-->

Mini Workshop 10 Langkah Menjadi Financial Planner untuk Diri Sendiri (bagi Ibu Rumah Tangga dan Freelancer)

mengatur keuangan_freelancer_rahayupawitri


Dua minggu kemarin, saya merasa hopeless sekali. Pasalnya, bulan Januari sudah mau habis, tapi resolusi saya baru terlakasana beberapa hari. Baru sampai tahap rencana, eh, dapat karunia sakit.

Bukan sakitnya yang ku sesali (*jadi berasa pengen nyanyi) tapi kenapa saya tidak bersegera melakukan apa yang saya rencanakan. Akhirnya kacau balau, deh.

Alhamdulillah, diakhir minggu lalu, saya mendapat suntikan semangat. Yap, habis pulang dari mini workshop ngatur keuangan kemari, saya jadi punya sebuah rencana baru, untuk mengcounter resolusi yang tertunda kemarin.

Mini Workshop "Menjadi Financial Planner untuk Diri Sendiri"


Tanggal 27 Januari kemarin, saya mendaftarkan diri untuk ikut mini workshop belajar mengatur keuangan untuk freelancer dan ibu rumah tangga.

Ya, so far saya sudah mencatat, sudah nabung, tapi terasa masih ada yang kurang. Selain karena jumlahnya yang kurang 😀😀😀, saya masih sering tambal sulam antara kebutuhan sebagai freelancer dan sebagai ibu rumah tangga. Pokoke kacau, dan tujuan keuangan susah sekali untuk tercapai.

Karena itu, ketika mbak Kiki nyolek untuk ikut workshop ini, cuss deh, langsung daftar.

Workshop financial planning ini diisi oleh Bapak Lutfi Trizki dari  Rumah Cerdas Finansial. Selain sebagai Konsultan Perencanaan Keuangan, pak Lutfi juga sering menjadi mentor di banyak workshop kepenulisan dan keuangan.

And he's been a freelancer for almost 12 years, jadi pas kan kalau akhirnya berbagi pengetahuan bagaiman mengatur keuangan untuk freelance?

Bagaimana menjadi freelancer dan ibu rumah tangga yang pinter ngatur uang


Hal pertama yang pak Lutfi sampaikan kemarin adalah mengapa kita perlu untuk merencanakan keuangan. Jawabnya si simpel, agar tujuan keuangan tercapai. Sayangnya, kebanyakan dari kita justru tidak memiliki tujuan keuangan. Paradigma, 

Duit segitu-gitunya, gimana mau diatur?

sering menjadi tameng, dan membuat kita tidak berani untuk membuat tujuan keuangan. Padahal, justru inilah yang menjadi landasan ngatur keuangan. 

Ada alasan lain mengapa kita wajib mampu merencanakan dan mengatur keuangan. Di Indonesia ini, selain memenuhi kebutuhan diri sendiri dan anak, kita juga merasa perlu untuk membantu kebutuhan orangtua. 

Itulah mengapa, cermat mengatur pos-pos pengeluaran penting banget untuk dilakukan. Jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. 

Nah, jika sudah dapat mengatur keuangan berdasar tujuan keuangannya inilah, maka barulah kita sampai pada tahap "mengambil keputusan atas keuangan". Misalkan keputusan uang simpanan ini hendak disimpan pada instrumen apa, mengapa harus memilih instrumen tersebut, dan berapa prosentasenya. Kemampuan untuk memutuskan inilah yang disebut dengan kecerdasan finansial. 

Jadi gimana dong, cara mengatur keuangan yang betul?


Menurut Pak Lutfi, ada urutan yang harus dipenuhi dalam mengelola keuangan, yaitu: 

1. Antisipasi resiko dengan cara membentuk dana darurat

Jumlah dana darurat untuk yang belum menikah sebesar 6 bulan kebutuhan sehari-hari. Sementara bagi yang sudah menikah besarnya 10-12 bulan. 

2. Mengelola hutang produktif dan konsumtif

Saat terima gaji, menurut pak Lutfi, hutang inilah yang harus diprioritaskan pertama kali. 

3. Antisipasi resiko dengan asuransi

Asuransi yang dimaksud disini adalah asuransi untuk kepala keluarga, yang jumlah pertanggungannya memenuhi kebutuhan si Ahli Waris hingga terhitung memasuki usia produktif dan mampu bekerja sendiri. 

Jadi, kalau Anda masih jomblo, atau belum punya anak, ya nggak usah ambil asuransi. Belum perlu, lebih baik uangnya dimasukkan ke produk investasi

4. Membangun dana masa depan: berinvestasi (aset produktif)

Investasi tidak hanya berupa uang, bentuknya bisa berupa ternak, perkebunan, emas atau lainnya. Bisa juga berupa bisnis, namun haruslah bisnis yang bisa dijual. 

Bagi kita yang berpenghasilan UMR, saat ini juga sudah bisa berinvestasi, melalui instrumen reksadana atau menabung saham. 

Cara paling mudah sebetulnya melalui reksadana. Selain modalnya tidak terlalu besar, kita pun tidak terlalu pusing dengan perputaran investasi di pasar bursa. 

5. Kebutuhan keluarga 

Idealnya, jumlah yang bisa dipakai untuk kebutuhan ini, hanyalah 45% dari total pendapatan. 

6. Review berkala rencana keuangan

Seperti sekarang ini, banyak kebutuhan pokok yang sudah naik harganya, jadi beberapa pos mungkin perlu revisi. Karena itu review rencana keuangan secara berkala, perlu untuk dilakukan. 

Menurut pak Lutfi, merencanakan keuangan memang tidak menjadikan kita orang kaya. Tapi dengan disiplin mengatur keuangan, kekayaan bisa diraih di masa depan.

3 edisi cara menjadi Financial Planner untuk diri sendiri
(Pic by Kiki Handriyani @kikihand)


O iya, semua materi yang disampaikan pak Lutfi ini, sudah Beliau rangkum dalam tiga buku "10 Langkah Menjadi Financial Planner untuk Diri Sendiri" yang tebagi dalam tiga edisi yaitu untuk Freelancer, ibu rumah tangga dan untuk karyawan. 

Ketiga buku tersebut dapat diperoleh di toko buku Gramedia, atau kunjungi saja situs penerbit bukunya grasindo.id

Btw, saat ini saya sedang baca buku yang "untuk Freelancer". Ya, ampun isinya "gue banget". Buku ini nggak cuma berisi cara ngatur uang, tapi juga lika-liku kehidupan freelancer itu seperti apa, bagaimana cara agar freelancer bisa memenuhi kebutuhan plus jalan-jalan dan, membangun aset. 

Belum selesai baca si, tapi kemarin sudah langsung praktek 😃. Nanti saya buat post terpisah deh, sneak peak dari edisi yang saya punya (freelancer dan irt).  

Pokoknya kalau kamu nggak mau jadi freelancer ngenes, wajib deh beli buku ini. Dijamin bermanfaat. 

Oke, see you at another post, ya... 


Minuman Hangat Favorit, Teman Setia Saat Harus Lembur Sampai Pagi

Bekasi sore ini hujan euy, deres banget. Bikin suasana menjelang malam makin dingin. Kalau sudah hawa sejuk-sejuk begini, pikiran saya pasti pengen yang anget-anget. Apalagi sambil ngumpul bareng Hana, ngobrol ngalor ngidul, cekikikan cerita tentang teman-temannya.

Biasanya saya terus bikin coklat atau teh anget kalau lagi hujan begini. Enak aja si, daripada ngemil, bikin gigi capek ngunyah.

Selain kalau lagi ngumpul, saya juga seneng nyeduh minum anget kalau lagi kerja dini hari, atau butuh lembur karena ada tulisan yang harus selesai hari itu juga.

Manfaat minuman hangat untuk tubuh

Sejak pindah ke Bekasi, entah mengapa saya mulai merasa kurang suka minum air putih saja, baik itu  air putih dingin, hangat, terlebih yang bersuhu normal. Ada rasa mual dan seperti nggak bisa tertelan.

Sejak saat itulah saya mulai suka minuman hangat. Dan dari beberapa situs kesehatan yang pernah saya kunjungi, minuman hangat ternyata mempunyai banyak manfaat untuk tubuh; diantaranya:


  • Melegakan saluran pernapasan
  • Membantu memperlancar pencernaan
  • Menenangkan saraf pikiran
  • Membantu mengatasi konstipasi
  • Juga menjaga tubuh dari dehidrasi
Untuk manfaat terakhir itu saya mengamini banget. Ingat kan kalau lagi minum dingin tubuh kita malah terus-terusan pengen minum. Beda kalau sedang haus dan kita malah minum hangat. Badan agak panas sebentar, tapi haus pun hilang. 

Oya, dari banyaknya jajaran pilihan minuman hangat, saya punya beberapa minuman hangat favorit ni, dan sungguh keseharian saya jarang bisa lepas dari ketiga jenis minuman ini. 

#1. Kopi hitam


Yap, kopi pahit tanpa gula sekarang menjadi favorit saya. Nggak peduli banyak orang bilang kopi nggak baik buat wanita, tapi tetep saya nggak pernah bisa berpaling dari minuman yang satu ini.

Awal kenal kopi sekitar dua tahun lalu, waktu mulai sering begadang dan bangun dini hari untuk nulis. Waktu itu setiap ada kopi baru pasti saya coba. Mulai dari kopi hitam mix, capucino, latte, java semua saya coba. Eh iya, kopi-kopi yang saya sebut itu cuma kopi instan ya, bukan kopi racikan ala-ala barista di cafe-cafe gaul itu.

Nah, mulai jatuh cinta sama kopi hitam pahit itu waktu diajakin main ke Coffindo. Disana saya dikenalin dengan kopi sebetulnya, authentic coffee katanya. Pas banget waktu itu sedang jenuh dengan semua kopi instan yang after tastenya manis banget.



Dan begitulah, udah males aja sekarang kalau harus minum kopi instan.

#2. Coklat


Waktu itu pas dapat jatah nulis tentang minuman untuk ibu hamil. Disana disebutkan salah satu cara untuk mengurangi kopi adalah menggantinya dengan minuman coklat. Pengen ngurangin aja si, karena dalam sehari saya bisa habis 4 sachet kopi instan. Berat badan saya pun mulai naik saat itu.

Jadilah mulai cari-cari alternatif minuman hangat selain kopi.

Biasanya saya suka nyeduh coklat hangat Windmollen, itu lho, coklat yang bergambar kincir angin belanda. Tapi akhir-akhir ini mulai agak susah nyari di pasaran. Makanya pas nongol coklat instan, saya happy banget. Mulai dari Chocolatos, Tora Cafe, sampe Beng-beng saya coba semua. Tapi nggak ada yang jadi favorit saya.

Nah, pas kemarin belanja di Indomaret, ketemu deh sama coklat ini. Rasanya cukup ringan, dan after tastenya juga nggak terlalu hangat.

Minuman_hangat_favorit_rahayupawitri
Latest chocolate I've tried

Sayang harganya agak mahal, sepuluh ribu cuma dapat dua biji, hiks.

#3. Teh lemon dan teh jahe


Kalau yang ini alternatif saat coklat nggak ada. Biasanya saya bikin teh lemon atau teh jahe. Kedua jenis teh ini kadang juga saya minum, saat badan nggak sehat, telat makan, atau butuh booster saat jatah kopi dua gelas sehari sudah habis.

Begitulah, standar aja si minuman hangat favorit saya ni, yang penting nggak pakai gula dan after taste-nya nggak bikin saya eneg.

Artikel terkait: Manfaat Teh Jahe

Nah, kalau temen-temen gimana, punya minuman hangat favorit nggak?




Tangkal Bullying dengan Menumbuhkan Rasa Percaya Diri pada Anak

Buat saya, yang namanya Bully tu paling enggak banget, paling nyebelin, bikin ilfil, dan salah satu hal yang paling saya takuti sejak saya punya anak.

Bukan saya kawatir dibully (nge-bully saya paling capek doang 😀), tapi saya kawatir kalau Hana bakal dibully orang.

Karena itu saya jadi sering kepoin nasehat-nasehat dari ahli parenting. Cobain ikut grup-grup kepengasuhan agar tahu trik mendidik anak yang tahan dengan bullying.

Dari semua saran dan ilmu merangkum ada beberapa hal penting yang orangtua bisa lakukan untuk menangkal bullying, yaitu menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dan mendidik anak berani berkata tidak

Cara saya mempersiapkan anak menangkal bullying


1. Menanamkan rasa percaya diri


Jangankan anak, kita orang dewasa aja masih sering kesulitan untuk percaya diri kan? Saya pribadi mengawalinya dengan berusaha tidak membandingkan Hana dengan siapapun dan dalam hal apapun (sebisa mungkin 😁). Berusaha menerima Hana sebagai dia yang unik. And I must confess, that it's not an easy thing to do.

Saya mulai dari hal kecil, dengan tidak membiasakan berkata,
"Lihat tu, kakak Al sudah mandi, masak adik belum..."

Sebagai gantinya ya, langsung aja to the point, "Udah sore, ayo mandi, nanti dingin, adik bisa sakit".

Ada alasan lain juga si, saya menghindari kalimat tersebut. Kawatir nanti malah dibalik sama Hana saat ia pengen sesuatu. Misalkan "Si A aja punya iphone, kok aku enggak", nah, malah bisa pingsan kan?

Okay, balik ke percaya diri,

Pengennya saya ni, Hana bangga karena benar, karena ia punya cara sendiri, pemikiran sendiri.; pokoke "it is okay to stand alone as long as Allah with me", gitu kira-kira.

Dan bagi saya prosesnya ini sungguh panjang. Sejak ia mulai bayi, saya bebaskan ia bereksplorasi, memastikan jika ia punya stock kasih sayang yang banyak, juga tidak mudah melarang ketika Hana pengen bereksplorasi (sedikit ceritanya ada pada post "Hana Bisa Dili Sekarang").

Apakah Hana sekarang jadi anak percaya diri dengan cara itu?

Kalau ukurannya kemudian dia berani tampil joged-joged di panggung saat 17-an, ya enggak. Dia bukan tipe anak seperti itu. Tapi saya lihat dia berani bilang apa yang ada dipikirannya, meski mungkin itu bertentangan dengan mayoritas suara yang ada.

2. Ajak anak untuk mengenali perasaannya

Hana ini sebetulnya tipe anak slow to warm up. Malah saat masih bayi, ia bisa digolongkan dalam difficult child, sensitif banget. Anaknya jadi gampang rewel dan nangis. 

Celakanya, saya ini tipe orang yang nggak sabaran, nggak suka membujuk anak nangis. Maunya langsung dezz... beres he he he. Makanya saya nyari cara bagaimana agar Hana mudah mengekspresikan emosinya dan bisa menunjukkan apa yang ia mau, nggak perlu pakai ngamuk atau nangis lagi. 

Waktu Hana baru belajar bicara, saya ucapkan kata dan bagaimana mengekspresikannya dalam gerakan. Misalkan kata "ingin tidur" dengan dua tangan ditelangkup, dan diletakkan di bawah kepala yang miring. Atau laper dengan pura-pura memasukkan sesuatu ke dalam mulut. 

Ketika kemudian kenal buku dan dongeng, saya tunjukkan ekspresi muka sedih, marah, bingung lewat gambar-gambar dalam buku.

Pernah juga kami main "diari-diari-an". Jadi saat sebelum tidur, saya ajak Hana menuliskan apa kegiatannya di hari itu, atau jika tadi siang dia marah, saya ajak ia mengenali apa yang menjadi penyebab ia marah. 

Alhamdulillah dengan dua cara tersebut, selain tidak mudah rewel, Hana pun jadi tahu apa yang sebenarnya ia inginkan atau rasakan.

Dari dua hal diatas, saya lihat Hana berani untuk berkata "tidak" jika memang ada hal yang tidak ia sukai. 

Salah satu buktinya, ketika ia pernah menolak teman yang memintanya mengejek anak lain. Meski pulang sambil nangis dan diancam tidak mau diajak main lagi, Hana tetep pada pendiriannya.


Lalu apakah itu cukup efektif untuk menangkal bullying hingga hana besar nanti? Well, saya tidak tahu, kan masih belum terjadi he he he.

Yang bisa saya usahakan saat ini adalah membangun nilai-nilai keluarga dan komunikasi, memastikan jika dia akan selalu punya rumah untuk pulang. Agar ia berani dan percaya diri tidak karena materi, tapi karena tahu apa yang dingini.
(yeach, hidup "i"). 😅😅😅



Saya Memilih Tidak Menggunakan Reward and Punishment dalam Mendisiplinkan Anak

Apa punya metode baru? Ya enggak juga si.

Tapi karena anak saya kebetulan tipe yang sangat menjaga prestasi, dan mudah stres kalau pencapaiannya berkurang, jadi saya memilih untuk tidak menggunakan reward and punishment dalam mendisiplinkan anak.

Saya kenal reward and punishment ini sejak dari Hana belum lahir. Dulu si berpikir jika metode ini oke. Tapi setelah Hana lahir dan masuk waktunya saya mengenalkan aturan padanya, saya mulai berpikir ulang tentang metode ini.

Anakku bukan tipe "reward and punishment"


Dulu saya pernah mencoba metode ini saat Hana usia 4 tahunan. Saat it, jika ia mengembalikan mainan, ikut sholat, tidak membuat adik tetangga menangis, mau berbagi mainan, maka ia akan mendapat bintang.

Begitu juga sebaliknya, jika ia tidak mau mengembalikan mainan, maka bintangnya akan berkurang. Seingat saya ia begitu bersemangat mengumpulkan bintang, tapi akan ngamuk, ngambek berjam-jam ketika bintangnya diambil. Well, sepertinya konsep konsekuensi belum bisa ia pahami.

Daripada saya repot membujuk agar ia berhenti menangis dan mengamuk, saya pikir lebih baik ambil intinya saja; paham konsekuensi untuk setiap pilihan. 


Misal saat ia kelimpungan karena mainan barunya hilang; saya tunjukkan seandainya kemarin rapi mengembalikan, sekarang ia tidak kebingungan mencari. Akibatnya, waktu bermain pun jadi berkurang karena harus mencari mainan dulu.

Artikel terkait: Mengenalkan Tanggung Jawab pada Anak

Kadang saya juga menggunakan dongeng yang jalan ceritanya saya rubah sesuai pesan yang ingin saya sampaikan.

Alhamdulillah, dengan cara ini sekarang malah jadi lebih mudah. Saya cukup memberinya pilihan, dan membiarkan Hana memilih.

Kenal dan paham konsekuensi ternyata juga membuat Hana lebih mandiri dan lebih bertanggung jawab. Saya sendiri jadi "lebih santai" mengasuhnya. Riak si tetap saja ada, sesekali tarik urat juga, tapi Alhamdulillah semua masih dalam batas wajar (semoga sampai nanti juga ya).

Pengalaman membesarkan Hana ini juga membuat saya sadar, jika tidak semua metode dan cara parenting cocok untuk semua anak. Cara B mungkin cocok untuk si Fulan, tapi belum tentu oke buat Fulanah.

Menurut saya setiap orangtua perlu untuk peka terhadap karakterisrik anak, sampai pada akhirnya memutuskan memilih metoda kepengasuhan yang mana yang cocok untuk anak-anaknya. Wallahualam.

Oya, bagaimana dengan teman-teman, apakah menggunakan reward dan punishment dalam mengasuh anak?

Realcom, Aplikasi Belajar dan Mengajar untuk Semua

realcom_belajaronline_mengajaronline_rahayupawitri


Kalau sudah tidak duduk dibangku sekolah atau universitas, cara belajar seperti apa si yang paling Sahabat suka?

Kalau saya pribadi ni, lebih suka belajar online, agar waktu belajar bisa menyesuaikan plus nggak perlu kena macet, debu, asap dan polusi lainnya.

Jadi, kalau sudah butuh refresh otak, biasanya saya mulai hunting kursusan online dari luar negeri. Bukan mau bergaya si, tapi karena di Indonesia belum banyak kursusan online dari sesuai dengan topik yang saya butuhkan.

Plus, akses kursusnya juga belum fleksibel seperti Edx.org misalnya. Pelajaran dan proses belajar yang ada di situs milik Boston University ini bisa diakses baik melalui komputer jinjing, komputer meja, juga perangkat mobile.

Jadi materi bisa diakses kapan saja, dimana dan dimana saja. Jujur saya ngarep Indonesia punya sarana belajar online yang mudah diakses seperti Edx ini. Nantinya nggak ada lagi kan alasan untuk nggak punya waktu atau malas belajar.

Realcom, aplikasi belajar dan mengajar online 


Tapi syukurlah, keinginan saya agar Indonesia juga memiliki sarana belajar online yang dapat diakses melalui aplikasi kini dapat segera terwujud.

Adalah Bapak Risanda, yang memiliki pengalaman mengajar lebih dari 34 tahun, melihat jika di masa depan, belajar tidak lagi memerlukan kelas. Semua proses tersebut dapat dilakukan dari rumah guru dan murid, serta dapat diakses dari mana saja.

Karena itulah Beliau berinisiatif untuk membuat apliksi Realcom, aplikasi belajar mengajar dengan basis media sosial.

Artinya, selain dapat belajar dan juga mengajar, semua pengguna Realcom juga dapat berinteraksi satu sama lain, seperti mengunggah berita, foto, cerita keseharian dan inspirasi, dan video.

Realcom pertama kali luncurkan di Play Store pada bulan September 2016. Saat itu belum banyak fitur yang di dalamnya. Baru di akhir 2017, vitur video conference dapat digunakan di Realcom.

Mengawali tahun 2018, seiring dengan target Realcom untuk menjangkau lebih banyak pengguna di Indonesia, Realcom melakukan soft launching yang kedua. Kali ini Realcom semakin memperbaiki diri  agar dapat diunduh oleh para pengguna App Store.

Bapak Risanda menyebutkan, jika ke depan Aplikasi Realcom akan dilengkapi dengan otomasi data, sehingga pengguna tidak perlu keluar dari aplikasi jika ingin berbelanja, memesan tiket, atau melakukan aktivitas pembayaran lainnya.

Untuk kelengkapan fasilitas mengajar, ke depan Realcom juga akan melengkapi diri agar gurudan murid dapat bekerja dengan menggunakan aplikasi penulisan (word), data (spreadsheet), atau presentasi seperti power point.

Proses belajar-mengajar di Realcom


Dalam proses belajar-mengajar, Realcom hanya bertindak sebagai fasilitator. Realcom sama sekali tidak memungut biaya baik kepada murid ataupun guru yang menggunakan aplikasi Realcom. Malah Realcom akan membantu guru untuk mendapatkan tambahan penghasilan dari iklan yang (nanti) ditayangkan.

Proses belajar-mengajar di Realcom bersifat privat. Untuk mendaftar kelas, kita cukup memilih guru dan sesi yang hendak diikuti, kemudian mengkonsultasikan pendaftaran dan prosedurnya langsung kepada guru yang bersangkutan.

Kelebihan fitur Realcom lainnya


Seperti disebutkan diatas jika Realcom merupakan aplikasi belajar dan mengajar yang berbasis media sosial. Untuk itu demi kenyamanan pengguna, spam, hoax, fake news, hare speech atau politik praktis tidak diijinkan diunggah pada aplikasi ini.

Realcom ditujukan untuk komunikasi secara nyata, karena itu data dan identitas yang diunggah pun haruslah nyata. Dan meskipun aplikasi Realcom ini gratis, guru yang mengajar dikelas ini pun adalah guru yang kompeten dibidangnya masing-masing.

Realcom dibangun oleh orang Indonesia, yang sebagiannya adalah jamah Majelis Az-Zikra. Karena itulah moto yang diusung adalah "Dari Indonesia untuk Dunia".  Realcom mengajak siapa saja yang ingin berbagi ilmu dan mengembangkan ilmu untuk bergabung dan menggunakan Realcom.



Pajak untuk Freelancer, Ini lho, Cara Menghitung dan Melaporkannya




Akhir Desember lalu saya mendapat telepon dari kantor pajak Cibitung. Menurut si Embak dari kantor pajak, saya sudah lama nunggak pajak sekaligus melewatkan kewajiban lapor.

Tuing! Saya pun langsung protes, lha wong pendapatan kadang nggak sampai 5 jeti sebulan kok sudah disuruh bayar pajak.

Menurut si Embak, pokoknya selama kita punya NPWP kita harus pajak setiap bulan dan laporan setiap tahun. Titik. "Jadi kapan ibu bisa ke kantor?" tanya si Embak sebelum akhirnya menutup telepon.

Bagaimana cara menghitung pajak freelancer


Berhubung sudah salah, ya udah akhirnya saya janji tanggal 27 Desember saya janji ke kantor KPP Pratama Cibitung.

Sudah diwanti-wanti nanti kalau ke KPP Pratama, saya harus menemui Bapak S (lupa nama komplitnya). Sesampai disana saya langsung bilang ke resepsionis untuk menemui Bapak S. Dan si Embak sudah bisa menebak, jika semua yang mencari Bapak S pasti telat bayar pajak. 😁😁😁

Kirain harus ngantri, tapi ternyata saya langsung ditunjukkan untuk masuk ke ruangan di seberang ruang tunggu. Disana saya ditemui oleh salah satu staff Bapak S yang menjelaskan cara menghitung pajak Freelancer, cukup 1% dari penghasilan bersih yang diterima. Yap, hanya 1%, Sodara-sodara, sama dengan pajak yang dikenakan pada para pengusaha.

Oya, sebelum datang ke kantor pajak, saya sudah browsing cara menghitung pajak bagi freelancer, dan itu rumit banget, sampe saya malas mau cobain ngitung.

Jika sudah lewat bayar pajak, apa yang harus dilakukan


Jadi gimana kalo sudah tahunan nggak bayar pajak? Segera ke kantor Pajak tempat Anda mengajukan NPWP. Kalau daftarnya online gimana? Yaelah ... biar daftarnya online kan pasti ada nama KPP Pratama-nya kan?

Saat saya datang ke kantor pajak kemarin, ternyata nggak cuma saya saja yang telat, ada banyak Bapak dan Ibu dari berbagai profesi (pengusaha warung, pedagang, makelar, pemilik yayasan, sampe kontraktor) yang juga ngga pernah bayar atau lapor pajak. Dan rata-rata kasusnya sama dengan saya, nggak tahu kalau wajib bayar pajak berapapun penghasilannya.

Setelah dijelaskan tentang kewajiban pajak bagi Freelancer, akhirnya saya diminta membuat list penghasilan selama tahun-tahun yang sudah lewat. Opsi kedua, dan yang ini yang lebih banyak dipilih oleh pewajib pajak yang lain, diputihkan.

Artinya, penghasilan yang lewat di tahun-tahun kemarin dihitung Rp1.000.000,00 per bulan. Itu artinya, setiap bulan mereka wajib bayar Rp10.000,00. Jika menunggak selama 3 tahun maka dihitung

(12 ᷾ × Rp10.000,00) × 3 = Rp360.000,00
Gedhe  juga kan? Makanya kalau punya NPWP, dan belum pernah bayar atau lapor, sebaiknya segera lapor, biar nanti nggak gedhe banget bayar tunggakannya.

Yang harus dibawa saat lapor tunggakan pajak


Ya nggak ada si, selain bawa diri dan kartu NPWP. 😀😀😀
Kalau teman-teman punya catetan penghasilan tiap bulan ya, bawa aja. tapi kalau nggak ada, ya sudah minta diputihkan.

Oya, setelah diputihkan nanti akan sekalian dibuatkan Bukti Penerimaan Surat SPT. Karena itu saat datang untuk lapor tunggakan, sebaiknya bawa uang atau ATM juga biar nggak bolak-balik ke kantor pajak.

FYI, pajak yang nunggak (juga pajak setiap bulannya) bisa dibayarkan lewat kantor pos atau transfer via bank. Bank yang melayani untuk pembayaran adalah bank BRI, Bank BCA, Bank BNI, dan Bank Mandiri.

Makanya biar nggak bolak-balik, bayar tunggakannya pakai cash atau ATM aja. Nanti disana akan dibantu membayar tunggakan pajak kamu.

Oya, kalau sudah dibayar, jangan lupa tiap bulan juga bayar. Caranya masih sama, bayar via kantor pos atau ATM atau internet banking. Tapi sebelumnya harus punya kode billing (ada 15 digit) untuk bayar. Cara mendapatkan kode billingnya bisa dengan membuat e-billing atau langsung WA/SMS ke call center KPP masing-masing dengan format

PP46 + nomor NPWP + Bulan + Jumlah pajak uang hendak dibayar (1% dari penghasilan)


Masih bingung? Datang aja ke KPP masing-masing, trus konsul di bagian Help Desk, okay? 😉😉

Eh iya, pas ke kantor pajak kemarin saya juga "live report" di grup arisan V 😀. Dan beberapa pertanyaan yang muncul kira-kira

1. Gimana kalau penghasilannya nggak rutin atau nggak tiap bulan dapat?

* Laporin yang dapat saja. Kalau emang kosong, ya laporkan kosong. Maksudnya gini, setelah satu tahun rutin bayar, di bulan pertama sampai ketiga tahun berikutnya, kita wajib melaporkan semua pajak yang sudah disetor. Nah, saat lapor itu, bilang aja kalau memang tidak ada pemasukan di bulan tertentu.

2. NPWP-ku jadi satu sama penghasilan dari kantor, perlu lapor nggak?

*Setahu saya si, selama kita punya NPWP wajib lapor deh. CMIW untuk yang satu ini.

3. Kalau NPWP pakai punya suami gimana?

*Yang lapor dan bayar suami lah... wkwkwkk

4. Apa harus ada tanda bukti penghasilan, bukti transfer bank, invoice misalnya?

*Enggak kok. Ini mah kejujuran kita saja.

5. Aku udah lama nggak punya penghasilan, apa harus bayar dan lapor?

*Menurut saya si, sebaiknya ditutup aja nomor NPWP-nya. Adakok form-nya disana. Dan kebetulan barengan juga dengan bapak-bapak yang ingin menutup nomow wajib pajaknya.

Udah, itu dulu deh. Nanti kalau ingat hal-hal yang penting dan berkaitan dengan cara menghitung dan melaporlan pajak freelancer, post ini saya update lagi ya. Tahnk you for dropping by ...


Pic. taken from: pexels.com