-->

[Parenting Notes] Waktu Bersama Anak

Sesempit apapun waktu, sebaiknya tetap usahakan untuk memenuhi kebutuhan anak

Baru saja nganter Hana ke sekolah, dan saya mendapat renungan pagi ni. 

Ketika hendak memasuki gedung SD, saya melihat seorang anak yang terus memeluk ibunya. Wajah si ibu sedikit gusar. Di depannya berdiri seorang Bapak (99% yakin suaminya) yang berkata, "Sudah sebentar saja diantar masuk"

Sang Ibu berkata kepada anaknya, "Aduh, ibu sudah telat ini, Dik." Hmm..sepertinya si Ibu ini hendak bekerja, karena saya kenal seragam yang ia kenakan.

Si Anak tetap tidak mau melepas pelukannya. Dengan anggukan kepala, si Suami tetap menyuruh istrinya menuruti kemauan putrinya. Akhirnya si Ibu mengantar juga masuk anaknya ke dalam.

Ketika keluar, saya sempat melirik ke kelas anak tersebut. Ia duduk diam memainkan kerudungnya, dengan wajah yang tidak begitu bahagia. Sementara si Ibu sudah tidak terlihat bersamanya. 

Di luar ketika menuju parkiran sepeda, saya mendengar si ibu ngomel panjang lebar dengan suaminya sambil berbocengan keluar dari sekolah.

Waktu sering menjadi alasan orangtua

Waktu sempit seringkali menjadi alasan orangtua untuk tidak memenuhi kebutuhan anak. 

Saya pun demikian. Suatu hari Hana minta belajar sholat. Pikir saya sambil menunggu Hana menyelesaikan bacaannya, saya membuka chat grup, mumpung ada waktu luang sedikit. 

Bisa ditebak saya malah tidak fokus, beberapa bacaan Hana yang salah tidak sempat saya koreksi. Bahkan Hana sempat berhenti di tengah-tengah karena lupa dengan bacaannya. Konyolnya, saya malah menyuruhnya melanjutkan ke gerakan berikutnya, alih-alih membantunya meneruskan bacaan yang lupa. Pikiran saya nge-blank, dan tidak tahu apa yang sudah Hana baca, itu alasannya. 

Meskipun pada akhirnya selesai, saya jadi tidak puas dengan hasilnya, Dan saya yakin Hana pasti merasa yang sama. Padahal sesi belajar itu hanya butuh waktu 10 menit. Lebih lama dari kebiasaan saya membuka-buka media sosial, atau chat grup.

Dua kejadian diatas kemudian mengingatkan saya pada sebuah buku "Curahan HAti Ananda", karya Bunda Noor Wigati Abyz. Ada sebuah kisah tentang orangtua yang selalu berusaha meminta pengertian dari anaknya. Menurut orangtua mereka sibuk demi kebaikan anak, menyekolahkan, membesarkan dan membuat hidup mereka bahagia. Padahal kadang yang dibutuhkan anak hanya beberapa menit saja. 

Seperti contoh diatas, nggak bakal lama kan mengantar anak sampai masuk ke kelas? Sesi belajar Hana juga hanya beberapa menit kan? 

Catatan yang kedua, jika memang pada akhirnya memenuhi permintaan anak, kenapa juga harus ngomel. Orangtua BT dan anak tentu BT juga kan?

Apa yang terjadi pagi ini, benar-benar sebuah catatan untuk saya. Anak-anak kadang hanya butuh sedikit saja untuk diperhatikan, and everything will be just fine.

Saya harap, kakak yang minta diantar tadi saat ini belajar dengan bahagia. Dan saya juga berdoa, semoga Allah masih memberi kesempatan pada saya untuk memperbaiki sikap saya pada Hana saat itu.

Selamat pagi, selamat beraktivitas. 

Mengabadikan Orangtua dengan Silahturahmi dan Berbagi

Abadikan orangtua kita dengan jalinan silahturahmi
(pic. source: https://chaoticsoulzzz.wordpress.com/tag/parent/)


Tantangan One Day One Post di hari ketiga belas ini, tidaklah mudah untuk saya; yaitu bagaimana meneruskan kebaikan untuk orang yang sudah meninggal.

Sebagai orang yang terlahir dari keluarga besar, tentu saja ada banyak saudara yang berada di lingkaran keluarga yang telah meninggal. Sayangnya, karena posisi saya masih dianggap “anak” (padahal juga sudah punya anak), maka kewajiban untuk meneruskan kebaikan itu belumlah dipindahkan ke pundak saya. Kalau lah ada, porsinya juga masih sedikiiittt sekali, masih kalah dengan mereka yang duduk di posisi orangtua.

Karena itu bila kemudia di minta menuliskan apa yang akan saya lakukan untuk meneruskan kebaikan orang yang sudah meninggal dunia, maka jawaban saya ini barulah sebatas ide, yang belum bisa saya realisasikan.

Alhamdulillah meski bukan orang yang berpengaruh di lingkungan RT/RW juga desa, tapi Bapak dan Ibu memiliki lingkaran persaudaraan dan pertemanan yang sangat luas.

Bapak yang terkenal dengan kemampuan memperbaiki mobil meski ia hanya belajar otodidak, membuat Beliau memiliki lingkaran pertemanan yang sangat luas dari pelbagai kalangan.

Begitu juga ibu. Beliau dulu lahir dari seorang ibu sambung, Akibatnya, mulai dari pelosok kota Parakan, hingga Temanggung, tersebarlah kakak dan adik Beliau. 

Ibu juga seorang yang memiliki daya ingat tinggi dan keramahan yang luar biasa. Wajar jika banyak orang yang mengenalnya (sayang, kebaikan dan daya ingat itu kok nggak nurun ya, ke saya). Apalagi karena Ibu senang sekali mengikuti aneka kegiatan pengajian, tak pelak lingkaran pertemanan Beliau sangatlah besar.

Salah satu buktinya adalah ketika Bapak sakit. Hampir seminggu rumah tak pernah sepi dikunjungi tamu. Entah berapa ratus teman Bapak dan Ibu yang datang menjenguk saking tak terhitung banyaknya.

Ibu juga orang yang sangat perhatian. Saat dikampung diadakan perbaikan jalan, Beliau berinisiatif untuk memasak kue dan camilan ala kadanya untuk para pekerja. Bagi saya, Beliau berdua adalah sebuah inspirasi kebaikan.

Dan kini Bapak-Ibu sudah semakin beranjak uzur. Mulai tak mampu menyambung silahturahmi yang besar diantara kawan juga saudara nak sanak (orang yang menjadi saudara, karena kebetulan salah satu anggota keluarga besar menikah dengan anggota keluarga lain).

Menyadari hal tersebut, kini saya mulai memperhatikan dan mengenali beberapa kawan Bapak dan Ibu. Jika dulu dikenalkan hanya masuk telinga kiri keluar kanan, atau melihat dari mata dikeluarkan lagi ke belakang kepala, maka kini sebisa mungkin saya mulai mengingatnya.

Menurut saya, ini adalah salah satu cara saya kelak untuk mengenang sekaligus melanjutkan kebaikan dan persaudaraan yang Beliau berdua jalin. Menyambangi ketika salah seorang teman ibu sakit, membantu ketika kawan ibu/ bapak memiliki hajat, menyapa ketika bertemu di jalan dan seterusnya.

Nasehat agama berkata, bahwa amal soleh akan terus berpahala ketika seseorang meninggal. Karena itu meski Bapak dan Ibu belum lah meninggal dunia, saat mendapat tambahan rejeki, saya juga menyisihkan sebagian untuk disedekahkan atas nama Beliau.

Bagi saya meneruskan kebaikan orang yang sudah meninggal, terlebih bila orang tersebut adalah orangtua kita sendiri, tak harus dimulai ketika mereka telah tiada. Tapi bisa juga dimulai sedari sekarang meski orangtua masih sehat dan bugar.

Inilah cara saya "mengabadikan" Bapak dan Ibu. Apa cara yang Sahabat pilih?

Ancaman Bahaya Obesitas pada Ibu yang Juga Seorang Blogger

Program tepat, akan membantu mencegah bahaya obesitas pada orang
dengan perilaku sedentary. (pic. source: pixabay.com)


Suatu pagi,

“Naik apa kamu nganterin Hana ke sekolah? Masih ngonthel? Ngapain sih, nggak naik motor aja?”

Seperti itulah pertanyaan yang sering saya dengar dari kawan, tetangga, bahkan saudara jika tahu kemana-mana saya ngonthel.

Ya, saya memang lebih senang naik sepeda kemana-mana, pun ketika nganterin Hana ke sekolah. Entah kenapa, rasanya kok kurang bersemangat untuk belajar naik roda dua bermesin itu. Ketika sepeda listrik menjadi trend pun, saya hanya sempat ingin, tapi nggak pernah berniat merealisasikannya.

Sepertinya ... ngonthel itu kok lebih asik ya? Anti mainstream, dan kelihatan klasik gitu, he he he. Nggak kok, nggak karena ngonthel kelihatan lebih gaya, tapi lebih karena gaya hidup saya.

Kegiatan saya seusai ngurusin rumah ya, cuma satu, ngetik, duduk manis depan kompi. Atau kalau lagi bete ya, nggak beda jauh dari kursi dan bantal; nonton streaming drama korea, yang umumnya jadi penasaran, sampai tak terasa kalau sudah berjam-jam. Nah!

Begitulah, gaya hidup saya yang cenderung sedentary (tidak banyak bergerak), seringkali membuat saya galau. Ditambah usia saya hampir 40 tahun dan jarang olah raga, saya mulai merasa lemak di perut mulai menebal, dan gampang capek. 

Bahaya obesitas dan gaya hidup sedentary

Seperti dikemukakan oleh dr. Sophia Hage, SpKO dalam healthy talkshow bersama Forum Liputan6 di SCTV Tower, Jakarta pada Selasa, 24 Mei 2016, seseorang yang kurang bergerak akan cenderung mengalami beberapa masalah kesehatan, seperti 
  • Penyakit kardiovaskuler
  • Diabetes,
  • Sindrom metabolik
  • Obesitas.
Yang terakhir itu biasanya paling mudah terjadi. Saya pernah lho, mengalami. Waktu itu karena jam efektif nulsi saya hanya malam hari, maka mau tidak mau saya harus bangun dari 12 malam agar semua tulisan bisa selesai tepat waktu. 

Bagi saya, bangun di malam = kopi + snack. Hasilnya, bobot saya mencapai 65kg dengan tinggi yang hanya 155cm. Jangan tanya rasanya, berat. 

Bagan aktivitas umumnya orang. Cenderung pada sedentary kan?
(pic. source: makalah presentasi dr. Sophie Hage, SpKO)
Ketika kurang bergerak sama arti dengan kurang bergeraknya otot besar tubuh. Ujung-ujungnya tubuh akan mengalami penurunan metabolisme, yang akan mempengaruhi kadar gula darah, tekanan darah, juga kemampuan mengurai lemak tubuh. 

Cara mengurangi bahaya obesitas karena perilaku sedentary


Sayangnya, konon dampak buruk sedentary tidak cukup diatasi dengan olah raga rutin, terlebih bila olah raga hanya dilakukan sesekali. Penelitian menunjukkan, mengubah perilaku menjadi lebih aktif, terbukti lebih efektif dibandingkan hanya melakukan olah raga sesekali. Karena itulah, bagi saya, ngonthel adalah salah satu cara saya bergerak lebih aktif.

Cara lain mengatasi dampak buruk obesitas karena perilaku sedentary, adalah menginterupsi atau mengambil jeda selama melakukan aktivitas sedentary. Misalkan dengan bangun dari duduk setiap 1 atau 2 jam sekali untuk sekedar merilekskan mata atau mengambil minum.

Jika mungkin, aktivitas sedentary ini sangat disarankan untuk dikurangi. Dan akan lebih baik bila diganti dengan aktivitas fisik yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Masih menurut dr. Sophia Hage, SpKO, setiap orang membutuhkan aktivitas fisik yang berbeda-beda, karena itu perlu konsultasi ke dokter jenis aktivitas apa yang tepat untuknya. Terlebih bila orang tesebut telah menderita obesitas, salah-salah,- bukan turun berat yang diperoleh, tapi cedera otot.

Obesitas kan juga macam-macam penyebabnya, bisa karena faktor keturunan, usai melahirkan, pengontrolan diri terhadap makanan kurang, dan masih banyak lagi. 

Untuk itulah, dokter yang tepat, tentu akan mendukung keberhasilan program penurunan berat badan seseorang.

Dan mencari dokter yang tepat untuk konsultasi semacam ini memang tidak mudah. Karena perubahan gaya hidup, seperti program diet untuk penurunan berat badan ternyata juga membutuhkan dukungan menyeluruh tidak hanya sebatas obat dan pembatasan makanan.

Karena itulah penting untuk mencari sebuah layanan kesehatan yang mampu membantu masyarakat untuk mencapai penurunan berat yang ideal sekaligus mempertahankannya. Seperti layanan yang ditawarkan oleh lightHouse Indonesia, sebuah layanan kesehatan yang mengfokuskan diri pada program penanganan berat badan secara menyeluruh, baik secara psikologis atau pun dengan pengobatan. Hasilnya, tentu saja, sebuah gaya hidup yang ideal untuk kesehatan yang lebih baik.


Inspirasi dari Seorang Guru PMP; Akibat “Sesekali” Sesal Kemudian Tiada Guna,

rahayupawitri
Yang telah lewat akan susah untuk diperbaiki atau kembali,
karena itu berhati-hatilah dengan kata "sesekali"
(pic.source: pixabay.com)


Ini cerita tentang hari Sabtu kemarin.

Selama seminggu Hana sekolah, dan dengan up and down-nya kegiatan rumah-sekolah, saya berencana istirahat sejenak dari semua pekerjaan domestik. YAng biasanya bangun jam 2 atau jam 3, sesekali bangun pas subuh. Habis subuh biasanya sudah bolak-balik ngingetin Hana untuk bergegas, sesekali nyantai dulu.

Nyuci yang bisanya jam 6 pagi saja sudah beres, sesekali jam segitu malah baru beranjak ngopi cantik, karena kebetulan hana juga bangun siang. Jam 7 baru kepasar, dan jam 8 baru masak.

Hasilnya ....
Masakan baru siap jam 10, cucian baru kelar jam 11. Jemur, beres-beres bekas masak, dan akhirnyasetengah satu baru mandi.

Karena capek, habis dzuhur, langsung tidur sampai jam 3. Bangun sambil nuggu asar, beresin jemuran, bekas makan siang Hana, nyiapin air Hana mandi .... Tahu-tahu sudah jam 5 sore. Jiah .... Apalagi tulisan, pegang leppi aja nggak sempat.

Sesekali itu memang melelahkan. Allah yang Maha Kuasa, sudah mengatur hidup manusia untuk bangun lebih pagi, beresin urusan dan pekerjaan sebelum matahari terbit, agar di siang hari nggak gedubrak-gedubruk.

Saat duduk di bangku STEMBA, saya pernah mendengar nasehat dari salah satu guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Beliau terkenal dengan kebijaksanaannya dan sangat-sangat hati dengan urusan dunia. 

Intermeso sebentar tentang kehidupan Beliau. Jika Beliau mau, jabatan hakim ketua bisa Beliau pegang, tapi Beliau menolaknya karena menurut Beliau, kaki hakim itu satu di neraka dan satu id surga. Jabatan DPRD pun bisa dengan mudah Beliau pegang, tapi Beliau memilih untuk tidak mengambil jabatan tersebut, karena tidak ingin hiruk pikuk dunia politik, yang kadang kotor.

Nasehat yang paling saya ingat dari Beliau adalah 

“jangan pernah bilang sesekali. Karena sesekali bisanya akan diikuti dua kali, tiga kali, dan akhirnya menjadi kebiasaan.”

Apa yang Beliau katakan memang ada benarnya. Hanya karena sesekali pengen nyantai, saya malah nggak dapat kerjaan apa pun. Semua rencana menulis kacau, dan akibatnya kerjaan mala numpuk di hari ini.

Ini baru masalah nyantai, bagaimana bila kata “sesekali” berkaitan dengan hal-hal yang membuat seseorang kecanduan?

“Sesekali saja dong, Bu, aku bolos sekolah”

“Sesekali saja dong, dik, Abang ... Kan kita dah lama pacaran”

“Ayo, sesekali aja kamu negak, nggak ada yang tahu ini.”

“Sesekali ngisep nggak papa kan?”


Lain hari temannya akan bilang, “Alah, waktu itu nggak papa, ayo kali ini juga pasti nggak papa”. Lama-lama ...?

Wah, bahaya kan .... Hanya karena terpeleset “sesekali” bisa berakibat panjang, dan ketika sadar nasi sudah menjadi bubur, susah untuk dikembalikan seperti sedia kala. Seperti saya, waktu yang tidak digunakan dengan maksimal, bisa menjadi pedang, yang memberangus banyak hal. 

So, masih berani bilang “sesekali ... aja”?

Surat untuk Bapak/ Ibu Presiden tentang Hari Anak-anak Nasional



Selamat malam Ibu/ Bapak Presiden,

Hari ini tanggal 23 Juli 2016, hari yang negara tetapkan sebagai hari anak-anak nasional.

Tidak pernah ada yang istimewa bagi saya sepanjang hari Anak ini diperingati. Semua bisa saja. Peringatan semacam itu, sepertinya hanya berlaku bagi sekelompok atau segelintir orang saja. Tapi tidak untuk kami, para orangtua yang berdiri dalam kelompok grassroot.

Meskipun begitu ibu/ bapak presiden yang saya hormati, kami orangtua dari kelompok grassroot ini juga tahu, bahwa kami wajib menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kami. Sayang, keterbatasan dana kadang membuat kami tidak punya pilihan.

Ada ahli parenting yang berkata bila TV berbayar adalah tontonan lebih aman untuk anak, teman baik orangtua untuk mendidik anak. Mendengar hal itu, sudah pasti kami juga ingin. Tapi kalau melihat harga langganannya yang setara 5 kg daging sapi, apa tidak lebih baik bila kami gunakan uangnya untuk perbaikan gizi?

Ketika sekolah-sekolah negeri mulai tidak bisa menjawab kebutuhan anak-anak kami (40 murid dengan satu guru?), ingin rasanya kami membawa anak-anak kami ke boarding school. Sekolah-sekolah IT yang bisa memberi pengetahuan lebih kepada anak-anak kami.

Kami membayangkan, anak-anak kami akan disambut di sekolah dengan senyum, pulang dengan rentetan cerita, bahkan tak pernah sabar menunggu hari esok untuk sekolah (duh, orangtua mana yang tidak bahagia dengan keadaan seperti itu?). 

Tapi apa daya, uang masuknya saja sudah hampir setara satu motor yang kami pakai untuk ngojek atau jualan sayur sehari-hari. Apalagi bulanannya, mungkin kami harus makan dengan garam setiap hari, agar anak kami bisa tetap sekolah.

Bapak/ Ibu Presiden, saya hanya ingin tanya, kenapa ketika menyangkut kepentingan orang banyak, negara belum mampu memberi yang terbaik untuk masyarakatnya? Padahal negara mampu membayar para wakil di DPR puluhan juta.

Seandainya, sebagian gaji itu untuk perbaikan kualitas sekolah, apakah tidak bisa? Anak-anak ini, suatu hari nanti, merekalah yang akan membaca Pancasila, Undang-undang Dasar Negara 45, juga menyanyikan Indonesia Raya. Mereka juga yang nantinya akan membawa nama baik bangsa.

Puluhan prestasi bisa saja lahir dari pikiran dan buah karya mereka. Tak bisakah negara memuliakan mereka sedari sekarang?

Saya hanya ingin negara membuat hunian, dan kota yang lebih ramah anak. Mengatur tontonan, tayangan yang lebih ramah kepada mereka. Sinetron itu, tolong beri training para penulis skrip dan produsernya. 

Saya sungguh berharap negara bisa memberi pendidikan berkualitas yang merata untuk siapa saja. Agar kelak anak-anak kami juga akan bangga dengan Indonesia. Tidak berpikir untuk lari dari negeri ini, karena merasa negara tak mau peduli. 

Saya hanya ibu rumah tangga; jangankan masalah ekonomi kapitalis, politik, semua saya buta. Tapi sungguh, saya hanya ingin negara menjaga anak-anak muda ini, anak-anak kecil ini, para penerus dan penjaga kekuatan bangsa.

Jadi, Bapak/ Ibu Presiden, bisakah Anda wujudkan angan-angan ini?

Kepuasaan Saat Mendapat Penghasilan Pertama Kali



Bukan ini, bukan cerita tentang penghasilan dari blog. Tapi hasil dari jualan makanan.

Sedari kecil saya memang sudah pengen punya penghasilan sendiri. Dimulai dari jualan jepit dari benang saat masih SD. Tapi ya gitu, cuma ngikut-ngikut tetangga. Kalau disuruh jualan sendiri, apalagi sampai menawarkan pada orang, duh, lebih baik ngumpet dah.

Tapi pas awal masuk SMP, ada yang berbeda. 
Hari itu menjelang lebaran. Orderan wajik bandung ibu sudah sampai hampir 100 kilo. Ibu telrihat sangat kelelahan. Tapi bagaimana pun orderan harus tetap dikerjakan, bukan?

Akhirnya ibu memutuskan membagi order, sambil istirahat Beliau akan menyelesaikan membungkus wajik bandung yang sudah dimasak. Sementara saya belanja, membuat adonan sekaligus membungkus adonan baru tersebut hingga selesai. Ibu ingin agar dalam sehari kami bisa menghasilkan produk dengan jumlah yang lebih banyak.

Usaha wajik bandung ini sangat menguntungkan. Ibu bisa memperoleh keuntugnan hampir 100% dari modal. Makanya, sebagai anak SMP, yang uang saku saja dibatasi, ya kenapa enggak juga. Toh, cuma dimasak nungguin, aduk-aduk, dan bungkus.

Tapi rupanya proses pembuatan wajik bandung ini tetep seharian. Setelah diberi modal seharga satu resep (sayang lupa berapa besarnya), saya pergi sendiri ke pasar, marut kelapa, beli kertas pembungkusnya, masak adonan dan seterusnya. Untung waktu itu Bapak mau bantuin potongan kertasnya.

Memasak wajik bandung benar-benar sangat melelahkan. Ketan sebagai bahan dasar wajik harus direndam dulu selama minimal dua jam. Selama menunggu, saya marut kelapa, kalau nggak salah waktu it ada satu butir setengah. 

Jaman dulu sudah ada mesin parut, hanya saja, wajik bandung akan lebih baik jika dimasak dengan kelapa fresh, dan diparut dengan parutan konvensional. 

Setelah direndam, ketan kemudian dikukus setengah matang, disekel, dan dikukus lagi sampai matang. Paling berat adalah saat mengaduk adonan. Persis seperti Upin ipin bantuin Datuk masak dodol he he he. Prosesnya memang melelahkan, tapi saya suka.

Bulan itu entah berapa kilo wajik yang bisa saya masak. Tapi yang pasti, semua orderan ibu terpenuhi. Setelah dikurangi modal awal ibu, saya dapat tambahan uang lebaran hampir 200ribu lebih.

Coba Sahabat bayangkan, uang sebesar Rp200rb di tahun 95-an itu setara berapa. Pokoke saya jumawa banget lebaran itu. Beliin bakso untuk beberapa teman, bagiin sebagian untuk nenek, beli kaset Tomy Page, tas, boneka impian (yess, I was a doll collector), dan juga buku. Ah, memori terindah tu.

Bangga rasanya bisa punya penghasilan sendiri. Saya yang paling males kalau disuruh jualan, akhirnya bisa jualan juga. Kalau ingat saat itu, rasanya pengen mencoba jualan lagi.

Diantara masa lalu saya, waktu saya sekolah menengah pertama memang masa yang paling tak bisa saya lupakan, salah satu bagian terbaik yang tak akan pernah saya lupa.

Kalau Sahabat bagaimana, hal terbaik apa yang pernah Sahabat lakukan jaman sekolah dulu?

Meja Kerja Saya dari Masa ke Masa

Woman world today = ya ngurus rumah, ya kerja
(pic. source: pixabay.com)

Biasanya, salah satu masalah yang sering dihadapi ibu bekerja dari rumah adalah, mereka tidak bisa optimal (nama lain profesional gitu) dalam bekerja. Alasannya si, banyak. Umumnya ni, baru duduk sebentar dan nengok ke kiri, ternyata debu di meja sudah 1 senti. Nengok ke kanan, eh ternyata cucian belum nongkrong di jemuran.

Saat semua sudah beres, malah ketiduran karena kebetulan kerjanya di atas kasur, sambil nungguin bayi tidur.

Nah, menurut para expert-nya freelancer ni, salah satu cara untuk mengatasi masalah di atas adalah dengan memisahkan atau memberi batasan jelas antara urusan rumah tangga dan pekerjaan.

Misalnya dengan membuat pojokan untuk nulis, dan jika mungkin bikin batasan gitu agar tidak mudah tergoda untuk menyelesaikan pekerjaan rumah saat mulai bekerja.

Saya, pekerjaan, dan meja kerja

Terus terang dulu pun mengalami momen yang sama. Waktu itu kebetulan dapat job ngajar anak-anak SD, mau nggak mau, butuh bikin soal dan macem-macem. Berhubung belum punya meja, jadi saya nyempil aja di meja pajangan, sebelahan sama TV.

She's always be the role in the house bha ...

Sayang, ternyata cara itu masih tidak menyelesaikan masalah. Karena saya tipe penulis yang nggak bisa konsen kalau ada suara ini itu, terlebih suara TV.

Maka ketika dapat rumah kontrakan yang agak besar, saya pindahin desktop ke kotak-kotak biru tempat buku.



Saat itu rasanya pengen banget punya meja atau semacamnya. Maklum ngampar di bawah bikin posisi nulis tidak enak, sehingga pergelangan tangan dan belikat pegel setengah mati.

Alhamdulillah pas kakung datang, saya dibuatkan meja karena kawatir tangan Hana iseng colokin komputer sendiri (*duh, alesane kok malah putune). Dan sekarang ketika Hana sudah masuk sekolah, bergeserlah posisi kepemilikan si meja. Yang tadinya kepemilikan atas nama saya, sekarang menjadi milik Hana.

Mumpung penguasanya lagi sekolah, ya pakai aja deh 
Akhirnya, disinilah meja saya hu hu hu.
... at last 

Tapi nggak papa lah yang penting masih bisa ngetik, nyempil sendirian. Apalagi seperti siang ini, Hana masih sekolah, dan dady sudah berangkat kerja. Asekkk.... Nge-draft untuk ODOP berikutnya yuk.

Ketika Emak Punya Usaha Sampingan, Maka Henpun dan Kamera tak Pernah Ketinggalan



Kalau sedang nganter Hana sekolah tu, sering banget saya nemuin kejadian yang bisa jadi ide tulisan, atau malah sekedar moment-moment yang sayang banget kalau dilewatkan.

Sayangnya, gawai saya belum lah memadai untuk mengabadikan momen-momen tersebut. Jadi, mau nggak mau, saya pun bawa kamera digital kemana-mana. Nggak enak si, tapi mau gimana lagi. Momen menarik kan nggak tentu datang dua kali (*quote ngasal).

Begitulah, sejak punya sampingan kerjaan sebagai content writer dan blogger, isi tas saya semakin beragam. Jika semual hanya dompet, dan kertas-kertas tagihan, sekarang, isinya pun nambah; kamera digital, notes, tempat pensil, sesekali power bank dan kantong serbaguna yang isinya pun segala.

5 benda penting dalam tas saya 

Notes book

Sebagai blogger tentu pas di jalan ada aja ide yang terlintas. Meski sudah pakai aplikasi Google Keep, tapi kadang nggak puas juga kalau nggak corat-coret di notes book. Biar nggak lupa, kadang saya klasifikasikan ide atau to do list dengan warna-warna, makanya kemana-mana saya juga bawa tempat pensil untuk menyimpan peralatan tulis menulis dan sticky notes. 

Tempat pensil

Tempat pensil saya ini juga serba guna lho. Kalau pas pergi event biasanya saya isi juga dengan pelembab dan bedak. Kalau hari-hari biasa mah, ya ... enggak. Toh saya pergi jarang jauh kok.

Kamera digital

Sebetulnya males kalau bawa kamera digital kemana-mana, tapi sayang juga kan kalau melewatkan momen-momen penting. Jadi, ya gitulah, kemana-mana Mr. C pasti ikut juga.

Tablet
Setiap milih barang, saya ini memang pengennya maksimal, jadi ya milih gawai yang bisa buat nulis, buat komunikasi. Makanya, pilihan jatuh pada si putih besar ini. Sayang pertimbangan kamera tidak saya perhatikan waktu itu. Mungkin kalau fitur itu juga saya pertimbangkan, kemungkinan, isi tas saya jadi lebih enteng deh. 

Dompet

Lha, sudah tahulah kalau fungsi benda yang satu ini apa, tempat simpan ongkos, uang belanja juga beberapa kertas tagihan.

Eh, ada satu lagi benda yang sering saya bawa, yaitu buku bacaan. Buku bacaan tu bermanfaat banget saat musti berdiri di antrian, nungguin anak di sekolah, atau sinyal lagi lelet. Pembunuh sepi terbaik di dunia pokoke.

Kalau Sahabat bagaimana, apakah profesi sampingan Sahabat membuat isi tas berbeda?

Serunya Menyiapkan Keperluan Sekolah Anak


Cuma segini, tapi cukup bikin rempong emak

Jam 9 malam,

Akhirnya selesai juga semua keperluan hari pertama Hana. Capeknya minta ampun. Sampai nggak punya ide untuk update blog. Untuglah tema ODOP hari ini bebas, jadi saya mau curhat saja ya, boleh kan ya?

Asli, saya nggak nyangka kalau persiapan hari pertama anak sekolah SD itu sebegini repotnya. Pikir saya paling cuma beli buku, tas, dan sepatu. Beres.

Makanya dulu sering ngetawain tetangga yang heboh banget pas anaknya masuk SD. Mulai dari sibuk wara-wiri rumah sekolah, sibuk telpon para ibu yang kebetulan sekelas, sms guru, juga nyiapin seragam sekolah anaknya.

Di hari H, dia juga masih repot berebut bangku paling strategis di kelas. Seusai subuh dia sudah berada di depan sekolah, dan begitu gerbang dibuka, bersama para ibu yang lain, berebut menuju kelas anak mereka masing-masing dan mencari tempat duduk terbaik untuk anaknya nanti. Sementara di rumah, saya kebagian bangunin si kakak. Membantunya menyiapkan seragam, tas, sampai serapan.

Repot, kan?

Makanya ketika akhirnya punya anak, saya memilih untuk menyiapkan Hana sebaik mungkin. Hanya agar kelak saya tidak repot, atau juga merepotkan orang lain.

Tapi namanya rencana, kadang memang tinggal rencana. Meski sebisa mungkin sudah well planned, well organize, tetep aja, gedebag-gedebug nyiapin keperluan masuk sekolah Hana.

Karena baru hari Sabtu kemarin ada pertemuan orangtua/ wali murid dengan sekolah, otomatis peraturan-peraturan detil baru diketahui hari itu. Jadilah mulai Sabtu sore, saya mulai nyampulin buku, nyiapain name tag untuk kegiatan masa orientasi siswa (tenang, nggak pake ponclo-poncloan kok), nyari sepatu (karena ternyata harus sepatu hitam) de el el, de es be.

Nggak lupa setiap satu jam saya ngecek chat di grup wali murid, siapa tahu ada pemberitauan mendadak dan hal penting lainnya yang harus dipersiapkan.

Sampul bukunya warna coklat saja ya, bu, jangan lupa ditulisin jenis kelompok tematiknya...”
 Hayah ... Langsung lari ke toko buku, kelotokin sampul plastik, ganti sampul coklat, pasang lagi sampul plastik .... He he he.

Begitulah, capek memang menyiapkan keperluan sekolah anak, tapi juga seru. Pengalaman yang akan terus saya ingat, dan bisa jadi akan menjadi bahan obrolan saya dan Hana kelak.

Kalau teman-teman dulu gimana? Cerita dong ...

Menikmati Keindahan Alam di Kota Magelang



[Sponsored post, please review to disclosure page for detail]

Halo ... Lagi bersiap untuk besok senin ya? Atau malah ada yang sedang nyusun rencana liburan?

Nah, buat Sahabat yang justru baru dapat cuti setelah lebaran, mampir yuk di Magelang. Kota kecil yang menjadi salah satu pintu gerbang menuju Yogya ini punya banyak tempat wisata lho.

Magelang merupakan salah satu kota yang sudah dikenal dunia. Salah satu tempat wisatanya memang pernah masuk ke dalam daftar 7 keajaiban dunia ada di kota ini. Apalagi kalau bukan Candi Borobudur, candi yang sudah dibangun sejak abad ke 9 ini sudah menjadi warisan yang sangat terkenal dan menarik perhatian dunia.

Udara di Magelang masih sangat sejuk, fasilitas wisata seperti transportasi dan penginapan di Magelang sudah lengkap, jadi saat berwisata di kota ini Sahabat tidak perlu repot. Pengen bablas ke Yogya pun dekat; jarak Magelang dari Yogyakarta kurang lebih 45 kilometer.

Magelang memiliki topografi daerah yang di kelilingi gunung, sehingga pemandangan alam nya tidak kalah menarik. Berikut beberapa wisata alam di Magelang yang bisa Sahabat nikmati.

Tempat wisata alam di kota Magelang


Ketep Pass
Ketep pass terletak di Desa Ketep dan ada di Jalur Solo Selo Borobudur. Jaraknya 30 kilometer dari Magelang dan 35 kilometer jika dari Boyolali. Ketep Pass merupakan tempat wisata yang cukup diminati. Disini anda akan disuguhi oleh panorama pegunungan serta bukit yang sangat indah. Dari Ketep Pass wisatawan juga bisa melihat awan panas gunung merapi.

Selain pesona pemandangannya yang menarik, Ketep Pass juga akan memberikan fasilitas wisata lainnya seperti Bioskop Mini atau Ketep Teater yang akan menayang film dokumenter mengenai gunung merapi. Ada 78 tempat duduk untuk pengunjung di Ketep Teater ini. Ada juga Museum Vulkanologi, Gardu Padang dan banyak lagi.

tempatwisatadimagelang_rahayupawitri
Ketep Pass
(Sumber gambar: fotowisata.com)

Biasanya yang menjadi favorit para wisatawan adalah Gardu Padang, karena disini wisatawan akan disediakan gazebo untuk menikmati pemandagan alam Magelang.


Air Terjun Kedung Kayang

Air terjun ini merupakan salah satu wisata alam lainnya yang dimiliki oleh Magelang, jaraknya kurang lebih 3 kilometer jika dari Ketep Pass. Air terjun Kedung Kayang berada di antara gunung Merbabu dan Merapi. Ketinggian air terjun ini bisa mencapai 40 meter, dengan air yang dingin dan juga deras.

Air terjun Kedung Kayang
(Sumber gambar: spadepicnic.wordpress.com)
Saat Sahabat masuk ke lokasi air terjun akan dikenakan tiket masuk 2500 per orang. Bagi Sahabat yang membawa kendaraan tidak bisa membawa masuk kendaraan langsung ke depan air terjunnya tapi harus di parkirkan di dekat pintu masuk.

Setelah itu Sahabat akan berjalan selama kurang lebih 25 menit untuk bisa sampai di air terjun ini. Perjalanan menyusuri sungai dan lelah akan terbayarkan kalau sudah sampai di lokasi air terjun.

Sungai Progo

Sungai Progo adalah salah satu sungai di Magelang yang memiliki jeram cukup menantang. Sehingga biasanya sungai ini digunakan wisatawan untuk rafting. Sungai Progo berada di Kota Magelang tepatnya di Perumahan Griya Tok Songo.

Sungai Progo
(Sumber gambar: yuvenstour.wordpress.com)

Aliran sungai ini memiliki panjang 12 km dan untuk yang melakukan rafting biasanya akan menghabiskan waktu sekitar 2 sampai 3 jam untuk menyusuri sungai dan jeramnya.

Ada beberapa rute yang dimiliki oleh arung jeram ini, antara lain arung jeram Progo Hulu, Progo Atas dan Progo Bawah. Untuk Progo Hulu dan Atas bearada di Magelang, untuk Progo Bawah berada di Kulon Progo.

Air Terjun Sekar Langit

Selain air terjun Kedung Kayang, Magelang juga memiliki air terjun lainnya, yaitu Air Terjun Sekar Langit yang berada di kaki Gunung Andong.

Menurut cerita masyarakat, air terjun ini dulunya sempat di jadikan tempat mandi oleh bidadari yang bernama Nawangwulan. Nawangwulan tidak bisa pulang ke langit karena selendangnya dicuri oleh Jaka Tarub. Akhirnya sang bidadari tinggal di bumi dan menikah dengan Jaka Tarub.

Kecantikan alami air terjun Sekar Langit
(Sumber gambar: tribunnews.com)

Sama seperti halnya wisata yang berada di daerah pegunungan, suasana dan udara di air terjun Sekar Langit sangatlah sejuk. Ketinggian air terjun ini tidaklah setinggi air terjun Kedung Kayang. Tinggi air terjun Sekar Langit hanyalah 25 m.

Gunung Andong

Gunung Andong adalah salah satu gunung yang berada di Magelang. Gunung ini sangat sering dijadikan tempat untuk mendaki oleh pecinta alam. Perjalanan untuk mendaki ke Puncak Andong pun tidak begitu ekstrim seperti Gunung Merapi.

Gunung Andong
(Sumber gambar: exploregunung.com)
Ketinggian Gunung Andong yaitu 1.726 meter diatas permukaan laut. Untuk sampai di puncak waktu yang dibutuhkan biasanya hanya 1,5 sampai 2 jam saja.

Nah, itulah beberapa tempat wisata menarik di kota Magelang. Jadi, selain bisa berkunjung ke Candi Borobudur yang sudah mendunia, Sahabat juga bisa menikmati pesona alam yang ditawarkan oleh Magelang. 

7 Ucapan Tokoh Fiksi yang Menginspirasi



Salah satu tugas orangtua yang paling saya sukai adalah menemani anak nonton TV. Apalagi kalau yang Hana tonton tu tentang Sofia, Tinker Bell, Mulan, Curious George, dan Barney. Selain buat refreshing, kadang saya nemu ucapan-ucapan yang menginspirasi dan jadi pelajaran untuk saya.

Post terkait: 30 Quotes Inspiratif dari Karakter Fiksi

Biasanya kalau nemu yang seperti itu suka saya catet. Sayang, pas tantangan ODOP-nya tentang hal serupa, eh, su catetan malah menghlang. Yo wis, saya bikin 7 saja dulu, nanti kalau sudah ketemu, tinggal update-lah.

Putri Jasmine as feature figure on Sofia the First

Waktu itu Sofia dan Amber terjebak dalam sebuah hutan bambu. Satu-satunya jalan keluar yang ada adalah terbang keatas dengan karpet terbang yang sangat nakal. Amber ketakutan dan tidak percaya diri. Putri Jasmine yang hadir karena jimat Sofia mencoba meyakinkan Amber dengan berkata “Coba raih kesempatan, ambil petualangan baru, raih yang terhebat dalam hidupmu.”


Kalimat tersebut selalu menginspirasi saya untuk terus bertumbuh, belajar, dan tidak takut untuk mencoba hal baru. Ketika pagi datang, itu artinya sebuah kesempatan dengan segala kemungkinan besar.

Master Hoogway dalam Kung Fu Panda


Nggak pernah bisa lupa dengan ucapan si master ini

“Because today is a gift that is why it is called present”, itu adalah kata sang master saat Poo tidak percaya diri dengan kemampuannya. Sikap Hoogway yang mengajarkan untuk selalu berprasangka baik, memberi orang lain kesempatan adalah kebijakan yang selalu saya ingat.

Rafiki, dalam "the Lion King"


Apa yang Rafiki ucapakan seolah mengingatkan saya, bahwa seorang yang dewasa harus berani ambil konsekuensi dari setiap pilihan yang ia ambil/ putuskan.


Dumbledore

My favourite quote ever. Dumbledore katakan quote tersebut ketika Harry Potter ragu apakah ia memang sama dengan Voldemort. Dan ya, seseorang bisa jadi memiliki derajat, hobi, minat, atau kemampuan yang sama dengan orang lain, tapi hanya pilihan yang diambillah yang akan membedakannya.

Say, dalam Naruto 

Saya paling nggak suka film Naruto. Tapi kadang nggak punya pilihan lain selain harus mendampingi Hana nonton film yang satu itu. Kebetulan sore itu saya nemu quote seperti ini "Kamu tidak akan bisa membuka pikiran orang lain jika tidak membuka pikiranmu sendiri". Sebuah nasehat yang dikatakan oleh guru Naruto pada Say (bener nggak nulisnya?) karena ia merasa ragu dengan kemampuannya.

Barnie

“Kamu tidak harus sama dengan siapa pun, karena perbedaan itulah yang membuatmu unik” begitu kata Barney pada salah seorang temannya yang terpaksa duduk i kursi roda sedari kecil.

Selain quotes diatas saya selalu menjadikan Barney sebagai salah satu panutan saat bagaimana seharusnya orangtua bicara kepada anak. Barney kan nggak pernah menyumpah, apalagi ngomong kasar. Ya kan?

Rene pada novel 12 menit

…Mengalahkan godaan TV. Mengalahkan godaan ajakan untuk ngumpul di Koperasi. Mengalahkan godaan ajakan main bola. Dan Mengalahakan godaan ramai-ramai menyambangi tempat penyediaan games online… (hal 65).

Gimana? Keren-keren kan? Ada yang cocok nggak buat seorang blogger?

Benarkah Lulusan Sekolah Kejuruan Tidak Perlu Kuliah?

rahayupawitri_sekolahkejuruan
Belajar memang harus sepanjang masa,
terlepas apakah Anda lulusan sekolah kejuruan atau tidak.
(pic. source: pixabay.com)

Tang, ting, tung ... 63 notifikasi WA baru saja masuk ke handphone saya.

Begitulah sudah beberapa hari terakhir, aplikasi chat saya yang satu ini selalu ramai. Ada grup baru disana, grup alumni Sekolah Menengah Teknologi Pembangunan (STEMBA) angkatan 20. Sebuah sekolah kejuruan dengan dua jurusan Teknolohi Hasil Pertanian dan Agronomi.

Saat kemarin membaca bahwa tantangan post hari ketiga dari “One Day One Post” adalah sekolah kejuruan, iseng saya bertanya kepada teman-teman, benarkah lulusan sekolah kejuruan tidak perlu kuliah atau bersekolah ke jenjang perguruan tinggi?

Anggapan bahwa sekolah kejuruan adalah salah jalan menuju dunia kerja memang sudah lama terdengar. Bahkan jujur, saya dan sebagian besar teman-teman masuk ke STEMBA juga dengan motivasi yang sama; agar bisa segera memperoleh pekerjaan tanpa harus melalui bangku perkuliahan.

Pikiran kami dulu sederhana, tidak ingin lebih lama membebani orangtua, terlepas apakah STEMBA adalah sekolah dengan bidang dan minat yang sesuai untuk kami.

Saat itu STEMBA memang memiliki tingkat penyerapan lulusan yang tinggi. Hampir setiap angkatan terserap masuk ke dunia kerja. Bahkan salah satu produsen makanan terbesar di negeri ini, para quality dan assurance-nya diisi oleh lulusan dari STEMBA.

Tapi apakah para alumni STEMBA tersebut benar-benar tidak menempuh perguruan tinggi? Sepengetahuan saya tidak. Kebanyakan dari teman-teman saya juga melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Mengutip salah satu teman yang kebetulan juga salah seorang profesional pada sebuah flavour house, IFF,

Sekolah kejuruan memang bagus menempa mental dan wawasan calon karyawan/ ti di pabrik atau kantor; akan tetapi, terkhusus di perusahaan asing, itu belum cukup (pengetahuan/ ilmu lulusan sekolah kejuruan). Persaingan sangat ketat dan perusahaan biasanya lebih memperhatikan lulusan S1 dalam jenjang karier. Bahkan sekarang mereka lebih menyukai S2 dan S3 atau lulusan luar negeri. Waktu selalu membawa perubahan dan hal ini akan terus berganti dari tahun ke tahun - Sri Oka Timuryani.
Hal senada juga diamini oleh kawan yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan makanan. Lulusan S2, S3, atau malah luar negeri, kini menjadi tambahan pertimbangan untuk jenjang karier seseorang.

Bagaimanapun juga, kuliah atau tidak kuliah, seseorang memang wajib terus meng-update, mengikuti perubahan jaman; tidak ada pilihan untuk mundur jika memang ingin terus maju (blogger juga gitu kan?). Terlepas apakah ia menempuh pendidikan menengah atas di sekolah kejuruan atau tidak.

Semoga ulasan di atas bermanfaat ya, terutama untuk Sahabat yang sedang mempersiapkan diri ke menghadapi dunia kerja atau para orangtua yang sedang mempersiapkan masa depan putra-putrinya.

Mbak Uniek, Please Give that Asus ZenFone 2 Laser to Me ...


Holaaaa! DICARI 10 ORANG EMAK BLOGGER - TERMINAL 3. Selamat malam emaks, maaf mau cari 10 orang emak untuk acara di terminal 3 Bandara Soeta, tapi jangan yang udah pernah ikutan yaa... Liputan6.com dan PT Angkasa Pura 2 mengundang blogger (untuk KEB 10 blogger) acara halal Halal Bi Halal di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta ....

Begitu woro-woro Mak Tanti dua hari yang lalu di grup KEB. Pengen banget langsung komen “Daftar Mak”, tapi kalau ingat ...

Siapa yang nggak pengen ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta saat ini? Selfie-selfie, menggoda teman dengan cuitan spot-spot cantik .... 

Tapi ...

Lebih baik nahan diri lah. Entah sudah berapa event yang saya ikuti, saya nggak bisa menjadi broadcaster acara yang baik. Cuma bisa nge-tweet momen yang sedang berlangsung tanpa bisa upload momen-momen serunya.

Nasehat mbak Kartika Putri tentang foto yang layak di upload ke media sosial adalah foto yang berkualitas, selalu terngiang. Yah, apa daya, kemampuan kamera ponsel saya hanya 5 MP  tanpa embel-embel ini itu. Hasilnya? Ya, gitu deh. Coba aja lihat beberapa foto unggahan di akun instagram saya (ada di bawah halaman ini kok).

Sudah gitu, space memorinya hanya 500 MB. Baru nambah satu aplikasi saja, langsung nggak bisa buka lagi koleksi galeri.

Apalagi kalau pengen update di Instagram. Walah perjalanan fotoku sangat panjang. Dari kamera digital, saya pindah ke kompi, lalu upload ke Google Drive (karena space penyimpanan di hp minim banget). Dan dari cloud storage itulah saya baru bisa posting di Instagram. Repot, riweh, dan yang pasti foto-nya adalah foto #latepost. Makanya, foto saya sedikit banget disana. Hu hu hu.

Itulah mengapa saya nggak pernah berharap bisa menang live tweet, best picture, apalagi best photo on Instagram.

Bahkan pernah lho, mbak, foto saya ditolak sama penyelenggara, gara-gara foto saya gelap, nyaris nggak terlihat orangnya. Jadi ceritanya waktu itu di arena permainan, dan untuk mendapatkan souvenir, kami harus menunjukkan foto saat kami berada disana.

Syukurlah, mbak Suci Santy Risalah bersedia membantu. Jadilah beliau yang memotret anak saya. Kirim ke inbok, dan baru update di status. Ya Allah, nggak cuma ribet, malunya itu lho.

Why I want ASUS ZENFONE 2 LASER so much

Pokoknya daftar cerita sedihku dan kamera ponsel tu, mbak, panjang ... banget. Jujur saya pengen seperti teman-teman blogger lain, bisa ikut daftar job yang mensyaratkan Instagram, bisa maksimal broadcast event yang sedang diikuti. Jadi, mbak Uniek, please give that ASUS ZENFONE 2 LASER to me.




Saya naksir dengan fitur Low Light-nya. Saya suka malam hari mbak. Karena malam, meski gelap, punya keindahan tersendiri. Nah, untuk mengatasi kekurangan kamera ponsel saya, saya membawa kemana-mana kamera digital. Sayang, kalau jalan sama misua, dia suka cemberut kalau lihat saya mulai mengeluarkan kamera. Makanya mbak, saya ngarep banget bisa punya henpun yang punya kemampuan bisa mengabadikan momen meski dengan cahaya minim.

Saya juga pengen nyoba juga fitur panorama selfie-nya. Sepertinya dengan adanya fitur tersebut, kita nggak perlu ngangkat tongkat selfie tinggi-tinggi agar bisa semua orang di sekitar kita bisa tertangkap kamera, ya?

Nggak perlu juga miring-miringin pose, sekedar untuk menangkap sisi "the best" kita kan? Toh fitur Beautification-nya bisa bantuin kita untuk mempercantik foto, sementara real tone flash-nya membantu kita mendapat gambar dengan pencahayaan terbaik kan?

Sudahlah mbak Uniek, help me; Please, Give tht Asus ZenFone 2 Laser to me. Okay?

Antara aku dan kamera ponsel


Giveaway Aku dan Kamera Ponsel byuniekkaswarganti.com

Parenting Notes Bermain dan Belajar Matematika ala Hana



Seusai nulis tugas buat ODOP tadi, saya seharusnya nglanjutin nulis untuk give away mbak Uniek. Tapi ada momen menarik ni tentang Hana, sayang kalau dilewatkan.

“Ibu, lihat ini kertas kotak-kotakku. Aku potong jadi dua, lalu jadi empat, delapan, trus sekarang jadi 16”

“Oya, jadi ada berapa semua kotak Hana?”

“Aku potong 5 kertas, jadi aku punya ....


Hana pun mulai menghitung. Awalnya dia menjumlahkan 16 + 16 dengan cara mencongak, membayangkan di luar kepala. Saya kaget juga dengan hasilnya, meski agak lama, tapi dia bisa menghitung dengan benar.

Setelah ketemu sampai hitungan kertas yang keempat, ia pun mulai bingung. Kawatir Hana kesulitan dan bingung, saya menyuruhnya menggunakan papan tulis untuk menghitung.

Sedetik saya langsung menyesal, kenapa tidak saya biarkan saja dulu Hana menyelesaikan hitungan mencongaknya. Kan itu bisa melatih otaknya juga.

Seharusnya saya biarkan dulu Hana mencoba. Seharusnya saya tidak terlalu kawatir dengan usahanya. Toh, hitungan seperti itu tidak akan membuatnya sakit kan ...

Back to Hana ...

Akhirnya ia sukses menghitung. Dengan bangga ia melaporkan sekarang ia punya 80 kotak warna-warni. Hasil dari 5 kertas yang ia potong-potong masing-masing menjadi 16 kotak.

Lalu ia mulai berangan-angan, kalau ia memotong satu kertas warna lagi menjadi 16 buah kotak kecil, kira-kira berapa jumlah kotak keseluruhan yang ia punya.

Nah, momen ini yang saya suka. Ia kebingungan dengan hasilnya karena ternyata ia menuliskan angka terakhirnya tidak terlalu jelas.

Untuk menyelesaikannya, ia menyusun satu-persatu kelompok kertasnya, mengurainya ke bawah, dan begitulah ...

belajarmatematika_rahayupawitri
Cara Hana mencari kekeliruan perhitungannya.
Tanpa sadar ia sudah belajar pembagian dan perkalian he he he

Saya seneng aja melihat cara ia menguraikan pikirannya. Bagi saya ini sebuah kemajuan besar. Saya pun jadi punya bahan ajar, jika kelak Hana mulai belajar bilangan perkalian atau malah pembagian dan pecahan.

Entah ia dapat ide dari mana. Apakah pelajaran IXL math-nya selama ini berhasil membangun logikanya? Memang di IXL, meski baru sampai level kindergarten, Hana sudah belajar banyak bagaimana memecahkan persoalan, termasuk didalamnya tentang bilangan melompat, perkiraan hasil, sampai diagram venn  (di IXL diagram venn ada sudah ada di level kindergarten lho. Kapan-kapan saya cerita deh, tentang IXL ini).

Apapun yang mendasari pemikirna Hana, saya suka, dan saya mensyukurinya. Alhamdulillah.

Oya, catatan ini tidak bermaksud untuk menyombongkan Hana, atau cara saya mendidik. Karena murni, aktivitas diatas adalah pikiran Hana. Bagi saya, ini adalah momen yang tak boleh saya lewatkan, itulah mengapa saya mencatatnya disini.

Selain itu kelak, seperti saya sebutkan diatas, saya tinggal menunjukkan catatan ini ketika Hana kesulitan menghadapi soal perkalian, pecahan dan pembagian. Seperti orang bilang,

Mengingat jalan kesuksesan yang lampau bisa menjadi jalan untuk keberhasilan berikutnya.

Ketika THR Hanya Bisa untuk Dana Darurat

Nasib THR-ku yang malang (pic. source: 4arainadeiva.wikispaces.com )


Tanggal 14 Juli, pertengahan bulan plus habis lebaran

Apa hubungan pertengahan bulan dan habis lebaran? Jelas ada ... Apalagi kalo nggak masalah dompet yang mulai meriang he he he.

Harusnya ni, harusnya kalau habis lebaran itu sesekali dompet boleh berlega hati. Pasalnya, di bulan berjalan kan kita baru aja dapat tambahan, thr-an kata orang. Tapi apa daya, THR kadang memang nggak cukup buat lebaran, bahkan sisa gaji yang rencananya sampai akhir bulan pun bisa-bisa malah melayang.

Makanya, dulu paling sebel kalo lebaran ada di minggu-minggu awal. Jantung sudah pasti deg-degan karena ngalamat bakal hutang untuk biaya hidup sampai akhir bulan.

Dulu mah, mana ngerti ngatur-ngatur keuangan gitu, Tahunya, kalau habis gajian itu sisihkan sebagian. Karena hanya disisihkan, makanya jumlahnya pun jangan diharapkan. Hasilnya, pas lebaran, ya pasti melayang.

Syukur deh, makin tua makin ngerti; kalau masalah uang memang kita nggak bisa hanya diurus selayang pandang. Musti dicermati, dan teliti. Termasuk urusan THR kali ini.

Berbeda dengan bulan-bulan kemarin, THR saya kali ini nyaris utuh lho. Pasalnya para ABG yang biasanya dapat jatah lebaran, malah sekarang gantian jadi tukang bagi-bagi saweran. Plus secara silsilah, Hana sekarang menjadi makhluk terkecil di keluarga besar. Jadi ya, sudah, selamat deh THR tersayang.

Cuma ni, cuma ...

Lebaran ini saya dapat hadiah besar, salah satu gawean konten saya diberhentikan. Sementara saya belum punya cadangan kerjaan. Jadinya, THR dari suami kali ini tidak berani saya otak-atik, langsung wuss ... masuk ke dana darurat.

Alhamdulillahnya, jatah untuk pulkam memang sudah saya sediakan. Bagi saya jatah untuk pulkam harus selalu tersedia; sekedar jaga-jaga, jika sewaktu-waktu ada kejadian tak terduga di kampung halaman. Seperti tahun ini, yang semula tidak ada rencana mudik, tapi tiba-tiba ibu manggil pulang.

Karena itulah, ketika kemudian kabar bahwa kerjaan tak lagi diperpanjang, saya langsung bisa alokasikan THR untuk dana cadangan sampai saya dapat job berikutnya. Pengennya si berbangga gitu, jatah THR saya utuh, tapi apa daya, cerita THR utuhnya harus sambil nyengir kuda.

Gitu, tu, nasib THR saya kali ini. Gimana denganmu, dialokasikan kemana aja THR-nya?

Berburu Oleh-Oleh Lebaran di Pasar Legi Parakan, Pasar Tradisional dengan Konsep Pasar Modern

pasarlegiparakan_rahayupawitri
Wajah baru Pasar Legi Parakan


Seminggu setelah lebaran, ...

Alhamdulillah akhirya sampai kembali di Bekasi. Meski masih pusing karena harus langsung bebersih rumah, tapi dah pengen banget ni kembali nge-blog. Apalagi kalau bukan cerita tentang seputar lebaran, ya, mumpung momennya masih dapet gitu.

Ada yang selalu saya suka setiap kali pulang ke kampung halaman di Parakan Temanggung. Selalu saja ada yang baru dari kota kecil ini. Setiap tahun ia seolah tumbuh, memantaskan diri untuk menjadi pusat pertemuan dari kota-kota di sekelilingnya.

Tahun ini, saya takjub dengan perubahan besar salah satu pasar di Parakan, Pasar Legi. Pasar itu kini telah bertansformasi menjadi sebuah pasar semi-modern, dan konon kabarnya menjadi pasar terbesar di Jawa Tengah.

Sekilas tentang Pasar Legi Parakan

Wajah lama Pasar Legi Parakan (Pic. source: temanggungcity.blogspot.co.id)

Pasar Legi Parakan telah ada sejak tahun 1925. Bahkan kabarnya lokasi pasar ini merupakan bekas alun-alun kabupaten Menoreh yang dahulunya memang berkedudukan di kota Parakan.

Pasar Legi Parakan sedari dulu telah menjadi pusat perdagangan dari semua daerah di sekitarnya, seperti Ngadirejo, Wonosobo, juga Temanggung.

Seiring berjalannya waktu, Pasar Legi Parakan berubah menjadi pasar yang kumuh, dan seolah tak terurus. Jalan-jalan disepanjang los pasar sering becek di saat hujan, dan jajaran Andong (kereta kuda) di depan pasar sering menimbulkan bau yang tidak sedap. Ketika musim prepegan tiba, jalan di depan pasar pasar ini bisa menyebabkan kemacetan yang panjang, karena penuhnya pedagang kaki lima sekaligus para pembeli yang sedang berburu kebutuhan mereka.

Beruntunglah tahun 2013, wacana renovasi pasar ini mulai digulirkan. Meski sempat menimbulkan pro dan kontra, karena sebagian masyarakat percaya bahwa pasar ini selayaknya menjadi salah satu dari cagar budaya.

Wajah Pasar Legi Parakan yang baru

pasarlegiparakan_rahayupawitri
Gerbang timur Pasar Legi Parakan

Pembangunan pasar ini memang sempat tertunda, karena lelang proyek yang tak kunung usai. Namun syukurlah pada 18 Februari 2014, pasar legi pada akhirnya mulai di renovasi. Tak tanggung-tanggung, pasar ini dibangun dengan konsep mirip Mall.

pasarlegiparakan_rahayupawitri
Disini banyak simbah yang masih sering belanja/ jualan, jadi ditambahkanlah eskalator ini

Dibangun dengan konsep dua lantai, Pasar Legi Parakan kini bertransformasi menjadi seuah pasar tradisional semi-modern.

Lantai bagaian bawah kebanyakan di tempati oleh para pedagang pakaian dan makanan siap saji. Seperti kue-kue kering dan makanan khas daerah seperti emping jet, slondok, rengginang dan lain sebagainya. 

pasarlegiparakan_rahayupawitri
Cocok buat windos shopping ni 

pasarlegiparakan_rahayupawitri
Belanja di sini nggak panas kok. soalnya tempatnya lega,
dan udara kota Parakan memang dingin
Menjelang lebaran, pedagang snack semacam ini menjadi salah satu kios yang ramai didatangi pembeli. Masyarakat di Parakan kini lebih suka membeli kue-kue untuk hidangan lebaran di meja tamu, dibanding membuat sendiri. Selain lebih praktis, juga malah lebih murah. Soal rasa memang sedikit berbeda, tapi tetep okelah. 

Suasana pasar, masih agak sepi karena saya datang sekitar jam 7 pagi

Lantai dua di Pasar Legi Parakan ditempati oleh pedagang sayuran, makanan kemasan, juga daging dan ikan. Pasar Legi Parakan kini juga diperluas hingga menjangkau bekas terminal kota Parakan, sekaligus menjadi pintu gerbang untuk keluar masuk bahan makanan basah yang dijual di lantai dua. 

pasarlegiparakan_rahayupawitri
Penunjuk arah kios/ los di Pasar Legi Parakan


Kue-kue ini biasanya untuk dijual kembali, jadi harganya murah banget.
Sebungkus kue paling banter Rp5rb - 6rb saja

Los daging masih sepi, belum masuk waktu prepegan soalnya

Oya, ada satu lagi yang baru, kini Parakan memiliki pusat kuliner malam. Pusat Kuliner ini menempati sisi sebelah timur Pasar Legi Parakan. Tak heran, kini kota Parakan menjadi lebih hidup di malam hari. Padahal beberapa tahun lalu, jam 7 malam di kota ini jalanan sudah sepi dan hanya ada satu dua mobil yang melintas. 

pasarlegiparakan_rahayupawitri
Kind of places you should drop by he he he

Dengan adanya pusat kuliner malam ini, bisa disebut tak ada lagi pedagang kaki lima di sekitar Pasar Legi Parakan. Para pengunjung di sana pun akan lebih mudah untuk memilih jenis makanan yang mereka inginkan. 

pasarlegiparakan_rahayupawitri
Soto, bakso, bubur kacang hijau, mie ayam, sate, tahu ketupat, ayo dipilih-dipilih


Sebagai warga Parakan, saya sangat menghargai adanya pembangunan Pasar Legi ini. Pemerintah kabupaten Temanggung sepertinya mempertimbangkan dengan matang pembangunan pasar ini. Dibanding mengijinkan pedagang besar untuk membangun Mall atau Pasar Swalayan Modern, membangun pasar tradisional yang setara dengan pasar modern, adalah lebih baik. Eksistensi pedagang kecil pun jadi terlindungi kan? 

Meski pasar tradisional, tapi toiletnya bersih lho. 


Apa saja bisa diperoleh di Pasar Legi lho; Sayuran segar, daging, ikan, dan kebutuhan pokok, hingga salaon untuk potong rambut pun ada. Yang nggak ada hanya satu, toko buku he he he. 

Kualitas barang yang dijual di Pasar Legi pun tidak kalah dibanding barang-barang yang dijual di toko atau swalayan lainnya. Saya sampai kalap lihat kacang kapri, brokoli, kembang kol apalagi wortel yang dijual disana. Kalau nggak dingatkan ibu dirumah tidak ada lemari pendingin, pasti dah borong deh. 

Pasar Legi Parakan juga sudah dilengkapi dengan ruang laktasi, mushola, bahkan ruang pertemuan pedagang. Komplit pokoknya.

Nah, bila kelak Sahabat melintas di kota Parakan, jangan lupa mampir di Pasar Legi Parakan. Sahabat bisa memperkenalkan konsep pasar tradisional pada anak-anak tanpa kawatir anak-anak menjadi jengah dan risih. Buat para ibu, hati-hati, jangan kalap belanja he he he. 

Oke, itu aja deh cerita oleh-oleh lebaran saya kali ini. Sampai ketemu di cerita jalan-jalan berikutnya. 


Please Meet One of my Blogging Friend, Rani R Tyas



By the time I started my blogging activity, my friend circle on Facebook is getting wider. But then the classic problem came up; I couldn’t differ some of them whose name are similar.

I have three friends whose name are very similar. There are Anggraini Rani Adityasari, Arinta Adiningtyas, and Rani R Tyas. Because of their similarity names, sometimes I write a comment on Anggraini Rani’s status with Arinta’s on my mind. More over when Mrs. Adiningtyas and R tyas appear on my wall at once; gosh... I have to be so careful so, I commented on the right person.

Fortunately, Mrs. Adiningtyas had come out as one of the winners "Arisan Link". Joined on this group, one must be write about the winner blog or profile. After writing about Mrs. Adiningtyas, finally I can differ the "Tyas" group by seeing their profile picture on Facebook. However the problem still remain when we’re having conversation on chat group. The "tyas-tyas" began to confuse me.

But problem, like the wise saying, always came up with a solution, One day I stopped by Mrs. R tyas’s blog, I found her blog’s tag was very unique, "Genggem Donya Langkung Seratan". I almost poke Mrs. Adiningtyas about her blog, because I remember that she lives in Central Java (happen to both of the "Tyas" live in Central Java). But soon I realize that I almost poke the wrong person when I saw Mrs. R tyas profile pic on twitter. Finally I can tell which Tyas who lives in Solo and Tyas who lives in Kudus.

About Coretan Ran,

There is a said says that we can see one personality or character by reading his writing. And I thought the said goes for Mrs. R tyas blog.

At first, I use a little formal language each time we’re having a chat. But then things goes differently after I dropped to her blog several times.

Mrs. R tyas blog is a lifestyle blog. She writes so many topic there. But she said that techno and blog/ apps is her favorite topic to write. At first, as many lifestyle blog, she wrote many things there. There is a post about the bitterness of singles, tips how to overcome a broken heart, and even a quiz to find out your love one.

However, it’s gradually changing, she began to use her blog professionally at 2015. Perhaps, she finally find out that one can monetize her blog or something.

I start following, and then come back to her blog often when she write her first impression of K-Drama, Descendants of the sun. She also wrote some others K-drama, which she ever seen.

Soon I can see her personality. In my opinion, Mrs. R tyas is typically a cheerful person. She loves to make a joke and have fun. However, It is just my opinion since I haven’t meet her personally.

Okay, it’s all about my blogging friend, Rani R tyas. You can see her at

Facebook: https://www.facebook.com/ranirtyas

Instagram: https://www.instagram.com/ranirtyas/

Twitter: https://twitter.com/ranirtyas

Jalan-Jalan dan Belajar di Situs Gondosuli, Temanggung

situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung


Hari ini iseng ngajak Hana jalan-jalan di lereng gunung Sumbing, Kecamatan Bulu, Temanggung.
Kebetulan dia juga sudah lama nanya tentang candi mlulu. Selain ingin menambah wawasan Hana, niatnya sih, test drive; pengen ngerti kuat nggak si Kimpuy tercinta ini diajak backpacker-an.

Situs Gondosuli tidaklah berbentuk candi. Hanya temuan dari reruntuhan candi yang kemudian dijadikan cagar budaya.

Belum begitu paham gimana cerita aslinya. Nanti kalau sudah ketemu nara sumber yang kompeten, saya update lagi deh. Sekarang nikmati dulu koleksi fotonya ya. Kalau pengen main kesini, sebaiknya datang pas pagi hari. Biar nggak panas gitu. Apalagi kalau bisa mendaki seputar waktu matahari terbit; wuah, view-nya cantik banget.

Deretan Merbabu, Merapi yang diselimuti kabut pagi hari, seolah gambaran lautan luas yang menajubkan.

Track ke Situs Gondosuli

Untuk menuju ke situs Gondosuli, kita cukup mendaki ke track gunung Sumbing, yang ada di sebelah RSK Ngesti Waluyo Parakan.

situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung
Cantik kan?

situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung
Lihat "lautan" kabut dan gunung di kejauhan itu

situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung
Abaikan gambar "ABG"-nya, nikmati saja background-nya :)

Masuk ke Gang ini nih, kalau mau ke situs Gondosuli

situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung

Situs Gondosuli


situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung
Reruntuhan Candi Gondosuli
situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung

situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung
Relief seperti ini biasanya ada di gerbang candi
situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung
Relief pada pagar Candi
situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung

Prasasti Candi Gondosuli

situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung

situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung

situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung
Kayak gini ni, tulisan Jawa Kuno


situsgondosuli_rahayupawitri_parakan_temanggung


Sampai jumpa di Hangout berikutnya, ya...