-->

Tentang Warung yang Buka di Saat Puasa ....

Pic. source: Pixabay.com


Kemarin di timeline facebook, mampir sebuah berita yang di bagikan oleh seorang teman, tentang seorang ibu yang menangis karena jualannya diangkut Satpol PP. Tidak karena ia berjualan di tempat yang tidak semestinya, tapi karena ia jualan di siang bolong di bulan Ramadhan.

Entah kenapa, sejak Ramadhan ini saya menyetujui pendapat bahwa warung-warung tidak perlu menggunakan penutup atau ekstrimnya tutup, saat siang hari di bulan Ramadhan.

Sejak sebelum Ramadhan kemarin saya mencoba puasa sunah, alasannya sederhana saja. Kemana-kemana saya harus ngonthel, termasuk nganter sekolah Hana yang jaraknya dari rumah sekitar 1 Km, Kondisi jalanan ke sekolah Hana itu tidaklah mulus bahkan cenderung menanjak. Jadi saya pikir, tidak ada salahnya latihan puasa, daripada pas Ramadhan saya harus batal karena nggak kuat ngonthel.

Nggak mudah, lho prens, ngothel di siang bolong di perumahan pinggiran bekasi. Panasnya .... Tapi saya harus tetap menahan diri agar nggak mbatalin puasa kan? Kan? Meski ibu-ibu disekolahan Hana minum jus, ngopi, atau cemilan lainnya. Menahan diri untuk tidak nyolek-nyolek es doger Hana sepulang sekolah, meski badan panas dan punggung basah keringatan.

Ibadah itu bukannya tentang diri saya, urusan saya? Mau apapun terjadi di sekitar saya, saya nggak boleh protes. Apa karena saya puasa jadi semua orang harus ngumpet saat makan? Enggak kan? Paling mereka bilang “Eh, maaf ya” dan meneruskan menyuap makanan di depan saya.

So, kalau warung musti tutup, ibu jualan makanan harus brenti jualan di siang bolong hanya karena Ramdhan; ehm ... Nggak salah tu?

Untuk yang di warung-warung franchise mungkin menahan diri untuk tidak jualan si ya, santai-santai saja, duitnya mungkin dah banyak, investasinya bergelatakkan dimana-mana. Tapi gimana dengan para ibu penjaja yang menggantungkan penghasilan dari jualan? Jangan-jangan mereka harus buka puasa dengan air putih doang karena nggak ada duit untuk beli makanan.

Bukan warung yang seharusnya dikendalikan, tapi diri kita yang seharusnya mampu menahan diri. Apa beda puasa sunah dan puasa Ramadhan, hanya hukumnya saja kan? Intinya tetap latihan menahan diri.

Kalo saya sampai melambatkan sholat hanya karena teman update status pas adzan dan saya kegatelan komen; apa itu jadi salah teman saya? Enggak kan? Saya aja yang nggak bisa nahan diri.

Bukannya kalau anak-anak kita tanya mengapa kita harus puasa kita menjawab “Agar kita bisa merasakan yang keadaan dan perasaan mereka yang tidak bisa makan”?

Nah, kondisi “mereka” itukan memang “disekitar ada makanan, tapi mereka nggak bisa makan” to?

Lha kalau kita puasa dan meminta orang lain menyesuaikan diri dengan puasa kita; apa nggak aneh tu? Apa iya kita jadi bisa merasakan kondisi mereka yang sebenarnya?

Jadi kalau ada warung suka rela tutup, pasang korden, karena kita puasa; biarlah itu menjadi kebaikan mereka. Kita doakan semoga dagangan mereka laris dan berkah. Tapi kalau mereka nggak mau, ya sudah. Puasa ini puasa kita, urusan kita sama yang Kuasa. Ada atau tidak ada warung buka, kita tetap bisa dan harus puasa. Dah, ah! Mau ke pasar dulu.

Update: jam 13.00

Selain menulis disini, saya juga membuat status di facebook yang intinya sama dengan yang saya tulis di atas.

Tapi ada salah satu kawan yang komen, karena menjual makanan kepada muslim yang tidak berpuasa di siang hari (belum mendekati buka puasa) itu tidak boleh. Harus ada alasan Syar'i, dan tidak boleh makan di tempat, baru pesanan orang tersebut boleh dilayani.

Penasaran, saya tanya karib yang lebih paham, apakah benar demikian? Sambil nunggu jawaban, saya mencari di google. Ada beberapa sumber, tapi saya lebih paham membaca tulisan dari konsultasisyariah.com (https://konsultasisyariah.com/24992-hukum-buka-warung-di-siang-ramadhan.html) diunggah tanggal 11 Juni 2015.

Disana disebutkan bahwa para ulama telah berfatwa agar warung-warung makan tutup di siang hari. Silahkan baca sendiri ya, pada link-nya. Saya tidak bisa merangkumnya disini, takut salah.

Setelah membaca tulisan tersebut, menurut saya tidak mengapa satpol PP merazia, tapi tanyakan dulu apa sudah paham dengan hukum dari Tuhannya, bahwa apa yang pedagang makanan lakukan tersebut berarti membantu bermaksiat pada Allah? Apa sudah ditanya pembelinya, apakah tidak puasa karena alasan sesuai syar'i? dsb, dsb.

Jika ia tetap bandel, mangga jika dagangannya diambil sambil disebutkan bahwa yang petugas lakukan adalah mencegah pedagang berbuat maksiyat. Disebutkan juga bila dagangan bisa diambil kembali sore harinya. Jadi, ujungnya bukanlah tentang "karena undang-undang" tapi" Amar Ma'ruf Nahi Mungkar".

13 komentar

  1. Nah ini dia...
    Saya setuju dengan ulasan mba Rahayu...
    Namun bukan berarti saya ga setuju dengan kebebasan menjual makanan matang maupun mengonsumsinya secara terang-terangan di bulan Ramadhan.

    Dalam satu sisi memang benar, semua tergantung pada niatnya...
    Namun,,,itu berlaku bagi orang Islam yang sudah baligh...
    Lalu bagaimana dengan nasib anak kecil yang sedang latihan puasa????

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya mengambil contoh pada anak saya sendiri dan juga teman-temannya di sekitar sini ya, mas. Kalo saya mereka itu malah kadang lebih lurus lho dibanding kita yang sudah besar ini.
      Beberapa teman anak saya tidak puasa, yang puasa nggak masalah tu ada yang makan, toh banyak dedek bayi yang ngemil juga kan? teman non muslimnya juga banyak, dan anak-anak yg puasa juga nggak tergoda kok.
      Saya tidak tahu kalau ditempat lain, tapi Alhamdulillah kalau disekitar rumah saya seperti itu.
      Oya, terima kasih sudah mampir

      Hapus
    2. Ya lingkungan mba Rahayu berarti bagus tuh tuk masa depan anak-anak.

      He he, namun pada umumnya di lingkungan lain,,anak kecil ya ngiler ah kalau liat ada temannya lagi makan,,,apalagi jika mereka melihat orang dewasa yang sedang makan.

      Hmm, awal saya melatih anak tuk berpuasa juga cukup perjuangan mba. Di mana waktu itu, anak saya melihat adiknya yang tengah makan saja,,, malah pengin ikut makan.

      Hapus
  2. Seharusnya pemerintah mensosialisasikan perda tersebut jauh jauh hari sebelum ramadhan sehigga mereka tahu kalau masih bandel baru ditindak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, pak Dwi. Mungkin ada prosedur yang terlewat, jadi rame deh

      Hapus
  3. Suka tulisannya mbak. Buat saya pribadi juga itu kembali ke pribadi masing masing, tanyakan niatnya. Yang tidak puasa bukan hanya yang non muslim tapi bisa jadi anak kecil, ibu hamil, sakit, orang tua, dll. Saling tahu diri saja. Disini tentu saja gak ada toko/resto yang tutup karena bulan Ramadhan, godaannya lebih banyak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he he, larangan itu memang hanya berlaku di mayoritas negara muslim mbak (indonesia maksudnya, entah kalau negara lain). Kabarnya di eropa malah sampe lebih deari 12 jam ya, mbak? Wah, dobel tantangan tu :)

      Hapus
  4. Berjualan itu hukumnya mubah. Boleh-boleh saja. Selama yang dijual barang yang bermanfaat.
    Termasuk, tidak ada larangan berjualan makanan di bulan ramadhan.

    Saya setuju ulasan mbak Wiwit, bila pedagang memilih libur atau menutup warungnya dengan kain itu menjadi kebaikan bagi dirinya sendiri karena diniatkan untuk menghormati bulan penuh berkah ini.

    Jadi sangat disayangkan tindakan satpol pp atau ormas yang mengobrak-abrik warung makan (kalo yg dihancurkan miras ya saya dukung, hehehe)

    Tindakan semena-mena ini tidak membawa kebaikan bagi umat hanya menimbulkan imej jelek.

    Akan lebih baik bila semua aturan disosialisasikan dan diberi solusi yang melegakan semua pihak.

    Nice share mbak Wit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Za, syukurlah jika memang hukumnya mubah. Aku kawatir aja orang salah persepsi, dan hanya menyalahkan yg lain karena toleransi. Buatku ini bukan sekedar toleransi si.

      Hapus
  5. Merujuk pada kasus di Serang itu, yang saya sesalkan sebenarnya bukan tentang hukum atau tindakan yang dilakukan petugas (itu mah tentang kebijakan, biarlah mereka yg ngurus, kita hanya bisa menilai). Tapi saya sangat kecewa dengan CARA yang dilakukan petugas. Terkesan kasar dan gak sopan, pendapat saya. Si Ibu kan sudah tua, harusnya mereka lebih menghormati dan menunjukkan sedikit sopan santun. Ini mah malah dibentak2, udah gitu keroyokan lagi razianya.

    Ironis. Terkadang 'tugas' dan 'kewajiban' bisa membuat kita lupa dengan 'attitude'.

    Anyway, nice post, mbak. Hehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga ga tega ngliatnya. Kita ini kan bangsa Indonesia, masak harus sampe dengan emosi gitu.

      Oya, terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  6. Bener banget mba memang selalu saja ada oknum tertentu yang membuka warung di siang bolong saat bulan puasa. Ehh tapi sih kalau di lirik sedikit warung tersebut seperti tutup dan ada papan tanda tutup tapi kalau di lihat lebih jelas apalagi sampai masuk ke dalam sungguh miris warung tersebut buka dan menyediakan berbagai macam masakan dan lebih miris nya lagi ada pula yang makan di tempat tersebut
    Untung saja permasalahan itu kemarin di tangkas rajia satpol PP . tapi saya yakin masih ada warung-warung seperti itu yang belum saya tahu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seingat saya, dari dulu budayanya memang seperti itu mas. Dimana-mana ya, seperti itu, tapi kalau sampai ada penyitaan dagangan kok baru dengar ya. Atau dulu mungkin ada tapi saya tidak tahu.
      Kalau saya si, lebih suka ditegur dan diperingatkan saja, seperti di tulisan di atas, amar ma'ruf nahi mungkar.

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan komentar pada pertanyaan atau hubungi WA 08131 2658 622 untuk kerjasama dan diskusi.