-->

Trik Mengatasi Stres pada Ibu yang Bekerja dari Rumah


Fakta Ibu yang bekerja dari rumah


Banyak orang bilang kerja dari rumah itu enak, bebas stres, karena mggak perlu mikirin macet, bisa mulai kerja kapan saja, bahkan mau mandi atau enggak pun semuanya bebas.

Faktanya semua itu hanya ada di dunia fantasi dan cerita motivasi. Percayalah, fakta ibu bekerja dari rumah tidak seindah cerita Cinderella yang ketemu pangerannya. #eh

Banyak hal yang bisa menjadi penyebab stres ibu yang bekerja dari rumah, seperti kejadian yang pernah saya alami beberapa hari lalu.

Hana sudah tidur lebih cepat karena kelelahan. Kebetulan ada permintaan untuk mengirim proposal kerjasama plus beberapa deadline dalam waktu dekat, saya putuskan untuk menunda waktu belajar.

Kopi, laptop, outline, juga lagu di playlist sudah nongki rapi di atas meja. Eh, baru dapat satu huruf, ibu mertua datang curhat sampai 2 jam.

Ya, udah deh, nggak bisa lanjut kerja. Padahal to-do-list di esok hari sudah tidak bisa digeser-geser lagi. Mau lembur takut sakit, mau berhenti kok puyeng juga lihat deretan pekerjaan itu.

Jujur gangguan waktu seperti ini seringkali membuat saya terjebak stres yang berujung emosi.

Badan pun jadi ikut terpengaruh. Kepala terasa berat, hal-hal yang sederhana jadi terlihat rumit. Bahkan pekerjaan rutin yang biasanya ringan-ringan saja bisa jadi terasa melelahkan.

Trik mengatasi stress untuk ibu bekerja dari rumah


Tapi bagaimanapun juga, bukan frelancer namanya kalau menyerah begitu saja. Project yang sudah disanggupi harus selesai juga kan? No matter what's happened. 

Apalagi stres juga bisa mengganggu kesehatan, menurunkan imunitas tubuh, dan gangguan kesehatan lainnya.

Jika beban kerja penyebab stres tidak bisa dihilangkan, paling tidak kita harus bisa siasati agar tidak berujung merusak badan. Ya, istilah kerennya sih, manajemen stres gitu. 😊

Apa lagi stres juga bisa menurunkan produktivitas ibu. Akibat lebih buruk lagi, stres bisa mengganggu bonding ibu dengan anak. Ih, nggak mau banget kan kalau sampai hal itu terjadi. 

Jadi bagaimana ya, cara mengakali stres agar tidak mengganggu tugas kita sebagai ibu dan juga peran kita sebagai seorang freelancer?

Saya sendiri punya beberapa trik untuk mengusir stres agar tidak terlalu lama menguasai pikiran saya. Trik ini merupakan kumpulan nasehat dari para mentor bisnis juga productivity enthusiast lainnya.

4 trik untuk mengatasi stres pada ibu yang bekerja dari rumah


1. Jadikan catatan sebagai BFF 



Punya tiga peran sekaligus bisa membuat Ibu punya banyak tugas dan pikiran di kepala. Daftar pekerjaan yang harus selesai, keperluan rumah yang harus dibeli, kebutuhan anak sekolah esok hari; bertumpukan dan bertautan dengan ide-ide yang sering nongol tiba-tiba tanpa permisi.

Semua bertaut, seperti gumpalan mie besar yang lembarannya saling bertautan tanpa ketahuan ujung dan pangkalnya.

Biasanya kalau sudah seperti itu, kepala jadi terasa berat, pundak seperti sedang menggendong beban, dan entah kenapa, mata malah bawaannya pengen merem mlulu. 😔

Agar kepala terasa ringan dan plus tidak ada daftar belanjaan yang lupa, biasakan untuk memindahkan apa yang ada di kepala  ke dalam catatan.

Pernah lihat Dumbledore yang memindahkan kenangannya ke dalam sebuah pensieve kan? Nah, seperti itulah kira-kira fungsi catatan. Pikiran kita akan lebih ringan saat sebagiannya sudah dipindahkan di atas kertas atau notes application.

Saya sendiri malah menambahkan daftar masak seminggu. Kalau kepala sudah mulai terasa mau nge-blank, saya sampai menuliskan dengan detil apa dulu yang harus saya masak, apakah lauk, sayur atau juga bekal Hana.

Membuat catatan mendetil seperti ini membantu saya lebih fokus pada pekerjaan yang sedang saya lakukan. Seperti kita tahu, fokus membuat pekerjaan lebih cepat selesai. Stres pun perlahan berkurang karena pikiran terurai.


2. Tentukan waktumu



Prinsip saya dalam manajemen waktu selalu sama,

"kenali pekerjaan dan waktumu, rencanakan, dan lakukan". 

Kesimpulan ini saya peroleh setelah trial and error bertahun-tahun. Semua cara mentor produktivitas saya coba, tapi tidak ada yang pas untuk keseharian saya. Yang ada malah stres jadinya. 😁😁😁

Seperti saat kemarin coach Aji mengajarkan tentang morning routine, alias kebiasaan yang dilakukan banyak orang sukses di pagi hari. Idealnya morning routine adalah kegiatan yang akan menghantarkan kita pada tujuan atau cita-cita, dan sebaiknya dilakukan sebelum jam 9 pagi.

Karena saya ingin menjadi seorang copywriter, maka belajar membuat copywriting di pagi hari sebelum jam 9 pagi, bisa menjadi morning routine saya.

Masalahnya, saya ini emak yang bekerja dari rumah, yang punya anak tidak mau makan masakan orang lain, mau tidak mau waktu pagi hari ya, masak. Saya juga tidak bisa kerja dengan pemandangan tumpukan piring di dapur. Apalagi pemandangan itu terlihat jelas dari meja tempat saya nulis. Mau nggak mau habis masak, ya bersih-bersih dapur dulu.

Akhirnya, morning routine hanya dalam impian dan jam belajar pindah ke malam hari. 

Kalau saya mengikuti morning routine ala orang-orang sukses itu, bisa-bisa saya malah stres sendiri. Hana teriak lapar, semut berbaris di bak cucian, duh! 😕😕

Gimana aja kan kegiatan saya sama mereka beda. Bisa saja mereka bayar pembantu, sementara saya masih "All by my self". (please, nggak usah niruin Celine Dion, ye. 😀)

Jadi Bu-ibu, biar nggak makin stres, tentukan saja manajemen waktu berdasar apa yang penting menurut ibu, rencanakan, dan kemudian lakukan rencana tersebut. ambil saja dasar ilmu para motivator itu dan sesuaikan dengan kebutuhan kita. Hidup ini kita yang punya 'kan Bu?

3. Perhatikan diri ibu

Pic. Source: pexels.com


Daftarnya dimulai dari olahraga. Tidak berarti ibu harus ke fitness center atau sanggar senam setiap hari, saat ini sudah banyak kok cara untuk bisa olahraga dari rumah. Gunakan saja aplikasi olahraga.

Berolahraga dengan aplikasi seperti ini biasanya juga tidak banyak memakan waktu, lama durasi paling lama juga paling 30 menit. Jadi, ibu masih punya banyak waktu untuk melakukan pekerjaan lainnya

Olahraga tidak hanya akan membantu aliran darah mengalir lebih baik, tapi juga menghasilkan hormon endorphin yang berfungsi sebagai pengurang rasa sakit, meningkatkan kemampuan tidur, dan akhirnya mengurangi rasa stress yang ibu rasakan.

Daftar yang kedua adalah mencukupi kebutuhan tidur ibu. Kurang tidur terbukti membuat ibu menjadi tidak sabaran dan mudah marah. Stres ibu malah bisa jadi makin bertambah, deh.

Jadi milikilah rutinitas tidur dan jangan pernah Ibu langgar kecuali amat amat sangat terpaksa. 😁

Daftar selanjutnya adalah memperhatikan makanan dan minuman yang kita konsumsi. Percaya atau tidak makanan dan minuman yang kita konsumsi benar-benar mempengaruhi produktivitas dan cara kita berpikir. 

Sayur dan buah-buahan masih masuk daftar unggulan yang bisa membantu ibu menjaga kesehatan dan juga mengatasi stres dengan lebih baik.

Makanan berdaun hijau, mengandung dopamine yang kita tahu dapat menurunkan kadar stress. Begitu juga buah kelompok berry yang mengandung antioksidan dan membantu tubuh mengatasi stres yang dialami.

Jangan lupa cukupi pula kebutuhan air ibu, dan air putih masih menjadi pemenang pertama dalam daftar ini.  Bukan penyuka air putih? Ibu bisa tambahkan madu dan beberapa tetes perasan jeruk lemon sebagai penambah cita rasa.

Sudah banyak yang tahu jika madu bermanfaat untuk kesehatan, bahkan lebih dari itu, beberapa penelitian ilmiah juga membuktikan jika madu dapat membantu menurunkan kadar stress yang kita rasakan.

Begitu juga dengan buah lemon, selain rasanya yang menyegarkan, kandungan vitamin C  dan potasiumnya bisa membantu kita menjaga kesehatan dengan baik. Akhir-akhir ini, kita juga sering mendengar manfaat perasan jeruk lemon untuk menghilangkan racun pada tubuh bukan?

4. Minta bantuan

Trik mengatasi stres yang keempat, adalah minta bantuan pada orang-orang di sekitar kita.

Bagaimanapun kita bukan orang super, mendelegasikan tugas, atau minta bantuan pada orang disekitar kita akan sangat membantu tugas ibu sehari-hari.

Minta bantuan atau mendelegasikan tugas, nggak berarti harus punya pembantu, kok. Misalkan dengan memanfaatkan layanan pemesanan makanan, laundry, atau jasa bersih-bersih rumah, ini juga cara yang bisa ibu pilih untuk mendelagasikan tugas ibu.

Tidak perlu merasa bersalah jika ibu harus "minta bantuan" orang lain untuk mengerjakan sebagain tugas ibu. Ibu tetap akan menjadi ibu, meski sebagian besar pekerjaan ibu tidak dikerjakan tangan ibu sendiri. Yang penting kan semua beres; makanan untuk seluruh anggota keluarga tersedia, pekerjaan freelance selesai, rumah rapi,- semua pun happy.


Begitulah Bu, jika memang sudah berkomitmen untuk bekerja dari rumah, jangan biarkan hal-hal sepele, termasuk stres mengganggu keseharian ibu. Semoga artikel diatas bisa membantu ibu untuk terus produktif dari rumah, ya. Salam saya untuk seluruh anggota keluarga.... 😊😊



Reportase Launching Buku "Menguak Konspirasi Global di Teluk Jakarta"



Setiap kali lihat berita tentang manajemen sebuah BUMN yang amburadul, ayah Hana selalu bilang, "Sudah, swasta-in aja."

Sebagai orang yang tidak begitu mengerti juga peduli hal-hal semacam ini, biasanya saya mengaminkan pendapat si Ayah,

Tapi pandangan saya mulai berubah usai membaca buku "Menguak Konspirasi Global di Teluk Jakarta". 

Aset negara yang berharga tersebut, ternyata sekarang sedang berada di ujung tanduk. Cerita di balik managemen Jakarta International Container Terminal ini, membuat pelabuhan tersebut terancam berpindah tangan ke tangan Asing.

Bermula dari krisis tahun 1997 yang berujung dengan pinjaman Indonesia pada IMF, satu-persatu perusahaan milik negara masuk dalam proyek privatisasi. Privatisasi ini merupakan salah satu syarat yang IMF berikan kepada Indonesia.

Salah satu bentuk privatisasi tersebut adalah perjanjian manajemen pelabuhan Tanjung Priok pada sebuah perusahaan Hongkong, Hutchinson Port Holding Group (HPH Group).

Perjanjian kontrak ini berlangsung selama 20 tahun, tepatnya di tahun 1999 hingga 2019. Tapi lucunya, kontrak antara PT. JICT dan HPH telah diperpanjang pada bulan Agustus 2017.

Bermula dari hal itulah, buku "Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta" lahir dari keprihatinan tersebut.

Launching buku "Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta", sebuah cara untuk mengingatkan pemerintah

Ahmad Khoirul, penulis buku
"Menguak Konspirasi Global di Teluk Jakarta"

Selama kurun waktu 1999 hingga saat ini, para karyawan di PT JICT telah banyak belajar, Begitu  juga dengan rakyat Indonesia pada umumnya, saat ini sudah banyak yang mampu mengelola pelabuhan milik kita sendiri. Sudah selayaknya jika pengelolaan JICT dikembalikan kepada rakyat Indonesia.

Selain adanya indikasi cacat hukum, ada banyak temuan yang mencurigakan di balik perpanjangan kontrak manajemen JICT-Koja oleh HPH.

"Kami tertarik menulis buku Konspirasi Global Teluk Jakarta karena ini adalah isu global yg penting" tutur Ahmad Khoirul penulis buku ini, saat menceritakan latar belakang kepenulisan buku ini.



Indikasi penyimpangan perpanjangan kontrak JICT

Menurutnya, Sudah sewajarnya juga jika pengelolaaan aset aset negara harus dipegang anak bangsa. "Kita punya sejarah panjang dalam mengelola laut, kok sekarang kita tidak mengelola sendiri, kenapa harus oleh orang lain?"

Penulisan buku ini hanya butuh waktu satu bulan, dengan dua penulis satu di Jakarta, dan satu lagi di Surabaya. 

Meski buku ini dapat selesai hanya dalam waktu satu bulan, tapi tidak berarti prosesnya tanpa hambatan. 

"Bahan satu dus kami terima, kami melakukan riset dan wawancara," ungkap Ahmad Khoirul sang Penulis buku. "Dan dalam prosesnya, kami menemui beberapa gangguan teror, PHK, bahkan kaca mobil Mas Nova ditembak"

Meskipun mendapat teror, namun mas Ahmad tidak pernah berniat mundur. menurutnya konspirasi di JICT telah merugikan negara hingga trilyunan rupiah; dan ini tidak boleh dibiarkan. 

Pendapat akademisi tentang buku "Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta"

Dr. Aris Arif Mudayat dan Dr. Ari Sujito

Acara peluncuran buku yang diadakan di Sanggar Maos Yogya ini, dihadiri juga oleh praktisi akademisi seperti Dr. Ari Sujito (Sosiolog UGM), dan Dr. Aris Arif Mudayat, juga Ketua Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia, Nova Sofyan Hakim, dan ketua SP JICT Firman,

Sementara menurut Dr. Ari Sujito, JICT termasuk BUMN yang berprestasi. Salah satu buktinya JICT telah memperoleh gelar sebagai terminal peti kemas terbaik se-Asia Pasifik sebanyak 4x. Tapi

"Bagaimana bisa BUMN yang sarat prestasi, serapan tenaga kerjanya besar, sahamnya malah dikuasai asing?" 

Menurut Dr. Ari, struktur kekuasaan dalam politik BUMN harus diperjelas, pejabatnya perlu direformasi, serta dibersihkan dari praktek politik dan ekonomi kotor.

Dr. Ari juga menilai, ada suatu kecenderungan yang berkembang di masyarakat kita, yaitu rakyat telah kehilangan kendali atas politik dan ekonomi. Mengingat pentingnya isu ini, Beliau mengusulkan agar SP JICT, -sebagai pembawa pesan melawan konspirasi global di Teluk Jakarta,- harus bertemu dengan Bapak Jokowi .

Bagaimanapun juga kemaritiman dan potensi laut Indonesia, bisa menjadi salah satu bentuk kemandirian kita.

Tidak berbeda jauh dengan Dr. Ari, Dr. Aris Arif Mundayat (namanya mirip 😊) yang merupakan dosen UNHAN berkata, bahwa ekonomi bisa memperkuat ketahanan negara.

"Seperti kita semua tahu, jika arus perdagangan Laut Cina Selatan sangat padat. Ditambah dengan telah dibangunnya pelabuhan di Indonesia Timur selama pemerintahan Jokowi ini; maka potensi ekonomi Indonesia kini semakin besar. Karena itulah, pengelolaan pelabuhan sewajarnya 52% dimiliki oleh Indonesia, bukan malah sebaliknya" (saat ini JICT hanya menguasai 48,9% sementara HPH menguasai  51% saham JICT dan TPK Koja). 

Meletakkan saham dengan porsi yang terbalik (indonesia lebih kecil dibanding investasi asing) sangat berpotensi menurunkan kedaulatan dan otoritas negara. Apalagi saat ini generasi precarius (generasi yang sangat tergantung pada faktor luar) kini semakin meningkat. Tentu saja ini sangat mempengaruhi pola pertumbuhan ekonomi.

Salah satu contohnya, import gandum. Di tahun 2018 ini, import gandum kita telah mencapai 8 ton. Wajar jika nilai rupiah sekarang semakin turun.

Menyinggung sedikit perjuangan SP JICT, Dr. Aris berpendapat Serikat Pekerja merupakan organisasi yang sangat rentan tekanan dan intimidasi. Karena itu harus dijaga dari kelompok generasi precarius yang sangat tergantung dengan kemampuan asing.

Mengambil contoh apa yang telah dilakukan RJ Lino saat menerbitkan global bond senilai Rp20,8 T. Ia mengajukan syarat perpanjangan kontrak JICT-Koja. Padahal pelabuhan dapat menjadi kerangka ekonomi yang sangat besar.

Suasana diskusi pada launching buku
"Menguak Konspirasi Global di Teluk Jakarta"

Karena itu Beliau berharap agar Serikat Pekerja seprti SP JICT sebaiknya juga bekerjasama dengan para stakeholder, namun tetap mandiri berdiri sendiri, tanpa afiliasi dengan apapun.

Dr. Aris Arif Mudayat menyambut baik terbitnya buku "Menguak Konspirasi Global di Teluk Jakarta". "Buku ini adalah momentum tepat untuk SP JICT. Saya mendukung penuh perjuangan SP JICT," kata Dr Aris menutup presentasinya.

Tekad SP JICT untuk terus maju memperjuangkan Teluk Jakarta



Seperti yang pernah saya ceritakan pada post "Pekerjaan Utama Seharusnya Tidak Menjadi Porsi Pekerja Kontrak", SP JICT kini tengah memperjuangkan banyak karyawan yang diputus kontraknya meski telah bekerja lebih dari 20 tahun.

Namun perjuangan SP JICT sejatinyalah tidak hanya tentang pekerja. Apa yang dikupas dalam buku ini juga salah satunya.

Karena itu  dalam sambutannya di acara launching buku kemarin, ketua SP JICT berkata jika SP JICT akan mengadakan roadshow ke banyak kota di Indonesia. SP JICT ingin rakyat Indonesia tahu, jika pelabuhan adalah salah satu simbol kedaulatan ekonomi bangsa. Dan sudah sewajarnya jika dikelola oleh anak bangsa sendiri.
"SP JICT tidak anti investasi asing. Tapi kami ingin pelabuhan dikelola oleh bangsa Indonesia sendiri." 

Sekarang saya tidak berani lagi mengamini pendapat si Ayah. Jika memang ada sebuah BUMN yang tidak baik menajemennya, reformasilah yang seharusnya menjadi solusi, bukan malah di swastakan. Ngeri kan kalau akhirnya berakhir seperti JICT-Koja ini?

Oya, untuk sahabat RPB yang ingin tahu lebih banyak bisa mengikuti launching buku ini di Jakarta, tepatnya pada tanggal 30 Agustus nanti.



Reportase on the spot: Kiki Handriyani (Twitter: @kikipenulis)
Referensi dan foto: Kiki Handriyani kecuali foto utama, sumber pexels.com, edited rahayupawitriblog.com