-->

5 Tools Produktivitas yang Bisa Membantu Ibu Mengatur Waktu dengan Baik

tools_produktivitas_untuk_mengatur_waktu_dengan_baik
Sedang berusaha mengatur waktu dengan baik? 5 Tools produktivitas ini
mungkin bisa membantu
(Photo by rawpixel.com from Pexels)


Sudah beberapa bulan ini post "8 Hal yang Dapat Membantu Ibu Rumah Tangga Mengatur Waktu" laris dikunjungi setiap hari. Senang rasanya karena trafik pun jadi meningkat. Tapi jujur saya lebih senang karena mulai banyak kawan yang juga bergerak ingin memanfaatkan waktunya dengan baik.

Bagi ibu rumah tangga, apalagi jika juga bekerja dari rumah, menggunakan waktu dengan efektif dan seproduktif mungkin adalah impian, cita-cita sepanjang masa. 😊

Termasuk juga untuk saya. Bertahun-tahun saya belajar bagaimana mengatur waktu dengan baik. Terlebih sejak memutuskan bekerja dari rumah, yang otomatis disiplin dan juga kemampuan mengatur waktu termasuk modal utama.

Tools produktivitas yang bisa membantu ibu mengatur waktu dengan baik



Sebelum ngobrolin tools apa saja yang bisa ibu gunakan untuk mengatur waktu sehari-hari, saya ingin menyelaraskan arti produktivitas dulu.

Saat ini saya menganut pengertian produktivitas ala coach Darmawan Aji, yaitu

Mengeluarkan input sesedikit mungkin untuk mendapatkan output sebesar mungkin

Artinya kita mengerjakan pekerjaaan dalam waktu sesingkat mungkin tapi menghasilkan produk yang berkualitas, dan dengan kuantitas yang seperti kita harapkan.

Jadi, tidak berarti bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu aka. multitasking atau menghasilkan banyak perkerjaan dalam satu waktu tapi dengan hasil sekedarnya.

Contohnya nih, kalau masak ya, sambil jawab orderan di WA, atau nungguin anak ngerjain PR. Tapi setelahnya lupa mencatat detil order, masakan gosong sebagian, dan malah marah sama anak karena PR-nya nggak kelar-kelar.

Sebaliknya, bila Sahabat adalah seorang penjual online, maka dalam rentang waktu tertentu Sahabat dapat mengunggah promo, dan kemudian mencatat detil order dengan rapi (agar kelak tidak perlu mengulang bertanya), tapi masih punya waktu untuk menemani anak ngerjain PR dengan happy.

So, how to do it? 

Saya mulai rencana produktif saya dengan log activity saya. Istilah gampangnya, mengetahui rentang waktu yang saya butuhkan untuk mengerjakan satu pekerjaan, dan kemudian mencoba menyusun to-do-list yang tentu saja, sesuai dengan log activity.

Karena kegiatan itu kadang sedikit agak ribet, saya menggunakan beberapa tools. Dan berikut ini adalah 5 tools produktivitas yang biasa saya gunakan untuk mengatur waktu.



1. aTime Logger


tools_produktivitas_untuk_mengatur_waktu_dengan_baik


Sebetulnya, saya kenal tools ini baru beberapa bulan terakhir, dan  justru merupakan tools produktivitas terbaru yang saya pasang di handphone.

Tools ini saya temukan setelah jadi "pengikut" Darius Foroux, seorang businessman dan productivity enthusiast.

aTime Logger merupakan aplikasi untuk mencatat waktu yang kita gunakan sehari-hari. Aplikasi ini sangat bermanfaat untuk mengetahui durasi kegiatan yang kita lakukan, atau yang biasa kita kenal dengan log activity.

Apa itu Log Activity? Sahabat bisa membacanya pada artikel "Log Activity".


2. Pomodoro


Pomodoro ini sebetulnya hanyalah timer biasa. Tekniknya ditemukan oleh seorang mahasiswa yang sebel pada dirinya sendiri karena tidak pernah bisa menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya.

Jadi dia menggunakan timer (waktu itu hanya timer analog) untuk "memaksa" dirinya sendiri fokus pada satu pekerjaan.

Saya memilih menginstalnya, karena selain bisa digunakan sebagai timer, saya juga bisa menggunakan aplikasi ini untuk memasang target dari pekerjaan saya.

Misalnya jika selama ini nulis 500 kata selama 2 kali sesi Pomodoro 25 menit, maka dilain waktu, jika perlu, saya (harus) bisa menyelesaikannya cukup satu sesi saja.

Untuk mengetahui cara menggunakan pomodoro agar bisa membantu ibu lebih produktif, silahkan lihat gambar di bawah ini.


tools_produktivitas_untuk_mengatur_waktu_dengan_baik


Mudahnya, kira-kira seperti ini:


  1. Tentukan jenis pekerjaan yang harus diselesaikan. 
  2. Set waktu untuk melakukan pekerjaan tersebut. Biasanya 25 menit bagi mereka yang telah terbiasa menggunakan teknik ini. Dan 40 menit untuk para pemula. Selama rentang waktu tersebut, ibu harus fokus pada pekerjaan yang telah ibu tentukan. 
  3. Berhenti selama lima menit setelah satu sesi pomodoro, dan 15-30 menit setelah 3 kali sesi pomodoro. 

Pomodoro sangat membantu jika ibu:


  • Memiliki banyak to do list yang harus dikerjakan setiap hari
  • Sulit untuk fokus
  • Sering merasa tidak pernah bisa menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna

3. Pocket


Ini merupakan aplikasi favorit kesayangan saya. Biasanya, saat menjelajah di perpustakaannya mbah Google, saya sering banget menemukan artikel yang keren untuk dibaca, dipraktekkan, dan/ atau dibagikan.

Karena bookmark seringkali membuat browser berat, plus bacanya harus online, saya akhirnya pilih menggunakan aplikasi ini.

Saya suka karena saya bisa menyimpan sebanyak-banyaknya artikel di aplikasi ini, dan tidak perlu harus online untuk membacanya. Bisa dibilang seperti buku eletronik lah.

Untuk bekerja dengan produktif, ibu perlu fokus. Dan agar tidak mudah terdistraksi, mengumpulkan ide-ide yang leintas sangatlah penting.

Nah, si Pocket ini, bisa ibu gunakan untuk mengumpulkan link artikel yang mungkin hendak ibu baca atau ibu ingin praktekkan nanti.


4. Google Keep


tools_produktivitas_untuk_mengatur_waktu_dengan_baik


Dulu saya gunakan aplikasi ini untuk mengatur jadwal, menyimpan referensi tulisan, juga menulis catatan apapun yang ingin saya tulis nanti. Dulu saya suka aplikasi ini, karena catatan penting atau to-do-list dapat saya tampilkan pada layar handphone, tanpa saya perlu membuka aplikasi.

Tapi sekarang Google Keep sepertinya sudah mulai berubah fungsi. Jadi, saya hanya menggunakannya sebagai catatan saat sedang di luar rumah atau menyimpan ide blog yang tiba-tiba nongol, sementara di waktu yang sama, saya sedang tidak terkoneksi dengan internet.

Sisi kerennya dari Google Keep ini, kita juga bisa menyimpan foto plus catatan terkait foto tersebut. Yah, mirip-mirip Evernote lah, tapi menurut saya, Google Keep ini lebih okay, karena lebih sedikit menggunakan memori handphone, gratis, dan mudah disinkronkan dengan aplikasi Google lainnya.

5. Notes book


Orang bilang, yang konvensional itu kadang yang terbaik. Saya mengamini "kata orang" ini.

Dulu, kalau sudah punya jadwal apa saja yang harus dikerjakan setiap jam, dan tiba-tiba ada gangguan, reschedule-nya jadi susah, karena saya harus mengedit seluruh kegiatan. Ya, kalau isinya hanya satu-dua pekerjaan sih, paling beberapa menit. Lha, kalau itemnya sampai 20; mau reschedule saja sudah malas!

Beda halnya kalau pakai buku, tinggal hapus, sret...! Selesai deh, planner barunya.


Itulah 5 tools sederhana, plus hemat memori yang bisa ibu gunakan untuk mengatur waktu dengan baik.

Bagaimana dengan para ibu Sahabat RPB, tools produktivitas apa saja yang sudah ibu gunakan selama ini? Share dong, di kolom komentar.

Bully Masa Lalu yang Mengganggu



Di suatu Ramadhan, Bekasi, akhir Mei 2018

"Baik, terima kasih, Rahayu Pawit."

Ah, itu lagi. sudah kesekian kali aku jelaskan di grup, tapi masih saja ada yang memanggil dengan nama itu.

"Tolong jangan penggal namaku, Pak, kamu nggak tahu usaha aku untuk memaafkan, dan melupakan akibat bully dari nama itu."

"Oh, oke, Sorry, aku nggak tahu"

Your sorry didn't mean anything to me. It still hurted me.

Bagaimana caranya aku menyembunyikan tangis ini dari Hana...? Duh!

Another hour...

Tuhan, tolong aku. Aku butuh waras, bantu aku maafkan masa lalu itu. Aku tidak ingin anakku tahu.

"Bu, aku mau keluar dari grup dulu, sampai aku tenang. Aku mau nggak ada yang manggil aku dengan nama itu. Maaf."

"Halah, santai aja, Bu. Aku dulu juga di bully, kok."

Setiap orang punya reaksi berbeda terhadap perilaku orang lain, apa kamu nggak tahu itu. Aku tak peduli tentangmu, ini hidupku, masa laluku! Kamu nggak tahu usaha yang aku lakukan untuk melupakan dan memaafkan bully itu!

Ah, Tuhan, tolong waraskan aku! Kau lihat, aku jadi membenci mereka yang seharusnya tak kubenci?



2 Juni 2018, another session for productivity class

"Fokus pada apa yang penting untuk kita." 
Apakah ini jawabMu untukku, Tuhan?

Oke, saat ini sepertinya nasehat ini lebih tepat aku pakai, karena aku merasa lebih tenang sekarang.


Juni 2018

"Bu, jangan lupa reuni tanggal 17 nanti, ya"

Ah, aku malas, mengingatnya saja sudah enggan! Apa aku harus pergi, Tuhan? Aku tidak mau bertemu dengan orang itu lagi. Bagaimanapun dia mantan guru yang harus aku hormati, tapi aku juga benci. Aku takut kalut kalau harus bertemu, dan ia menyebut nama itu lagi.

Andai ada kawan mau bercerita dan menyadarkan padanya.

"Hei, kau pikir kamu siapa, Wit?"


... Session of productivity Hack

..itu semua tergantung pada diri kita, apakah kita akan terus berpegang pada masa lalu, atau kemudian melepaskannya. 

Tuhan, tolong waraskan aku....


17 Juni 2018, pagi

Terima kasih, Tuhan, aku akhirnya berani datang, bahkan aku jabat tangannya tadi. Aku pun tertawa atas gurauannya.

a couple hour later ....

Ah, dia menyebut nama itu lagi! Kenapa hatiku tak karuan lagi.... Tuhan tolong, hilangkan aku dari kumpulan orang-orang ini....


Bully masa lalu yang menganggu


Apa yang Sahabat RPB baca diatas, adalah salah satu curahan hati saya untuk melepaskan kemarahan, kegundahan yang saya rasakan beberapa waktu lalu.

Sebetulnya, saya tidak ingin membuat tulisan ini untuk publik, berulang kali saya malah sudah menghapus draft tulisan ini. Tapi sebuah tulisan dari status kawan di grup rahasia, terus menggunggah saya,

Jangan pernah jadikan kalimat, "Ah, hanya bercanda saja", membuat kita tanpa sengaja mem-bully orang lain. Jangan pula tutupi dan bela kata bully, dengan kalimat, "Biar makin akrab...".

Dan saya ingin, Sahabat RPB tahu dan melakukan itu; tidak menutupi bully dengan kata BERCANDA. 

Karena bagi mereka yang ditertawakan, dibully, tindakan itu amat sangat tidak menyenangkan.

Buat kamu mungkin menyenangkan, membuatmu tertawa, hatimu bahagia. Tapi di sudut sana, orang yang kau jadikan bahan tertawaan sedang menyeka air mata. Bahkan mungkin hingga bertahun-tahun setelahnya. 

Bisa jadi ia seperti saya, membenci orang lain, membenci diri sendiri karena tidak bisa memaafkan, tidak bisa seperti orang lain yang menganggap perbuatan bully adalah BERCANDA. 

Meski banyak usaha yang telah dia lakukan, banyak buku telah ia baca, atau mungkin banyak sesi konsultasi telah ia lalui, tapi tetap perasaan benci dan marah terus melingkupi kawan yang kau bully.

Bisa jadi kawan yang kau tertawakan punya bibit depresi, sehingga pemicu kecil saja bisa membuatnya menderita seumur hidup, atau malah hal terburuk lainnya, bunuh diri. Tentu kamu tidak mau kan, menanam bibit dosa yang akan kau tuai diakhirat nanti?

Hei, kau tahu, aku juga berusaha untuk memaafkan...!

Perasaan yang sama juga sedang saya alami saat ini. Saya menulis sambil menghabiskan sekantung kertas tisu.

Ada rasa kasihan pada diri, menuduh diri saya LEBAY, juga keinginan melepaskan semua, mengikhlaskan, memaafkan; apapun yang seharusnya "orang normal" lakukan.

Kacau kan? Membacanya saja kau sudah merasa kacau, apalagi saya yang mengalami.

Sejak hari reuni itu pun, ketika guru saya minta maaf (dan sayangnya, mengulangi menyebut nama bully saya lagi) saya terus berusaha memaafkan, melepaskan. Saya terus motivasi diri saya untuk


  • Fokus pada hal penting dan yang membuat saya bahagia
  • Menyibukkan diri dengan pekerjaan
  • Berkumpul dengan orang-orang positif
  • Menahan diri dari rasa sedih, dengan terus ingat jika sel kanker bisa mampir karena rasa sedih berlebihan
  • Mendekatkan diri pada Tuhan ... 


... apapun, apapun yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang normal, atau teman-teman saya yang dulu pernah juga mendapat bully dari si Bapak guru.

Hingga kemudian saya berpikir saya sudah "letting go", memaafkan juga melepaskan masa lalu yang nggak penting dan menyedihkan itu.

Tapi nyatanya, saya masih menangis saat membuat tulisan ini. 😭😭😭

Jadi, Prens, please, ....


  • Jangan pernah tutupi kata bully dengan, "Ah, cuma bercanda."
  • Kalau temen kamu ngeluh karena bully-an orang, dengarkan. Kalau kamu nggak punya solusi, jangan katakan, "Halah...", lebih baik kamu sarankan untuk konsultasi pada yang ahli. 
  • Jangan pernah bilang, "Gue aja...." Ingat, karakter kamu dan temen kamu beda, dan kamu juga nggak ngalami hidup seperti dia. Semua orang bereaksi berbeda terhadap sebuah peristiwa, camkan itu!


Semoga tulisan ini membuat kamu lebih mengerti, lebih bijak, dengan tidak membuat bully sebagai bahan candaan. Jangan kawatir pertemanan kalian akan garing, masih ada banyak cara untuk berakrab-akrab dan tertawa tanpa kamu harus menghina. 😉