-->

Tepat Memilih Baby Carrier, Bayi pun Aman dan Nyaman dalam Gendongan


rahayupawitri


Asslamualaikum, selamat sore Sahabat,

Ngobrolin tentang ibu baru lagi yuk. Saya ada cerita ni saat saya menjadi ibu baru.

Suatu sore, rumah kami kedatangan pengurus arisan RT, Beliau menanyakan mengapa ibu saya tidak pernah terlihat datang ke arisan. Ya, memang sejak Hana lahir ibu memang mundur sejenak dari aktivitas rutinnya selama ini. Pengajian senin, minggu pagi, sampai arisan RT dan RW pun tidak lagi Belaiu hadiri. Alasanny sederhana, karena saya belum bisa mengurus dan memandikan si kecil Hana. He he he

Sebagai anak tunggal, tentu saja saya belum pernah mengasuh seorang adik, apalagi memandikan dan menggendong bayi. Karena itulah ketika Hana lahir, saya kalang kabut setengah mati. Oke, semua teori memang sudah di kepala, hapal malah, tapi prakteknya .... Sudahlah, malu ceritanya.

Wajar, jika Hana tak pernah bisa tahan lama bila saya gendong. Kalaulah menangis karena ingin di gendong, maka tangisnya tak akan kunjung berhenti. Beda ketika badannya merasakan tangan ibu saya, tangisnya pun langsung berhenti, dan dia meringkuk nyaman di bawah ketiak ibu saya. Ah, ... emak mana yang nggak akan iri coba?

Menggendong bayi baru lahir memang bisa menakutkan bagi ibu baru; kawatir gendongan kita malah membuatnya terkilir, jatuh, dan lain sebaginya.

Stoller memang bisa menjadi pilihan, tapi stoller sendiri tak selamanya nyaman untuk bayi. Bahkan, seperti di kutip dari situs boba.com, membiarkan bayi pada stoller terlalu lama, bisa mengganggu pertumbuhan kepala dan tulang belakangnya. Selain itu stoller juga bisa mengurangi bonding antara ibu dan anak.

Karena itulah, trend menggendong bayi kini kembali banyak disarankan oleh para ahli sebagai salah satu cara untuk mempererat ikatan orangtua dan anak.

Memilih gendongan bayi yang tepat untuk ibu dan anak

Bayi sesungguhnya sangat menyukai lingkungan seperti saat ia di perut ibunya, mendengar detak jantung ibu, merasakan kehangatan kulit dan juga bau ibu. Dan menggendong bayi, dianggap salah satu cara untuk memberi kenyamanan pada bayi.

Tapi kemudian masalah lain muncul. Keluhan sakit pinggang pada ibu, pegal-pegal di tangan, hingga canggungnya ibu baru menggendong bayi mulai menjadi daftar mengapa ibu terkadang enggan menggendong bayinya yang baru lahir.

Masalah diatas sebetulnya bisa diatasi dengan memilih gendongan yang lebih praktis, dan membagi beban ibu ke seluruh tubuh, dan tentu saja membuat bayi nyaman dalam dekapan ibu.

Misalkan dengan memilih gendongan model backpack, yang akan membantu membagi beban ibu tidak hanya dipinggang dan salah satu pundak, tapi merata di kedua pundak.

Sayangnya, model seperti ini membuat berat bayi bertumpu di selangkangan bayi. Tentu saja selain tidak nyaman, menggendong bayi dengan cara ini akan meningkatkan potensi Hip Dysplasia (dislokasi panggul) pada anak. Aturan tepat memilih baby carrier atau gendongan bayi, haruslah nyaman dan memberikan topangan baik untuk anak.

i-Angel, gendongan bayi aman dan nyaman untuk ibu dan bayi

Oya, saat kemarin kenalan uPang Sterilizer, Balitakita juga mengenalkan i-Angel sebagai alternatif gendongan bayi.

Uniknya, i-Angel ini dilengkapi dengan dudukan bayi, sehingga saat digendong, bayi tidak dalam posisi digantung, tetapi selayak duduk di pangku orangtua atau di tempat mainnya.

Dudukan bayi pada i-Angel yang membuat bayi aman dan nyaman saat digendong

Meskipun menggendong dalam posisi duduk, tidak berarti bayi baru lahir tidak bisa memakainya. Bahkan dengan i-Angel membantu ibu baru untuk lebih percaya diri saat menggendong bayi. 

rahayupawitri
Cara menggendong bayi baru lahir dengan i-Angel

Dengan i-Angel, beban ibu saat menggendong bayi akan terbagi rata, antara dua pundak juga pinggang. Hal ini akan menghindarkan ibu dari sakit di bagian pundak, pinggang atau punggung, meski si kecil beratnya sudah mencapai 20kg (i-Angel bisa digunakan dari usia 0-3 tahun, dengan perkiraan berat bayi 0-20 kg). 

rahayupawitri
Aneka gaya menggendong dengan i-Angel

Karena penggunaanya yang mudah, siapa saja bisa menggunakan i-Angel ini tanpa takut bayi akan merasa tidak nyaman. Model i-Angel yang seperti backpack pun tidak akan ibu atau ayah mati gaya.

Saya jadi berandai-andai ni, seandainya i-Angel ada dari jaman Hana kecil dulu, mungkin ibu saya nggak perlu lagi merasa galau meninggalkan saya dan Hana sendirian. Hmm ... beruntunglah mahmud-mahmud jaman sekarang, segala sesuatu tersedia dengan lebih mudah; daftar perlengkapan bayi wajib seperti sterilizer dan gendongan kini tersedia dengan ragam pilihan dan hadir dengan teknologi yang lebih disempurnakan. 

Jadi, bila saat ini Sahabat sedang mencari baby carrier atau gendongan bayi, meluncur saja ke Blibli, karena seperti uPang, i-Angel ini sedang launching dengan motif baru di situs e-commerce ini. 

Semoga info diatas bermanfaat ya, ....

Wassalamualaikum. 


Pentingnya Komentar Blog di Moderasi


Assalamualaikum,

Beberapa waktu lalu saya pernah membuat post, tentang perlu tidaknya komentar di moderasi. Pngunjung yang berkomentar si, menyarankan agar tidak perlu di moderasi karena pengunjung bisa lebih nyaman.

Tapi jawaban lebih pasti, saya peroleh saat mengikuti Fun Blogging ke sebelas kemarin.

Jadi ni, waktu itu pas sesi mbak Shinta Ries, Beliau cerita bahwa beberapa bulan yang lalu (sayang nggak dijelasin tepatnya kapan), dunia per-bloggeran heboh. Pasalnya hari itu banyak DA yang turun drastis bersamaan.

Usut punya usut (jangan tanya gimana ngusutnya), ternyata ada yang komen SPAM pada salah satu blog post. Dan karena kebetulan blog tersebut terkoneksi dengan banyak blog lainnya, maka berjamaahlah DA mereka turun. How come? Hmmm ... terus terang saya belum ngerti. Belum sempet nyari juga alasannya.

Oke deh, back to the topik ...

Jadi, itulah mengapa mbak Shinta Ries sangat menyarankan agar komentar blog di moderasi saja. Karena bial ada SPAM kan langsung bisa dihapus. Waktu itu juga pernah iseng nyari saran dari blogger luar negeri, dan ya, emang si, sebaiknya komentar di moderasi dulu. Karena komentar pada blog post juga bisa mempengaruhi branding si empunya, jadi bisa dipilih-pilih, mana yang hendak ditampilkan dan mana yang tidak.

So, maaf ya, jika beberapa kali berkunjung pada blog ini dan berkomentar, ternyata komentar kembali lagi masuk moderasi. Dah, gitu aja sekilas berita sore ini.

Wassalamualaikum.

Ketika Tanggal Tua Bikin Takut Buka Dompet ....


Tengah bulan lewat satu hari ... 😁

Kamu tahu nggak Sahabat, kalo ada hari libur yang paling nggak disukai banyak orang? Hari libur di tanggal tua. Pasalnya tanggal tua seringkali membuat kita nggak bisa ngapai-ngapain. Mau keluar dompet sudah tipis, di rumah seringkali malah BT, wah kacau deh!

Kalau buat saya pribadi, tanggal tua juga sering bikin keder; bikin takut buka dompet!

Nggak tahu kenapa, setiap minggu-minggu terakhir tu, biasanya minyak goreng habis, air 2 galon kosong, beras tinggal 1 liter, dan toiletris menipis, dan ... kulkas pun kosong melompong, cuma isi sayur mentah buat esok hari.

Di bulan berikutnya, saya mencoba untuk belanja kebutuhan bulanan di minggu kedua. Pikir saya, agar bahan-bahan pokok diatas nggak perlu re-stok lagi saat hari-hari terakhir bulan berjalan.

Tapi entah, saya yang salah hitung atau bagaimana, tetep saja kalo nggak air galon dan gas habis barengan, kuota inet habis atau malah toiletris menipis satu persatu. Memang bisa beli ngecer si, tapi setelah dihitung-hitung tetep saja harganya tidak akan jauh berbeda.

Lebih baper lagi kalau tiba-tiba ada notif “You are inviteed to a blogger gathering.” Halah! Apalagi kalau topik event-nya tentang parenting dan pendidikan anak; pasti langsung galau tingkat dewa.

4 trik agar tak kawatir di tanggal tua

Manusia memang dilahirkan untuk beradaptasi; mencari solusi dari setiap masalah yang sedang dihadapi. Jadi, wajib juga dong, saya cari solusi bagaimana menghadapi masalah tangga; tua ini.

Sebagai istri, ibu, dan Bloger yang bertanggung jawab merawat blog (eh, apa hubunganya ya?), saya berusaha untuk mencari solusi dari kekacauan pengeluaran saya.

#1. Menggunakan aplikasi money management untuk mengatur keuangan

Ceritanya waktu itu dapat order nulis konten keuangan dengan tema bagaimana mengatur keuangan dengan mudah.

Ya, urusan atur-mengatur isi dompet dan ATM ini memang paling menyebalkan sebetulnya. Tapi justru harus dilakukan karena disitu kunci dari teraturnya pengeluaran bukan?

Nah, kendala mengatur keuangan biasanya terjadi karena malas mencatat. Alasannya biasanya ribet, musti bolak-balik buka buku atau notes yang mungkin jumlahnya ada beberapa buah. Jadi, saya berpikir jika ingin mengatur uang dengan mudah, maka musti ada satu aplikasi yang bisa mencover semua kebutuhan pencatatan.

Di jaman ini sangat wajar bila sebuah rumah tangga memiliki beberapa pos pemasukan; jadi menurut saya alangkah mudahnya bila ada cara untuk mencatat pemasukan sekaligus pengeluaran meski dengan kategori yang berbeda-beda.


rahayupawitri


Setelah mencoba beberapa aplikasi di Play Store, akhirnya pilihan saya jatuh pada aplikasi Expense Manager. Alasannya sederhana saja sih, mudah digunakan dan setiap pengeluaran-pemasukan juga mudah dipisahkan. Plus, bisa di download dan di convert ke bentuk spread sheet jadi mudah untuk dibukukan.

Hari gini, sudah hal yang wajar jika kita tidak bisa pisah dari gadget kan? Jadi, sementara update status, juga bisa update catatan keuangan, simpel dan praktis.

#2. Memilih belanja online

Saya ni, tipe orang yang mudah lapar mata. Masuk ke mini market pengen beli kopi, bisa jadi melebar shampo, cemilan, sampai stationery lucu atau tabloid. Apalagi kalau sedang ada promo dan diskon.

Jadi daripada lapar mata, saya memilih untuk belanja online saja. Selain hemat waktu, juga nggak tergoda dengan barang-barang yang sebenarnya tidak saya butuhkan.

Belanja online juga ada keuntungannya lho. Apalagi kalau kita belanja di e-commerce besar. Kita bisa membandingkan beberapa harga dari sebuah produk. Belum lagi adanya event-event diskon harian yang biasanya di tawarkan.

Selain menahan godaan belanja yang tidak perlu, belanja online memudahkan kita membandingkan harga
Agar lebih efektif dan nggak ketinggalan event diskon, saya biasanya langganan newsletter dari e-commerce langganan. Nggak lupa pasang aplikasinya juga di smartphone, jadi saat butuh barang tinggak klik, klik, barang pun diantar sampai depan pintu.

Keuntungan lain dari belanja online adalah kita bisa memanfaatkan tambahan diskon dari situs penyedia kupon diskon. Nah, jadi dobel kan hematnya?


#3. Pisahkan budget tabungan dan manfaatkan uang elektronik

Sering nggak sih, tergoda pakai budget tabungan atau dana cadangan untuk belanja? Kalau saya sih sering. Tapi setelah agak sadar dan melek sedikit dengan teori-teori keuangan, saya memilih untuk memanfaatkan maksimal uang elektronik, guna mengerem hobi belanja saya yang kadang keblabasan.

Untuk itulah, saat terima gaji, biasanya saya langsung potong 10-20% untuk tabungan. Kebetulan gaji saya ditransfer via Paypal, jadi lebih mudah bagi saya untuk menyisihkan budget yang satu ini, tanpa tergoda untuk ngotak-atik isinya lagi (biaya narik ke Indonesia mahal atuh prens).

Budget untuk jalan-jalan ke event blogger saya masukkan sebagian ke uang elektronik. Sementara budget untuk belanja online, saya pisahkan pada rekening yang ada fasilitas internet banking-nya.

Dengan cara ini, saya akan bisa menahan diri untuk tidak menambah belanjaan macam-macam. Kalau sampai kebablasan, mau nggak mau saya harus transfer via bank kan? Padahal saya paling malas kalau harus ke bank. Bisa-bisa biaya ke bank malah lebih mahal dari jumlah transferannya. Maklum emak, pergi kemana-mana pasti bawa buntut. Jadi ongkos transport pasti dobel kan? Belum kalau anak lapar, minta jajan di jalan. Wah, wassalam deh semua lembaran warna merah dan biru di dompet.

#4. Cari tambahan pemasukan

Istilah tanggal tua - tanggal muda, hanya muncul dari mereka yang frekuensi penghasilannya hanya 1x setiap bulan, Safir Senduk 
Yah begitulah. cara terakhir saya menyiasati agar tak takut buka dompet di tanggal tua, hunting job tambahan.

Jadi, kalau pas dapat biasanya saya masukin ke pos dana cadangan. Tahu sendirilah, saat ini harga barang-barang seringkali naik (dan lupa turun). Gula yang biasanya sekilo Rp13rb aja, sekarang sudah sampai Rp16rb. Kalau nggak ada stok cadangan, bisa-bisa nggak bayaran sekolah deh.

Nah, itulah cara saya agar tak takut buka dompet lagi di tanggal tua. Bagi saya, masalah keuangan tidak hanya masalah hidup dan bertahan di hari ini; tapi juga tanggung jawab saya sebagai istri. 

Bukankah bagaimana istri mengelola keuangan keluarga juga akan diperhitungkan kelak di hari akhir?

Jadi, menurut saya, masalah menyiasati tanggal tua, tidak hanya masalah agar nyaman dan tenang di tanggal tua, tapi juga masalah amalan yang kelak harus dipertanggung jawabkan.


Mencari Alternatif Alat Sterilizer yang Tepat dan Aman untuk Perlengkapan Bayi

rahayupawitri

Assalamualaikum,

Siang itu saya memandangi Hana (saat itu berusia 6 bulan) dengan rasa ngeri-ngeri sedap. Bagaimana tidak, tangan mungilnya dengan sigap memasukkan teether ke mulut mungilnya. Padahal teether tersebut baru saja ia pukul-pukulkan di karpet mainannya. Karpet yang juga menjadi tempat kami nonton TV.

Otomatis, pikiran saya langsung membayangkan puluhan bakteri batang yang meluncur masuk ke dalam saluran pencernaannya.

Yah begitulah saya dulu; sebagai ibu baru, mudah sekali parno dengan banyak hal. Apalagi sebagai mantan analis mikro, saya paham bener bagaimana potensi kontaminasi pada pelbagai peralatan dan perlengkapan bayi di rumah-rumah orang Indonesia.

Benar, banyak yang berkata bahwa perut orang Indonesia masih kuat makan makanan yang mengandung 500.000 koloni bakteri. Tapi ini kan perut bayi, yang sistem pencernaan dan daya tahan tubuhnya masih belum sempurna. Tentu saja tidak akan sekuat orang dewasa bukan?

Wajar, jika ibu baru seringkali merasa galau saat merawat aneka peralatan dan kebutuhan bayi. Dan wajar juga jika alat sterilisasi, kemudian masuk sebagai daftar daftar wajib beli bagi banyak ibu baru.

Sayangnya, meskipun alat sterilisasi sudah ada di tangan, kekawatiran ibu biasanya tidak begitu saja hilang. Karena alat sterilisasi yang ada di pasaran atau metode sterilisasi konvensional, biasanya hanya berfungsi untuk mensterilkan botol susu saja. Lalu bagaimana kabar mainannya, soft book-nya, teethernya, atau peralatan yang biasa dipakai untuk menyiapkan MPASI?

Jadi sterilizer seperti apa yang sebenarnya kita butuhkan?

Cara umum yang dipilih untuk mengurangi (jika boleh disebut menghilangkan) bakteri pada peralatan atau perlengkapan bayi, biasanya dengan cara mencuci dan kemudian merebus atau menyiramkan air panas.

Pada saat itu, bakteri memang akan jauh berkurang, namun tidak mungkin bukan, bila kita menggunakan botol basah dan panas untuk menampung ASI, membuat susu formula, atau memberikan MPASI?

Karena itu biasanya kita akan mengeringkannya terlebih dahulu dalam wadah tertentu. Atau kadang meniriskannya di rak piring dapur, dengan anggapan bahwa botol dan perlatan tersebut telah steril.

Tanpa kita sadari, cara seperti ini justru akan membuat botol dan peralatan bayi kembali terkontaminasi.

Masalah lain juga bisa timbul saat kita memilih metode sterilisasi konvesional ini.

Peralatan bayi, umumnya terbuat dari plastik. Sayangnya, ketika terpapar suhu tinggi dan dalam waktu yang lama, plastik bisa terurai atau meleleh dan mengeluarkan bahan kimia yang mungkin berbahaya untuk bayi.

Memang betul saat ini banyak botol dan peralatan bayi yang dibuat dari bahan plastik yang aman, seperti BPA free. Tapi coba tengok dapur masing-masing, betul tidak semua peralatan si kecil sudah BPA free? Kalau saya ngaku aja, belum. Habisnya, dulu dapat kado dari tetangga set peralatan makan bayi lucu, sayang kan kalo nggak dipakai? He he he.

Jadi, jika mungkin, akan lebih baik bila kita mencoba mencari metode sterilizer yang aman untuk bayi. Sukur-sukur sih, bisa juga untuk dipakai sterilisasi perlatan bayi yang lain. Namanya juga pencegahan, selama masih mungkin bisa dibersihkan, ya lebih baik bersih dan steril bukan?

uPang alternatif sterilizer aman untuk peralatan dan perlengkapan bayi

rahayupawitri
Launching uPang Sterilizer Deep Pink

Saat kemarin ikut acara Fun Blogging di kantor Blibli,  kami diperkenalkan dengan sebuah sterilizer bernama uPang.

uPang merupakan alat sterilisasi kering dan menggunakan metode sinar UV (Waterless UV Sterilizer).

Sterilisasi kering artinya alat ini tidak membutuhkan air.  Sebagai gantinya, uPang menggunakan kombinasi sinar infrared pada suhu 40 dan sinar UV untuk mengurangi jumlah bakteri pada peralatan dan perlengkapan bayi hingga 99,9%.

Apakah mungkin suhu 40 bisa mengurangi jumlah bakteri hingga 99,9%?

Tentu saja mungkin. Sinar UV mampu mengubah susunan DNA dari bakteri patogen, sehingga bakteri tidak akan aktif untuk menyebarkan penyakit (rpi.com, tanggal akses 19 Mei 2016). 

uPang telah mendapat sertifikasi dari FDA dan 6 badan kesehatan dunia (termasuk Jepang) akan keamanan dan keefektifannya.

Sterilizer ini bekerja dalam 2 tahap, yaitu tahap pengeringan dengan sinar infra red selama 30 menit. Dan setelah itu uPang akan otomatis beralih ke metode sterilisasi sinar UV selama 10 menit.

Kelebihan uPang sterilizer

Karena waterless (tidak memerlukan air), uPang juga bisa digunakan untuk sterilisasi peralatan atau perlengkapan bayi yang lain seperti mainan, teether, empeng bayi, sikat gigi dan lain sebaginya. Bahkan uPang juga bisa digunakan untuk mensterilisasi handphone, buku, dan peralatan make up.

Kelebihan lain dari uPang adalah kepraktisan dan kemudahannya untuk digunakan. Saat butuh botol susu steril, ibu cukup mencuci botol seperti biasa, tiriskan, dan masukkan ke uPang.

Dengan uPang, ibu juga bisa mensteril beberapa botol sekaligus (muat hingga 16 botol). Jadi, ibu tidak perlu bolak-balik mencuci dan mensteril botol atau perlengkapan si kecil bukan?

Sterilizer identik dengan daya listrik besar. Tapi berbeda dengan uPang, daya listrik yang dibutuhkan hanya 35 watt. Jadi, meski dipakai berkali-kali, ibu tak perlu kawatir biaya listrik akan membengkak atau musti bolak-balik beli token listrik.

rahayupawitri


Di Indonesia, uPang di distribusikan oleh Balitakita.com dan untuk model terbarunya, uPang Deep Pink, baru dilaunching khusus selama satu bulan di Blibli.com, salah satu situs belanja perlengkapan bayi online yang lengkap dan banyak pilihannya (koleksinya sampai 2444 produk lho).

Jadi, bila saat ini ada sahabat yang sedang mencari perlengkapan bayi untuk kado atau malah untuk si kecil yang baru lahir, tidak ada salahnya uPang sebagai bahan pertimbangan. Karena uPang tidak hanya bisa dipakai saat si kecil bayi kan, sampai anak balita pun uPang masih terus bisa digunakan. Yah, hitung-hitung investasi jangka panjang for a better life kan?

Semoga ulasan diatas bermanfaat ya, Wassalamualaikum. 


Rian Luthfi, Momy Blogger dengan Taste Twenties

RahayuPawitri
Pic. Source: SuperDuperLebay

Siang ini, siang yang enggak banget buat saya. Udah niat pengen ngebut tulisan, eh malah kuota modem habis; pengen keluar beli, tapi panas Bekasi sungguh-sungguh tak bersahabat.

Padahal sudah janji ngulas blog mbak Rian Luthfi, salah satu pemenang arisan link di grup Blogger Perempuan bulan ini.

Pilihan cuma satu, nulis dan ngulik blog mbak Rian dari Hp. Harap-harap cemas, secara hp saya ni sudah mulai lelet dan sulit untuk diajak kerja sama.

Syukurlah, blog mbak Rian ternyata mobile friendly banget, saya bisa asik menelusuri blog Beliau dengan mudah. Melompat dari satu post ke post lainnya.

Rasa BT saya siang itu menjadi lumer karena post mbak Rian yang ringan dan renyah membuat saya nggak bisa menahan senyum.

Begitulah, saya seolah tidak sedang membaca tulisan seorang Momy blogger, tapi Twenties Blogger.

Hampir disetiap post mbak Rian tak lupa menambahkan-menambahkan bumbu-bumbu segar yang membuat saya merasa baca blog anak usai 20-an. (Eh, tapi jangan-jangan Beliau-nya memang masih usia 20-an, ya? He he he, ntar tanya ah, kalo lagi WA-an).

Bumbu-bumbu tadi memang kadang membuat topik jadi melebar, tapi mbak Rian tetep piawai membawa kembali pembaca ke topik asal.

Saya jadi bayangin (maklum belum pernah kopdar ni) kalo mbak Rian adalah sosok yang rame, tipikal hang out (secara doi hobi mlalak ke gunung gitu), dan penuh semangat

Coba saja lihat tag name blog-nya; Kompor Mledug; Just Adding Fuel to the Fire ... (nah, makanya mbledhug ).

Menambahkan bumbu-bumbu pada setiap post kita memang mengasyikkan, tidak hanya bagi pembaca namun juga bisa sebagai sarana penulis untuk melepaskan “beban-beban saat menulis” (musti harus bermanfaat, musti runut, dan “musti-musti” yang lain). Interaksi dari post semacam ini biasanya juga seru.

Tapi jika tidak hati-hati, “bumbu-bumbu” tersebut malah menjebak kita lari dari topik dan tidak fokus pada apa yang sedang dibicarakan. Nggak papa sih, kalo memang belum niat prof di blog; tapi kata mbak Haya di Fun Blogging kemarin, bisa membingungkan calon klien.

Tapi, kalo Sahabat merasa gaya mbak Rian tu “gue banget” dan pengen niru, rajin-rajinlah berlatih. Jika perlu colek mbak Rian untuk jadi mentor (tapi kalo mbak Rian mau he he he).

Cara lainnya;, rajin-rajin aja berkunjung ke Kompor Mbledug, dan belajar dari tulisan-tulisan mbak Rian, bagaimana mengolah tulisan menjadi krispi tanpa menjadi skripsi *eh...

Udah ah, udah dulu, saya mah bukan ahlinya kalo disuruh nambahin bumbu-bumbu gini. Ntar malah jadi melebar kemana-mana. Salam ....

Ingin Mengoptimalkan Prestasi Anak di Masa Depan? Pilihlah Alur Pendidikan yang Mengembangkan Bakat dan Minatnya

Sampoernaschoolsystem_steamkurikulum_pendidikananak_prestasianak

Aku mau jadi penemu. Aku mau bikin robot Appo untuk bantu kerja ibu.

Itulah impian Hana yang sering ia ceritakan kepada saya, atau siapa saja yang bertanya kepadanya tentang cita-citanya.

Bermula dari ketertarikannya pada robot juga buku “Kartun Kimia” koleksi saya, ia mulai memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penemu.

Bicara dengan Hana, sama arti bicara berdasarkan logika; menjelaskan apapun harus dengan logika, jika perlu malah menunjukkan fakta ilmiah.

Akan lebih mudah bagi saya melarangnya jajan makanan sembarang tempat dengan menunjukkan bentuk bakteri dan akibatnya ketika masuk ke tubuh, dibanding ngotot berkata “Itu bukan makanan sehat.”

Fakta alam semesta seperti bagaimana bumi berputar, mengapa ada siang-malam, bagaimana tanaman tumbuh atau cara hidup hewan adalah beberapa topik favoritnya.

Karena itulah ketika ia menceritakan cita-citanya, saya pun menyetujuinya. Sebisa mungkin saya mendukungnya dengan memberikan buku-buku fakta alam semesta,bahasan sains yang dikemas dalam bentuk dongeng, atau malah belajar mengamati tumbuhan dan hewan di belakang rumah.

Saya sadar apa yang saya lakukan baru sampai tahap memupuk cita-citanya; namun belum sampai pada tahap bagaimana cara meraih cita-cita yang Hana impikan.

Saya ingin Hana meraih cita-citanya sedini mungkin. Bukan, ini bukan sebuah ambisi karena nilai uang, prestis, atau semacamnya; tapi menurut saya, bila ia berkesempatan mewujudkan satu impiannya di usia yang muda, akan masih banyak kesempatan baginya untuk mewujudkan impian-impiannya yang lain.

Untuk itulah, ketika KEB diundang oleh Sampoerna Academy pada talk show “Memahami Pentingnya Alur Pendidikan yang Tepat untuk Mengoptimalkan Prestasi Anak di Masa Depan” saya pun langsung mendaftarkan diri.

Pentingnya memilih alur pendidikan yang tepat untuk masa depan anak

Sampoernaschoolsystem_steamkurikulum_pendidikananak_prestasianak

Ada dua nara sumber dalam talk show yang digelar pada 1 Maret 2016 kemarin; psikolog Ratih Ibrahim dan Dr. Marshall E. Schott, seorang ahli di bidang edukasi STEM.

Menurut psikolog Ratih Ibrahim, idealnya pendidikan anak direncanakan sejak dini, bahkan sejak merencanakan untuk berkeluarga. Dengan merencanakan sejak dini, orangtua akan lebih mudah menentukan pola pengasuhan yang ingin mereka terapkan, apa saja yang akan dilakukan untuk mendorong anak menuju cita-citanya, dan yang tak kalah pentingnya; bagaimana mempersiapkan biaya untuk pendidikan mereka kelak.

Masih menurut Ratih Ibrahim, ada banyak faktor yang harus orangtua pertimbangkan saat merencanakan pendidikan anak, salah satunya adalah memilih pendidikan berkualitas yang mampu mengakomodasi kemampuan dan bakat anak, serta sesuai dengan karakteristik dan daya kembang setiap anak.

Kejelian orangtua dalam mengidentifikasi potensi anak dan melakukan perencanaan alur pendidikan yang tepat, memegang peranan penting untuk memastikan prestasi dan menjamin kesuksesan anak kelak, Ratih Ibrahim

Dan sebagai praktisioner pendidikan global, Dr. Marshall Schoot menambahkan bahwa saat ini dunia sedang menghadapi permasalahan dengan pendidikan anak. Bahwa sebenarnya kita tidak benar-benar menyiapkan anak untuk menghadapi tantanga global.

Data dari World Bank menyebutkan 84% dari tenaga ahli di bidang manufakturing mengalami kesulitan saat harus mengisi posisi managerial, sementara 69% dilaporkan kurang memiliki ketrampilan kerja yang baik.

Penelitian dari McKinsey Global Institute memprediksi, di tahun 2030, Indonesia bisa menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke-7 di dunia, bahkan mampu melampaui Jerman dan Inggris. Tapi dengan catatan, Indonesia harus memiliki 113 juta generasi muda dengan kemampuan memadai.

Sampoernaschoolsystem_steamkurikulum_pendidikananak_prestasianak
Coba baca dengan teliti, dan kita akan tahu kenapa Indonesia pada akhirnya sering mengimpor teknisi 


Indonesia butuh setidaknya 175 ribu teknisi setiap tahun untuk mencapai cita-cita tersebut. Sementara saat ini, kita hanya mencetak 42 ribu teknisi setiap tahun. Belum lagi bila bicara kualitas, hmm ... Besar sekali ya, PR kita.

Bagaimana merencanakan alur pendidikan yang tepat untuk anak

Setiap orangtua pasti ingin anaknya sukses. Dan ada dua kunci utama yang akan menghantarkan anak pada kesuksesan, yaitu kepengasuhan dan pendidikan.

4 kompetensi dasar yang setiap anak harus miliki untuk mendukung kesuksesannya


#1. Kepengasuhan atau parenting

Seperti telah diungkapkan diatas, gaya kepengasuhan kita adalah awal mula bagi kesuksesan anak.

Kesuksesan anak didukung oleh 4 kompetensi dasar, yaitu ketrampilan sosial, bahasa, ketrampilan kognitif, kemampuan memecahan masalah, dan atitude yang baik.

Dan gaya kepengasuhan yang kita pilih haruslah mampu mendukung keempat kompetensi dasar tersebut untuk berkembang dengan baik.

#2. Memilihkan pendidikan yang tepat

Bicara tentang pendidikan anak sebenarnyalah tidak hanya bicara tentang sekolah. Saat ini orangtua harus mampu memahami tujuan dari pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Memandang konsep sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak hanya terbatas pada kata “sekolah”

Pendidikan yang tepat untuk anak adalah pendidikan yang mampu mengembangkan anak secara utuh, dan dengan alur pendidikan yang jelas dari pendidikan usia dini hingga pendidikan tinggi kelak.

Langkah menentukan alur pendidikan yang tepat untuk anak

Alur pendidikan yang tepat harus mampu mengembangkan anak secara utuh. Karena itu untuk menentukan alur pendidikan yang tepat, langkah pertama yang harus orangtua pilih adalah mengenal bakat dan minat anak. 

Berikan stimulasi dan kesempatan untuk anak untuk mengeksplorasi dunia disekitarnya. Kita dapat bermain, membawa mereka jalan-jalan ke pelbagai tempat untuk memperluas wawasan dan mengenalkan banyak profesi.

Langkah kedua adalah memilih sekolah yang tepat untuk anak. Sekolah yang bagus dan tepat untuk anak, bukanlah sekolah yang sekedar lengkap sarana dan prasarananya saja; namun sekolah tersebut harus mampu mengakomodasi minat dan bakat anak, menerapkan alur pendidikan yang akan menghantar anak mencapai tujuannya, dan berwawasan global.

Kurikulum yang digunakan juga harus mampu membantu anak untuk memecahkan pelbagai permasalahan yang kelak akan dihadapinya sekaligus sesuai dengan kualifikasi secara akademis.

4 macam kurikulum di Indonesia

Di Indonesia sendiri ada empat macam kurikulum, yaitu

#1. Cambridge, yang menekankan pada spesialisasi dan penelitian ilmiah.

#2. International Baccalaureate, menekankan pada pengembangan akademis dan personal.

#3. Kurikulum Dinas Pendidikan, yang menekankan pada aspek spiritual, dan pengembangan diri.

#4. Kurikulum Amerika, yang menekankan pada aspek pengetahuan, kognitif, dan pengembangan sosial anak (Science, Technology, Engineering, Art, and Math/ STEAM).

Sampoerna School System, contoh sekolah dengan alur pendidikan dasar hingga perguruan tinggi

Pic. Source: Sampoerna Academy Fanpage

Saat mendengar kata Sampoerna, ingatan saya langsung melayang pada Sampoerna Foundation yang dulu banyak dikenal sebagai salah satu wadah bagi insan-insan muda berpotensi untuk mengembangkan jiwa leadership sekaligus unggul dalam bidang yang menjadi keahliannya.

Dan kini Sampoerna Foundation menghadirkan Sampoerna School System yang menawarkan alur pendidikan berkualitas internasional hingga perguruan tinggi. Dengan memilih kurikulum berbasis STEAM (baca: stem), Sampoerna School System akan memandu siswa selama dan setelah perjalanan pendidikannya sambil menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, kewirausahaan, dan tanggung jawab sosial.

Dalam slah satu sesi tanya jawab, ibu Nenny Soemawinata, Chief Executive Officer Putera Sampoerna Foundation, memberi gambaran bagaimana kurikulum di Sampoerna School System berjalan.

Misalkan ketika seorang anak menyukai boneka Barbie, dan dia sedang mendalami materi kelistrikan. Maka ia akan diminta merancang lampu yang tepat untuk rumah Barbie. Tentu saja rancangan tersebut juga harus memperhatikan aspek estetika sesuai image Barbie.

Disinilah aspek seni, bergabung dengan aspek science. Dan karena membuat sesuatu untuk apa yang anak suka, maka anak tidak akan merasa terbebani.

Uniknya, meski menggunakan kurikulum STEAM, tapi Sampoerna Academy juga mengimplementasikan Kurikulum Standar Pendidikan Nasional, Cambridge International General Certificate of Secondary Education (IGCSE), Cambridge International A/AS Level, dan Singapore Math.

Sampoerna Foundation juga identik dengan program pendidikannya yang berorientasi pada kewirausahaan dan leadership.

Kedua hal tersebut juga dikembangkan di Sampoerna Academy dalam program Youth Entreprenuership Program (kewirausahaan) dan ekstrakurikuler Pathway to Leadership dan Life Long Learning,

Ada dua program yang ditawarkan Sampoerna Academy yaitu day-school (untuk TK hingga sekolah menengah atas) dan boarding school (khusus SMA).

Jujur, saya tidak bisa nahan untuk tidak jatuh cinta pada Sampoerna School. Kurikulum yang berbasis science, sesuatu yang sangat diminati Hana. Mau tak mau saya titipkan mimpi pada Yang Kuasa, semoga Hana mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan disana.

Alasan lainnya, sistem STEAM yang dipilih Sampoerna memberi kesempatan kepada siswa SMA kelas 10 untuk mengikuti American College Program sebanyak 60 sks, atau setara dengan dua tahun perkuliahan di universitas.

Nilai yang diperoleh nantinya bisa ditransfer saat menempuh pendidikan tinggi di lebih dari 1000 universitas di Amerika. Program percepatan ini disebut FASTRACK.USA. Dengan cara ini, total pendidikan formal yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 16 tahun, bisa hanya ditempuh dalam kurun waktu 14 tahun. Seperti keinginan saya, yang ingin Hana mencapai cita-citanya sedini mungkin.

Hari itu saya juga bertemu dengan ibu Albertina, direktur dari Dana Siswa Bangsa, penyedia layanan bantuan 3 tahun biaya (Soft Education Financing),-bukan beasiswa,- bagi siswa untuk bersekolah di Sampoerna Academy.

Siswa yang ingin bersekolah di Sampoerna dapat mengajukan pinjaman Dana Siswa Bangsa, yang kelak dikembalikan ketika mereka sudah bekerja.

Jadi, jangan kawatir untuk memancang mimpi, memberikan alur pendidikan yang tepat untuk anak-anak kita.

Semoga informasi diatas bermanfaat, ya... Selamat merencanakan pendidikan untuk anak-anak Anda.  

7 Lagu 90-an yang Mewakili Perasaan Orangtua


Tahun 90-an memang meyimpan banyak kenangan. Tidak hanya aneka permainan dan jajanannya yang masih sukar bikin move on, tapi lagu-lagunya pun everlasting serta masih enak untuk di dengar di telinga.

Buat Sahabat Pembaca yang seusia saya, pasti kenal dengan beberapa lagu 90-an dibawah ini; lagu yang kadang bisa mewakili perasaan kita sebagai orangtua anak-anaknya.

1. Ketika akhirnya si 8 bulan tidur, maka ibu ...
Iwa K, Bebas

2. (khusus Ayah) Saat anak rewel, dan Bunda sedang hadir di undangan event Blogger ...


Katon Bagaskara, Dinda Dimana

3. Anak minta jajan dan saat di depan kasir ternyata uang kurang 

Obby Mesakh, Kisah-Kasih di Sekolah

4. Diangkot dan dengan cueknya anak bertanya “Jadi, bagaimana aku bisa masuk ke perut ibu?” 


Imaniar, Kacau

5. Tanggal tua, dan anak minta nonton Capain Amerika



6. Saat si kecil dapat surat cinta pertamanya (abaikan tulisan SMA-nya)

Chrisye, Anak Sekolah

7. Saat anak beranjak abege atau pergi kuliah ke luar kota

Stinky, Mungkinkah

Jangan masukin hati ya, ... tapi kalo kamu punya ide lain, boleh kok share di komen dibawah ini. Nanti saya update lagi post-nya.