-->

Ingin Sukses Mencapai Cita-cita? Luruskan Dulu Niat Anda

ingin-sukses-mencapai-cita-cita-luruskan-dulu-niat-anda
Niat yang lurus akan membantu Anda untuk mencapai cita-cita


Buka puasa kemarin,salah seorang ipar mampir. Ia bercerita panjang lebar tentang seorang kawan yang akhir-akhir sering curhat. Kawannya tersebut, sebut saja Fulanah, sedang bermasalah dengan suaminya. Saat lahir anak kedua, suaminya mulai selingkuh dengan wanita lain.

Ia memang tidak dicerai, bahkan uang bulanan dan makan pun tetap suaminya berikan. Tapi ia merasa sakit hati dengan tingkah suaminya tersebut. Karena sakit hati itulah ia meminta tolong adik saya untuk mencarikannya pekerjaan. 

Ia ingin tunjukkan pada suaminya jika ia juga bisa bekerja dan sukses. Dan jika telah sukses, maka ia akan balas dendam atas perlakuan suaminya.

Pada bagian inilah saya mulai tertarik; "jika sudah sukses, maka ia ingin balas dendam perlakuan suaminya". 

Menurut saya si Ibu ini sudah salah dalam niat. Niat sukses tidak untuk kebaikan sesama atau ibadah tapi untuk balas dendam. Bisa jadi ini pula yang membuat dirinya belum juga menemukan pekerjaan meski sudah melamar ke banyak perusahaan.

Saya mengerti  (karena akan salah jika saya bilang memahami), rasa sakit yang ditimbulkan karena sikap suaminya pasti sangat perih. Mendengar cerita dari adik saya saja, saya juga ikut geram.
Sayangnya, jalur sukses dan kehendak Tuhan seringkali berkebalikan dengan niat yang salah. Tidak peduli apakah kita menjadi korban yang tersakiti, atau malah pelaku yang menyakiti orang lain. 

Saya berpendapat demikian tidak karena hanya mendengar nasehat atau teori, tapi saya juga pernah mengalami, menginginkan sesuatu yang baik, tapi dengan niat yang salah.

Dulu saya ingin melanjutkan pendidikan, no matter what happpened. Tapi salah seorang kerabat berkata kepada saya, jika saya tidak akan mungkin bisa kuliah. Tidak akan mungkin saya bisa kuliah dengan biaya sendiri, apalagi sambil bekerja. Lucunya, ia mengatakan hal tersebut saat sedang berusaha meminta bantuan tambahan biaya kepada orangtua saya untuk kuliah anaknya.

Niat salah, hasil pun salah


Merasa diremehkan, saya marah, dan berjanji dalam hati untuk membuktikan semua perkataannya tersebut salah besar.

Dan lima tahun hampir berlalu sejak dari kejadian tersebut. Alhamdulillah, saya belum juga bisa mewujudkan cita-cita saya untuk kuliah. Malah saya mendapat anugrah sakit toksoplasma yang menghabiskan hampir semua tabungan kuliah dan gaji saya.

Tidak hanya itu, aneka cobaan dan ujian seolah tidak pernah berhenti mampir. Sempat saya membenci Tuhan. Berulangkali kesal kenapa harus saya yang mengalami semua ini. Kenapa tidak penipu-penipu itu saja, yang seolah tidak pernah peduli keberadaaNya.

Penasaran dengan "keinginan Tuhan" atas hidup saya, saya buka Al-Qur'an, mengamati pola hidup dan sejarah orang-orang yang menderita namun mampu mendulang kesuksesan. Tak lupa saya juga membaca banyak buku; baik dari kubu "kanan" atau pun "kiri". Saya ingin tahu mengapa Allah ciptakan saya, kalau akhirnya saya harus selalu kesusahan.

Dari banyak buku juga mengamati kehidupan mereka yang sukses menjalani hidup, saya belajar jika "menyalahkan Allah" atas takdir bukanlah jawaban. Sebaliknya ketika cobaan datang, maka itu kesempatan untuk menjadi lebih dekat Allah.

Membersihkan hati, dan kemudian meluruskan niat adalah cara mereka untuk tetap bersemangat meraih cita-cita.

Alhamdulillah, ketika menyadari hal tersebut, dan membetulkan niat kuliah saya, satu persatu masalah saya selesai. Tokso saya sembuh, dan akhirnya saya bisa kuliah.

Karena itu jika saat ini Anda selalu gagal menempuh cita-cita, coba ceki-ceki dulu, siapa tahu ada yang salah dengan niat Anda. Orang bijak berkata,

Sukses itu seringkali tidak tentang mereka, tapi lebih kepada tentang kita. 

Anakku Ngambek, ... du du du

Anak ngambek, coba beri jeda waktu sejenak untuk menyelesaikan amarahnya


Akhir-akhir ini, si Princess lagi gampang banget ngambek. Seperti tadi pagi; critane doi lagi belajar bikin jadwal dan pengen bangun setengah lima pagi. Tapi berhubung badan saya sedang nggak enak, saya pun bangun agak telat, jam 5.45 baru bangunin doi.

Walhasil gidro-gidro deh anaknya. Dia kesel karena bikin jadwalnya berantakan. Jalan ke kamar mandi sambil hentak-hentak kaki dan ngegerundhel. Saya yang lagi motong sayur, berdoa dalam hati, "Duh Gusti, paringono sabar. Nyuwun dipun dawak-e usus kulo..." 😭

Kalo dulu si, Hana ngambek gini, saya pasti balik lebih marah. Pokoke, prisipnya "Emak is always Right". Tapi ternyata cara saya salah, karena anak akhirnya malah menahan emosi, nggak bebas mengeluarkan perasaannya. "Nggak sehat", gitu kata guru saya.

Yang kedua, karena kemarahan saya nggak efektif. Tetep aja my Kimpuy tercinta ni tetep ngambek, tetep marah, tetep guling-guling. Capcay pokoke! Bikin ilang mood nulis aja!

Jadi saya coba tanya sana-sini, tanya ke yang lebih ahli, tanya temen-temen yang lebih pengalaman, plus tanya sama guru sekolah Hana.

Dan inilah yang saya catet dari jawaban-jawaban mereka; 5 hal yang harus kita lakukan saat anak kita ngambek.


5 hal yang harus dilakukan ketika anak ngambek



Kita kalau lagi marah sama anak, kadang sampe ke ujung urat kan? Hasilnya tubuh biasane lemes, trus kehilangan semangat untuk melakukan kerjaan lainnya. Orang-orang rumah pun kadang jadi ketularan kita omeli.

Menurut saya itu nggak sehat (apalagi kalau sahabat juga penulis konten macem saya) bisa ngabisin semangat kerja.

Anak marah adalah hal yang wajar. Kita nggak bisa kendalikan perasaan mereka, mana yang mereka boleh merasa marah, dan mana yang tidak.

Tapi ada satu hal yang pasti, kita bisa kendalikan reaksi kita atas kemarahan mereka. Toh, mau lanjut marah atau enggak, mau balik marah atau enggak; kita masih harus ngurusin mereka kan? Masih bakal hidup satu rumah sama mereka. Nggak enak juga kayaknya kalau masih nyimpen rasa sebel atau marah, ya nggak?

So, this is my training so far. Alhamdulillah sekarang kalau marah paling di permukaan saja (meski tetep nyakitin banget di hati Hana), tapi marahnya jadi lebih efektif, lebih cepet sembuh, dan yang pasti, lebih cepet bisa ngendaliin mood.


#1. Hindari dulu 


Kalau pas Hana ngambek dan Dady lagi di rumah, saya lebih suka keluar rumah dulu, Sesepedaan keliling komplek atau mbubur kacang ijo di bunderan. Pulang biasane Hana dah reda marahnya, dan bisa diajak ngomong.

Tapi kalau di rumah cuma kami berdua, biasane saya tinggalin aja dia ke meja nulis, pasang head set, dengerin Cloud #9. . 

Buat saya, selama doi marahnya nggak bahaya, cuma hentak-hentak kaki sambil gegulingan), nggak papa si kalau tinggalin dulu. Habis percuma juga diajak ngomong, pasti makin marah. Yang ada malah ikut kesulut marah deh.


#2. Kasih tahu anak kalau kita marah


Saya ninggalin dia saat ngambek adalah salah satu ngasi tahu Hana kalau saya marah. Kadang saya juga bilang si, kalau saya kecewa sama dia, kesel karena dia sepertinya mulai nggak mau dengerin saya.

Kadang Hana juga jawab, kalau dia juga marah, sambil "ngasi unjuk" mata yang penuh air mata, tapi full of anger *aww... 😂

Biasane kalau dah gitu, dia lari ke kamar nangis peluk bantal, saya balik ke dapur atau ke meja nulis. Lucunya, cara ini malah bikin marah dia nggak lama-lama. Kalau pas saya tengok, ke kamar dia langsung lari ke pelukan. Baikan deh...

#3. Bikin limit waktu kapan kita marah


Gosh, this is so difficult to try! Indeed .... 

Kita kepancing marah biasane karena kita nggak tahu, ampe kapan anak kita bakal ngambek, Sementara, kita harus bikin dia tenang, kepala kita ngomong: cucian belum selesai, deadline depan mata, customer perlu dijawab inboknya, and so on.

So, alih-alih kita berusaha tenang, keruwetan itu bikin kita teriak. Kita berharap dari teriakan itu anak akan takut dan berhenti ngambek (iya apa enggih? 😂).

Untuk ngatasinnya, kadang saya bilang sama dia kalau saya marah, dan mau sholat dulu. "Habis sholat kita bicara".

Does it work? Sometimes. Karena kadang Hana malah megangin baju, nggak bolehin saya pergi. Nah, ini bagian tersulitnya, berusaha stay cool, sementara depan mata anak terus teriak-teriak.

So far, saya tetep ke kamar mandi ambil air wudhu. Sengaja dilamain, sampe dia nanya, "Ibu wudhunya udah belum?" Kalau dah nanya gini ni, biasane ngambeknya bakal nggak lama lagi deh. he he he.


#4. Pake time out


Hmm...kali time out bukan isitilah yang tepat ya; maksudnya tu, kalau dia lagi ngambek, dan lagi nggak ada waktu buat negosiasi, kadang saya milih jalan pintas, ngetung 1... 2... 3... Kurang tepat jane, soale ujung-ujungnya pake ancaman.

Misalnya "Ibu itung ampe 6 ya, kalau kamu nggak ...." Nah, nggak asik kan.


#5. Coba berpikir ala anak-anak


Jadi gini, doi lagi rada bandel ni; sholatnya diakhirin mlulu karena acara TV lagi asik-asik. Waktu itu dia saya suruh sholat sementara "Rainbow Ruby" sudah akan tayang. Saya bilang sama dia sholat sekarang, dia pengennya sholat setelah denger opening Rainbow Ruby.

Merasa sudah terlalu sering seperti itu, saya matikan TV. Dan ... ngambeklah doi.

Kadang ni, kalau lagi alim, saya coba mikir ala anak-anak. Toh dulu saya joged dulu kalau mau sholat, meski mukena udah di badan 😀😀😀. Denger musik, pasti langsung megal-megol.

Yo wis, mumpung lagi bolong saya kasi aja dia nonton. Tapi begitu habis saya langsung ubrak-ubrak suruh sholat.

Well, ngadepin anak lagi ngembek, dan tetep stay cool tu emang bukan hal yang gampang. Tapi kalau kita nggak latihan ngendaliin diri, kawatirnya anak malah anak nyimpan rasa kesal. Pas keselnya dah numpuk dan buummm.... wah, repot dah!

Oh, iya ada satu lagi. Biasane kalau habis marahan gitu, malamnya kami ada sesi "talk befor bed" aka. TBB he he he. Disitu biasane saya tanya kenapa tadi ngambek, so how did you feel about that, what's you gonna do when such a thing happend again. and so on.

TBB bisa jadi cara manjur juga lho untuk mengurangi anak tantrum dan mengenali perasaannya (itulah kenapa dia bisa jawab "aku juga marah" kalau saya bilang saya sedang marah).

Last but not least, doa. Doa tu, the answer of everything, senjata emak paling ampuh sedunia. Berdoa semoga kita selalu bisa jadi orangtua yang baik, yang bisa jadi panutan anak, dan seterusnya.

Moga bermanfaat, see you at another "Parenting Talk" post.




Pengen ngobrol lebih banyak? Fell free to contact me @ rahayupawitri@gmail.com atau 0821 1271 5376