Bully Masa Lalu yang Mengganggu

by - 6/27/2018



Di suatu Ramadhan, Bekasi, akhir Mei 2018

"Baik, terima kasih, Rahayu Pawit."

Ah, itu lagi. sudah kesekian kali aku jelaskan di grup, tapi masih saja ada yang memanggil dengan nama itu.

"Tolong jangan penggal namaku, Pak, kamu nggak tahu usaha aku untuk memaafkan, dan melupakan akibat bully dari nama itu."

"Oh, oke, Sorry, aku nggak tahu"

Your sorry didn't mean anything to me. It still hurted me.

Bagaimana caranya aku menyembunyikan tangis ini dari Hana...? Duh!

Another hour...

Tuhan, tolong aku. Aku butuh waras, bantu aku maafkan masa lalu itu. Aku tidak ingin anakku tahu.

"Bu, aku mau keluar dari grup dulu, sampai aku tenang. Aku mau nggak ada yang manggil aku dengan nama itu. Maaf."

"Halah, santai aja, Bu. Aku dulu juga di bully, kok."

Setiap orang punya reaksi berbeda terhadap perilaku orang lain, apa kamu nggak tahu itu. Aku tak peduli tentangmu, ini hidupku, masa laluku! Kamu nggak tahu usaha yang aku lakukan untuk melupakan dan memaafkan bully itu!

Ah, Tuhan, tolong waraskan aku! Kau lihat, aku jadi membenci mereka yang seharusnya tak kubenci?



2 Juni 2018, another session for productivity class

"Fokus pada apa yang penting untuk kita." 
Apakah ini jawabMu untukku, Tuhan?

Oke, saat ini sepertinya nasehat ini lebih tepat aku pakai, karena aku merasa lebih tenang sekarang.


Juni 2018

"Bu, jangan lupa reuni tanggal 17 nanti, ya"

Ah, aku malas, mengingatnya saja sudah enggan! Apa aku harus pergi, Tuhan? Aku tidak mau bertemu dengan orang itu lagi. Bagaimanapun dia mantan guru yang harus aku hormati, tapi aku juga benci. Aku takut kalut kalau harus bertemu, dan ia menyebut nama itu lagi.

Andai ada kawan mau bercerita dan menyadarkan padanya.

"Hei, kau pikir kamu siapa, Wit?"


... Session of productivity Hack

..itu semua tergantung pada diri kita, apakah kita akan terus berpegang pada masa lalu, atau kemudian melepaskannya. 

Tuhan, tolong waraskan aku....


17 Juni 2018, pagi

Terima kasih, Tuhan, aku akhirnya berani datang, bahkan aku jabat tangannya tadi. Aku pun tertawa atas gurauannya.

a couple hour later ....

Ah, dia menyebut nama itu lagi! Kenapa hatiku tak karuan lagi.... Tuhan tolong, hilangkan aku dari kumpulan orang-orang ini....


Bully masa lalu yang menganggu


Apa yang Sahabat RPB baca diatas, adalah salah satu curahan hati saya untuk melepaskan kemarahan, kegundahan yang saya rasakan beberapa waktu lalu.

Sebetulnya, saya tidak ingin membuat tulisan ini untuk publik, berulang kali saya malah sudah menghapus draft tulisan ini. Tapi sebuah tulisan dari status kawan di grup rahasia, terus menggunggah saya,

Jangan pernah jadikan kalimat, "Ah, hanya bercanda saja", membuat kita tanpa sengaja mem-bully orang lain. Jangan pula tutupi dan bela kata bully, dengan kalimat, "Biar makin akrab...".

Dan saya ingin, Sahabat RPB tahu dan melakukan itu; tidak menutupi bully dengan kata BERCANDA. 

Karena bagi mereka yang ditertawakan, dibully, tindakan itu amat sangat tidak menyenangkan.

Buat kamu mungkin menyenangkan, membuatmu tertawa, hatimu bahagia. Tapi di sudut sana, orang yang kau jadikan bahan tertawaan sedang menyeka air mata. Bahkan mungkin hingga bertahun-tahun setelahnya. 

Bisa jadi ia seperti saya, membenci orang lain, membenci diri sendiri karena tidak bisa memaafkan, tidak bisa seperti orang lain yang menganggap perbuatan bully adalah BERCANDA. 

Meski banyak usaha yang telah dia lakukan, banyak buku telah ia baca, atau mungkin banyak sesi konsultasi telah ia lalui, tapi tetap perasaan benci dan marah terus melingkupi kawan yang kau bully.

Bisa jadi kawan yang kau tertawakan punya bibit depresi, sehingga pemicu kecil saja bisa membuatnya menderita seumur hidup, atau malah hal terburuk lainnya, bunuh diri. Tentu kamu tidak mau kan, menanam bibit dosa yang akan kau tuai diakhirat nanti?

Hei, kau tahu, aku juga berusaha untuk memaafkan...!

Perasaan yang sama juga sedang saya alami saat ini. Saya menulis sambil menghabiskan sekantung kertas tisu.

Ada rasa kasihan pada diri, menuduh diri saya LEBAY, juga keinginan melepaskan semua, mengikhlaskan, memaafkan; apapun yang seharusnya "orang normal" lakukan.

Kacau kan? Membacanya saja kau sudah merasa kacau, apalagi saya yang mengalami.

Sejak hari reuni itu pun, ketika guru saya minta maaf (dan sayangnya, mengulangi menyebut nama bully saya lagi) saya terus berusaha memaafkan, melepaskan. Saya terus motivasi diri saya untuk


  • Fokus pada hal penting dan yang membuat saya bahagia
  • Menyibukkan diri dengan pekerjaan
  • Berkumpul dengan orang-orang positif
  • Menahan diri dari rasa sedih, dengan terus ingat jika sel kanker bisa mampir karena rasa sedih berlebihan
  • Mendekatkan diri pada Tuhan ... 


... apapun, apapun yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang normal, atau teman-teman saya yang dulu pernah juga mendapat bully dari si Bapak guru.

Hingga kemudian saya berpikir saya sudah "letting go", memaafkan juga melepaskan masa lalu yang nggak penting dan menyedihkan itu.

Tapi nyatanya, saya masih menangis saat membuat tulisan ini. 😭😭😭

Jadi, Prens, please, ....


  • Jangan pernah tutupi kata bully dengan, "Ah, cuma bercanda."
  • Kalau temen kamu ngeluh karena bully-an orang, dengarkan. Kalau kamu nggak punya solusi, jangan katakan, "Halah...", lebih baik kamu sarankan untuk konsultasi pada yang ahli. 
  • Jangan pernah bilang, "Gue aja...." Ingat, karakter kamu dan temen kamu beda, dan kamu juga nggak ngalami hidup seperti dia. Semua orang bereaksi berbeda terhadap sebuah peristiwa, camkan itu!


Semoga tulisan ini membuat kamu lebih mengerti, lebih bijak, dengan tidak membuat bully sebagai bahan candaan. Jangan kawatir pertemanan kalian akan garing, masih ada banyak cara untuk berakrab-akrab dan tertawa tanpa kamu harus menghina. 😉

You May Also Like

6 komentar

  1. Peluuuk.
    Bully itu bekas lukanya bisa menghilang tapi rasa sakitnya bisa bertahan seumur hidup. Semoga Mbak Wiwit bisa secepatnya terbebas dari rasa nggak nyaman setiap terstimulasi dengan trauma masa lalu.

    ReplyDelete
  2. Kurang nancep karena enggak diceritain kronologi bullyannya seperti apa. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, ya...nanti nek wos tenang dan bisa melihat sebagai pembaca dan editor, aku edit

      Delete
  3. Saya pun membacanya sampe mau nangis, Mba. Teringat diri saya saya yg juga belum bisa memaafkan para si hahah heheh dg kalimat bully-nya 😊

    ReplyDelete
  4. Jadi makin penasaran.
    Tidak mudah memaafkan masa lalu, tapi bukan tidak mungkin.
    *Peluk kangen

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.