-->

Plus Minus Pekerjaan Penulis Konten Freelance yang Sebaiknya Kamu Tahu

penuliskontenprofesional_rahayupawitri


Bekasi hujan deras hari ini. Dan setiap kali hujan, saya inget komentar temen

"Lo, mah enak, kerja nggak perlu kemana-mana. Bangun tidur langsung ketak-ketik leppi juga nggak bakal ada yang ngomel." 😀

Saya cuma bisa menghibur dia dengan berkata jika setiap pekerjaan pasti ada konsekuensinya. Termasuk dirinya yang harus berangkat kerja ditengah guyuran hujan.

Padahal aslinya hidup penulis konten freelance itu nggak selamanya enak dan indah.

Di beberapa poin memang terlihat nyaman, seperti kata teman saya, bangun tidur langsung ketak-ketik nggak ada yang ngomel, mau kerja jam berapa aja, juga nggak ada yang nglarang. Tapi ...

Tetep aja pekerjaan ini punya konsekuensi. Harus bisa penuhi deadlion, bisa membuat prioritas, mampu menjadi PR sekaligus manajer untuk jasa yang ditawarkan, dan seterusnya.

Fakta tentang penulis konten freelance

Penulis konten tu nggak selamanya freelance lho. Banyak juga yang in-house. Mereka tetep mesti ngantor, terikat peraturan perusahaan, dan penghasilan mereka pun juga sudah pasti setiap bulan.

Beda dengan penulis konten freelance, disatu sisi mereka mendapat keleluasan bekerja, disisi lain ada juga konsekuensinya.


Fakta enak penulis konten freelance

Lho iya, ada fakta enak dan nggak enaknya jadi penulis konten freelance. Kalau kata orang Jawa, "Urip itu sawang sinawang". Dan memang di dunia ini, semua serba seimbang, kalau ada sisi plus, pasti ada negatifnya, nggak ada yang benar-benar sempurna.

Tapi, kita obrolin enaknya dulu, ya, biar semangat. 😀

Fakta freelance #1, Jadi bos untuk diri sendiri


Cuaca lagi mendung, bikin males nulis dan pengen tidur? Ya udah, tidur aja. Minggu depan pengen jalan-jalan? Ya udah, buruan pesen tiket, tinggalin message buat klien, dan cuss...

Begitulah, sebagai penulis konten freelance, nggak bakal ada yang ngomel saat pengen libur, seharian pengen nge-rerun drakor, atau malah cuma pengen hibernasi selama 6 jam. Semua terserah kamu! Kuncinya hanya pada prioritas. Mana yang harus dilakukan sekarang dan mana yang nanti.

⚠Garis batas kebebasan seorang penulis konten freelance adalah tanggung jawabnya terhadap klien. Dan tanggung jawab itu lah yang akan menentukan prioritas kegiatan atau jadwal seorang penulis konten freelance.

Fakta freelance #2, Bisa kerja dimana aja


Peralatan ngantor penulis konten freelance tu cuma koneksi internet dan laptop. Jadi, selama dua hal itu ada, mau kerja dimana aja bisa. Di teras rumah, di lapangan, sambil ngrumpi bareng tetangga, up to you. This world is your office, please enjoy your work. 😊


Fakta freelance #3, Punya banyak referensi pekerjaan


Menjadi seorang penulis konten freelance sama arti punya portofolio dari berbagai klien.

Iya si, menjadi penulis konten yang terspesifikasi itu lebih baik, pekerjaan jadi cepat selesai, kreativitas juga nggak akan macet. Tapi, setiap klien biasanya punya jobdesc yang berbeda, dan tentu aturan yang berbeda pula.

Menjadi seorang penulis konten yang profesional itu seperti seorang artis; harus mampu menulis dengan banyak gaya, point of view, bahkan karakter. And it is fun. Nggak cuma pengalaman, tapi ketrampilan juga akan semakin terasah dengan semakin banyaknya tantangan.

Fakta freelance #4, Semakin banyak referensi, pekerjaan semakin aman


Dulu saya juga menganggap pekerjaan penulis konten freelance itu "nggak aman"., karena potensi untuk nggak dapetin klien akan selalu ada setiap hari.

Kalau pas awal merintis si, bisa aja ya, karena klien masih belum tahu kemampuan yang kita miliki. Tapi dengan semakin banyaknya klien, portofolio makin komplit, ketrampilan juga semakin moncer, jalan untuk mendapat klien baru juga akan terbuka lebar.
Selain itu, penulis konten freelance nggak hanya tergantung dari satu sumber pendapatan (klien).

Diatas itu semua, kalau kita renungkan di dunia ini apa iya ada pekerjaan yang benar-benar aman, menjamin akan membuat kita happily ever after? Kayaknya kerja kantoran pun juga berpotensi PHK kan? Yang jualan juga berpotens nggak laku. Selama masih di dunia si, kayaknya nggak ada pekerjaan yang benar-benar aman. CMIW ya....

Fakta freelance #5, Punya banyak kesempatan menjadi ahli di bidang baru


Market terus saja berubah. Membawa harapan baru, kategori (niche) baru, area dimana seorang penulis konten freelance bisa menjadi expert selalu terbuka lebar.

Contoh paling mudah adalah perkembangan ecommerce, market aplikasi, gaya hidup sehat, kepedulian pada finansial. Area ini membuka peluang penulis konten freelance untuk mencoba niche baru.

Dan seiring perkembangan dunia digital kesempatan munculnya industri baru pun akan terus ada. Bagi para penulis konten freelance, mereka punya kesempatan masuk ke area baru tersebut, tanpa harus repot untuk mundur dari job yang sedang dikerjakannya sekarang.

Fakta enggak enak penulis konten freelance


fakta-penulis-konten-freelance

Fakta freelance #6, Malas belajar = Job melayang


Seperti disebutkan diatas, markets yang selalu berubah, juga menuntut seorang penulis konten freelance untuk terus mau belajar. Well, I must say, this is another hardest part of a freelance content writer; especially when you're a mom also.

Kesibukan seorang emak aja udah nggak ada habisnya kan? Tapi wajib untuk terus mau belajar, mencoba hipotesa baru, tools baru dan seterusnya. Paling enggak sepertiga waktu seorang penulis konten freelance harus digunakan untuk membaca, mendengarkan podcast, nonton, atau menyerap informasi baru yang akan mengasah kemampuan menulis dan pengetahuan.

Kalau kata temen-temen di Arisan Link V saya ini gila belajar, tapi aslinya ya itu, belajar adalah bagian dari job seorang penulis konten freelance. Kamu berhenti belajar sama arti menghentikan aliran dollar ke PayPal.

Fakta freelance #7, Pekerjaan yang butuh cinta


Saya bukan penulis konten yang ahli splitting words, it ain't me at all. Biasanya malah jadi cepet boring kalau seperti itu.

Saya lebih suka mencari sumber baru, menulis dari titik pandang baru, atau menambahkan pengalaman pribadi dan hasil wawancara jika ada. Hasilnya, dulu saya sering ketinggalan target temen-temen yang lain. Akhire dapatnya cuma dikit dibanding dengan yang lain.

Bagi saya pekerjaan ini adalah tentang kepuasan. Saya sudah kadung jatuh cinta dengan pekerjaan ini. Sampai-sampai kalau nggak duduk depan kompi dan ketak-ketik, hidup saya terasa hampa *bhaaa....lebay tingkat dewa.

Begitulah, menulis konten tu kadang nggak melulu tentang dapat dollar atau rupiah. Sometimes it's just about fulfilling your dream, your desire.

Karena itu pekerjaan penulis konten freelance ini, butuh modal cinta nulis agar bisa keep going. Kalau memang nggak cinta banget, sebaiknya jangan milih kerjaan freelance.

Kawatir nanti effortnya akan terasa berat. Energi yang tersedia pun bisa jadi nggak optimal. So, kalau kamu pengen jadi penulis konten freelance, cintai dulu deh dunia kepenulisan, juga siapkan diri untuk mengambil semua konsekuensi yang dibutuhkan.

Fakta freelance #8, Harus berjuang sendiri untuk mendapatkan job


Kalau di perusahaan kan biasanya ada temen untuk dapetin project atau job tertentu; penulis konten freelance nggak punya itu. Semua benar-benar tergantung dari kemampuan dia negosiasi, menjual skill, pengalaman, juga pengetahuan.

Penulis konten seringkali menjadi pilihan ketika seseorang bicara tentang pekerjaan freelance. Ini membuat kompetisi dalam bidang ini semakin tinggi. Jadi, bila pengen jadi penulis konten freelance, kenali value kamu, dan terus asah kemampuan untuk negosiasi.

No one's going to hand you any jobs on plate; show your value and be willing to negotiate constantly.

Fakta freelance #9,  Harus punya goals biar kerjanya efektif


Tidak ada jalan yang mudah untuk menjadi seorang penulis konten freelance yang sukses. Tidak ada "7 Tips and Trik untuk Menjadi Penulis Konten Sukses dengan Mudah" yang bisa kamu ikuti dan otomatis menjadikan kamu bersinar diantara penulis konten lainnya. Ada kala kamu harus berjalan, tapi seringkali kamu harus berlari.

Rentang job atau project seorang penulis konten freelance memang luas. Tapi tetap saja kamu musti sense yang kuat untuk dapat tahu apa yang dibutuhkan oleh klien. Entah itu back ground pengetahuan, pengalaman, atau apa aja yang bisa bikin klien kamu puas.

Jadi, buat goals yang pasti, misi yang jelas, kamu pengen drop di jenis job yang mana, kategori apa, bidnya berapa dan seterusnya. Tentu saja kamu juga harus memastikan jika value kamu sesuai dengan goals-goals itu.

Fakta freelance #10, Harus mengupayakan dana cadangan sendiri


Ya namanya manusia, tentu nggak selamanya dalam kondisi fit kan, ada kala sakit, sekedar butuh refreshing, atau malah lagi kena writers block.

Sayangnya, penghasilan penulis konten freelance itu benar-benar ditentukan oleh usaha yang sudah dikerjakan.

Kalau kamu kerja kantoran, dan lagi nggak mood atau sakit, kamu masih bisa dapat gaji, ada tunjangan ini itu, dana pensiun de el el.

Beda halnya dengan pekerja freelance; sekali kamu nggak nge-draft, kamu nggak dapat gaji. End!!!

Jadi, siapkan selalu dana cadangan pribadimu. Terserah si, mau kamu sisihkan berapa. Nah, saat kamu butuh istirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kamu masih punya dana cadangan. Ada banyak cara agar kamu bisa punya dana cadangan. Artikel lama saya "Dana Cadangan bagi Freelancer" mungkin bisa bantu kamu untuk menentukan pilihan.

Fakta freelance #11, Susah untuk menyeimbangkan hidup

Seperti disebutkan di poin ke-10, bagi pekerja freelance, sekali nggak kerja sama arti nggak gajian. Deadlion yang kadang datang beruntun mau tidak mau harus dikerjakan. Nggak peduli weekend, hari libur nasional, atau kapan pun.

Saat bilang pengen liburpun, seringkali pekerja freelance, utamanya penulis konten, nggak bisa jauh-jauh dari dunia nulis. Jadi, sebetulnya susah mencari waktu yang bener-bener nggak mikirin kerjaan atau sekedar berhenti dan jauh-jauh dari urusan nulis.

Fakta freelance #12, Harus bisa jadi PR, marketing, manajer, plus akuntan


Begitu kamu milih jadi penulis konten freelance, artinya kamu sedang memulai "bisnis" baru. Kamu harus bisa jadi marketing yang andal menawarkan ketrampilan, jadi PR yang pandai branding, manajer yang ngatur jadwal post, ngrencanain step ke depan, ngecek setiap pekerjaan bisa jalan dengan baik, dan seterusnya.

Tak kasih bocoran yo, paling sedih itu kalau lagi berprofesi sebagai akuntan, ngitung hasil kerja, potong pajak, dana darurat, biaya operasional, dan ternyata hasil kerja jauh dari impian. *Ah... lap keringat. 😭

Fakta freelance #13, Kamu bisa aja nggak punya temen


Ini beneran lho, coba siapa yang mau jadi temen nulis di jam satu pagi? Buka sosmed juga sepi, open chat paling juga dijawab sambil setengah tidur.

Nggak cuma itu, kalau lagi deal kerjaan, nggak ada temen yang bisa diajak ngrayain bareng. Lagi gagal job pun bakal bingung nyari pundak buat sandaran. Ya gitulah, you could be so lonely, very lonely...


So again, kerja penulis konten freelance tu nggak seindah dan semudah bayangan. Karena itu sebaiknya kamu bener-bener suka nulis baru pilihlah pekerjaan ini.

Semoga bermanfaat, and welcome to the jungle! 😉

Bangun Masa Depan Melalui Kebiasaan Sarapan Sehat


sarapansehat_rahayupawitri


Apa tanggal yang spesial di bulan Februari? 

Kalau anak muda kali jawabnya tanggal 14 ya, Valentine Day. Sementara para emak akan jawab, tanggal 25, wayahe gajian 😂. Kalau yang ini si, nggak cuma di Februari aja kan? Tiap bulan juga pasti jadi tanggal yang spesial. 

Tapi benernya tanggal 14 itu memang spesial lho; bukan karena Valentine Day tapi karena pada tanggal tersebut merupakan hari pertama dari Pekan Sarapan Nasional.

Ngaku deh, pasti nggak banyak yang tahu tentang acara tahunan yang mulai di gelar tahun 4 tahun lalu ini ...

Sejak tahun 2013, pemerintah telah mencanangkan Pekan Sarapan Sehat (PESAN) setiap tanggal 14-20 Februari. Dengan menggandeng kemitraan industri pangan di Indonesia, gerakan ini diharapakan dapat mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan membentuk generasi muda Indonesia yang berkualitas. 

Dan di tahun 2017 ini, dengan dukungan dari Nestle Indonesia, Pekan Sarapan Nasional mulai diluncurkan pada tanggal 9 Februari kemarin dengan tema "Ayo Bangun Indonesia" Melalui Kebiasaan Sarapan Sehat

Pentingnya sarapan sehat


Kampanye Pekan Sarapan Sehat kali ini lebih difokuskan pada mengajak dan mengingatkan orangtua untuk senantiasa menyediakan sarapan sehat bagi putra-putrinya.

Sarapan, kegiatan di pagi hari yang seringkali dianggap sepele ini ternyata memiliki dampak besar untuk kesehatan anak, baik fisik maupun non fisik. Bahkan psikolog Vera Itabiliana mengungkapkan jika sarapan juga bisa berdampak pada psikologis dan perkembangan karakter anak.

Sarapan dan perkembangan fisik anak


sarapansehat_rahayupawitri_penuliskonten

Salah satu pembicara yang hadir pada peluncuran kampanye Pekan Sarapan Sehat ini adalah Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS., memaparkan jika sarapan menunjuang aktivitas anak sehari-hari.

Penelitian telah membuktikan jika kelompok yang terbiasa sarapan memiliki asupan energi dan zat gizi makro yang lebih besar dibanding kelompok yang tidak sarapan.

Anak-anak yang tidak terbiasa sarapan juga cenderung mengalami beberapa gangguan fisik diantaranya;

1. Mengalami peningkatan Indeks Masa Tubuh (IMT)

Coba Sahabat ingat, apa yang terjadi dengan selera makan kita saat kita merasa sudah sangat lapar? Rasanya semua menu yang ada dihadapan mata ingin kita habiskan semua bukan?

Nah, itu pula yang terjadi pada anak-anak. Saat tidak sarapan dan kemudian merasa lapar, anak akan cenderung menghabiskan makanan yang melebihi dari porsi yang seharusnya ia konsumsi. Dan tentu saja ini akan mendorong makan berlebih yang bisa berujung pada obesitas.

2. Kesehatan dan stamina menurun

Karena tidak memiliki asupan energi yang cukup, anak pun akan mudah merasa lelah saat beraktivitas. Dan karena kekurangan energi, zat-zat yang sedianya digunakan untuk menjaga kesehatan tubuh, akan digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan energi.

Akibatnya, kesehatan anak pun bisa terancam karena zat-zat yang diperlukan untuk pertahanan tubuh berkurang.

Pengaruh sarapan pada perkembangan mental anak


Lebih lanjut, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan memaparkan, jika sarapan juga sangat berpengaruh pada perkembangan mental anak.

Anak yang tidak sarapan cenderung menjadi mudah merasa stres, bermasalah dengan guru, susah mentaati peraturan, tidak disiplin, daya konsentrasi menurun dan banyak akibat buruk lainnya.

Hal ini juga diamini oleh psikolog Vera Itabiliana yang mengungkapkan hasil penelitian dari Sussex Inovation Center di tahun 2012.

Penelitian tersebut menemukan sarapan meningkatkan kemampuan mental anak, meningkatkan kemampuan mengerjakan soal, koordinasi mata dan tangan, dan menurunkan kecemasan saat menghadapi stress.

Sarapan bersama orangtua juga bisa menumbuhkan dan menanamkan rasa disiplin pada anak. Hasilnya, anak pun akan berprestasi lebih baik disekolah,  memiliki positive self esteem, dan pada akhirnya akan menjadi generasi yang tangguh dan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Kriteria sarapan sehat


Sumber gambar: Fanpage Sahabat Nestle


Agar sarapan bermanfaat optimal, tentu saja menu sarapan haruslah memenuhi kriteria gizi yang seimbang, yaitu terdiri dari karbohidrat, lauk-pauk, sayuran atau buah-buahan, dan minuman.

Dan bicara gizi seimbang, tentu bicara porsi juga kan? Porsi anak dan dewasa sudah pasti beda. Untuk anak, pembagian antara karbohidrat, lauk-pauk, sayuran/ buah dan minuman adalah seperempat porsi.

Sementara untuk orangtua, masing-masing adalah sepertiga porsi. Ini karena pada orang dewasa, jumlah asupan karbohidrat harus mulai dibatasi untuk menjaga penyakit degeneratif seperti diabetes.

Sarapan yang baik juga dilakukan paling tidak 2 jam setelah bangun tidur, bukan ketika mendekati waktu jam makan siang.

Jenis makanan dan jam sarapan pun tidak perlu dibedakan antara hari libur dengan hari sekolah/ hari kerja.

Kebiasaan sarapan di Indonesia


Sayangnya, di Indonesia sarapan belum dianggap sebagai hal yang penting untuk dilakukan. Di tahun 2010, Risdeknas mengeluarkan data jika 26% anak-anak di Indonesia hanya sarapan dengan air putih.

Sementara 45% diantaranya sarapan dengan kualitas rendah, hanya memnuhi 15% dari kebutuhan asupan energi atau menu sarapan yang hanya memenuhi sebagian gizi saja (karbohidrat saja, protein saja, atau malah hanya air saja).

Wah, jangan-jangan kualitas SDM kita tidak unggul karena sering sarapan tidak sehat atau malah nggak pernah sarapan, ya?

Sarapan? Mana sempat ....!


"Mana sempat ...!" biasanya itu yang menjadi dalih bagi kita untuk tidak sarapan. Apalagi bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, yang biasanya tempat aktivitas dan tempat tinggal bisa berkilo-kilometer jauhnya.

"Memang butuh komitmen kuat agar kita bisa membiasakan sarapan sehat di rumah", ujar psikolog Vera Itabiliana. "Caranya, siapkanlah dari malam sebelumnya, dan pilih sarapan sehat yang sehat, praktis dan realitis".

Maksudnya, nggak usah kepengen buat aneka bento atau menggarnish sarapan kalau memang tidak sempat. Yang penting telah mencukupi syarat gizi seimbang, maka sarapan pun sudah oke.

sarapansehat_rahayupawitri_penuliskonten
5 tips agar keluarga terbiasa sarapan


Psikolog Vera Itabiliana sangat menekankan keteladanan orangtua agar kebiasaan sarapan sehat ini menjadi kegiatan sehari-hari di rumah. Karena selain memiliki banyak manfaat positif seperti yang diungkapkan diatas, sarapan juga merupakan bentuk kasih sayang dan tanggung jawab orangtua kepada anaknya.

Ayo, sarapan sehat bersama Nestlé!


Menyadari pentingnya sarapan sehat untuk kesehatan fisik dan kulitas generasi penerus bangsa, Nestlé mengajak keluarga Indonesia untuk membangun kebiasaan sarapan sehat setiap hari.

Tidak hanya dengan cara menyediakan produk yang sesuai untuk memenuhi standar sarapan sehat, namun juga menyediakan beragam informasi, tips juga resep masakan agar keluarga di Indonesia mudah menerapkan kebiasaan sarapan sehat setiap hari.

sarapansehat_rahayupawitri_penuliskonten
Inspirasi masakan sehat dari sahabatnestle.co.id

Nestlé juga menggandeng aris Widi Mulia dan Dwi Sasono untuk menjadi duta Nestlé dalam kampanye "Ayo Bangun Indonesia" melalui kebiasaan sarapan sehat.

Pasangan artis ini memang telah telah membiasakan sarapan bersama bagi ketiga putra-putrinya.

"Bagi saya dan Dwi, sarapan adalah quality time kami sekeluarga, selain sebagai sarana memupuk sikap disiplin anak sejak dini," tutur Widi Mulya dalam sesi berbagi. "Duduk bersama di meja makan juga membantu saya dalam memastikan asupan gizi untuk Dru, Widuri, dan Den Bagus. Karena bagi kami, dengan asupan gizi yang baik, anak-anak dapat menjalani hari dengan lebih produkif dan positif," ungkap Widi Mulya lebih lanjut.

Sejak tahun 2013, Nestlé sebetulnya telah ikut berperan aktif mendorong kebiasaan sarapan sehat ini. Misalnya dengan meluncurkan microsite berbagi PESAN, juga bekerja sama dengan yayasan Taman Bacaan dengan mendukung 10.000 porsi sarapan sehat dan lomba mewarnai Koko Olympiad.

Dan kali ini Nestlé juga menghadirkan situs sahabatnestle.co.id sebagai sarana berbagi informasi sarapan sehat untuk keluarga Indonesia. Mulai 11 Februari 2017, Keluarga Widi Mulya dan Dwi Sasono juga akan bergabung melalui video live setiap Sabtu pagi di fanpage Sahabat Nestle. Mereka akan menyajikan keseruan sarapan pagi bersama keluarga juga tips-tips menarik untuk membiasakan sarapan sehat di keluarga kita.

Jadi, sudah sarapankah keluarga Anda di pagi ini?

sarapansehat_rahayupawitri_penuliskonten


Mencatat Pengeluaran itu Menyebalkan! Sayangnya, Kebiasaan Ini Efektif untuk Mengatur Keuangan

mengaturkeuangan_rahayupawitri


"Invoice baru aja cair, gajian juga baru 10 hari yang lalu; tapi duit di dompet kok tinggal lembaran ungu dan ijo ya? Lha, ATM kok juga tinggal Rp200rb? Waa...kemana aja uangku?!!"

Sering ngerasa seperti itu nggak, prens? Saya iya...!

Empat bulan lalu, saya juga merasa seperti itu, baru tanggal 10 tapi uang belanja dari suami tinggal beberapa lembar. Perasaan saya ni (hanya perasaan), saya tu nggak banyak pengeluaran. Buktinya, stock sabun cuci dan cemilan juga nggak ada. Jadi, kemana uangkuuu...!!

Karena handphone kepenuhan memori, saat ini saya memang tidak lagi instal aplikasi pengatur keuangan. Dan begitulah, pengaturan keuangan saya biarkan begitu saja. Akibatnya ya itu tadi, baru tanggal 10 sudah megap-megap.

Kesel karena nggak bisa tracking pengeluaran, akhirnya saya pilih kembali mencatat pengeluaran sehari-hari.

Selama dua bulan pertama, peneluaran hanya saya catet saja, pengen tahu pola saya belanja seperti apa. Misalnya apa saja items yang pasti saya beli tiap bulan, tiap minggu, juga kemana uang mengalir setiap harinya.

Setelah dua bulan hanya "let it be" akhirnya saya bisa membaca pola pengeluaran rutin saya. Dari situ saya akhirnya tahu dimana letak boros saya, dan pengeluaran apa saja yang bisa saya hemat.

Alhamdulillah, sejak dua bulan ini saya bisa kipas-kipas, nggak merasa tercekik lagi. Udah bisa mulai menyisihkan, membuat budget sesuai realitas, dan yang pasti bisa tetep jalan-jalan di akhir bulan.

Alasan mengapa harus mencatat pengeluaran setiap bulan


Dari pengalama diatas, saya bisa mendapat pelajaran jika, mencatat keuangan itu memang menyebalkan, bikin males, tapi sungguh; cara ini efektif untuk mengatur keuangan kita. Lebih rincinya, berikut 7 alasan mengapa sebaiknya teman-teman mulai mencatat pengeluaran setiap bulan. 

Manfaat #1, Jawaban untuk "Kemana aja si, uangku selama ini?"


Yap, jika hal itu selalu terjadi pada teman-teman, maka ini waktunya mulai mencatat pengeluaran yang teman-teman lakukan selama ini. Percaya deh, it will make you feel good. Habis nyateti tu biasanya jadi "ber-Oooo" panjang sekali. 😀

Tapi ingat ya, musti jujur. Nggak boleh merasa nggak enak, takut ketahuan (suami) kalau boros, nggak mau menghadapi kenyataan kalau kamu hobi belanja, dan seterusnya. Pokoknya mesti jujur dan ... detil. 

Manfaat #2, Membantu memenuhi tujuan keuangan kamu

Logikanya gini, kalau selama ini nggak tahu kemana duit mengalir, ya gimana mau bikin budget, mau punya dana darurat selama 6 bulan pengeluaran, pengen punya tabungan dan tujuan keuangan lainnya. 

Kalau kamu nggak tahu selama sebulan ini biasanya butuh apa aja, bagaimana kamu mau menentukan budget kan? Hantam kromo, pokoke nyisihin uang? Nggak bakal bisa, ujung-ujungnya pasti bakal dikorek-korek juga tu simpenan →→→ udah ngalamin soalnya!

Manfaat #3, Bantuin kamu bikin prioritas pengeluaran


Nah, kalau sudah tahu kebutuhan tiap bulan, kan enak tu hilangin pengeluaran yang nggak perlu. 

Di rumah saya tu punya daftar toiletris banyak. Tapi semua itu nggak habis tiap bulan. Ada yang dua bulan sekali, bahkan tiga bulan sekali. Begitu juga kosmetik, pelembap yang saya gunakan, malah cukup diupdate per 8 bulan. 😅

Jadi, disaat nggak perlu kebutuhan full, saya bisa sisihkan dana untuk nambahi dana darurat, atau nambahi isi celengan jago. 

Manfaat #4, Jadi tahu kebiasaan pengeluaran 


Mencatat peneluaran bikin kita tahu dimana sisi boros kita. 

Dikeluarga saya, momen boros itu ada di pagi hari. Saat kami nggak pengen makan berat, tapi lapar. Kalau lagi nggak ada stok makanan jadi lari ke tukang kue pagi. Nah, momen kayak gini ni yang seringkali bikin boros. 

Saya juga nggak tahan kalau lagi nonton ongoing Kdrama. Kuota habis, duh kaya cacing kepanasan deh. 

Tapi sejak tahu kebiasaan pengeluaran setiap bulannya, saya jadi lebih bisa nahan diri. Di kepala adanya cuma pengen save, save, save!

Manfaat #5, Mengamankan rekening tabungan


Salah satu alasan orang kawatir dengan transaksi online, adalah takut kebablasan nge-gesek. 😆

Nah, kalau sudah bikin budget, alihkan dana ke rekening belanja dan sediain stok cash secukupnya, kita nggak perlu lagi bawa ATM atau kartu kredit kemana-mana. 

Setelah mencatat pengeluaran jadi habit, biasanya jadi pengen menjaga agar pengeluaran kita nggak minus (harus nyobain dulu, baru boleh protes). Otomatis tabungan pun akan lebih aman bukan?

Manfaat #6, Pengeluaran Ge-Je jadi kelihatan


Waktu nggak pakai aplikasi lagi, saya jadi males bikin budget. Let it flow aja, sampai jauh, sampai nggak tahu lagi kemana uang belanja habis nggak sampai sebulan. 

Karena nggak ada budget, belanja pun akhirnya sesuai "keperluan". Perlu sabun cair, mampir ke Al**. Butuh obat nyamuk mampir ke In*****t. Mie instan habis, mampir di warung tetangga. Konyolnya, itu terjadi hampir setiap hari.  

Masalahnya ni, bolak-balik mampir di mini market itu bikin boros. Belinya sabun, tapi coklat juga ambil, kopi instan enggak lupa, snack ini itu ambil juga... dan geje-geje lainnya. 

Nah, dengan mencatat kebutuhan aka. pengeluaran, kita jadi tahu apa aja items yang bisa dibeli di awal bulan. Hasilnya, belanjaan geje-geje itu nggak akan ada lagi. 

Manfaat #7, Mudah mengendalikan keuangan


Ya, inilah tujuan akhirnya, mengendalikan keuangan. Untuk apa aja uang yang kita miliki juga berapa jumlah yang bisa simpan. 

Begitulah, mencatat keuangan itu memang bikin males, tapi apa kamu rela uang yang sudah kamu peroleh susah payah menghilang begitu saja? Enggak kan? 

So, yuk cobain deh, mulailah mencatat pengeluaran. Trust me, it will make you feel good and happy. 

10 Kesalahan Mendidik Anak yang Pernah Saya Lakukan

kesalahanorangtuadalammendidikanak_rahayupawitri


"Ibu, apa aku boleh beri warna campur-campur untuk gambar pohon ini?"
"Ibu, apa aku boleh minum dulu?"
"Ibu, hari ini apa aku boleh keramas?"

Sering merasa kesel nggak sih, kalau setiap menit si kecil seolah meminta persetujuan dari kita terus? Nggak hanya hal-hal umum, tapi sampai yang kecil-kecil termasuk kebutuhan pribadinya pun ia minta persetujuan.

Di satu sisi, putri saya ini memang sudah cukup mandiri untuk menentukan kegiatannya sehari-hari; tapi kadang dia masih juga ragu untuk menentukan apa yang harus dia pilih.

Fine she just 7 yo, she still has a long time to learn. And nobody's perfect too, tapi ... entah kenapa saya merasa kok ada sesuatu yang harus saya koreksi ya. Standar aturan di rumah yang kurang jelas; atau saya tipe Helicopter Parents? Sering over protective sehingga anak kurang berani membuat keputusan sendiri?

Sejak jadi ibu, saya memang sering mendapat nasehat dari para sesepuh; bagaiamana seharusnya saya mendidik anak dengan benar. Sebisa mungkin kegiatan saya menyesuaikan dengan kebiasaan anak. Tujuannya agar saya bisa mengawasi putri kecil saya sepanjang waktu.

Intinya, sebisa mungkin anak jangan sakit, jangan nangis, jangan sampai kelaperan, dan "jangan-jangan" lainnya.

Dulu si, ya nurut begitu aja, selalu berusaha ngepasi semua kegiatan dengan ritme Hana. Menjaga ia sebaik mungkin, sampai doi keluar dari karpet main dan ngerondang di lantai pun, nggak saya ijinkan. 😑

Tapi sejak ikut nulis untuk Asian Parent Indonesia, sering ketemu dan membaca referensi parenting, pandangan saya ini mulai berubah. Tidaklah baik, mendahulukan kepentingan anak dan meletakkan hidup kita setelah hidup anak.

Anak-anak juga perlu belajar mengatasi masalah, rasa tidak nyaman, juga melihat bagaimana kedua orangtuanya tumbuh setelah mendapat masalah.

Karena itu, tiap kali mendapati putri saya ragu-ragu atau tingkah lakunya sepertinya kurang pas, saya biasanya teringat kesalahan mendidik anak yang pernah saya lakukan dulu.

10 kesalahan orangtua dalam mendidik anak

Orangtua yang hidup di jaman sekarang, biasanya sudah banyak teori parenting, dan itu membuat mereka sudah punya teori-teori tertentu untuk mendidik anak. Begitu juga saya.

Tapi, karena saking banyak teori (dan referensi), ingatnya kadang hanya sebagian, hanya headlinenya saja, tidak teori keseluruhan. Akibatnya, hal ini sering menimbulkan kesalahan mendidik anak yang seharusnya tidak orangtua lakukan

Saya pribadi punya daftar 10 kesalahan mendidik anak yang pernah saya lakukan. Dan sungguh, seandainya bisa memutar waktu, saya benar-benar tidak ingin melakukannya.

Kesalahan #1, Mejadikan anak pusat hidup orangtua

kesalahanorangtuadalammendidikanak_rahayupawitri


Putri saya lahir setelah saya menikah 4 tahun. Ia pun menjadi cucu pertama di keluarga besar saya dan suami, jadi begitulah, she's all the world to us.

Kadang kami menunda pekerjaan, mengalah untuk tidak ikut kegiatan ini dan itu hanya karena ia ngambek atau ia ingin main.

Kecenderungan memperlakukan anak sebagai "pusat hidup orangtua", sepertinya menjadi trend saat ini. Terlebih pemahaman "anak wajib tumbuh bahagia", kadang malah disalah artikan dengan mengkondisikan anak dan lingkungan sesuai kemauan anak.

Menjadikan anak pusat hidup hanya akan menumbuhkan anak yang egois, karena ia tahu, "hanya dengan menunjuk ia sudah akan mendapatkan segalanya".

Anak-anak lahir memang untuk dicintai, tapi tidak berarti menjadikan mereka pusat hidup kita. Rasa cinta yang kita miliki seharusnya tidak hanya melindungi mereka saat ini, tapi juga masa depan mereka. Cinta kita seharusnya mempersiapkan mereka menghadapi tantangan, tidak untuk menyelesaikan setiap masalah mereka.

Kesalahan #2, Anak kita paling sempurna

Setiap anak memang lahir sempurna, dengan kelebihan dan kekurangannya. Pandangan kesempurnaan akan bermasalah jika kita menganggap anak kita tidak punya kekurangan sedikitpun.

Saya ingat ketika seseorang pernah menyebut putri saya lengus (ini bahasa indonesianya apa ya?), caper, dan canggung saat bermain.

Kebiasaan menjadi "pusat segalanya" dirumah, ternyata juga terbawa saat di luar rumah. Putri saya mudah ngambek, nangis, dan tidak mudah berbaur dengan teman-temannya.

Padahal lebih baik mengetahui kekurangan anak sedini mungkin agar koreksi bisa segera dilakukan.

Wajar jika jengkel ketika dilapori anak suka mukul atau mudah ngambek (we're human anyway), tapi jangan sampai membuat kita lupa untuk melihat permasalahan dengan jernih.

Ingat memperbaiki karakter anak akan lebih mudah dilakukan saat ini dibanding kelak ketika mereka telah remaja atau dewasa.

Kesalahan #3, Menggunakan anak untuk "balas dendam" pada masa lalu

kesalahanorangtuadalammendidikanak_rahayupawitri

"Dulu aku selalu menjadi nomer dua karena pemalu, jadi sekarang anakku ga boleh pemalu, agar ia bisa jadi nomer satu"

Pernahkah berpikir seperti itu, Sahabat? Saya sering ... dulu.

Kita sering menganggap anak sebagai kesempatan kedua untuk hal-hal yang dulu tidak kita miliki. Walhasil, kita memperlakukan anak seperti yang kita inginkan. Kita buta melihat potensi anak, karena "dia adalah kita yang baru".

Memperlakukan anak seperti ini hanya akan membingungkan anak. Anak bisa kehilangan jati diri karenanya.

Kesalahan #4, Lebih suka menjadi BFF anak dibanding menjadi orangtua

kesalahanorangtuadalammendidikanak_rahayupawitri

Pengennya ni, kita tetep menerapkan aturan, no smoking, no playing around after 6 PM, no short dress, dan sederet "No No" lainnya; plus ... anak kita tetap sayang, tetep nurut tanpa ngeyel, tetep bilang "My Parents are the best parents all the world" etc ...

Sayang, kenyataan seringnya malah bertolak belakang. Perbedaan latar belakang, kemajuan jaman, karakter, pengalaman, malah sering kali menghadirkan jarak yang nggak bisa dijembatani.

Mereka ngambek kalau kita sudah menyodorkan aturan. Bilang hobinya mengintrogasi, saat ditanya hendak pergi kemana, nama temanmu siapa, ... Saat dapat masalah pun bukannya nyariin orangtua tapi malah curhat ke teman, mbah Google, Instagram atau Line.

Sementara kita yang kawatir tidak bisa mengjangkau anak, akhirnya mengubah strategi; berusaha menjadi teman mereka. Teman yang merasa tidak enak kalau menegur, teman yang selalu berusaha mendukung meski sebetulnya pilihannya salah, dan seterusnya.

Sebetulnya, tidak ada yang salah untuk menjadi teman anak; tapi caranya yang harus tepat. Orangtua, tetaplah orangtua. Dan jika ingin menjadi teman anak, jangan pernah lepaskan label orangtua dari dada Anda.

Kesalahan #5, Bersaing dengan sesama orangtua

Waktu denger ibu muji-muji sepupu Hana yang sudah pandai menghitung, hati saya rada geregetan. Kata ibu di sekolah reguler kan diajari jarimatika, enggak cuma baca.

Huaa...saya pun langsung panik, cuss nginbok temen yang guru matematika, dan tanya-tanya "Is it okay to enroll Hana on such courses?"

Orangtua tu memang paling gampang baper kalau udah urusan seperti ini. Kawatir anak kita ketinggalan pelajaran, kalah persaingan, masa depan nggak sukses, and so on.

Kita lupa, setiap anak itu unik, punya bakat masing-masing; bisa saja ia sukses dibidang A, tapi gagal di bidang B. Tidak salah untuk terus membantu anak mengasah bakat dan minat; selama yang menjadi ukuran bukanlah kepandaian atau keberhasilan orang lain.

Anak-anak juga perlu belajar bagaimana untuk memenangkan persaingannya sendiri, dengan caranya sendiri, tidak selalu harus orangtua yang menunjuki jalan.

Dan yang lebih penting lagi, saat anak-anak masih dalam masa bertumbuh, sebaiknya dahulukan mengasah karakter sebelum mengasah ketrampilan-ketrampilan hidup lainnya.

Kesalahan #6, Tidak mengijinkan anak untuk menikmati masa kecilnya

kesalahanorangtuadalammendidikanak_rahayupawitri

Saat putri saya masih berusia tiga tahun, saya sibuk mencarikan lembaga les tari dan senam lantai, hanya gara-gara melihat hobi joget dan keleturan tubuhnya. Pikir saya, jika bisa dioptimasi dari usia dini, mengapa tidak?

Untunglah rencana itu gagal, karena di tempat tinggal kami sekarang tidak ada kursus minat bakat seperti itu.

Saya lupa, jika hobi anak masih bisa berubah. Saya lupa jika tugas saya adalah memberi stimulasi untuk mengenalkannya pada banyak ketrampilan hidup.

Kekawatiran agar anak kita sukses sejak dini, tanpa kita sadari bisa saja membuat anak kehilangan masa kecilnya. Menjadwalkan les tambahan, kursus minat bakat, sibuk dengan berbagai kompetisi bisa mengurangi waktu anak untuk mengekplorasi hal lainnya.

Akan lebih baik jika kita menyadari bahwa segala sesuatu ada masanya. Kita perlu membiarkan anak untuk tumbuh dan mengeksplorasi dunianya sendiri tanpa takut gagal dan stres.

Kesalahan #7, Membesarkan anak yang kita inginkan, bukan yang kita miliki

kesalahanorangtuadalammendidikanak_rahayupawitri

Selama ini saya banyak bertemu dengan orang sukses, dan rata-rata dari mereka, adalah orang-orang yang pandai memanfaatkan waktu. Apalagi ketika ketemu bu Indari yang sukses mendidik putrinya menjadi seorang enterprenuer cilik yang tentu, jago ngatur waktu.

Jadi, saya mulai ngikutin jejak Beliau, ngajarin Hana manajemen waktu. Tapi semua hanya tahan satu minggu. "Aku bosan ibu!"

Begitulah, kadang kita lupa, kita membuat mimpi-mimpi untuk anak kita, dan belum tentu mimpi itu mereka inginkan. Tugas orangtua hanya membimbing anak menemukan mimpinya, mengeksplorasi apa yang menjadi kekuatannya, dan kemudian menghantarkannya menuju cita-cita.

Kesalahan #8, Lebih banyak bicara tapi lupa menjadi role model

Sedari kecil saya sudah mengajari Hana untuk berlaku sopan, membiasakan kata "terima kasih", "permisi", "maaf" dan seterusnya. Dan Hana memang seorang followers sejati, semarah apapun, ia masih bisa bilang "Permisi, Hana nggak mau ayah deket-deket!"

Sayangnya kami malah sering lupa. Kami malah sering berkata "Awas, minggir" dibandingkan "permisi" 😕.

Kesalahan #9,  Mudah menghakimi orangtua lain, termasuk juga anaknya

kesalahanorangtuadalammendidikanak_rahayupawitri

Dulu tu, kalau lihat temen sebel atau ngomel-ngomel karena anaknya, saya sering (dalam hati) bilang, "Ya, elu si, ngedidiknya nggak bener", "Ih, kau dia tega si ngomelin anaknya seperti itu", "Harusnya anak segedhe gitu udah nggak disuapin kalau makan" ....

Tapi sekarang sudah insyaf kok, sungguh! 😁

Seberapa pun kita tidak setuju dengan cara mengasuh tetangga atau teman kita, tidak pada porsi kita untuk menghakimi. Tidak ada di dunia ini yang "semuanya baik" dan "semuanya buruk". Kita adalah paduan dari kedua hal itu.

Kita tidak pernah tahu, apa yang mendasari tetangga atau teman kita memilih gaya kepengasuhan yang berbeda. Selama model kepengasuhan tersebut tidak menyakiti anak, akan lebih baik bila kita juga tidak mudah menghakimi.

Kesalahan #10, Menyepelekan pendidikan karakter

kesalahanorangtuadalammendidikanak_rahayupawitri

"Sudahlah, nanti gedhe juga akan berubah"
"Nanti kalau gedhe juga akan ngerti sendiri"

Hal yang paling saya inginkan dari putri saya adalah karakter positif yang kuat. Kekuatan dasar yang bisa menjadi energi untuk segala hal, segala bidang.

Karena itu saya paling sebel kalau dengar komentar seperti diatas. Penting bagi anak untuk bisa menghargai oranglain seperti ia menghargai dirinya sendiri. Dan itu tidak akan tercipta begitu dia besar. Karakter haruslah dipupuk sejak dini. Bahkan guru sekolah Hana bilang, karakter anak harus dibentuk sebelum ia berusia 7 tahun.

Salah satunya, dengan membiarkan mereka merasakan ketidak nyamanan, sesekali mendengar kata "jangan", "tidak bisa", juga "tunggu".

Tidak mudah memang melihat anak kita kecewa, tapi percayalah kekecewaan itu akan membuat mereka belajar dan akan membangun karakter mereka lebih kuat.

Stok cinta kita pada anak-anak memang tidak ada batasnya, tapi jangan sampai hal tersebut membuat kita lupa dan untuk menyiapkan mereka menghadapi masa depannya.

Oya, dari kesepuluh daftar kesalahan mendidik anak itu, adakah kesalahan yang juga pernah Sahabat lakukan? Harapan saya si, tidak ada 😃. I believe you're a great parents, right?

kesalahanorangtuadalammendidikanak_rahayupawitri



All of pictures are taken from pexels.com except for the last one

Masakan Rumah Lebih Sehat, Benarkah?

minyakgorengbaik_rahayupawitri


Baper nggak sih kalau ditanyain seperti itu. Setiap hari sudah pontang-panting nyusun menu, cermat milih kombinasi sayur dan lauk agar gizi keluarga terpenuhi, eh dapat pertanyaan “Yakin makanan rumah lebih sehat?” 😭

Kita sering berpikir makanan di rumah memang lebih sehat, karena kita sendirilah yang memilih bahan baku, mengolah, serta memastikan kebersihan selama proses pemasakan. Tapi kenyataannya, makanan rumah bisa berubah menjadi makanan tidak sehat bila kita salah memilih sumber makanan atau memiliki persepsi yang salah saat mengolah makanan.

Pengetahuan ini saya peroleh saat mengikuti simposium kesehatan bersama minyak goreng Sunco dengan judul “Masakan Rumah, the Silent Killer?

Acara yang diadakan di RSPP pertamina ini bertepatan dengan hari Gizi nasional pada tanggal 25 Januari. Acara diadakan bertepatan pada tanggal tersebut, sebagai wujud rasa kepedulain Sunco terhadap Gizi dan pangan di Indonesia.

Yang menjadi alasan mengapa makanan rumah bisa tidak sehat 

Saat memilihkan menu atau makanan untuk keluarga, setiap ibu pasti mempertimbangkan apakah bahan yang ia pilih bagus, tidak mengganggu kesehatan, begitu juga saat mengolahnya; semua pasti diusahakan yang terbaik.

Sayangnya, semua itu akan sia-sia ketika ada satu bahan saja yang ternyata kita salah pilih. Misalnya saat ingin menghidangkan ikan goreng. Kita semua tahu seperti apa kandungan gizi pada ikan, sayangnya karena tidak tepat memilih minyak goreng, kakek, atau suami yang memiliki diet tertentu, akhirnya tidak dapat ikut menikmati.

Atau kebiasaan kebanyakan para ibu; menggoreng lauk atau cemilan dengan minyak goreng sisa.

Semua usaha ibu akan sia-sia bila pada akhirnya makanan yang disajikan malah akan menjadi "musuh" (silent killer) bagi anggota keluarga di rumah.

Tips menjaga masakan rumah agar tetap sehat

Akhir-akhir ini kita banyak mendengar kampanye untuk menghindari atau mengurangi minyak dalam menu makan sejari-hari. Salah satu alasannya karena statistik menunjukkan jumlah penderita Penyakit Tidak Menular, seperti diabetes, kini cenderung meningkat. 

Dan salah satu yang menjadi penyebabnya adalah kebiasaan tidak sehat seperti hobi mengkonsumsi gorengan. Rasa dari minyak goreng yang gurih memang bisa bikin lidah ketagihan untuk teus menerus konsumsi.

minyakgorengbaik_rahayupawitri


Sayangnya, minyak goreng yang biasa kita gunakan, seringkali mengadung lemak jenuh yang bisa menjadi pemicu beberapa penyakit cardiovascular atau diabetes.

Di satu sisi, bila bicara tentang gizi seimbang, kita tak bisa lepas dari keberadaan lemak. Selain karbohidrat, lemak juga merupakan sumber energi yang bisa diolah tubuh menjadi tenaga.

Malah menurut Dokter Entos Zainal, sekretaris Jenderal PERSAGI, lemak juga dibutuhkan oleh anak-anak untuk mengembangkan pemenuhan gizi mereka. Lemak pada anak-anak dibutuhkan untuk membentuk struktur anatomi otak yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan sel-sel syaraf.

Karena itu, salah satu solusi yang bisa seorang ibu pilih untuk menghndarkan diir dari akibat buruk minyak goreng adalah dengan menggunakanjenis munyak goreng yang mengandung sedikit lemak jenuh, tidak menggunakan minyak goreng berulang (lebih dari 2 kali), dan menggoreng makanan dengan suhu yang telalu tinggi.

Cara paling mudah untuk memilih minyak goreng yang baik untuk kesehatan adalah mencari minyak goreng yang lebih jernih, tidak mudah beku pada suhu dingin, dan lebih encer.

Minyak goreng dengan sedikit kandungan lemak jenuh juga tidak akan mudah beku pada suhu dingin. Sementara untuk mencari minyak goreng yang encer, pilihlah minyak goreng dengan kekentalan yang mirip dengan air.

Gorengan sering disebut makanan tidak sehat karena minyak goreng mudah sekali terserap (dengan kata lain nempel) pada jenis makanan ini. Jadi bila kita memilih minyak goreng yang lebih encer, logikanya, minyak goreng tersebut hanya dikit nempel pada makanan.

Sunco, pilihan minyak goreng untuk masakan rumah yang lebih sehat

Salah satu pilihan #MinyakGorengBaik untuk masakan di rumah adalah minyak goreng Sunco. 

Minyak goreng Sunco diolah dengan 5 kali tahap penjernihan, serta mengandung 57% asam lemak tak jenuh. Sunco tidak mudah membeku pada suhu dingin, jernih, dan hanya #DikitNempel pada makanan. 

Pada acara simposium kemarin, Christian Sugiono bersama beberapa teman blogger melakukan tes organoleptik (uji coba rasa) dengan cara meminum minyak goreng Sunco ini. 

minyakgorengbaik_rahayupawitri


Karena kejernihan dan rasa minyak goreng sunco yang tidak eneg, minyak ini cocok untuk digunakan dalam berbagai masakan. Bahkan Chef Nanda juga menggunakan minyak goreng ini sebagai bahan pengganti olive oil pada pembuatan mayonaise. 

Oya, untuk kawan-kawan yang suka kehabisan ide hendak masakan, bisa mengikuti fanpage Sunco di 

Fanpage Sunco Indonesia:
https://www. facebook/sunCoIndonesia
atau 
http://resepsehat.com