-->

Layanan Info Halal Produk dari Telkomsel Info



Tadi pagi dapat sms notifikasi dari Telkomsel. Buat saya si, ini layanan baru ('kan baru tahu he he he).

Namanya layanan info kehalalan produk makanan. Saya pikir lumayan ni, buat kita-kita yang muslim dan kadang ragu dengan status produk baru (atau mungkin lama yang belum memperbaharui status kehalalannya).


Salah satu layanan Telkomsel Info
Status Kehalalan Produk Makanan



Caranya simple banget, cukup sms ke 9855 dengan format HALAL (spasi) Nama_Merk

Layanan ini ga gratis, kita kena charge Rp550, per satu kali sms. Menurut saya si, cukup murah, jika kita ga sedang tidak sempat masuk ke website MUI atau download daftar produk yang sudah berstatus halal.

Iseng, saya nyobain ngetes salah satu produk makanan yang sering kali diributin ke halal-nya.




Ps. Waktu beberapa waktu lalu pernah dengar produk diatas itu halal, tapi ga tahu ya, sekarang. Buat yang penasaran, silahkan mampir ke website resmi MUI aja ya.

Freelancer Tanpa Asuransi? Siap-siap Gigit Jari



Agar tidak gigit jari dimasa pensiun,
asuransi
haruslah masuk dalam
perencanaan keuangan seorang freelancer

Sudah lama banget saya hobi nyari info tentang pengelolaan keuangan. Biasanya info atau bincang tentang investasi adalah tema utama yang paling saya sukai. Maklum dulu saya adalah seorang pegawai swasta tanpa jaminan pensiun; apalagi sekarang, kerja sebagai freelancer yang jelas-jelas tidak ada jaminan apapun, meski itu hanya sekedar jaminan kesehatan.

Ga berarti saya (dan suami) tergolong orang yang mampu dan berlebih sehingga punya niat untuk investasi. Justru, karena kami ini memiliki penghasilan yang pas-pasan jadi sangat butuh (dan harus) investasi guna kebutuhan dimasa yang akan datang, atau ketika kejadian tidak diinginkan datang.

Jadi, ketika fee project turun, maka mau tidak mau, saya harus menyisihkan dana tersendiri untuk kebutuhan investasi, ataupun untuk dana kesehatan. Sayangnya dengan cara ini pun ga berarti saya sudah, dan boleh merasa aman.

Berapa si, maksimal gaji web content writer disini? Apalagi untuk sekelas newbie seperti saya. Jadi, bila mengharap menyisihkan dana pensiun dua jeti aja... rasanya kok seperti pungguk merindukan bulan, ya.

Terlebih untuk dana kesehatan. Biaya yang satu ini, seolah-olah terus membumbung tinggi dari waktu ke waktu. Jika dulu cukup menyediakan selembar uang warna biru bergambar I Gusti Ngurah Rai; kini tiga lembar pun kadang hanya cukup untuk menebus biaya obat.

Beruntung tanggal 15 Oktober kemarin sempat ikut acara Allianz bersama Indscript di acara "Konsep Story Telling untuk Memenangkan Lomba Blog". Di acara tersebut, selain melatih kecepatan dan kemampuan story telling saya, akhirnya saya memahami bagaimana agar kita dapat memenuhi kebutuhan dasar kita (sandang, pangan, dan papan plus proteksi keluarga) serta tetap berinvestasi untuk biaya hidup di masa depan.





Ibu Indari Mastuti saat Memberikan Materi
dalam acara "Story Telling untuk Memenangkan Lomba Blog"


Perlunya freelancer mempertimbangkan manajemen resiko vs investasi


Bekerja sebagai seorang freelancer itu sesungguhnya tidak mudah; karena selain jaminan flowcash yang tidak pasti, jaminan-jaminan sosial seperti pekerja kantoran pun otomatis tidak ada. Untuk itulah perlu perencanaan keuangan yang matang agar flowcash tetap positif sambil terus menyisihkan dana untuk masa pensiun nanti.

Rasanya sangat muskil kalo saya masih terus laku sebagai web content writer sampe usia 65 nanti. Makanya saat kemarin ada sesi tanya jawab, saya langsung tanya kepada pembicara Allianz, berapa si, jumlah yang musti kita sisihkan untuk investasi atau tabungan masa depan sekaligus mampu meng-cover kebutuhan di saat situasi tak terduga terjadi.

Piramida Kekayaan yang seharusnya setiap orang
bangun dengan kokoh


Pemateri dari Allianz waktu itu menjelaskan, bahwa cara terbaik untuk merencanakan masa depan (baca: investasi) sambil memastikan kebutuhan resiko juga terpenuhi (manajemen resiko) adalah dengan menentukan kebutuhan yang paling penting terlebih dahulu, yaitu tujuan-tujuan finansial terpendek (bayar tagihan listrik, cicilan motor de es be), dan lengkapi dengan dengan asuransi.

Alasannya, salah satu manfaat asuransi terbukti mampu menutupi kebutuhan-kebutuhan tak terduga, misalkan biaya kesehatan.

Mudahnya begini, andai saja saya sebagai salah satu dari sumber penghasilan keluarga sakit, otomatis selama beberapa waktu saya tidak akan mampu berkontribusi terhadap keuangan keluarga. Alih-alih menambah penghasilan, bisa jadi tabungan atau investasi masa depan yang saya sisihkan selama ini terpakai untuk biaya pengobatan.

Berbeda dengan halnya bila saya memiliki asuransi. Dengan memanfaatkan produk unitlink (atau tawaran proteksi ganda lainnya) yang kini banyak ditawarkan, bisa jadi investasi saya akan tetap utuh karena biaya pengobatan ditanggung oleh pihak asuransi.
Layanan Allianz yang sesuai tujuan

Mengetahui manfaat tersebut, penasaran saya mampir ke website resmi Allianz dan mencoba fasilitas perkiraan produk asuransi apa yang tepat untuk saya.



Dengan mengisi beberapa kuesioner pada halaman tersebut, maka akan diketahui profil investasi, serta produk Allianz apa yang tepat untuk saya.


Ternyata jika saya merencanakan memiliki dana sebesar Rp10.000.000 guna biaya hidup sebulan pada masa pensiun saya nanti, maka saya harus menyisihkan dana sebesar Rp544.001.53 selama kurang lebih 15 tahun.




Lumyan terjangkau preminya; tapi andai ikut asuransi dari dulu,

pasti preminya lebih kecil...

Dan berdasar profil investasi diatas, maka produk Allianz yang tepat untuk saya adalah Smart Linked Fixed Income Fund, Managed Fund USD, atau produk Allianz Syariah, Allisya, yaitu Allisya Fixed Income Fund.


So, jika Anda juga freelancer seperti saya (atau apapun profesi Anda) cobalah mulai pertimbangkan untuk memiliki polis asuransi sebagai salah satu jaminan investasi dan keluarga kita. Jangan sampai, deh, kita gigit jari dimasa tua hanya karena salah perencanaan di masa muda.



Terkesan menambah pengeluaran memang. Tapi semasa kita masih mampu untuk mencari penghasilan, saya rasa tidak ada salahnya jika kita membayar diri kita sendiri dengan polis asuransi, bukan? Be Healthy, Be Wealthy with Smart Insurance Solution from A-Z.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Allianz Writing Competition 2014
dengan tema
"Asuransi pada Setiap Aspek Kehidupan"
dan memenangkan penghargaan ketiga

Suamiku Bukan Donald Trumph

Tidak selamanya ibu bekerja karena kehendak mereka

Hari sudah menjelang maghrib ketika saya naik angkot 16B di pinggir rel kereta stasiun Tambun, seusai acara Allianz bersama Indscript di Simatupang. Seorang ibu memaksa naik ke dalam angkot. Padahal asli, si angkot sudah sangat full; istilah kata, masuk kedelai, bakal keluar tempe.

Beberapa penumpang berusaha mencegah si Ibu dengan mengatakan bahwa sudah tidak ada tempat duduk lagi. Tapi si Ibu keukeh tetep naik, alasannya ia punya seorang anak kecil yang harus segera ia susui.

Walhasil, si ibu  berdiri setengah bungkuk diatasas speaker dipojokan angkot.
Ketika diluar sana begitu banyak sindir-sindiran dan saling serang tentang siapa yang lebih baik diantara ibu bekerja dan ibu yang tinggal dirumah, saya melihat semangat dan tanggung jawab dimata ibu itu.

Sempat ngobrol kecil dengan Beliau ketika tanpa sengaja tangannya berpegangan pada pundak saya karena angkot yang sedikit ngebut.
"Maaf, Bu, ga sengaja. Saya harus segera pulang nyusuin anak."
"Iya, Bu ga papa."

Tanpa diminta, ia pun bercerita bahwa sesungguhnya ia juga tidak tega meninggalkan anaknya yang masih dalam masa menyusui untuk bekerja di luar rumah.Tapi apa daya, penghasilan suaminya belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Anak kan nanti juga butuh sekolah ya, Bu, kami juga butuh nabung untuk keperluan-keperluan mendadak."
Ia pun melanjutkan, sebetulnya hasil dari ia bekerja setelah dipotong ini itu juga tidak banyak. Tapi membuat mereka memiliki tabungan untuk masa depan si Kecil.

Saat itu saya hanya mengiyakan apa yang si Ibu katakan. Meski mungkin, sebagai ibu yang bekerja dirumah, bisa saja menyanggahnya dengan mengatakan, "mengapa tidak buka usaha aja dirumah", "mengapa tidak meningkatkan ketrampilan sehingga bisa menghasilkan tanpa harus meniggalkan anak", "apakah nilai tabungan yang menurutnya "tak seberapa" itu layak untuk dibayar dengan ketidak hadirannya disamping si kecil?"

Semua bisa saja saya tanyakan atau nyatakan; tapi saya juga sadar jawabannya seringkali tak semudah itu.
Bisa jadi hendak membuka usaha namun belum tentu ada modal. Kalo harus belajar ketrampilan masihlah butuh waktu. Padahal solusi kebutuhan seringkali tidak bisa menunggu.

Atau mungkin saya bisa menyanggah, "mengapa bukan suaminya saja yang pergi mencari tambahan?" Tapi lagi-lagi, saya sadar bahwa jawabannya juga tidak semudah itu.

Tidak semua laki-laki diberi talent dan pemikiran seperti Donald Trumph. Atau setidaknya mendapat inspirasi agar bisa mencari penghasilan seperti Amancio Ortega. Terima atau tidak terima, memang begitulah keseimbangan hidup.

Jadi, saat itu, saya hanya memilih hanya mengiyakan semua perkataan si Ibu.
Berharap peng-iya-an saya bisa sedikit menghiburnya. Siapa tahu ia juga adalah salah satu dari korban adu diskusi siapa yang terbaik antara ibu bekerja dan ibu dirumah. 

Teman Bisnis Saya...


Kaki-kaki kecil ini, adalah teman keseharian bisnis saya
Ia yang menemani saya menapaki panasnya aspal disiang hari menghantarkan pesanan
Tertatih-tatih, kaki kecilnya berjalan disepanjang jalanan
Keringat membasahi wajahnya yang imut, 
Tapi bibir mungilnya tak pernah berhenti tersenyum
Berceloteh tentang semua yang ia lihat
Bersorak kecil saat angin membawa awan menutupi matahari
"Alhamdulillah...adem, Bu"

Tangan kecil inilah teman sejati bisnis saya
Ia akan menggenggam erat baju saya ketika kedua tangan saya penuh dengan belanjaan dagangan
Tangan kecil inilah yang akan menguatkan saya ketika semangat saya menurun
Memijit punggung sambil mengingatkan,
"Ibu harus ngetik yang banyak, katanya mau beli lumah"
Terkadang ia kerepotan membantu saya membawa kantong-kantong kecil berisi nugget 
atau 
menyeret payung besar ketika saya benar-benar tak mampu membawanya

Badan kecil inilah teman sejati menulis saya
Ia akan merebah dipunggung, ketika saya sibuk mengejar deadline disetiap bulannya
Sesekali protes, tapi protesnya ia sampaikan dengan manis...
"Nanti aku bikin lobot ngetiklah, bial ibu bisa temani Hana mewalnai"
Sementara itu, kaki saya cukup jadi hiburan untuknya, 
Gelayutan ia disana, sambil tertawa kegirangan ketika kaki saya bergoyang-goyang menggodanya

Dan siang ini, ketika kami baru saja turun dari angkot 16B,
Sebuah mobil Honda Jazz merah melintas
Mulut kecilnya spontan berkata, 
"Kalo besar nanti, aku akan beli mobil merah seperti itu. Buat ibu pergi sekolah dan anterin dagangan"
Aaamiiiinnnnnn

Belajar Jualan...


Menjelaskan benefit/ keunggulan produk kita, juga bisa membantu jualan sukses

Waktu itu pernah diajakin sama teman utuk jualan buku edukasi Islami. Tapi saya beralasan, kalo saya tu ga pandai jualan. Alasannya karena malu nawarin ke orang.

Iya, saya ini orangnya gengsian setinggi langit. Meski sering ngiri dan selalu kepengen kalo lihat teman-teman yang pandai jualan. Padahal, saya ini punya cita-cita jadi enterprenuer, lho; tapi entah, susyeh kali ngikis si Gengsi itu.
Akhirnya, saya juluki "si Gengsi" itu sebagai si Musuh Besar. Sesuatu yang harus saya kalahkan kalo saya pengen maju dan naik kelas.

Makanya, waktu masuk Oriflame, mau ga mau harus tebelin muka, kuatin hati untuk nawarin. Kok? Lha, iya, bukan rahasia kalo banyak orang masih antipati dan trauma dengan namanya MLM. No matter how good the product is, masiiihhh aja ada yang memandang sebelah mata MLM.

Padahal kan ga semua MLM jelek dan hanya memanfaatkan member atau malah menjadikan downline pijakan untuk kaya,

Tapi, teteeepppp, anggapan itu masih saja sama.
https://m.facebook.com/Citra.Marboen?v=info&refid=17

Malu hati lah, sama Leader Oriflame yang begini, ni


So, begitu nyemplung Oriflame, yo, antepin aja. Tantangannya memang jadi double, menawarkan plus membawa nama MLM yang belum bersih itu.

Karena itu saya banyak belajar dari upline, ikut training online, keep in touch dengan jaringan, dan baca juga bagaimana memasarkan dengan cantik dan tetap di jalur kode etik Oriflame (memasarkan Oriflame ternyata ada kode etiknya lho, seabrek malah).

Dengan semakin sulitnya jalan ternyata kemudian memunculkan banyak ide. Untuk Oriflame, saya sedang menyusun sebuah blog kecantikan yang rencananya akan berisi review produk Oriflame, juga beberapa tips kecantikan yang bermanfaat (Insya Allah reviewnya jujur).

Hasil belajar itu, juga membantu usaha saya yang lain, yaitu jualan nugget non-msg/ pengawet. Jualan nugget begini, juga butuh usaha, mirip Oriflame. Yaitu meyakinkan pelanggan bahwa produk yang kita tawarkan bagus dan sebanding dengan harga yang dibrandrol.

Butuh meng-edukasi pembeli dulu (lebay dikit boleh ya...) menjelaskan apa kelebihan produk yang saya tawarkan dibanding produk sejenis. Saya mengakalinya dengan menempelkan kertas pada termos juga plank yang saya pasang di depan rumah.

Is it work? So far, yes. Rata-rata saya bisa menjual 10-15 produk dalam sehari, meski ga menggelar lapak di pasar.

Makin yakin sekarang untuk jualan. Dan Insya Allah, si Musuh besar itu, akan kalah nanti...

Allah Memenuhi dengan Cara Terbaik





Pagi kemarin saya dibuat kesal. Hari paling kesal sepertinya, sampai saya nyetatus"sampah" di wall Facebook (sesuatu yang sebaiknya tidak Anda lakukan).

Berawal dari sebuah toko pada jaringan direct selling (yang pasti bukan Oriflame) yang sedang menggelar acara promo, jauh-jauh hari saya sudah konfirmasi jam buka toko untuk acara tersebut. Karena saya lihat pegawainya yang selalu cembetut saat melayani customer, jadi saya ingin mengantisipasi "ke-cembetutan" mereka dipagi hari dengan datang lebih awal, saat mereka lebih fresh (menurut saya).

Singkat kata, ketika saya datang pagi itu saya sampai di toko jam 7.15. Toko masih tutup, rapet, pet, pet. Saya kontak pemiliknya via sms, mengapa toko belum buka sesuai yang dijanjikan. Eh, setengah jam kemudian baru dijawab bila barang promo belum bisa release karena belum ada kiriman dari pusat.

Ish, darah mulai mendidih ni. Dan lebih kuesel saat jam 8 ada sms masuk yang memberitahukan bahwa pengambilan produk promo dilayani pada hari Rabu.

Gosh!!!! Juengkeeeellll... banget saya. Habis waktu hampir dua jam hanya untuk bolak-balik rumah dan counter. Pikir saya, mereka pasti HIDUP kan di hari sabtu dan minggu. Dan hari Sabtu-Minggu kemarin itu sudah jaman teknologi yang terkenal dengan kerja efektif dan efisien kan?

Kenapa juga ga bikin sms-nya di dua hari itu. Jika memang belum dikirim, pasti hari Sabtu atau paling tidak Minggu sudah confirm kosong kan? Berapa waktu terbuang karena keterlambatan sistem mereka? Huah...!!!!

Sampai menjelang sore saya masih kuesel banget. Nyaris sampe linglung. Terus terang saya rugi. Rugi karena pada hari Rabu saya sudah terjadwal untuk mengikuti pelatihan menulis. Jadi sudah jelas, sangat kecil kemungkinan pesanan bisa saya dapatkan.

Secara materi;-biaya bolak-balik rumah-counter dan biaya belanja katalog promo- memang tidak besar. Namun, waktu yang terbuang, dan membuat saya tidak memiliki kesempatan menulis selama beberapa hari karena mempromosikan produk mereka inilah yang membuat saya kesal.


Hingga sebelum salat asar kemarin, saya membaca status mas Rama Adityakara, hanya selarik status namun sungguh sangat mengena



Ingat juga nasehat Sang Guru Compassion melalui Ayah Edy, betapa semua kejadian memang begitu adanya. Dibuat dalam sebuah keseimbangan. Teratur dan tidak teratur. Terorganisir dan berantakan. Tinggal disisi mana kita berdiri serta bagaimana kita menyikapinya.

Terkadang Tuhan memang bertindak tidak seperti yang kita inginkan. Namun dengan cara itulah Ia mendewasakan kita.

Sujud saya panjangkan akhirnya pada rakaat terakhir salat Asar saya. Membiarkan semua amarah mengalir ke bumi dan menggugurkan kesombongan saya. Kesombongan yang membuat saya marah dan merasa tidak dihargai.

Padahal seharusnyalah kita tidak perlu terlalu perduli akan penghargaan manusia. Selama kita sudah berniat menghargai sesama makhluknya, Insya Allah catatan kebaikan itu sudah Allah tuliskan dalam buku kebaikan kita.

Dan, Alhamdulillah, pagi ini saya terbangun dengan ringan. Whatever will be, will be... My job is just doing the best; and Allah will get the rest.


Rahayu Pawitri

Web Content Writer

Bersedekah Tepat Sasaran bersama Yatim Mandiri



Sudah beberapa bulan ini, setiap tanggal-tanggal diawal bulan, peminta sumbangan atas nama masjid ini dan itu atau yayasan panti ini dan itu rajin sekali menyambangi ke rumah. Sehari bisa sampe 4-5 kali.

Bukan, bukan tak ingin bersedekah. Bisa saja mereka adalah benar-benar orang tulus yang "digerakkan" oleh Allah untuk mempermudah dan mengingatkan kita bersedekah. Tapi bukan lah rahasia lagi, seringkali para peminta-minta sumbangan hanya mengatasnamakan Yayasan A, atau membangun masjid B dan sumbangan untuk Panti C.

Memang jika mereka berbohong itu urusan mereka dengan Allah. Tapi tetep... hati kok ga sreg ya...

Karena itu, saya memilih bersedekah melalui yayasan resmi saja, selain lebih terpercaya, Insya Allah akan lebih tepat sasaran. Biasanya dana sedekah saya salurkan ke dompet Dhuafa, Daqu, Sedekah Rombongan atau malah sebuah panti asuhan yang pembangunan dan operasionalnya memang kelihatan di depan mata.

Dan kemudian Master Blogging Optimize saya mengenalkan Yayasan Yatim Mandiri, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dengan tujuan untuk memberdayakan anak yatim menjadi manusia-manusia yang mandiri.

Amaze, sekali waktu pertama mampir ke website resmi www.yatimmandiri.org. Disana ada kalkulator zakat, pendaftaran dan konfirmasi donasi, hingga tausiyah dan konsultasi agama pun ada disana.

Tentang Yatim Mandiri


Awal berdiri, 31 Maret 1994, lembaga non-profit ini berdiri dengan nama Yayasan Pembinaan dan Pengembangan Panti Asuhan Islam dan Anak Purna Asuh (YP3IS). Dibentuk sebagai wujud kepedulian anak-anak yatim yang sudah cukup dewasa agar dapat mandiri selepas mereka SMA.


Dana yang terkumpul pada lembaga ini memang hanya disalurkan kepada mereka yang yatim, dengan pertimbangan bahwa anak piatu masih memiliki Bapak yang mampu memenuhi kebutuhan anak piatu.

Program Donasi Yatim Mandiri


Bentuk donasi dari Yatim Mandiri sangatlah beragam, mulai dari SGQ atau Super Gizi Qurban yang merupakan bentuk pengawetan daging qurban ke dalam bentuk makanan siap saji; pembangunan tempat ibadah, bantuan pendidikan hingga bedah rumah seperti yang dilakukan Yatim Mandiri cabang Kudus.

Jadi, mari, jika saat ini Anda memiliki dana lebih atau ingin tahu apakah penghasilan Anda telah mencukupi, berbagi yuk, melalui Yatim Mandiri.