-->

Sukses Mewujudkan Resolusi Lebaran dengan Tips dari Cermati

(Comic made using pixton.com)
Itu dia cerita kegagalan saya mengatur uang THR setahun yang lalu. Wuah, rasanya ga enak banget. Apalagi waktu ibu (dan juga misua) menatap penuh curiga (jadi ingat lagu Obbie mesakh) kenapa saya malah nyuci bukannya nganter saudara pulang. Well, mau gimana lagi, meski salah, saya kan juga musti menyelamatkan kehidupan sesuasai lebaran kan?

Gara-garanya si, saya terlalu terlena dengan "berlimpahnya" jatah THR di tahun lalu. Memang, sedikit atau banyak kalau ga diatur dengan baik, hasil akhirnya pasti berantakan.

So, belajar dari pengalaman mengelola THR di tahun lalu, tahun ini saya lebih ekstra hati-hati. Meski si Dady ga pernah tanya ataupun nuntut bahwa uang THR harus gini-gitu, tapi tetep saya mencoba mengadopsi trik mengelola THR yang baik.
Tips mengelola THR dari Cermati.com
Jadi, saya pun mulai membuat rencana. Pertama membuat daftar pengeluaran Hari Raya dan baru pos-pos tambahan yang lain.

Berhubung ga mudik, dan bukan tipe lebaran harus baju baru, budget untuk kebutuhan Lebaran tahun ini pun tidak begitu besar. Cukup kebutuhan Hana, plus pernak-pernik Lebaran yang penting saja.
Itupun saya hitung dengan cermat; belajar dari pengalaman tahun lalu saat bikin kue dan masakannya ga pakai rencana dan akhirnya malah mubazir.

Alhamdulillah dengan cara ini belanja THR jadi lebih terkendali, karena setiap pengeluaran sudah ada acuannya jadi bisa dipertimbangkan apakah akan sesuai budget, penting, atau malah hanya sekedar kepengen.

Struk dan catatan belanja perlu dikumpulin untuk evaluasi
Dengan cara ini saya juga belajar bahwa untuk urusan keuangan, sebaiknya tidak mengabaikan hal-hal yang kecil. Membuat rencana itu penting banget; sepenting menuliskan realisasi dari rencana tersebut. Cara ini akan membuat kita, sebagai Manager Keuangan Rumah Tangga, lebih mudah untuk mengevaluasi atau memperbaiki rencana keuangan saat tujuan tidak tercapai.

Malas? Sebaiknya kita buang jauh-jauh deh. Buat aja catatan yang simpel, yang penting kita mudah membacanya. Bukankah di Hari Perhitungan nanti, tugas yang satu ini harus kita pertanggung jawabkan, bukan? (#sekedarmengingatkan_diri maaf jika menyinggung)

So, kesuksesan ngatur THR ini akhirnya membuat saya tahu bahwa segala yang terencana itu nyaman, dan memudahkan hidup.

 Jadi, agar bisa merasakan kesuksesan yang sama, seusai lebaran ini pun saya mulai menyusun resolusi Lebaran untuk tahun depan.

Maklum dengan pendapatan UMR, jika tidak mempersiapkan jauh-jauh hari dan cermat membuat keputusan finansial, bisa berantakan deh masa depan (kenapa tulisan saya berirama -an, ya? #abaikan).

Berhubung tujuan finansial saya yang paling dekat masih seputar pengeluaran tahunan yang pasti, (lebaran dan kontrakan) ditambah mempersiapkan biaya masuk sekolah Hana; serta mengingat gaya keuangan saya yang kadang ga tahan untuk gesek kartu, maka saya berpikir bahwa Tabungan Berjangka masih menjadi solusi terbaik untuk resolusi keuangan saya.

Tinggal sekarang milih, produk bank mana yang hendak digunakan. Daripada browsing seharian nyari bank dengan produk yang sesuai, mending gunakan saja ke Cermati.com, landing page untuk aneka produk keuangan dan perbankan.

Mengarah langsung ke Tabungan Berjangka Syariah. Ada 6 tabungan berjangka yang bisa saya pilih.

Ini difilter dari 41 tabungan lho, ga kebayang deh kalo musti browsing satu-satu
Tinggal klik info lebih lengkap dan tentukan pilihan berdasar setoran pertama, jangka waktu, dan biaya administrasi saat penarikan dana, juga ada tidaknya penalti bila dana ditarik sebelum jatuh tempo.

Bukan karena berniat untuk ditarik sebelum waktunya, tapi bukankah waktu yang tersisa sampai bulan Juli 2016 ga sampe 12 bulan, kan? Jadi, penting banget ni mempertimbangkan yang satu ini.

Disinilah untungnya menggunakan Cermati.com. Karena rekomendasi produk keuangan dan perbankannya cukup banyak. Dilengkapi dengan filter keuangan yang membuat "perburuan" kita untuk urusan keuangan jadi lebih gampang.

Nah, selesai sudah urusan perencanaan saya. Bismillah, semoga dengan cara ini semua resolusi keuangan saya setahun ke depan juga akan tercapai dengan baik.

Bagaimana dengan Sahabat Rumah Hana, resolusi keuangan seperti apa yang hendak Sahabat buat seusai Lebaran ini?

Cerita Hikmah: Pelajaran dari Gigi

Dua hari saya mendapat cerita hikmah tentang keberadaan "gigi". Gigi yang saya maksud, bukanlah grup band "Gigi" milik Armand Maulana CS. Ini adalah gigi dalam arti nyata, salah satu alat pencernaan mekanik pada manusia.


Cerita hikmah: Gigi, anggota tubuh yang kecil namun ternyata mahal harganya (pic. source BING.com)

Dua hari yang lalu adik ipar main ke rumah. Seperti biasa kami ngobrol sambil masak. Cerita akhinya sampai pada saat giginya tanggal akibat terjatuh saat ia kelas 6 SD dulu.

Berbulan-bulan ditunggu, ternyata si Gigi tak kunjung nongol juga, akhirnya mau tak mau dia pun terpaksa mengenakan gigi palsu. Sayangnya, beberapa bulan lalu, gigi tersebut rusak dan harus diganti.

Karena malu, selama hampir dua minggu, dia tidak berani membuka mulut.

"Aduh, mbak. rasanya., tersiksa bangeett. Apalagi waktu si Abang pada ngledekin. Ih, sebel, deh! Sehari tu, mbak, rasanya setahun!"

Ketika akhirnya pergi ke dokter, ia pun harus merogoh kocek hampir Rp 1juta lebih untuk membayar satu buah gigi. Ya, hanya satu buah gigi.

Wow, sebuah harga yang sangat fantatis menurut saya. Bayangkan, sandainya ke-28 gigi kita harus diganti; itu berati kita harus membayar Rp 28juta, hanya agar kita bisa makan dengan baik.
Sebuah harga yang hampir setara dengan uang muka sebuah rumah KPR sekarang. Ck, ck, ck, padahal kita dapat dengan gratis ya, selama ini.

Cerita hikmah gigi yang kedua adalah cerita gigi Hana.
Saat kami berdua asik bercanda, tanpa sengaja dagu Hana terantuk lantai, hingga menyebabkan salah satu gigi bagian bawahnya goyang. Meskipun ini adalah yang keempat kalinya giginya goyang, entah mengapa kali ini ia merasa sangat kesakitan.

Makan jadi susah; sekedar membuka mulut untuk bicara pun ia enggan. Bila menginginkan sesuatu, ia akan menuliskannya pada white board dan menunjukkan pada saya. Sesuatu yang enggak banget, truly can make me crazy!

Pasalnya meski sudah pandai membaca kata, tapi Hana belumlah pandai menuliskan kata kembali. Seperti saat menulis "besok", yang ia tulis hanya "bos"; menulis "memang" hanya "ma",menulis "jabut" menjadi "sabut".

Keselnya lagi, kalo saya salah baca, ia akan marah-marah. Aduh, stresnya... pokoknya kalo tembok bisa digaruk dan berubah jadi kinclong, pasti deh saya garuk (#ganyambungbanget).

Ga tahan dengan segala kerumitan itu, akhirnya pas Hana ketiduran, saya senggol saja giginya. Dan...lepaslah saudara-saudara!
Ketika ia bangun, dan sadar giginya sudah copot, suasana pun kembali normal, tidak ada marah-marah lagi. Wah, benar-benar sebuah gigi bisa membuat pemiliknya jungkir balik setengah mati.

Begitulah, dua cerita gigi diatas kemudian memberikan saya hikmah. Betapa sesungguhnya setiap inchi tubuh kita penuh dengan karunia dari Sang Pencipta. Gigi saja sudah 28 juta, apalagi tangan, kaki, mata, organ-organ tubuh bagian dalam, dan tentu saja, ruh yang membuat kita semua bergerak. Allahu Akbar, sungguh Allah adalah Maha Besar!




Mengingat kenyataan tersebut, sekarang saya menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak, kawatir bila kemudian akan melanggar aturan-aturanNya. Memang benar, hidup manusia itu sesungguhnya telah berlimpah dengan berkah, hanya saja seringkali kita saya lupa untuk mensyukuri serta menjaga dengan cara menggunakannya seperti Allah SWt kehendadaki.

Semoga cerita hikmah dari gigi diatas juga bermanfaat untuk Sahabat Rumah Hana. Terima kasih sudah mampir....


Membangun Kemampuan Kerja Sama Anak dengan Bermain di Establishment Cap Kaki Tiga Anak Police Station di Kidzania


Sahabat Rumah Hana, bila sesekali membaca iklan lowongan pekerjaan di media massa, seringkali kita menjumpai kriteria "kemampuan bekerja sama dalam tim" menjadi salah satu persyaratan yang harus dimiliki kandidat. Ya, memang bukan hal yang aneh, pasalnya standar kesuksesan sekarang lebih terletak pada kesuksesan tim, bukan kemampuan dari perseorangan.

Untuk itulah, sebagai orangtua, sangatlah wajar bila kita juga mempersiapkan anak-anak kita untuk  mampu bekerja sama dengan orang lain atau bekerja dalam kelompok.

Toh, kemampuan bekerja sama yang ada pada anak tidak hanya akan berguna dalam pergaulan sosialnya di masa depan, namun juga di masa sekarang. Misalkan saat mereka mendapat tugas dari sekolah. Masing-masing anak akan paham tugas atau kewajiban mereka bila mereka memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam tim.

Sebagai sebuah perusahaan yang perduli dengan pendidikan dan kesehatan anak-anak Indonesia, PT. Kino Indonesia, -produsen Larutan Cap Kaki Tiga Anak-, mengadakan sebuah kerja sama dengan Kidzania dengan menyediakan sebuah sarana pembelajaran dengan konsep bermain (edutaiment). Bentuk kerja sama tersebut adalah establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station di Kidzania, "kotanya" anak-anak.

Dalam permainan profesi ini anak-anak akan diperkenalkan bagaimana cara menjadi seorang polisi yang baik, sekaligus beraksi menangkap penjahat yang mencuri formula Larutan Cap Kaki Tiga Anak.

Kidzania merupakan kotanya anak-anak. Disana anak-anak bisa memerankan profesi apapun mirip dengan di dunia nyata.
Begitu pula saat mereka menjadi polisi. Seragam lengkap harus mereka kenakan. Setelah itu mengikuti briefing dari sang Komandan, hingga studi kasus kejahatan. Seru, dan mengasyikkan tentu saja. Sampai sekarang pun Hana bolak-balik punya keinginan pengen terus kesana.

Mengapa harus ke establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station

Saat menghadiri acara Opening Ceremony Establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station-Kidzania  tanggal 3 Juni 2015, saya melihat ada banyak sisi positif yang bisa anak-anak peroleh disana, diantaranya:

1. Kerja sama dalam tim

Sebagai polisi, tentu saja, anak-anak akan belajar bekerja sama dalam tim untuk dapat menangkap penjahat yang lari dan bersembunyi.Mereka harus kompak, ga boleh semau sendiri dan ingin pendapatnya diikuti, seperti jagoan bandel yang sering digambarkan dalam film Hollywood.

2. Mengembangkan logika

Mengumpulkan petunjuk, kemudian mengolah menjadi data dan menyimpulkan dimana kemungkinan sang Pencuri formula bersembunyi, akan merangsang kemampuan berpikir logika dan mengembangkan nalar anak-anak. 
"Ruang analisa dan pengumpulan data"

3. Menumbuhkan rasa keberanian dan kepedulian

Permainan dibuat sedemikian rupa, agar usaha anak-anak untuk menangkap penjahat mampu memunculkan atau menambah keberanian, dan kepedulian mereka terhadap kejahatan yang mungkin terjadi disekitar mereka.

4. Disiplin diri

Bermain di establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station serta area profesi yang lain, harus menaati aturan tertentu. Seperti usia, pakaian yang dikenakan, kebiasaan antri atau bermain bergiliran.
Dari hal-hal semacam inilah mereka akan belajar tentang kedisiplinan dan sikap taat peraturan. 

5. Percaya diri

Percaya diri tumbuh ketika anak-anak mengenal dan tahu kemampuan mereka untuk melakukan pelbagai hal.
Pengalaman merasakan pelbagai profesi akan membantu anak lebih percaya diri, karena mereka sekarang tahu bahwa sebenarnya mereka mampu melakukan banyak hal.

6. Belajar beradaptasi

Saat belajar menjadi polisi, sangat mungkin anak-anak akan bertemu dengan kawan baru yang mungkin saja berbeda tingkah laku, dan cara bergaulnya. Mau tidak mau, anak-anak akan belajar untuk menepis rasa malu, serta berusaha untuk beradaptasi dengan karakter baru kawan-kawan yang baru dikenalnya.

7. Membantu anak mengenali minat mereka

Bukanlah rahasia bila anak-anak remaja saat ini masih banyak yang belum mengenali apa yang menjadi minat mereka dan kemana mereka harus mengarahkan masa depannya.
Front Office Larutan Cap Kaki TIga Anak Police Station
Dengan bermain di establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station, ataupun area profesi yang lain, anak-anak akan memperoleh gambaran seperti apakah tugas dari profesi Polisi, Pemadam Kebakaran, Dokter, hingga petugas layanan pengisi bahan bakar.

Setelah mengetahui gambaran cita-cita yang sesuai minat mereka, anak tentu akan lebih mudah menentukan apa yang menjadi minat dirinya di masa depan.

Dunia anak memang dunia bermain. Sehingga mengenalkan sikap sosial, mengarahkan minat, menumbuhkan karakter akan lebih mudah dengan bermain.

Dan agar mereka tetap terjaga staminanya saat bermain di Kidzania, tak lupa Larutan Cap Kaki Tiga Anak membekali para Polisi Cilik yang usai menjalankan tugasnya ini dengan satu kaleng minuman pereda panas dalam.

Menurut Bapak Deny Cahyo, selaku General Marketing Manager PT Kino Indonesia, bahwa anak yang sehat akan menjadi anak yang kreatif. Dan establishment ini merupakan salah satu wujud kepedulian PT Kino Indonesia untuk menjaga kesehatan anak Indonesia.

Ya, aneka kegiatan yang anak-anak lakukan memang bisa membuat suhu tubuh badan mereka menghangat dan daya tubuh menurun. Dan Larutan Cap Kaki Tiga Anak, minuman kesehatan yang dibuat dari bahan-bahan herbal sehingga aman untuk si Kecil, akan membantu anak untuk menurunkan suhu tubuh dan membantu menjaga kesehatan mereka sepanjang hari.

Tak perlu kawatir bila minuman ini akan membahayakan kesehatan anak. Komposisi minuman kesehatan jenis jamu ini telah disesuaikan dengan kebutuhan anak sehingga aman dikonsumsi setiap hari. Hasilnya anak akan terhindar dari panas dalam, dan konstipasi yang mengganggu kerja pencernaan anak. Kita semua tentu tahu bukan, kalo pencernaan sehat sangat mempengaruhi aktivitas dan kegiatan kita setiap hari?

Jadi, bila saat ini Sahabat Rumah Hana sedang bingung mencari alternatif pengisi liburan untuk anak, atau sekedar kegiatan pengisi Ramadhan, tidak ada salahnya bila mengajak si Kecil bermain di establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak.

Jangan kawatir anak-anak akan kepanasan, karena di Kidzania suasananya selalu malam hari. Oya, ada promo khusus lho, selama bulan Ramadahn ini. So, ga dasalahnya kan, ngabuburit di establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station di Kidzania?




Tulisan ini diikut sertakan dalam "Blog and Journalist Writing Competition Kidzania - Larutan Cap Kaki Tiga Anak"


Nabung Tepat dan Cermat Tujuan pun Dapat


cara menabung cermat
Menabung Cermat, tujuan Di Dapat (pic. source id.theasianparent.com)
Kalo ketemu dengan situs yang menyangkut masalah keuangan, yang saya cari pertama kali pasti artikel tentang tabungan.

Well, diakuin atau enggak, yang namanya nabung memang selalu menjadi salah satu masalah keuangan terbesar. Ga yang single atau pun double (eh, maksudnya yang dah nikah gitu), tips cara menabung selalu jadi pertanyaan favorit.

“Gimana, sih, biar bisa nyisihin uang?”

“Gimana, sih, cara menabung yang paling gampang?

“Bisa gitu penghasilan minim nabung?”

“Bank yang mana yang paling tepat untuk dijadikan tempat menabung, dan produk jasa mana yang sebaiknya diambil?”

Ga heran kalau akhirnya jawaban untuk pertanyaan diatas pun bejibun. Coba deh, googling, daftar cara menabung mulai dari yang ideal sampai yang termudah ribuan jumlahnya.

Dan saya nih, termasuk salah satu orang yang paling hobi mencoba aneka cara menabung.

Ga berarti saya sudah berlimpah, tapi justru saya ini bukan tipe pengatur uang yang baik. Apalagi kalau sudah ketemu buku yang keren….hadeuh….tahu-tahu saldo dah kosong aja.

Sampai suatu hari pas nge-print tabungan ke bank, saya tertegun melihat angka transferan gaji disana. Wow, jumlahnya lumayan fantatis. But, where all the money gone? Enggak tahu. Pokoknya saldo terakhir amat sangat jauh dari jumlah transferan gaji yang pernah saya terima. Pokoknya, sakitnya tu disini....



Nah, sejak itulah saya mulai nyobain ide dari para pakar keuangan. Mulai yang menyisihkan penghasilan 10-20%, memotong tabungan di awal, menyesuaikan pengeluaran dengan jatah sisa potongan tabungan, sampai nabung diwadah yang transparan, saya lakukan.

Is it work?

Hmm…so so… yang dalam arti banyak gagalnya daripada suksesnya.

Masalahnya, saya nabung, ya nabung aja gitu. Jadinya, waktu mau servis motor, ya nyempil, tabungan. Atap rumah bocor, korek-korek tabungan. Perlu bayar semesteran (waktu itu masih kuliah) ngutip tabungan juga. Ujung-ujungnya, waktu butuh biaya untuk berobat atau lagi pengen pulkam isi saldo sudah 0000000. Hadeuh...

Itulah kesalahan saya. Ga pake tujuan bahwa tabungan itu mau buat apa, alokasinya nanti kemana, pos masing-masing kebutuhan berapa persen, dan seterusnya. Tabungan yang disisihkan akhirnya malah kepakai untuk keperluan darurat atau keperluan lain. Ujung-ujungnya, ya tetep saja saldo tabungan = nol besar.

Pas udah nikah, saya pun mulai mikir, ga bisa dong saya nerusin cara nabung yang gitu-gitu saja, musti ada revolusi keuangan ni (lagi musim revolusi kan, ya?).

Apalagi sebagai istri dan emak, urusan satu ini akhirnya kan juga diminta pertanggung jawaban di akhirat nanti. Belum lagi, masa depan anak yang bisa jadi ga jelas gara-gara emaknya gagal move on dari masalah nabung menabung.

So, saya mulai mencoba membuat daftar, kenapa si, saya perlu mulai menabung? Dan untuk tujuan apa saja saya menabung. Apakah uang tabungan itu nantinya untuk keperluan semesteran (keperluan yang harus dikeluarkan 6 bulan sekali), tahunan, dana cadangan dan dana darurat.

Kalau menurut para ahli keuangan, seharusnya ada pula dana tabungan untuk investasi. Namun dana tabungan investasi, idealnya dimiliki setelah kebutuhan hal dasar kita terpenuhi.

Berhubung rumah yang saya tempati masih bukan milik sendiri, jadi saya tidak memasukkan kebutuhan ini. Sebaliknya saya memasukkan kebutuhan untuk beli rumah ke dalam tabungan berjangka.

Nah, setelah semua tujuan menabung jelas, saya memilih untuk menabung dalam beberapa bentuk.

Aneka jenis tabungan saya. Riweh ga? he he he

1. Untuk keperluan kecil-kecil tapi rutin seperti bayar STNK, atau cadangan biaya service motor, saya pilih menggunakan amplop saja. Disisihkan langsung begitu terima gaji.

2. Untuk keperluan dana darurat dan dana cadangan saya memilih jenis tabungan biasa. Saat ini saya masih menyatukannya. Tapi pengennya si dipisah, karena memang tujuan dana ini berbeda.

3. Untuk keperluan tahunan seperti bayar sewa rumah saya memilih untuk menggunakan tabungan berjangka.

Oya, saya punya jenis tabungan lain, tabungan koin. Mula menabung si, sebetulnya tidak sengaja, hanya mengumpulkan koin sisa belanja. Tapi suatu kali si Hana merengek minta dibeliin lemari sendiri. Ga tahnya pas ngitung-ngitung, jumlah koin yang ada di botol-botol bekas sambel itu cukup untuk membeli satu lemari.
Nabung iseng, tapi bermanfaat

Sejak itu saya ketagihan. Jika biasanya Cuma uang koin itu dibiarkan berserakan, sekarang saya kumpulkan. Toh, nantinya bisa digunakan untuk keperluan membeli mainan Hana, ganti kipas angin atau keperluan lain yang mendadak namun masih dibawah Rp500.000,00. Asik, kan?

Nah, sekarang saya juga sedang mikir untuk menambah alokasi tabungan. Yaitu tabungan untuk rencana beli rumah. Selama ini bisanya saya menggunakan tabungan biasa, namun sekarang ingin gitu menyisihkan dalam tabungan jenis berjangka agar lebih disiplin dan sesuai rencana kapan hendak mulai memiliki rumah sendiri.

Ditambah tahun depan Hana sudah masuk SD. Artinya saya sudah harus sedia uang semesteran dan daftar ulang setiap tahunnya. Dan ga mungkin menggabungkan semua itu dalam satu tabungan berjangka, karena memang keperluan waktunya berbeda-beda.

Beruntung ketemu sama situs keuangan cermati.com. Excite banget waktu membaca menu produk finansial yang bisa kita peroleh infonya disana.
Feature produk finansial di cermati.com

Dengan adanya pilihan 17 bank, dan 79 produk tabungan, saya langsung bisa memilih, musti kemana mewujudkan rencana tabungan saya, serta jenis produk tabungan apa yang tepat.

Dilengkapi dengan kalkulator “Penyaring Tabungan” saya pun lebih mudah untuk menentukan besar uang yang harus disisihkan agar sesuai dengan tujuan menabung saya.
Pilihan "Penyaring Tabungan" di cermati.com

Well, salah satu Pe Er rumah tangga sudah selesai sekarang. Bagaimana dengan Anda, sahabat Rumah Hana; bagaimana cara menabung Anda? Jika masih bingung, cobalah mulai tentukan tujuan keuangan Sahabat. Dan bila bingung dengan produk tabungan apa yang tepat, cobalah mampir ke situs cermati.com, siapa tahu PR untuk masalah keuangan Sahabat juga selesai. So, let,s be smart financial with cermati.com



"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati"

Plagiasi, Ternyata Masih Ada, ya...


Salah satu kegiatan yang sering saya lakukan adalah nge-cek tulisan saya sendiri di google. Sekedar tahu si, sebarapa populer saya di dunia tulis menulis ini *hoekkk

Sayangnya, kadang saya malah mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan.
"Lo, ternyata ga populer, kan?"
Bener banget.... Follower saya ga seberapa kok. Orang yang berada di lingkaran saya juga belum banyak. Tapi yang membuat saya lebih sedih bin kesel, saya malah nemuin nama saya tersebar di beberapa situs yang saya kenal juga enggak. 

Rupanya, ada beberapa tulisan saya di theAsian Parent Indonesia yang dicopy paste begitu saja di situs mereka. Sejauh yang saya ingat, ada hampir 5-7 situs yang pernah nyathut tulisan saya di Asian Parent Indonesia.

Sedih, karena mereka yang melek teknologi rupanya belum anti plagiasi. Padahal menulis satu konten saja, bisa jadi prosesnya sangat lama. Tak hanya mencari tema yang tepat, sesuai dengan happening momen, tapi juga harus sesuai dengan tema dan misi yang dimiliki oleh pemilik situs. 

Bagi kami, tim editorial dari the Asian Parent Indonesia, hampir setiap hari kami berdiskusi, topik apa yang seru, engagement pembaca, serta manfaat dan tidaknya sebuah artikel yang hendak disodorkan oleh pembaca, 

Bukan sebuah hal yang mudah untuk merealisasikan apa yang disarankan oleh Google SEO tools menjadi sebuah artikel yang utuh. kadang kebentur KW, kadang kebentur dengan judul, aturan tentang gambar dan masih banyak lagi. 

Dan kalo kemudian semua itu tiba-tiba nongol di situs atau blog lain, apalagi kalo blog atau situs itu adalah blog jualan. Rasanya tu ....

Satu dua situs memang meminta maaf, dan kemudian mengoreksi, tapi banyak juga yang cuek Barbie...

Padahal mencantumkan sumber kan ga perlu waktu lama ya? Sama saja waktunya seperti saat mereka copas.

Sahabat Rumah Hana ada saran; apa yang sebaiknya saya lakukan?