Jadi, kalau dapat duit 100 juta sih, sebagiannya pengen buat tambahan tabungan DP rumah, supaya pas ada lokasi yang cocok, uang DP pun Insya Allah sudah cukup. 

#3. Beliin saham Telkom sama Unilever

Aduh, dari dulu saya naksir dua perusahaan itu. Tapi kalau mau beli harus nunggu berbulan-bulan, meski hanya beli batas minimum pembelian saja.

Jadi, kalau dapat duit seratus juta, sebagiannya juga mau saya beliin saham kedua perusahaan itu. 

Ceritanya biar nggak cuma habis gitu saja, biar ada "kenang-kenangan" atau malah tetep ada penghasilan dari uang tambahan.

#4. Masukin tabungan buat sekolah Hana

Namanya emak, anak always be number one.  Dan semua orang juga tahu kalau biaya sekolah anak naik terus dari tahun ke tahun.

So, nggak ada salahnya kan, jadi emak yang smart sedikit kalau lagi pegang duit; beli saham yang listing di LQ45 buat tabungan sekolah getuh....

#5. Upgrade peralatan kerja

Hadiah mah cuma sementara, gimana aja, kebutuhan dan penghasilan rutin tetap lebih utama.
Jadi pas ada duit nggak ada salahnya juga kan, kalau sebagiannya dipakai untuk update peralatan kerja?

Jadi tetep akan ada lanjutan penghasilan dari uang kejutan. πŸ˜€


Kira-kira itu deh, lima hal yang pengen saya lakukan kalau dapat hadiah duit 100 juta. Intinya sih, pasti akan digunakan sebaik-baiknya, se-smart-smart-nya. πŸ˜€

Tapi, masuk akal nggak, sih, rancangan saya? Kalau enggak, ya dibikin masuk akal, aja ye, secara ini kan juga berandai-andai. πŸ˜‚πŸ˜‚

Pengakuan ....



Aduh, topik 30 hari tantangan nge-blog hari ini, enggak banget, deh; nulis fakta tentang diri sendiriπŸ˜€

Pertama, siapalah saya. Kedua, are you serius, you're telling us to open up about our self? 😁😁😁

Tapi okelah, siapa tahu, saya jadi lebih bisa mengenal diri saya, plus mungkin dapat meluruskan hal-hal yang selama ini banyak orang kira, dan ternyata salah, tentang saya.

So, guys, this is me, the true me.

#1. Saya nggak pinter

Dalam beberapa kali pertemuan, saya kadang bertemu dengan kawan, yang menurut saya, maaf lho ya, memuji berlebihan tentang saya. Mereka bilang saya keren dan berpengetahuan banyak hanya karena sedikit ngerti tentang A, atau nyambung aja saat ngobrolin topik B.

Tapi sungguh, Guys, I am no one. Sungguh. Saya hanya lebih dulu tahu tentang hal-hal yang belum Anda tahu. Itu aja. Tidak bermaksud merendah. Tapi sungguh, I am no body.

Ketika mereka bilang saya tipe strict, rapi ngatur waktu, ... hai, di luar sana ada bu Indari, Coach Darmawan Aji, yang lebih konsisten dari saya.

Ketika mereka bilang saya tahu tentang SEO, oho... diluar sana ada mbak Isah Kambali, ada Neil Patel, yang tentu punya lebih pengalaman tentang saya.

Ketika mereka bilang saya punya banyak pengalaman tentang mencari kerjaan di situs luar negeri, sesungguhnya, saya baru saja masuk dalam grup WA yang isinya para master Remote Worker semua.

So, Guys, I am no one, Tidak bermaksud humble, merendah, tapi sungguh, saya nggak sehebat yang Anda kira kok.

#2. Mudah tergoda dengan Drama Korea

Beberapa bulan lalu, saya sudah berhenti nonton drakor, tapi karena tergoda lirikan Cha Eun Woo yang mirip seseorang teman lama, saya jadi balik suka lagi dengan Drama Korea.

Disinilah bagian beratnya, soalnya kalau sudah kepo, kadang saya menggunakan waktu produktif saya untuk memuaskan rasa penasaran terhadap drama yang sedang diputar.

Tapi Alhamdulillah, kemarin sudah menemukan caranya agar puas nonton ongoing, tapi nggak waktu waktu produktif juga. Doain ya, semoga saya istiqomah, tidak mudah tergoda lagi.

#3. Suka nggak enak hati kalau ngebebanin orang

Kadang bukannya saya mau jalan sendiri, cuek, sok mandiri atau apapun, tapi saya paling nggak enak kalau membebani orang.

Makanya kalau lagi event, saya lebih suka jadi tukang foto karena nggak pengen ngrepotin temen minta tolong fotoin. πŸ˜€

#4. Bisa belajar dari kebiasaan orang lain

Entah ini hal positif atau negatif, tapi saya bisa "curi" ilmu orang, hanya sekedar mengikuti aktivitasnya saja, meski hanya aktivitas di media sosial atau tulisan.

Katanya sih, itu salah satu kelebihan dari orang jawa, "weruh kang ora pineruh". He he he nggak tahu itu tulisannya bener atau enggak, tapi begitulah, saya banyak belajar dari orang sukses dari melihat keseharian Beliau.

So, becareful when you're with me, okay? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi saya nggak menggunakan kelebihan ini untuk menjatuhkan orang lain kok, sekedar agar kita enak ngobrol aja, gituh. πŸ˜€

#5. Lagi suka sama D.O

Iya, gara-gara nonton HDH, jadi suka banget sama Kyungsoo. Member Exo yang satu ini mencuri perhatian banget; nggak cuma sopan, humble, tapi actingnya juga oke. Dan dari beberapa utas yang saya ikuti, dia terlihat banget punya pemahaman hidup yang dalam banget. Itulah yang saya suka, dan jujur, melewati sehari tanpa info tentang D.O itu rasanya .... 😱

Udah ah, itu aja... cuma sekedar pengen konfirmasi, that I am not as good as you see, so stop adoring me, he he he.

Media Sosial, yang Kusayang, yang Ingin Aku Abaikan

ketika_media_sosial_menjadi_kebutuhan_cara_bijak_menggunakannya


Apakah Sahabat RPB saat ini sedang berjuang lepas dari media sosial? Atau termasuk pada kelompok yang pilih uninstall semua media sosial? 

Sebagai seorang pekerja lepas, media sosial seharusnya menjadi "hal penting" yang tidak boleh saya abaikan. 

Sayangnya, beberapa pengguna yang merasa "terlalu bebas" menggunakan media sosial, membuat saya merasa tidak nyaman, dan ingin menjauh dari aplikasi komunikasi tersebut. 

Padahal, awal tahun ini saya pernah berniat untuk merintis karir sebagai seorang social media manager, tapi keinginan tersebut akhirnya luntur karena setelah saya sering menemui update status juga komentar pedas para pengguna media sosial. 

Memang seharusnya hal tersebut tidak mempengaruhi, cita-cita saya. Karena pekerjaan saya toh tidak akan berhubungan langsung dengan mereka, tapi perilaku seperti itu tanpa saya sadari membuat saya enggan untuk bersentuhan dengan media sosial. Malah saya hanya mengalokasikan waktu lima menit di Facebook atau Twitter, dan Instagram.

Dilema memang, disatu sisi saya membutuhkan media sosial, disisi lain, saya juga ingin mengabaikannya. 

Ketika media sosial bukan sahabat yang tepat, tetapi sesuatu yang dibutuhkan


Gara-gara 30daysbloggingchallenge ini, saya jadi cek lagi media sosial saya. dan mulai mikir "sebenarnya saya mau apa, sih, kok serba setengah-setengah?" πŸ˜€

Orang berteriak keras, ngomong kasar, nyebar aura negatif, seharusnya tidak boleh menjadi penghalang. Bagaimanapun juga ini tidak mereka, tapi tentang saya kan? 

Belajar bagaimana menggunakan media sosial dengan tujuan saya sebagai Bloger dan Content Writer, tentu lebih tepat, dibanding bertindak berdasar emosi, sampai pada akhirnya tujuan profesi nggak tercapai. 

Jadi, saya pun mulai ngumpulin lagi, the Do's and the Don'ts dari para master freelancer dan remote worker tentang media sosial. Juga membuat rencana apa saja yang harus saya lakukan agar nggak galau lagi kalau nemuin pengguna media sosial yang hobi nyebar hal negatif. 

Bagaimana hasilnya? Hmm.. mungkin dua atau tiga bulan lagi saya bisa cerita ya. 😊😊

Saya Pilih Blogger Perempuan (Saja) sebagai Komunitas Bloger Saya



Jam di kompi sudah menunjukkan waktu 22.30, tapi saya baru saja menambahkan satu widget komunitas ngeblog saya, Blogger Perempuan.

Cuma satu? Ya, saat ini saya hanya aktif di satu komunitas bloger saja. Kalau di Facebook sih, saya memang tergabung di banyak grup Blogger, tapi itupun saya jarang mampir. Bukan sombong, tapi sungguh, dari ke hari, waktu saya di media sosial, rasanya kok semakin sedikit saja. 😐😐

Apalagi sejak ikut kelas produktivitas, terpaksa saya hanya memilih satu komunitas blogging saja. Toh, kalau saya hanya bisa nyimak sesekali, kenapa juga saya harus tetap berada di sana kan?

Tapi kenapa pilih Blogger Perempuan?

Alasan kenapa memilih Blogger Perempuan sebagai komunitas blogger


Duh, kalau ditanya alasan memilih Blogger Perempuan, sepertinya saya harus mulai merunut ke belakang, saat saya masih labil (#halah) dan mencari jati diri sebagai Blogger wannabe

Iya, saya memang sudah 40 tahun, tapi kalau bicara masalah ngeblog secara profesional, saya sedang menuju umur 3 tahun, lho.

Awal ngeblog hanya berniat membuat lapak contoh tulisan dan gaya penulisan saat nglamar pekerjaan sebagai content writer. Lalu mulailah diajak teman Facebook untuk ikut lomba, aktif ikut event Bloger atau hadir diacara brand tertentu, dan seterusnya.

Disaat sering ngeriung bareng dengan para Bloger itulah, akhirnya saya ketemu dengan banyak komunitas Bloger, dan Blogger Perempuan adalah salah satunya.

Tak beda jauh dengan komunitas Bloger lainnya, Blogger Perempuan pun juga menjadi ajang silahturahmi, saling mendukung di media sosial, juga kegiatan tukar link blog untuk mendapatkan koneksi pada blog masing-masing.

Begitulah, saya sedang riuh-riuhnya runtang-runtung sana-sini, ketika pekerjaan content begitu banyak, dan memaksa saya harus memilih, blogging atau content writing.

Jujur sih, saya lebih nyaman disebut Content Writer dibanding Bloger. Rasanya saya belum pantas lah disebut sebagai seorang Bloger dengan kemalasan saya untuk merawat blog ini. πŸ˜€ Belum lagi saya bukan tukang jalan atau hobi membagikan aktivitas saya di dunia online.

Sebagai informasi, meski bukan syarat utama, tapi "mencatatkan kehadiran diri" di dunia maya itu penting banget bagi seorang Bloger.

Jadi kenapa Blogger Perempuan? πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Karena Blogger Perempuan tidak hanya sebuah komunitas, tapi juga sebuah lembaga profesional, yang tentu mengelola keanggotaan dan sistem didalamnya dengan profesional. 

Saat awal bergabung dengan Blogger Perempuan saya memang hanya bertumpu pada mbak Shinta Ries. Tertarik saja dengan ilmu SEO yang Beliau miliki.

Ketika pada akhirnya Blogger Perempuan berubah menjadi sebuah perusahaan, ya sudah, makin betah lah saya disana.

Selain itu dari Blogger Perempuan juga saya mendapat banyak teman dekat, kawan-kawan yang tergabung dalam Arisan Link V tentunya. Dan ini membuat saya semakin nggak pengen kemana-mana ha ha ha.

Tertarik juga bergabung dengan Blogger Perempuan? Ya sud, kunjungi saja situs BP di bloggerperempuan.co.id



Mencari Nama Blog yang Bagus; Ini Cerita saya

mencari_nama_blog_yang_bagus


Sedang mencari nama blog yang bagus dan tepat untuk situs atau blog Sahabat? Cara saya mencari nama RPB mungkin bisa membantu Sahabat menemukan nama yang tepat.

Jika Sahabat RPB sempat mampir pada halaman  "About RPB", atau malah jika pernah mampir di post lama di blog ini akan menemukan beberapa gambar dengan watermark "hidupdiseputarku.blogspot.com".

Begitulah, blog ini memang semula menggunakan nama tersebut. Namun setelah belajar dari beberapa kawan Blogger, dan bagaimana memilih nama blog yang bagus akhirnya saya memutuskan menggunakan nama rahayupawitriblog untuk nama blog ini.

Mencari nama blog bagus, bagaimana saya memilih nama rahayupawitriblog

Seperti yang saya ceritakan di pada post pertama #30daysbloggingchallenge, saya membuat blog ini untuk membangun portofolio pekerjaan content writing saya. Dan karena saat itu saya belum tahu passion saya dimana, kekuatan tulisan saya ada dimana, maka akhirnya saya memilih nama hidupdiseputarku. 

Alasannya? Ya, nama hidup, kan banyak hal yang bisa ditulis dan diceritakan di sekitar hidup kita kan? Mulai dari yang receh sampai yang bener-bener cerita penuh hikmak dan menginsiprasi.

Ketika akhirnya, kehadiran saya (jiah!) dalam dunia online ini sudah "diketahui" atau "dikenal" (pada bagian ini sungguh saya merasa tidak nyaman menulisnya πŸ˜€ ), saya memilih menggunakan nama pribadi saya.

Seorang kawan pernah bertanya, mengapa menambahkan kata blog dibelakang nama saya.

Saat itu saya juga berencana memiliki situs portofolio, dan rencananya blog ini, pada akhirnya, akan saya gunakan sebagai tempat curahan hati, tempat saya berekspresi sesuka saya. Bukankah fungsi dasarnya memang utnuk hal tersebut, sebagai catatan harian online, tempat kita mencatat kehidupan yang penting untuk kita?

Saat kemudian kenalan dengan guru SEO, saya diingatkan jika blog dapat menjadi sarana branding pekerjaan juga, karena itulah saya mulai menambahkan tag "content writer" pada deskripsi dan juga kategori blog ini.

Jadi ketika orang mencari tentang "Rahayu Pawitri" mereka juga akan menemukan profesi Content Writer disana. 

Saya juga menambahkan kata Crowded, karena hidup saya memang crowded, rame dengan aktivitas belajar, pekerjaan dan tugas rumah tangga.

Begitulah cara saya mencari nama blog yang bagus (menurut saya tentu) dan tepat, semoga dapat menjadi tambahan wawasan untuk Sahabat yang saat ini juga sedang mencari nama blog yang tepat untuk situs Sahabat.


Kategori Post Blog, Rangkuman Catatan Belajar Hidup Lebih Baik



Saya bingung sendiri menatap jumlah ide tulisan yang ada dalam spreadsheet di depan saya. Ada sekitar 120 buah, dengan berbagai kategori yang saya sukai. Tapi tentu, tidak semua ide bisa dieksekusi.

Jadi, saya memilih beberapa ide judul dan tema yang menurut saya sudah kadaluarsa dan kurang pas jika dibahas saat ini.

Ketika akhirnya hanya tinggal 107 ide, saya mulai bingung lagi tema mana yang sebaiknya saya tulis terlebih dahulu; apakah kesehatan, parenting, keuangan, atau malah produktivitas.

Kategori post blog, rangkuman catatan belajar hidup


Apakah Sahabat pernah ikut kelas menulis pemula? Jika ya, tentu Sahabat akan diminta untuk menuliskan kehidupan sehari-hari atau malah tentang diri Sahabat bukan? Alasannya karena kategori cerita pseperti itulah yang paling mudah untuk dituangkan pada sebuah tulisan.

Nah, seperti itulah saya menulis hampir semua tulisan pada blog ini (kecuali kategori Content Placement, tentu saja).

Karena itulah, kategori di blog saya seringkali berubah, kadang berkurang, atau malah bertambah. Dan biasanya kategori tersebut akan berubah ketika saya sedang belajar hal baru, atau hal tersebut menjadi prioritas utama dalam keseharian saya. 

Seperti dulu saat Hana masih kecil, dan saya juga masih aktif menulis di Asian Parent Indonesia, topik Parenting dan keluarga menjadi tema utama dan paling sering saya bahas dalam blog ini.
Bahkan saat mengirim aplikasi content writing pun, saya pasti berkata jika Parenting adalah topik yhang paling saya kuasai dan sukai.

Ketika Hana semakin besar, dan mulai masuk usia sekolah, maka dunia sekolah dan pernak-perniknya mulai saya lirik.

Dan saat ini, saat saya sedang getol-getolnya belajar tentang produktivitas dan berolahraga, maka tema produktivitas pun menjadi parent category pada blog ini.

Jadi, jangan kaget, jika seringkali melihat tema produktivitas atau time management yang berurutan di beranda blog ini. Karena itulah tema favorit saya saat ini.


Begitulah, jika seorang fotografer menyimpan kenangan dan cerita hidupnya dalam gambar, maka sepertinya saya menyimpan cerita hidup saya dalam kategori post favorit. πŸ˜€

Hari kemarin saya memang banyak menulis tentang mengasuh anak; hari ini tentang produktivitas, dan mungkin tahun depan tentang…. apa ya; a hacking tip to achieve dreams for procrastinators? 😁😁😁. It seems like an interesting topic to discuss, right?

Tujuan Nge-blog Saya, Cari Duit, dong!



Beberapa hari lalu, saya ditanya oleh seorang kawan, 

"Mbak, kenapa kamu nge-blog?" 
"Buat cari duit."

... dan alis teman di depan saya pun langsung tertaut. 😁😁😁

Bagi pembaca RPB yang bukan dari kalangan Bloger atau malah Publisher, mungkin akan biasa saja mendengar tujuan nge-blog adalah "mencari uang".

Tapi tidak bagi kami yang sudah lama berada di dunia Bloging ini. Nasehat "jangan menjadikan uang sebagai tujuan kamu nge-blog" sudah biasa terdengar. Jadi, akan terasa sangat aneh jika ada Bloger yang ngaku blak-blakan kalau tujuan ngeblognya adalah untuk cari uang.

"Nanti kamu akan cepat lelah dan kehilangan semangat nge-blog kalau tujuanmu uang" adalah nasehat yang sudah biasa kami dengar (juga kami perdengarkan kepada bloger pemula). 

Iya, tujuan saya nge-blog memang cari uang


Tapi bagi saya pribadi, tujuan awal saya mengeblog ya, memang untuk mencari uang, kok. Saya nggak munafik, pun nggak akan saya tutupi. Karena dengan tujuan itulah saat ini saya berani dan bangga bilang ke semua orang "I'm a Content Writer".

Lha kok, Content Writer bukan Bloger?

Iya, dulu tujuan pertama kali saya membuat blog memang untuk portofolio pekerjaan Content Writing.

Saya masuk ke dunia kepenulisan online ini tanpa track atau pengalaman menulis apapun. Sementara ketika saya mencari lowongan pekerjaan menulis konten, rata-rata pasti meminta contoh tulisan.

Nah, daripada saya capek bikin beberapa tulisan tiap kali melamar pekerjaan, saya kumpulkan saja semua contoh artikel saya pada blog. Selain nantinya saya punya tulisan "jagoan" yang saya lampirkan pada aplikasi, saya juga punya artikel-artikel lain yang bisa jadi referensi kan? Plus calon klien saya juga bisa melihat gaya penulisan saya yang lebih luas lewat blog saya tersebut.

Apakah cara tersebut berhasil? Oh iya dong, pekerjaan konten saya di Asian Parent Indonesia saya peroleh karena blog ini. Begitu juga saat mengawali menulis untuk Uang Teman, artikel keuangan yang ada di blog inilah awalnya.

Jadi, kalau ditanya kenapa kamu nge-blog, pasti jawab saya untuk cari uang. 😁😁😁

Tapi kalau saat ini, tujuan itu sudah mulai mendua, rahayupawitriblog.com ini sekarang lebih sebagai tempat untuk menuangkan uneg-uneg, dan menulis dengan menjadi diri saya yang sebenarnya. 

Ada masa dikala saya sudah jenuh menjadi "oranglain", alias menulis sesuai dengan voice writing dan goals orang lain, saya kangen banget update post baru. 

Bagi saya, saat ini blog tidak hanya sebagai portofolio, tapi juga sarana merekam kenangan saat bersama Hana, mengikat hikmah dari peristiwa yang saya alami, juga cara saya mengenal diri saya sendiri. 

Itulah alasan kenapa saya masih (masih) nge-blog saat ini, meski pekerjaan nulis saya di luar blogging ini juga cukup banyak. 

Nah, bagaimana denganmu Kawan, kenapa kamu dulu nge-blog; apakah untuk mendapatkan penghasilan juga? 


#BPN30dayChallenge2018
#BloggerPerempuan

Jangan Batasi Dirimu, Dapatkan Penghasilan Tambahan dengan Mengajar Online bersama Aplikasi Realcom


mendapat_penghasilan_tambahan_dengan_aplikasi_realcom

"Bun, ada info lowongan kerja untuk ibu rumah tangga tidak? Tapi yang bisa dikerjakan dari rumah."
Kemarin sore, seorang ibu wali murid di sekolah Hana, tiba-tiba nyolek saya, dan bertanya tentang lowongan kerja yang dapat dikerjakan dari rumah. Dan saya hanya bisa menjawab,

"Kurang tahu, Bun. Tapi, ada cara lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari rumah."



Apa yang ada dibenak pembaca RPB saat mendengar lowongan kerja yang bisa dikerjakan dari rumah; MLM, dropship, atau menjadi agen dan reseller?

Jualan online memang identik dengan "bekerja atau mendapatkan penghasilan dari rumah". Padahal masih banyak pekerjaan lain selain jualan yang bisa seorang ibu rumah tangga kerjakan. Misalnya dengan mengajar online.

Kemudahan akses internet, dan semakin sibuknya aktivitas seseorang, menjadikan banyak aktivitas yang diharapkan dapat dikerjakan dari rumah alias online. Begitu juga dengan aktivitas belajar dan mengajar.

Banyak pengembang aplikasi yang kini mengkhususkan diri memberikan jasa dan ilmunya untuk mengembangkan fasilitas pendidikan, dan Realcom adalah salah satunya.

Realcom, fasilitas untuk meraih penghasilan tambahan dengan mengajar online 


Berangkat dari komunitas majelis dsikir Az-Zikra, Realcom yang soft launching di awal tahun ini, merupakan sebuah aplikasi pendidikan dengan basis sosial media.

Artinya, selain murid dan guru dapat berinteraksi seperti biasa melalui jaringan internet, semua pengguna dalam Realcom juga dapat berinteraksi satu sama lain.

Meskipun berbasis sosial media, namun Realcom dilengkapi dengan filtering hoaks, pornografi, atau utas yang berpotensi memicu keributan. Tujuan Realcom adalah membangun komunitas cinta ilmu, karena itulah hal yang memungkinkan memicu perdebatan panjang akan dihapus dari utas beranda Realcom.

Proses belajar-mengajar dengan aplikasi Realcom


Tidak seperti aplikasi lainnya yang hanya memungkinkan guru berinteraksi dengan satu murid, aplikasi Realcom memungkinkan juga bagi guru untuk memberikan materinya melalui teleconference dan live broadcast (mirip webinar) yang dapat diikuti oleh seluruh siswa yang sedang diasuhnya.

Tidak hanya itu, Realcom juga tidak menetapkan biaya bagi proses belajar dan mengajar penggunanya. Setiap guru bebas menentukan biaya yang ingin dibebankan pada muridnya.

Para guru pun bebas menentukan berapa harga kelas, jumlah mata pelajaran, dan jumlah murid yang ingin diasuh.

Semua jenis materi pembelajaran, baik dokumen, audio, ataupun audio visual, juga dapat diunggah melalui aplikasi Realcom.

Jenis bidang studi atau pelajaran nantinya akan dikategorikan dalam grup-grup besar. Misalkan untuk semua mata pelajaran SD maka akan masuk pada kategori Elementary School, dan untuk kategori lain seperti memasak, crafting atau non-pendidikan, akan dimasukkan pada kategori Training Program.

mendapat_penghasilan_tambahan_dengan_aplikasi_realcom
Kategori pembelajaran pada Realcom

mendapat_penghasilan_tambahan_dengan_aplikasi_realcom
Beberapa guru berpengalaman dalam kategori Training Program

Siapa saja yang dapat meraih penghasilan tambahan melalui aplikasi Realcom

1. Para murid atau siapa saja yang membutuhkan pelajaran

Pengguna Realcom bebas memilih apakah hendak mendaftar sebagai murid, guru, atau malah dua-duanya.

Tidak ada batasan usia untuk menggunakan aplikasi Realcom. Siswa yang duduk di kelas sekolah dasar pun dapat menggunakan aplikasi Realcom.

Namun selayak batasan penggunaan aman perangkat bergerak bagi anak dibawah usia 13 tahun, sangat disarankan untuk didampingi oleh orangtua.

2. Para guru, profesional, atau siapa saja yang memiliki ketrampilan 

Siapapun dapat menjadi pengajar di Realcom, selama memiliki ketrampilan yang dapat diajarkan. Tapi demi menjaga kredibilitas dan keprofesionalan proses belajar-mengajar, maka pengguna yang mendaftar sebagai guru akan diverifikasi terlebih dahulu.

Setelah proses verifikasi, pengguna yang mendaftar sebagai guru juga akan diberi pelatihan bagaimana cara menjual jasa atau training yang ditawarkan.

3. Lembaga pendidikan formal ataupun informal

Jika pembaca RPB memiliki tempat kursus, sekolah, ataupun kelompok belajar dan ingin memudahkan peserta didik mengikuti proses belajar-mengajar, maka Anda dapat memanfaatkan aplikasi Realcom ini.

Tidak hanya proses belajar-mengajar saja, proses pendaftaran, pembayaran jasa training juga dapat melalui Realcom. Karena kedepan, Realcom juga akan mengembangkan fitur pembayaran dengan nama Realpay.


Cara mendaftar sebagai pengajar pada aplikasi Realcom


Tertarik menggunakan Realcom sebagai sarana mendapatkan penghasilan tambahan? Ikuti proses pendaftaran sebagai guru pada langkah-langkah dibawah ini.

mendapat_penghasilan_tambahan_dengan_aplikasi_realcom


Bagaimana? Siap mendapat penghasilan tambahan bersama Realcom?

mendapat_penghasilan_tambahan_dengan_aplikasi_realcom
Peserta seminar dan pendiri Realcom berfoto bersama sesusai acara

Babak Baru Perjuangan Menyelamatkan Aset Nasional

babak_baru_perjuangan_sp_jict


Bulan Oktober menjadi salah satu bulan yang penting untuk perkembangan kasus JICT, baik bagi para pekerja yang selama ini memperjuangkan haknya, ataupun perkembangan keberadaan JICT dan TPK Koja.

Bermula dari selesainya audit investigatif BPK terhadap PT Pelindo II berdasarkan surat DPR RI Nomor PW/02699/DPR RI/II/2016 kepada ketua BPK. 

Tujuan permintaan investigasi ini adalah
  1. Mengungkapkan kemungkinan penyimpangan perpanjangan KSO TPK Koja antara HPH dan PT Pelindo
  2. Menilai kewajaran nilai investasi dan penerimaan pendapatan PT Pelindo atas perpanjangan kontrak
  3. Melakukan analisa keuangan jika KSO TPK Koja tidak dilakukan
  4. Mengidentifikasi kerugian negara sebagai akibat dari penyimpangan dalam KSO TPK Koja
  5. Mengidentifikasi pihak-pihak yang terkait dan bertanggung jawab dalam perpanjangan kontrak

Audit dilakukan dengan memeriksa dokumen baik dalam bentuk soft ataupun hardcopy dan meminta keterangan pihak yang terkait dengan proses perpanjangan dan perjanjian kerjasama pengoperasian TPK Koja periode 2014 sampai 2039.

Audit tersebut menemukan jika negara merugi Rp 14,68 trilyun karena perpanjangan pengoperasian dan pengelolaan Jakarta International Container Terminal (JICT) pada tahun 2014 kemarin. 

Tidak hanya itu perpanjangan konsensi pengoperasian TPK Koja ternyata juga menyalahi aturan pengelolaan BUMN. Setidaknya, ada 4 kesalahan yang dilakukan oleh PT JICT terkait perpanjangan konsesi ini.

Empat kesalahan tersebut yaitu:

#1. Rencana perpanjangan ini tidak pernah dimasukkan dalam RJPP dan RKAP, serta tidak diinformasikan secara terbuka kepada pemangku kewenangan dalam laporan tahun 2014. Meski rencana tersebut telah diusulkan sejak tahun 2011.

#2. Rencana perpanjangan tidak dilakukan dengan terbuka. Padahal sesuai dengan peraturan pemerintah, Direksi BUMN wajib menyiapkan RJP yang didalamnya memuat sasaran dan tujuan yang hendak dicapai dalam 5 tahun mendatang.

#3. Perpanjangan kerjasama belum memperoleh izin dari Menteri Perhubungan bahkan tanda tangan Menteri pun tidak ada dalam dokumen konsesi.

#4. Penunjukan admin support sebagai mitra perpanjangan kontrak KSO TPK Koja juga dinilai melanggar mekanisme pemilihan mitra. 

Bukti menunjukkan Penunjukan DB Hongkong sebagai financial advisor bertentangan dengan peraturan pemerintah. Kinerja DB Hongkong selama ini membuktikan ketidak layakan konstitusi ini sebagai financial advisor.

Biro pengadaan Pelindo II diduga telah melakukan JP Hongkong sebagai financial Advisor meski bank tersebut tidak lulus evaluasi dan administrasi.Besar kemungkinan penunjukan ini hendak digunakan untuk memuluskan rencana perpanjangan kontrak KSO TPK Koja.

Terkait dengan hasil audit investigatif BPK, Ketua Panitia Angket DPR Diah Pitaloka malah menyatakan, jika TPK Kalibaru adalah proyek yang gagal konstruksi sehingga kerugian negara bisa mencapai Rp 8 Triliun plus Rp 400 miliar yang merupakan potensi kerugian negara akibat kegagalan pembangunan ini.

Masih ditambah dengan adanya Global Bond yang tidak dihitung dengan matang PT Pelindo 2 kini menanggung kerugian sebesar Rp 150 miliar per bulan.

PT JICT akhirnya dinyatakan bersalah


Selain terbuktinya pelanggaran atas perpanjangan kontrak KSO TPK Koja, bulan Oktober ini PT JICT juga dinyatakan bersalah karena melanggar aturan outsourcing. PT JICT memberikan pekerjaan utama (operator RTGC dan Tallyman) kepada tenaga lepas atau outsource. 

Sekedar mengingatkan jika di akhir tahun 2017, sebanyak 400 orang pekerja lepas diberhentikan oleh PT JICT. Padahal sebagian dari pekerja ini telah bekerja puluhan tahun di JICT, dan tetap dengan status pekerja outsource.

Tentu saja mekanisme bekerja seperti ini telah melanggar aturan dari dinas Ketenagakerjaan (detil tentang kasus ini dapat dilihat pada post ...).

Seperti dilansir oleh media online jpnn.com (tanggal akses 16 Oktober 2018), bahwa berdasar surat nomor 11 16 1/ -1 836.1 tertanggal 11 Oktober 2018, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi DKI Jakarta menyatakan jika JICT telah melanggar aturan dengan memberikan pekerjaan utama kepada tenaga lepas atau outsourcing.

Semula JICT memberikan alasan jika pemberian pekerjaan kepada tenaga lepas semata karena penghematan biaya operasional. Namun kenyataan di lapangan membuktikan lain karena di tahun 2014 JICT yang merupakan anak usaha Pelindo II justru mengangkat lebih dari 200 orang tenaga kerja. Pengangkatan ini justru meningkatkan pendapatan dan produktivitas perusahaan.

Keputusan Dinas Tenaga Kerja ini tentu menjadi babak perjuangan baru dan menjadi suntikan semangat bagi SP JICT untuk terus melanjutkan perjuangannya.

Lanjutan sosialisasi buku menguak "Konspirasi Global di Teluk Jakarta"

Sekedar mengingatkan, selain memperjuangkan hak para pekerja, SP JICT juga sedang berusaha mempertahankan aset nasional Pelabuhan JICT dan TPK Koja.

Sebagai salah satu komitmennya, SP JICT melanjutkan sosialisasi buku menguak konspirasi Global di teluk Jakarta pada tanggal 23 Oktober 2018 di Surabaya. 

Hadir dalam acara tersebut Dr. Ries Dyah Fitriah. M.si, ka Prodi pengembangan Islam UIN Sunan Ampel Surabaya; Dr. Agus Santoso S.Ag, M.pd, Wakil Dekan 3 fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN, Sunan Ampel; Dr. Chafid Wahyudi, dan Ahmad Khairul Fata, ketua SP JICT.

Dalam kesempatan tersebut, Dr.  Ries Dyah Fitriah menyampaikan bagaimana seharusnya mahasiswa bersikap setelah nanti lulus dari dunia perkuliahan. Menurut Beliau penting bagi mahasiswa untuk melakukan advokasi dan pendampingan secara ekonomi, sosial, juga politik.

"Manusia bermanfaat adalah manusia yang berbuat dan berperilaku baik", lanjut Dr. Ries.  Mahasiswa dapat membantu masyarakat untuk menghadapi realita keseharian, termasuk politik.

Ada beberapa hal yang dapat mahasiswa pelajari dari buku menguak konspirasi Global di teluk Jakarta antara lain:

1. Dampak kebijakan politik terhadap kehidupan masyarakat
2. Peran pemilik modal dan intervensinya terhadap kebijakan pemerintah, ternyata sangat berpengaruh, bahkan hingga level paling bawah
3. Adanya kekuatan besar yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat, meski kekuatan tersebut seolah-olah tidak memberikan dampak apapun namun justru berperan dan mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat.

Dokter is memberikan contoh kerugian negara yang mencapai trilyunan rupiah, Andaikan dana tersebut masuk ke dalam APBN, tentu akan berdampak besar terhadap perkembangan masyarakat.

Senada dengan Dr. Ries, Dr. Agus Santoso dan Dr. ChafidWahyudi juga menyampaikan bahwa dengan membaca buku ini mahasiswa dapat belajar banyak realitas yang selama ini tidak diketahui umum; seperti Pelabuhan Tanjung Priok yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata menyimpan banyak hal dan masalah.

Dalam kesempatan tersebut Khairul Fata juga menggaungkan semangat resolusi dan mengulang lagi komitmen SP JICT untuk terus mensosialisasikan apa yang saat ini terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok.

Mari terus kita dukung, jika perjuangan SP JICT benar-benar dapat menyelematkan salah satu asset di ujung Teluk Jakarta tersebut.