Mengabadikan Orangtua dengan Silahturahmi dan Berbagi

by - 7/25/2016

Abadikan orangtua kita dengan jalinan silahturahmi
(pic. source: https://chaoticsoulzzz.wordpress.com/tag/parent/)


Tantangan One Day One Post di hari ketiga belas ini, tidaklah mudah untuk saya; yaitu bagaimana meneruskan kebaikan untuk orang yang sudah meninggal.

Sebagai orang yang terlahir dari keluarga besar, tentu saja ada banyak saudara yang berada di lingkaran keluarga yang telah meninggal. Sayangnya, karena posisi saya masih dianggap “anak” (padahal juga sudah punya anak), maka kewajiban untuk meneruskan kebaikan itu belumlah dipindahkan ke pundak saya. Kalau lah ada, porsinya juga masih sedikiiittt sekali, masih kalah dengan mereka yang duduk di posisi orangtua.

Karena itu bila kemudia di minta menuliskan apa yang akan saya lakukan untuk meneruskan kebaikan orang yang sudah meninggal dunia, maka jawaban saya ini barulah sebatas ide, yang belum bisa saya realisasikan.

Alhamdulillah meski bukan orang yang berpengaruh di lingkungan RT/RW juga desa, tapi Bapak dan Ibu memiliki lingkaran persaudaraan dan pertemanan yang sangat luas.

Bapak yang terkenal dengan kemampuan memperbaiki mobil meski ia hanya belajar otodidak, membuat Beliau memiliki lingkaran pertemanan yang sangat luas dari pelbagai kalangan.

Begitu juga ibu. Beliau dulu lahir dari seorang ibu sambung, Akibatnya, mulai dari pelosok kota Parakan, hingga Temanggung, tersebarlah kakak dan adik Beliau. 

Ibu juga seorang yang memiliki daya ingat tinggi dan keramahan yang luar biasa. Wajar jika banyak orang yang mengenalnya (sayang, kebaikan dan daya ingat itu kok nggak nurun ya, ke saya). Apalagi karena Ibu senang sekali mengikuti aneka kegiatan pengajian, tak pelak lingkaran pertemanan Beliau sangatlah besar.

Salah satu buktinya adalah ketika Bapak sakit. Hampir seminggu rumah tak pernah sepi dikunjungi tamu. Entah berapa ratus teman Bapak dan Ibu yang datang menjenguk saking tak terhitung banyaknya.

Ibu juga orang yang sangat perhatian. Saat dikampung diadakan perbaikan jalan, Beliau berinisiatif untuk memasak kue dan camilan ala kadanya untuk para pekerja. Bagi saya, Beliau berdua adalah sebuah inspirasi kebaikan.

Dan kini Bapak-Ibu sudah semakin beranjak uzur. Mulai tak mampu menyambung silahturahmi yang besar diantara kawan juga saudara nak sanak (orang yang menjadi saudara, karena kebetulan salah satu anggota keluarga besar menikah dengan anggota keluarga lain).

Menyadari hal tersebut, kini saya mulai memperhatikan dan mengenali beberapa kawan Bapak dan Ibu. Jika dulu dikenalkan hanya masuk telinga kiri keluar kanan, atau melihat dari mata dikeluarkan lagi ke belakang kepala, maka kini sebisa mungkin saya mulai mengingatnya.

Menurut saya, ini adalah salah satu cara saya kelak untuk mengenang sekaligus melanjutkan kebaikan dan persaudaraan yang Beliau berdua jalin. Menyambangi ketika salah seorang teman ibu sakit, membantu ketika kawan ibu/ bapak memiliki hajat, menyapa ketika bertemu di jalan dan seterusnya.

Nasehat agama berkata, bahwa amal soleh akan terus berpahala ketika seseorang meninggal. Karena itu meski Bapak dan Ibu belum lah meninggal dunia, saat mendapat tambahan rejeki, saya juga menyisihkan sebagian untuk disedekahkan atas nama Beliau.

Bagi saya meneruskan kebaikan orang yang sudah meninggal, terlebih bila orang tersebut adalah orangtua kita sendiri, tak harus dimulai ketika mereka telah tiada. Tapi bisa juga dimulai sedari sekarang meski orangtua masih sehat dan bugar.

Inilah cara saya "mengabadikan" Bapak dan Ibu. Apa cara yang Sahabat pilih?

You May Also Like

5 komentar

  1. banyak belajar dari catatan ini, menyambung silaturahmi dari teman bapak dan ibu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinn... Alhamdulillah jika bisa menginspirasi

      Delete
  2. hmmm... keren catatanya . ijin nyimak
    NLP Surabaya
    Salam kenal

    ReplyDelete
  3. Kadang aku nggak habis pikir, orang jaman dulu yang komunikasinya terbatas, justru punya lingkaran pertemanan sejati yang sangat luas. Jaman sekarang, pertemanan memang lebih banyak, tapi yg sejati (benar2 kenal, nggak asal tahu aja) sebenarnya jauh lebih sedikit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, mbak. Teman fb-ku sampai 1000, tapi cuma beberapa (nggak sampai 100 kayane) yang benar-benar aku kenal dan sering saling sapa. Mungkin kita terlalu banyak roaming yo, mak? He he he

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.