-->

Susi Susindra; Kartini Masa Kini dari Jepara




Hidup di jaman digital seperti ini membuat saya tak pernah berhenti bersyukur. Saya dapat bertemu dengan banyak orang, yang bahkan membayangkannya saja saya tidak pernah.

Melalui dunia digital saya banyak bertemu dengan sosok-sosok hebat yang begitu menginspirasi. Gaungnya mungkin tidak sampai ke media-media besar. Tidak sampai juga menjadi pembicaraan netizen; tapi mereka bergerak dalam “kediaman” mereka, membuat perubahan untuk perbaikan Indonesia.

Salah satu sosok yang saya kenal adalah susi Ernawati Susindra. Perkenalan pertama saya melalui komunitas blogger perempuan. Beliau menjadi salah satu moderator di arisan kelompok V.

Bila mampir pada blog atau melihat profil Google Plusnya, Sahabat akan melihat deretan profesi yang Beliau miliki; Blogger, Content Writer, Pengrajin, Marketer, dan Pengusaha Mebel.



Berprofesi sebagai ibu rumah tangga sudah sangat menyita waktu, bagaimana dengan deretan tambahan profesi bejibun seperti itu? Eh, mbak Susi malah jawabnya simpel,

Jum'at, Sabtu, Minggu aja berkomunitasnya. Lain itu occasional. Kalo ada rapat ya dateng. Kalo enggak ya, anteng di rumah

Ya, mbak Susi memang tak hanya sibuk dengan profesinya, Beliau pun juga masih sempat berkomunitas.

Selain menjadi anggota dari Blogger Perempuan, Beliau juga mendirikan Warung Blogger dan Jepara Blogger Community.

Sibuk di pelbagai kegiatan, tak membuat mbak Susi kehilangan waktu untuk meng-upgrade diri, di kesempatan luangnya (kyaaa... masih punya waktu luang ya? Mbak Susi benarkah waktumu dirimu 24 jam? =D )



Wajar jika blog Beliau pun penuh dengna tulisan berkualitas. Tulisan Beliau tentang Kartini semakin menambah wawasan dan memahami sejarah bangsa.

Pengalaman Beliau sebagai Blogger juga tak lupa Beliau bagikan dalam beberapa post blog-nya. Pengalaman yang tentu berharga bagi saya yang baru saja memulai serius menekuni dunia blogging.

Satu lagi sosok yang sangat menginspirasi dalam lingkaran pertemanan saya. Hmm ... what a wonderful life it is..

Cara Efektif Memberikan Obat pada Anak



Kemarin siang terpaksa marah-marah sama si Kimpuy, pasalnya dia menolak minum obat dengan alasan pahit dan asam. Ya, mana ada obat yang enak atuh Babe?

Obat racikan yang harus ia minum memang porsinya, -menurut saya si-, memang cukup banyak. Satu sendok makan penu, bahkan kalo diencerkan airnya, obatnya sampai tumpah. 

Kawatir dosisinya tidak cukup, saya akali dengan mengencerkan obat dalam gelas kecil. Eh, justru itu yang malah membuat dia tidak mau minum. 

Kok jadi banyak, Bu? Aku nggak akan habis kalo segini ...

Haduh ... akikah kan jadi kesel ... Tapi biarpun kesel,saya tetep mencoba cari cara efektif memberikan obat pada anak. 

Inget waktu itu sepertiya pernah nulis cara memberikan obat untuk anak di Asia Parents Indonesia.
Salah satu triknya, yaitu mencampurkan obat dengan bahan lain. Cara ini sepertinya cocok untuk Hana. 

Pikir saya, mungkin obat racikan yang diencerkan ini bisa dicampur dengan taburan meises dan semacamnya. Tapi ada hal yang perlu diperhatikan saat mencoba trik ini; kita harus yakin betul bahwa campuran obat dan bahan tambahan kita tidak kontradiktif.

Sayang meski saya bisa (sedikit) membaca tulisan dokter, nama obat yang tertulis di resep Hana ini ternyata disingkat-singkat. Wah, jadi keder deh; aman atau enggak ni, komposisi obat dicampur dengan coklat.

Nggak ada pilhan lain, selain telpon apoteker kliniknya. Apatis sebetulnya, karena apotek di klinik tersebut sibuknya sudah ngalahin pasar kalo di hari minggu. Alhamdulillah dijawab dengan baik. 

"Jangan meises Bu, pakai madu saja untuk mengurangi rasa pahitnya," begitu kata mbak perawat.
Ah iya, kenapa nggak kepikiran? Bener banget, dicampur madu malah bagus kan? Syukurlah di warung sebelah ada yang jual madu. Yah, nggak madu asli, tapi nggak papalah, yang penting obat masuk ke perut Hana dan tentu sesuai dosisnya.

Trik pun sukses, Hana happy, semangat minum obat, dan sore ini pun panasnya tinggal 0,7 diatas suhu normal. Alhamdulillah.

Buat Sahabat, yang sering kesulitan memberikan obat untuk anak, cobain deh cara saya, siapa tahu efektif juga. Atau malah Sahabat punya trik lain? Boleh deh, sharenya ...

7 Hal Penghambat Produktivitas Kerja Ibu

penghambatproduktivitaskerja


Seminggu ini produktivitas kerja saya menurun drastis. Salah satu penyebabnya adalah kedatangan seorang kerabat yang masih lajang, dan curhat tentang proses perjodohannya.

Seneng bisa bantu dan memberi pendapat sebetulnya, tapi waktu mainnya itu lho, yang kadang tidak pas. Kadang saya masih masak, atau malah sudah mulai duduk di depan kompi.

Fokus cerita si, biasanya hanya 30 menitan, ngobrol ngalor-ngidulnya ini yang bisa berjam-jam. 

Akibatnya target konten hanya tercapai separuh, malah blog ini sudah seminggu tak tersentuh. Target blog walking apalagi; sehari biasanya bisa 6-10 blog, seminggu ini lewat dengan suksesnya.

Alexa rank id, yang sudah diangka 7 ribu, langsung terjun bebas sampe 15rb. Duh, kacau bin balau pokoknya.

Dan malam ini penderitaan pun bertambah, ketika draft kerjaan sudah rapi, eh koneksi jalannya setengah mati. Hmm... What a perfect combination, right?

Mau nggak mau terpaksa matikan koneksi data, duduk bengong, sambil nungguin Hana yang lagi masuk angin.

Tapi saya kok malah ling-lung ya, bingung kalo jari nggak ketak-ketik tuh. Sepertinya saya sudah addict banget dengan menulis, jadi rada “nggak komplit” hidupnya kalo nggak nulis.

Akhirnya iseng, corat-coret, ketak-ketik, saya ngrekap aja deh beberapa hal yang biasanya menghambat produktivitas kerja freelancer, terkhusus seorang emak macam saya. *halah

7 hal penghambat produktivitas kerja ibu

#1. Media sosial

Biasanya ni, kalo mau ngerjain kerjaan rumah, entah kenapa, setan tu hobi banget bisikin, “Up date dulu tu status, ceritain mau ngapain aja hari ini. Minta pendapat temen, enaknya ngerjain apa dulu...”

Baru 10 menit, potongin sayur, eh, si setan datang lagi, “Cek deh, ada nggak temen yang ngasi komentar, berapa yang like.”

Pas buka wall, scroll ke bawah, scroll keatas, mata ngelirik iklan di sebelah kanan “Heboh, terkuak fakta soal ....”, “Geger foto Al Ghazali ...” Tanpa disadari, kursor pun mengarah kesana dan kemudian .... 

Kerjaan rumah nggak ada yang selesai, target tulisan melambai, gajian pun good bye. 

#2. Tamu tak diundang

Ya, seperti yang saya ceritakan diatas tu. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba saja si kerabat nongol, curhat berjam-jam, hendak dicuekin kerja nggak enak, ditemenin kok nggak bisa kerja, galau deh pokoknya.

Kadang juga ada temen yang tiba-tiba ngajak chat, tadinya si dijawab karena cuma nanya kabar, nggak tahunya .... (untung aja si, nggak diajak joinan)

#3. Koneksi internet yang lelet

Terus terang, saya memang pelupa. Jadi, semua pekerjaan biasanya saya tulis dan jadwalkan. Termasuk berapa jam nulis, nerjemahin, editing dan posting. Tapi sering banget acara jadi berantakan hanya gara-gara koneksi.

Waktu posting dan upload gambar yang seharusnya 20-30 menit cukup, bisa melar sampe satu jam. Akhirnya, kacau deh semua jadwal.

#4. Terlalu capek kerja

Dua hari yang lalu, saya masih berusaha untuk memenuhi target yang saya pasang bulan ini. Nah. berhubung ngerasa kalo siangnya sudah nggak produktif, malam hari saya paksain untuk selesaikan semua kerjaan. Beberapa target tulisan langsung saya selesaikan sampai mata pedih, dan kepala berat banget.

Keesokan harinya saya malah pusing. Meski sudah ngopi, tapi mata tetep nggak mau melek. Saya akhirnya tahu, sepadat apa pun jadwal, bila sudah waktunya badan tidur, lebih baik tidur. Statistik blog? Besok sajalah mikirnya.

#5. Nggak tidur siang

Waktu itu pernah baca artikel, kalo tidur siang ternyata berpengaruh besar pada produktivitas seseorang.

Saya setuju banget dengan penelitian ini. Bagi saya, tidur siang sama arti dengan mengistirahatkan mata. Maklum, mata minus begini, kalo dipaksain malah bikin kepala pusing.

Biasanya kalo nggak tidur siang, habis maghrib mata pasti sudah minta merem, meski badan sebetulnya masih pengen aktivitas ini itu. Jadi, buat saya, nggak tidur siang, sama juga merencanakan terhambatnya aktivitas harian.

#6. Lupa makan, terutama sarapan

Buat saya si, lupa makan bisa berakibat fatal. Maag kambuh, masuk angin, ujung-ujungnya bisa tepar 3-4 hari. Huaa... Makin nggak produktif banget tu

#7. Anak ngajak bermain atau sakit

Sebagai ibu, nggak pantas memang kalo saya bilang anak ngajak bermain atau sakit bisa menghambat produktivitas kerja. Tapi memang bener kan? Kalo anak sakit mana bisa konsentrasi kerja.?Apalagi kalo kerjanya di rumah. Denger rintihan anak sakit, mana kuat hayati????

Gitu juga untuk urusan anak main. My lovely Kimpuy tu, kalo sudah bosan main pasti ngrayu ibunya, “Bu, Hana bosan, main yuks, lima belas meniiiittt aja.” Simalakama deh, adinda!

Nggak percaya? Coba tanya sama ibu-ibu yang kerja dari rumah, jangankan nolak, bilang “Bentar lagi ya, dik” sudah pasti ngerasa bersalah banget. Akhirnya, ya sudahlah, tunda dulu jawab orderan, tutup laptopnya, mari kita main ...

Yah, gitu deh Prens; dilema emak yang kerja dari rumah. Nah, kalo kamu gimana Prens, apa saja yang biasanya menghambat produktivitas kerja kamu? Share yuks.

Ketakwaan Semu


Aku lelah tanpaMu
Aku lelah bila aku tak bisa merasa kehadiran Mu
Ya, aku memang kecewa pada Mu
Lalu aku menjauh dari Mu
Aku abaikan panggilan Mu
Aku lambatkan ibadahku

Bisa jadi ketakwaanku palsu selama ini
Bisa jadi ketaatanku hanya ilusi
Sekali lagi, hawa nafsu menipuku
Sekali lagi, dunia memainkan imajinasi keikhlasanku

Pantas, perintah taat tak sampai pada hati anakku
Wajar, bila dakwah perbuatanku tak sampai pada sanak keluargaku

Rupanya hatiku kotor
Pikiranku tak jernih

Tapi sungguh,
Aku lelah bila tak kurasa hadirMu dalam hatiku
Aku asing dengan diriku
Aku tak tahu lagi kemana arah tujuanku

Jadi, dipenghujung hari ini,
Tolong terima sujudku,
Kembalilah disini, di dalam hati dan disetiap hembusan nafasku

Karena sungguh,
Aku lelah tanpaMu




Kemana Perginya Sopan Santun?

sopansantun

Cerita 1
Seorang anak umur 6 tahun masuk ke dalam ruang tunggu sebuah lembaga bimbingan minat baca bersama ibunya.

Ia berlari menuju dua orang ibu yang duduk di lantai. Dengan santainya ia berdiri diantara dua ibu tadi, berusaha mengambil sebuah gambar yang tertempel tepat di atas kepala salah satu ibu. Sementara di seberang ruangan ibu si anak tadi malah duduk, dan langsung asik dengan handphone-nya.

Cerita 2

Sebut saja namanya ibu Fulanah. Disebelah rumah ibu Fulanah, tinggal pasangan muda yang sama-sama bekerja. Meskipun tinggal di komplek perumahan, pasangan tersebut  memelihara banyak ayam di halaman belakang rumah kontrakan mereka.

Suatu hari salah seekor ayam pasangan muda tersebut lepas. Karena bagian belakang rumah mereka dikelilingi oleh pagar seng yamg tinggi, si ayam tidak bisa kembali ke kandang. Akibatnya, belakang rumah ibu Fulanah yang biasanya digunakan untuk menejmur pakaian, penuh dengan kotoran ayam.

Ketika sore hari pasangan muda ini pulang, ibu Fulanah meminta kepada mereka untuk segera mengambil ayam mereka yang lepas. Ibu Fulanah merasa kelelahan karena harus bolak-balik membersihkan kotoran ayam yang berceceran hingga ke depan pintu belakang rumah bu Fulanah.

Bukannya meminta maaf, dengan muka dingin dan ketus pasangan muda ini berjanji akan mengambil ayam mereka yag lepas keesokan harinya.

Ahay, ...
Kemanakah perginya Sopan Santun? Apakah kami para orangtua telah lupa mengenalkannya pada anak-anak muda itu, hingga saat ia mengetuk pintu, anak-anak kami malah asik dengan games dan sosial media di tangannya?

Acap kali kita mendengar keluhan tentang anak remaja yang tak mau diatur, berani melawan kepada orangtua, bahkan merasa tidak sungkan memaksa dosen menyesuaikan jadwal konsultasi, padahal sudah jelas si mahasiswa yang butuh.

Saya tidak tahu sejak kapan sopan santun pergi, hingga ia lupa jalan pulang ke keluarga kita.

Apakah nasehat bahwa orangtua yang ideal adalah orangtua yang bisa menjadi teman anak telah di salah artikan; hingga sopan santun kepada sesama dianggap sebagai gila kehormatan? Untuk itu ia wajib untuk disingkirkan, dibuang jauh-jauh?

Atau ini karena pengaruh mudahnya akses tontonan dari negara diujung barat sana? Negara yang konon kabarnya mereka tak memiliki unggah-ungguh kepada orangtuanya?

Tapi tunggu, bukankah saat ini mereka berprinsip "Karakter adalah yang penting dalam pendidikan anak. Matematika, science juga penting. Tapi toh kebanyakan mereka hanya akan menggunakan tambah dan kurang dalam kehidupannya. Jadi, karakter dulu baru ilmu. pengetahuan."

Mereka juga berprinsip, bahwa kata "tolong", "maaf", "dan "permisi" harus menjadi nilai yang diajarkan dalam keluarga.

Jadi, apa kira yang menjadi penyebab Sopan santun pergi dari rumah kita?
Apakah kita telah lupa cara menurunkan nilai-nilai pada anak-anak kita?

Sepertinya PR kita sebagai orangtua bertambah satu lagi; mengembalikan Sopan Santun ke rumah-rumah kita.


Ide Jawaban Saat dapat Pertanyaan Sulit dari Anak ....

pertanyaansulit_pertanyaansulitanak

Prens, sering nggak sih, ditanyain anak pertanyaan sulit; yang seringnya bikin kita kelimpungan nge-jawab?

Saya sering banget tu, ngalamin  momen-momen seperti itu. Bener-bener mati kutu. Kalo nggak tanyanya yang beruntun seperti peluru, atau dijawab satu muncul 10 pertanyaan; kadang Hana tu tanya nggak lihat-lihat tempat. 

Iya, orang bilang menjadi orangtua itu harus terus belajar; mulai dari cara mendidik anak sampai nguplek ilmu lama agar saat anak bertanya pertanyaan sulit bisa menjawab tanpa gagap.

 “Kenapa capung terbang banyak saat mau hujan?”
 Atau 
“Bagaimana kuning telur bisa pas di tengah-tengah putih telur?” 

Sepertinya, itulah resiko menjadi orangtua generasi Z, harus siap mejawab pertanyaan berondongan pertanyaan kapan saja dan dimana saja. Tapi, tentu saja kadang orangtua terpeleset juga, terjebak pertanyaan yang begitu melelahkan atau malah canggung untuk di jawab. Saya sendiri seringkali terjebak pada situasi semacam ini. 

Dirumah kebetulan ada banyak buku, mula dari buku kepengasuhan, agama, atau ilmu-ilmu pengetahuan dasar. Disinilah kadang saya merasa terjebak dengan pertanyaan sulit putri kecil yang seolah tiada henti. 

Saya sadar dan tahu bahwa menjawab pertanyaan anak tidak boleh asal, harus bisa menghantarkannya pada logika, dan menjawabnya pun harus dengan bahasa yang mudah dipahami anak. 

Tapi kadang saya tak punya pilihan lain, saya terpaksa mengeluarkan lima jurus di bawah ini untuk sekedar menghentikan ia bertanya.

Lima jurus nge-less saat mendapat pertanyaan sulit dari anak

Disclaimer: jurus nge-less ini hanya boleh dicopy saat terpaksa saja ya, nggak boleh setiap saat; otherwise, your children won't believe you anymore. 

 #1. “Tunggu adik besar, ya, nanti adik akan tahu jawabnya kalau sudah besar”


Ini jawaban yang paling mudah untuk segera “menghilang” dari kejaran pertanyaan anak. Karena sungguh, pertanyaan “Mengapa harus ada angka “0” sebelum angka 1” itu tidak enak dijawab pada saat jam menunjukkan pukul 22.00 dan mata terasa memberat.

 #2. “Boleh di jawab lain kali nggak?”


Hana seringkali melontarkan pertanyaan rumit di sembarang waktu. Dan saat ia bertanya di atas angkot tentang bagaimana anak kucing masuk ke perut ibunya; saya terpaksa berkata akan menjawabnya lain kali. Yah, untunglah dia pun selalu setuju dengan jawaban itu (meski tetap akan ia tagih lagi jawabannya nanti). 

#3. Mengalihkan pembicaraan  

Terkadang, tiba-tiba saja ia ingat isi salah satu buku anatomi yang pernah ia baca dan ingin mendiskusikannya. Sayang, namanya juga anak-anak, ia bertanya tanpa melihat waktu dan tempat.

Hari itu kami bersiap hendak makan malam ketika tiba-tiba ia bertanya “Apakah perutku seperti tempat sampah itu karena banyak makanan yang ku makan?” Sedetik saya tertegun, membayangkan bagaimana makanan tercerna dalam perut sebelum akhirnya berkata “Bisa ambilkan sendok diatas rak piring itu?”

 #4. Jawab asal 

Ketika akhirnya ia menagih jawaban mengapa harus ada angka “0” sebelum angka 1, saya terpaksa menjawab “Hmmm ... Angka 0 ada untuk menemani angka 1, membuat angka 10.” Terus terang, saya bukan seorang jenius yang bisa menjelaskan proses relativitas angka 0 pada anak umur 5 tahun. 

#5. "Itu sudah kehendak Allah" 


Kami mempunyai kegiatan ngobrol sebelum tidur. Entah itu ngobrol tentang dongeng yang baru dibaca, atau sekedar mengenang masa kecil Hana. Tiba-tiba dia bertanya, “Ibu, kenapa aku cewek, kan katanya ibu suka punya anak cowok?” Adakah jawaban yang lebih tepat selainberlindung kepada Allah untuk menghentikan pertanyaannya?

Bagaimana dengan Sahabat; pernah terjebak situasi awkward atau kesulitan menjawab pertanyaan sulit si Kecil juga? Apa trik Sahabat untuk "bersembunyi" sebentar dari berondongan pertanyaan mereka?


Oya, untuk Sahabat yang butuh tambahan ide untuk pertanyaan sulit anak, Asian Parent Indonesia punya beberapa jawaban bantuan pada artikel berikut ini:

10 Ide Menjawab Pertanyaan Sulit dari Anak dan Sex Education: Dari Mana Datangnya Adik Bayi, Ma?

Belajar Parenting dari Arinta Adiningtyas


Salah satu hal yang saya sukai dari menjadi profesi Blogger adalah kesempatan membangun pertemana denga oranglain. Terlebih bila berkesempatan mengenal lebih jauh kehidupan seorang Blogger.

Seringkali saya menemukan banyak inspirasi-inspirasi baru dari mereka. Dan kali ini ilmu saya nambah dengan karena “Tips Emak” yang ternyata beberapa diantaranya juga masuk dalam kategori yang parenting dari mbak Arinta Adiningtyas.

Saya tertarik untuk ngulik "Tips Emak dari Beliau saat mampr di blog Beliau Kayu dan Sirih. Sebuah blog, yang menurut Beliau, bertema tentang perempuan (I wish she had a definite brand or something).

Kebetulan saya sedang mencari ide tulisan tentang kehidupan ibu rumah tangga, jadi "Tips Emak" langsung menjadi pilihan saya begitu melihat jejeran kategori pada blog pos Beliau.

Tips Emak ala Arinta Adiningtyas

Ada 17 pos dalam kategori ini. Saya langsung mampir pada tips memilih sekolah anak, kebetulan kan sekarang sudah mendekati waktu pendaftaran sekolah?

Menurut mbak Arinta, meski sekolah adalah hak anak, namun sebagai orangtua kita haruslah memperhatikan juga bakat dan minatnya. Tidak hanya sekedar mentereng fasilitas.

ArintaAdiningtyas
Tips memilih sekolah untuk anak

Tips lain yang saya suka adalah parenting Islaminya. Saya seperti diingatkan saat membaca post Beliau tentang pentingnya membaca doa masuk rumah, doa nabi Ibrahim untuk keluarganya, serta bagaimana cara istri mendukung suami.

Air mata saya malah tidak bisa ditahan saat membaca niat Beliau untuk menghadiahi almarhumah Ibu mbak Arinta dengan menghafal salah satu surah dalam Al-Quran. Aduh, sholehahnya mbak Arinta nie...

Tentang blog Kayu & Sirih

Sedikit OOT, saya sangat suka dengan tampilan feature image milik mbak Arinta. Bisa otomatis zoom in dan zoom out, saat pointer mengarah padanya. Penasaran deh, bagaimana cara membuatnya.

Oya, jika boleh memberi saran, menurut saya sebaiknya kategori "Parenting" dan "Tips Emak" ini dijadikan satu atau malah dibuat Sub Kategori. Karena ketika saya memilih "Parenting", ternyata ada beberapa post pada "Tips Emak" yang juga masuk Kategori di sana.

Tak mengapa si, bila mbak Arinta memang nyaman dengan hal tersebut, Namun menurut saya akan lebih memudahkan pembaca apabila pos terkategori dengan baik.

Bila mbak Arinta berkenan juga, saya sedikit hendak berbagi tentang trik menulis pos yang nyaman untuk pembaca.

ArintaAdiningtyas
Memilih "Clear Formatting" akan membantu post mbak Arinta lebih rapi

Beberapa pos blog milik mbak Arinta sepertinya merupakan bahan olahan pada dokumen word yang kemudian di salin rekatkan pada pos blog. Hasilnya pos blog mbak Arinta memiliki jenis huruf yang berbeda-beda, dan kadang besar kecilnya pun tidak sama.

Dalam ilmu konten, tentu hal ini mengganggu pembaca. Kalo bagi saya pribadi, tulisan yang kecil seperti pada post "Doa Nabi Ibrahim" membuat saya harus menyipitkan mata saat membaca (yah, faktor “U” gitu).

Paragraf pada post sebaiknya agak lebar, agar pembaca “tidak terpeleset” saat membaca rangkaian kalimat dalam paragraf. Inti yang sedang dibicarakan pun akan lebih mudah dipahami bukan? 
Untuk yang satu ini, saya yakin, mbak Arinta lebih paham, karya-karya Beliau di media telah banyak terbit lho.

Bagi saya sebetulnya konten yang bermutu jauh lebih baik dibanding layout blog. Tapi, layout yang menarik tentu akan membuat pengunjung betah kan?

Terima kasih mbak Arinta untuk inspirasi kepengasuhannya. 

Bagi Sahabat yang ingin mengenal jauh dengan mbak Arinta, bisa mampir pada blog kayusirih atau jalin pertemanan dengan media sosial Beliau; Facebook: Arinta Adiningtyas, Twitter: @arinta_arinta