-->

Mommychi, Asisten Tumbuh Kembang Anak untuk Mom and Child





Waktu dulu masih calon ibu, saya rajin banget ngumpulin artikel parenting, terutama tentang tumbuh kembang anak. Maklum, belum ada pengalaman, jadi, biar lebih siap lahir batin, gitu.

Dari situ saya tahu bahwa mencatat tumbuh kembang bayi sangatlah penting untuk kepentingan kita sebagai orang tua. Cara ini tidak hanya mudah untuk memastikan si Kecil memenuhi standar tumbuh kembangnya, namun juga memudahkan kita mengetahui ada tahapan perkembangan yang terlewat.




Jurnal perkembangan Hana


Dulu saya pakai sebuah jurnal tumbuh kembang anak bonus sisipan dari sebuah tabloid parenting yang bekerja sama dengan Kalbe Farma.

Ketika Hana beranjak besar,saya pakai buku kecil untuk mencatat perkembangan Hana. Sayanganya, karena kesibukan kegiatan di rumah juga pekerjaan freelance, maka jurnal pun tak bisa lagi sedetil dulu. Biasanya hanya momen-momen tertentu saja yang saya catat. Jika dulu masih sempat menulis jurnal kesehatan, membuat kliping parenting atau obat-obatan lainnya; sekarang mah… mana sempatttt.

Nah, saat mencari bahan artikel untuk majalah parenting tempat saya berkontribusi; saya menemukan aplikasi yang bisa membantu para ibu memantau tumbuh kembang anak, namanya Mommychi, aplikasi persembahan Kalbe Farma juga; tapi kali ini dipersembahkan untuk Momy dan juga si Kecil.




Halaman depan Mommychi
Aplikasinya lengkap banget lho...! Sampai kepikiran, andai Kalbe membuatnya 5 tahun yang lalu saat si Kimpuy (panggilan sayang Hana) masih unyu-unyu.

Ga repot musti bikin kliping resep obat, nyatet nama obat, vitamin, trus momen tumbuh kembang Hana juga bisa disimpan diaplikasi ini.
Imunisasi, artikel, tumbuh kembang anak, semua ada disini

Aplikasi ini memang lebih cocok untuk mereka yang berusia balita, meski yang sudah diatas 5 tahun seperti Hana pun masih bisa menggunakannya. Saya, misalnya menggunakan aplikasi ini untuk mencari direktori rumah sakit dan tempat dokter anak praktek, dan mencatat jurnal kesehatan Hana.
 
Sekarang, ga repot ngumpulin resep obat dan nyatet treatmant anak saat sakit


Jadi, kalo misal butuh ke dokter untuk konsultasi kesehatan anak, tinggal sodorin tu, jurnal, tanggal sekian si baby sakit, treatment yang dilakukan apa aja, lama sakitnya berapa hari dan lain sebagainya.

Aplikasi ini juga dilengkapi dengan artikel tumbuh kembang dan kesehatan anak yang penting banget untuk menge-cek perkembangan si Kecil. Okay, mungkin kita bisa menemukan artikel sejenis di pelbagai situs atau majalah parenting langganan. Hanya saja dengan banyaknya standar pertumbuhan anak, biasanya kita jadi lupa akan detil standar perkembangan dan tahapan putra-putri.

Komplit banget artikelnya


Nah, dengan Mommychi, semua ada di tangan sekarang. Untuk Mommy yang bekerja jadi bisa tu, update jurnal si Kecil sambil duduk manis di busway, nongkrong di kantin atau nunggu misua jemput dari kantor. Buat ibu yang dirumah juga jadi ena;, sambil leha-leha setelah aktivitas seharian dirumah, update deh, perkembangan si Kecil.

Oya, ada juga fitur penting buat para mommy ni, yang sedang merencanakan kehamilan; yaitu kalkulator kesuburan. Tinggal memasukkan tanggal haid terakhir dan siklus haid, ketemu deh rentang waktu kesuburan kita.




Jadi, buat Mommy Blogger yang sedang merencanakan kehamilan, atau malah sedang hamil, atau masih punya balita, perlu banget ni, cobain aplikasi lengkap ini. Bisa running di Android dan iOS lagi.




Tulisan ini diikutsertakan dalam Review Contest Mommychi Apps

Thanks Allianz!

Perlengkapan nge-blog yang asik 

Saya tu, kalo pas ketemu temen-temen blogger, suka banget ngiri dengan aneka gadget yang mereka bawa. Hasilnya, blog mereka pasti ciamik dengan gambar-gambar yang menarik.

Terbersit gitu, dalam hati untuk punya perlengkapan nge-blog yang lumayan. Tapi setelah membuat list dan melihat referensi harganya, kepala jadi cenut-cenut, deh.

Yach, yang namanya emak, ngliat harga kamera, leppi, atau smartphone berjeti-jeti, yo, pasti mikirnya, "Ini mah bisa kebeli susu anak sampe berbulan-bulan," 'Wah, lumayan ni, biaya masuk sekolah si Kimpuy bakal ke cover", de el el de es be.

Akhirnya waktu itu cuma bisa ber-azam dalam hati, "Ku pengen punya perlengkapan gadget dari ngontes, ah." Ga lupa iringi keinginan dengan doa, dan air mata. Eh, maksudnya dengan usaha. Cari info sana-sini, ikut pelatihan nge-blog, latihan nulis de el el de es be (lagi).

Daann... Alhamdulillah my time is coming. Tulisan tentang Freelancer dan Asuransi kemari ternyata menang. Selain sukses menginspirasi beberapa teman (menurut pengakuan mereka, lho, ..... hayah berasa motivator), juga sukses meraih juara ketiga kategori blogger. Horeeee......

Unforgettable Moment


Hadiahnya, Canon Power Shoot G16.

Alhamdulillah.... Allah memang sebaik-baik pengabul doa. Sok, hayuh atuh, yang sedang punya keinginan, pancangkan saja. Jangan lupa usaha plus, lengkapi dengan sedekah ya....

Harapan saya, bisa menang kompetisi blog lagi dengan hadian Samsung Galaxy Tab S dan MacBook air (ngiri gituh sama juara satu dan dua kemarin he he he he). Bantuin doain saya ya, ya, ya....

Layanan Info Halal Produk dari Telkomsel Info



Tadi pagi dapat sms notifikasi dari Telkomsel. Buat saya si, ini layanan baru ('kan baru tahu he he he).

Namanya layanan info kehalalan produk makanan. Saya pikir lumayan ni, buat kita-kita yang muslim dan kadang ragu dengan status produk baru (atau mungkin lama yang belum memperbaharui status kehalalannya).


Salah satu layanan Telkomsel Info
Status Kehalalan Produk Makanan



Caranya simple banget, cukup sms ke 9855 dengan format HALAL (spasi) Nama_Merk

Layanan ini ga gratis, kita kena charge Rp550, per satu kali sms. Menurut saya si, cukup murah, jika kita ga sedang tidak sempat masuk ke website MUI atau download daftar produk yang sudah berstatus halal.

Iseng, saya nyobain ngetes salah satu produk makanan yang sering kali diributin ke halal-nya.




Ps. Waktu beberapa waktu lalu pernah dengar produk diatas itu halal, tapi ga tahu ya, sekarang. Buat yang penasaran, silahkan mampir ke website resmi MUI aja ya.

Freelancer Tanpa Asuransi? Siap-siap Gigit Jari



Agar tidak gigit jari dimasa pensiun,
asuransi
haruslah masuk dalam
perencanaan keuangan seorang freelancer

Sudah lama banget saya hobi nyari info tentang pengelolaan keuangan. Biasanya info atau bincang tentang investasi adalah tema utama yang paling saya sukai. Maklum dulu saya adalah seorang pegawai swasta tanpa jaminan pensiun; apalagi sekarang, kerja sebagai freelancer yang jelas-jelas tidak ada jaminan apapun, meski itu hanya sekedar jaminan kesehatan.

Ga berarti saya (dan suami) tergolong orang yang mampu dan berlebih sehingga punya niat untuk investasi. Justru, karena kami ini memiliki penghasilan yang pas-pasan jadi sangat butuh (dan harus) investasi guna kebutuhan dimasa yang akan datang, atau ketika kejadian tidak diinginkan datang.

Jadi, ketika fee project turun, maka mau tidak mau, saya harus menyisihkan dana tersendiri untuk kebutuhan investasi, ataupun untuk dana kesehatan. Sayangnya dengan cara ini pun ga berarti saya sudah, dan boleh merasa aman.

Berapa si, maksimal gaji web content writer disini? Apalagi untuk sekelas newbie seperti saya. Jadi, bila mengharap menyisihkan dana pensiun dua jeti aja... rasanya kok seperti pungguk merindukan bulan, ya.

Terlebih untuk dana kesehatan. Biaya yang satu ini, seolah-olah terus membumbung tinggi dari waktu ke waktu. Jika dulu cukup menyediakan selembar uang warna biru bergambar I Gusti Ngurah Rai; kini tiga lembar pun kadang hanya cukup untuk menebus biaya obat.

Beruntung tanggal 15 Oktober kemarin sempat ikut acara Allianz bersama Indscript di acara "Konsep Story Telling untuk Memenangkan Lomba Blog". Di acara tersebut, selain melatih kecepatan dan kemampuan story telling saya, akhirnya saya memahami bagaimana agar kita dapat memenuhi kebutuhan dasar kita (sandang, pangan, dan papan plus proteksi keluarga) serta tetap berinvestasi untuk biaya hidup di masa depan.





Ibu Indari Mastuti saat Memberikan Materi
dalam acara "Story Telling untuk Memenangkan Lomba Blog"


Perlunya freelancer mempertimbangkan manajemen resiko vs investasi


Bekerja sebagai seorang freelancer itu sesungguhnya tidak mudah; karena selain jaminan flowcash yang tidak pasti, jaminan-jaminan sosial seperti pekerja kantoran pun otomatis tidak ada. Untuk itulah perlu perencanaan keuangan yang matang agar flowcash tetap positif sambil terus menyisihkan dana untuk masa pensiun nanti.

Rasanya sangat muskil kalo saya masih terus laku sebagai web content writer sampe usia 65 nanti. Makanya saat kemarin ada sesi tanya jawab, saya langsung tanya kepada pembicara Allianz, berapa si, jumlah yang musti kita sisihkan untuk investasi atau tabungan masa depan sekaligus mampu meng-cover kebutuhan di saat situasi tak terduga terjadi.

Piramida Kekayaan yang seharusnya setiap orang
bangun dengan kokoh


Pemateri dari Allianz waktu itu menjelaskan, bahwa cara terbaik untuk merencanakan masa depan (baca: investasi) sambil memastikan kebutuhan resiko juga terpenuhi (manajemen resiko) adalah dengan menentukan kebutuhan yang paling penting terlebih dahulu, yaitu tujuan-tujuan finansial terpendek (bayar tagihan listrik, cicilan motor de es be), dan lengkapi dengan dengan asuransi.

Alasannya, salah satu manfaat asuransi terbukti mampu menutupi kebutuhan-kebutuhan tak terduga, misalkan biaya kesehatan.

Mudahnya begini, andai saja saya sebagai salah satu dari sumber penghasilan keluarga sakit, otomatis selama beberapa waktu saya tidak akan mampu berkontribusi terhadap keuangan keluarga. Alih-alih menambah penghasilan, bisa jadi tabungan atau investasi masa depan yang saya sisihkan selama ini terpakai untuk biaya pengobatan.

Berbeda dengan halnya bila saya memiliki asuransi. Dengan memanfaatkan produk unitlink (atau tawaran proteksi ganda lainnya) yang kini banyak ditawarkan, bisa jadi investasi saya akan tetap utuh karena biaya pengobatan ditanggung oleh pihak asuransi.
Layanan Allianz yang sesuai tujuan

Mengetahui manfaat tersebut, penasaran saya mampir ke website resmi Allianz dan mencoba fasilitas perkiraan produk asuransi apa yang tepat untuk saya.



Dengan mengisi beberapa kuesioner pada halaman tersebut, maka akan diketahui profil investasi, serta produk Allianz apa yang tepat untuk saya.


Ternyata jika saya merencanakan memiliki dana sebesar Rp10.000.000 guna biaya hidup sebulan pada masa pensiun saya nanti, maka saya harus menyisihkan dana sebesar Rp544.001.53 selama kurang lebih 15 tahun.




Lumyan terjangkau preminya; tapi andai ikut asuransi dari dulu,

pasti preminya lebih kecil...

Dan berdasar profil investasi diatas, maka produk Allianz yang tepat untuk saya adalah Smart Linked Fixed Income Fund, Managed Fund USD, atau produk Allianz Syariah, Allisya, yaitu Allisya Fixed Income Fund.


So, jika Anda juga freelancer seperti saya (atau apapun profesi Anda) cobalah mulai pertimbangkan untuk memiliki polis asuransi sebagai salah satu jaminan investasi dan keluarga kita. Jangan sampai, deh, kita gigit jari dimasa tua hanya karena salah perencanaan di masa muda.



Terkesan menambah pengeluaran memang. Tapi semasa kita masih mampu untuk mencari penghasilan, saya rasa tidak ada salahnya jika kita membayar diri kita sendiri dengan polis asuransi, bukan? Be Healthy, Be Wealthy with Smart Insurance Solution from A-Z.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Allianz Writing Competition 2014
dengan tema
"Asuransi pada Setiap Aspek Kehidupan"
dan memenangkan penghargaan ketiga

Suamiku Bukan Donald Trumph

Tidak selamanya ibu bekerja karena kehendak mereka

Hari sudah menjelang maghrib ketika saya naik angkot 16B di pinggir rel kereta stasiun Tambun, seusai acara Allianz bersama Indscript di Simatupang. Seorang ibu memaksa naik ke dalam angkot. Padahal asli, si angkot sudah sangat full; istilah kata, masuk kedelai, bakal keluar tempe.

Beberapa penumpang berusaha mencegah si Ibu dengan mengatakan bahwa sudah tidak ada tempat duduk lagi. Tapi si Ibu keukeh tetep naik, alasannya ia punya seorang anak kecil yang harus segera ia susui.

Walhasil, si ibu  berdiri setengah bungkuk diatasas speaker dipojokan angkot.
Ketika diluar sana begitu banyak sindir-sindiran dan saling serang tentang siapa yang lebih baik diantara ibu bekerja dan ibu yang tinggal dirumah, saya melihat semangat dan tanggung jawab dimata ibu itu.

Sempat ngobrol kecil dengan Beliau ketika tanpa sengaja tangannya berpegangan pada pundak saya karena angkot yang sedikit ngebut.
"Maaf, Bu, ga sengaja. Saya harus segera pulang nyusuin anak."
"Iya, Bu ga papa."

Tanpa diminta, ia pun bercerita bahwa sesungguhnya ia juga tidak tega meninggalkan anaknya yang masih dalam masa menyusui untuk bekerja di luar rumah.Tapi apa daya, penghasilan suaminya belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Anak kan nanti juga butuh sekolah ya, Bu, kami juga butuh nabung untuk keperluan-keperluan mendadak."
Ia pun melanjutkan, sebetulnya hasil dari ia bekerja setelah dipotong ini itu juga tidak banyak. Tapi membuat mereka memiliki tabungan untuk masa depan si Kecil.

Saat itu saya hanya mengiyakan apa yang si Ibu katakan. Meski mungkin, sebagai ibu yang bekerja dirumah, bisa saja menyanggahnya dengan mengatakan, "mengapa tidak buka usaha aja dirumah", "mengapa tidak meningkatkan ketrampilan sehingga bisa menghasilkan tanpa harus meniggalkan anak", "apakah nilai tabungan yang menurutnya "tak seberapa" itu layak untuk dibayar dengan ketidak hadirannya disamping si kecil?"

Semua bisa saja saya tanyakan atau nyatakan; tapi saya juga sadar jawabannya seringkali tak semudah itu.
Bisa jadi hendak membuka usaha namun belum tentu ada modal. Kalo harus belajar ketrampilan masihlah butuh waktu. Padahal solusi kebutuhan seringkali tidak bisa menunggu.

Atau mungkin saya bisa menyanggah, "mengapa bukan suaminya saja yang pergi mencari tambahan?" Tapi lagi-lagi, saya sadar bahwa jawabannya juga tidak semudah itu.

Tidak semua laki-laki diberi talent dan pemikiran seperti Donald Trumph. Atau setidaknya mendapat inspirasi agar bisa mencari penghasilan seperti Amancio Ortega. Terima atau tidak terima, memang begitulah keseimbangan hidup.

Jadi, saat itu, saya hanya memilih hanya mengiyakan semua perkataan si Ibu.
Berharap peng-iya-an saya bisa sedikit menghiburnya. Siapa tahu ia juga adalah salah satu dari korban adu diskusi siapa yang terbaik antara ibu bekerja dan ibu dirumah. 

Teman Bisnis Saya...


Kaki-kaki kecil ini, adalah teman keseharian bisnis saya
Ia yang menemani saya menapaki panasnya aspal disiang hari menghantarkan pesanan
Tertatih-tatih, kaki kecilnya berjalan disepanjang jalanan
Keringat membasahi wajahnya yang imut, 
Tapi bibir mungilnya tak pernah berhenti tersenyum
Berceloteh tentang semua yang ia lihat
Bersorak kecil saat angin membawa awan menutupi matahari
"Alhamdulillah...adem, Bu"

Tangan kecil inilah teman sejati bisnis saya
Ia akan menggenggam erat baju saya ketika kedua tangan saya penuh dengan belanjaan dagangan
Tangan kecil inilah yang akan menguatkan saya ketika semangat saya menurun
Memijit punggung sambil mengingatkan,
"Ibu harus ngetik yang banyak, katanya mau beli lumah"
Terkadang ia kerepotan membantu saya membawa kantong-kantong kecil berisi nugget 
atau 
menyeret payung besar ketika saya benar-benar tak mampu membawanya

Badan kecil inilah teman sejati menulis saya
Ia akan merebah dipunggung, ketika saya sibuk mengejar deadline disetiap bulannya
Sesekali protes, tapi protesnya ia sampaikan dengan manis...
"Nanti aku bikin lobot ngetiklah, bial ibu bisa temani Hana mewalnai"
Sementara itu, kaki saya cukup jadi hiburan untuknya, 
Gelayutan ia disana, sambil tertawa kegirangan ketika kaki saya bergoyang-goyang menggodanya

Dan siang ini, ketika kami baru saja turun dari angkot 16B,
Sebuah mobil Honda Jazz merah melintas
Mulut kecilnya spontan berkata, 
"Kalo besar nanti, aku akan beli mobil merah seperti itu. Buat ibu pergi sekolah dan anterin dagangan"
Aaamiiiinnnnnn

Belajar Jualan...


Menjelaskan benefit/ keunggulan produk kita, juga bisa membantu jualan sukses

Waktu itu pernah diajakin sama teman utuk jualan buku edukasi Islami. Tapi saya beralasan, kalo saya tu ga pandai jualan. Alasannya karena malu nawarin ke orang.

Iya, saya ini orangnya gengsian setinggi langit. Meski sering ngiri dan selalu kepengen kalo lihat teman-teman yang pandai jualan. Padahal, saya ini punya cita-cita jadi enterprenuer, lho; tapi entah, susyeh kali ngikis si Gengsi itu.
Akhirnya, saya juluki "si Gengsi" itu sebagai si Musuh Besar. Sesuatu yang harus saya kalahkan kalo saya pengen maju dan naik kelas.

Makanya, waktu masuk Oriflame, mau ga mau harus tebelin muka, kuatin hati untuk nawarin. Kok? Lha, iya, bukan rahasia kalo banyak orang masih antipati dan trauma dengan namanya MLM. No matter how good the product is, masiiihhh aja ada yang memandang sebelah mata MLM.

Padahal kan ga semua MLM jelek dan hanya memanfaatkan member atau malah menjadikan downline pijakan untuk kaya,

Tapi, teteeepppp, anggapan itu masih saja sama.
https://m.facebook.com/Citra.Marboen?v=info&refid=17

Malu hati lah, sama Leader Oriflame yang begini, ni


So, begitu nyemplung Oriflame, yo, antepin aja. Tantangannya memang jadi double, menawarkan plus membawa nama MLM yang belum bersih itu.

Karena itu saya banyak belajar dari upline, ikut training online, keep in touch dengan jaringan, dan baca juga bagaimana memasarkan dengan cantik dan tetap di jalur kode etik Oriflame (memasarkan Oriflame ternyata ada kode etiknya lho, seabrek malah).

Dengan semakin sulitnya jalan ternyata kemudian memunculkan banyak ide. Untuk Oriflame, saya sedang menyusun sebuah blog kecantikan yang rencananya akan berisi review produk Oriflame, juga beberapa tips kecantikan yang bermanfaat (Insya Allah reviewnya jujur).

Hasil belajar itu, juga membantu usaha saya yang lain, yaitu jualan nugget non-msg/ pengawet. Jualan nugget begini, juga butuh usaha, mirip Oriflame. Yaitu meyakinkan pelanggan bahwa produk yang kita tawarkan bagus dan sebanding dengan harga yang dibrandrol.

Butuh meng-edukasi pembeli dulu (lebay dikit boleh ya...) menjelaskan apa kelebihan produk yang saya tawarkan dibanding produk sejenis. Saya mengakalinya dengan menempelkan kertas pada termos juga plank yang saya pasang di depan rumah.

Is it work? So far, yes. Rata-rata saya bisa menjual 10-15 produk dalam sehari, meski ga menggelar lapak di pasar.

Makin yakin sekarang untuk jualan. Dan Insya Allah, si Musuh besar itu, akan kalah nanti...

Allah Memenuhi dengan Cara Terbaik





Pagi kemarin saya dibuat kesal. Hari paling kesal sepertinya, sampai saya nyetatus"sampah" di wall Facebook (sesuatu yang sebaiknya tidak Anda lakukan).

Berawal dari sebuah toko pada jaringan direct selling (yang pasti bukan Oriflame) yang sedang menggelar acara promo, jauh-jauh hari saya sudah konfirmasi jam buka toko untuk acara tersebut. Karena saya lihat pegawainya yang selalu cembetut saat melayani customer, jadi saya ingin mengantisipasi "ke-cembetutan" mereka dipagi hari dengan datang lebih awal, saat mereka lebih fresh (menurut saya).

Singkat kata, ketika saya datang pagi itu saya sampai di toko jam 7.15. Toko masih tutup, rapet, pet, pet. Saya kontak pemiliknya via sms, mengapa toko belum buka sesuai yang dijanjikan. Eh, setengah jam kemudian baru dijawab bila barang promo belum bisa release karena belum ada kiriman dari pusat.

Ish, darah mulai mendidih ni. Dan lebih kuesel saat jam 8 ada sms masuk yang memberitahukan bahwa pengambilan produk promo dilayani pada hari Rabu.

Gosh!!!! Juengkeeeellll... banget saya. Habis waktu hampir dua jam hanya untuk bolak-balik rumah dan counter. Pikir saya, mereka pasti HIDUP kan di hari sabtu dan minggu. Dan hari Sabtu-Minggu kemarin itu sudah jaman teknologi yang terkenal dengan kerja efektif dan efisien kan?

Kenapa juga ga bikin sms-nya di dua hari itu. Jika memang belum dikirim, pasti hari Sabtu atau paling tidak Minggu sudah confirm kosong kan? Berapa waktu terbuang karena keterlambatan sistem mereka? Huah...!!!!

Sampai menjelang sore saya masih kuesel banget. Nyaris sampe linglung. Terus terang saya rugi. Rugi karena pada hari Rabu saya sudah terjadwal untuk mengikuti pelatihan menulis. Jadi sudah jelas, sangat kecil kemungkinan pesanan bisa saya dapatkan.

Secara materi;-biaya bolak-balik rumah-counter dan biaya belanja katalog promo- memang tidak besar. Namun, waktu yang terbuang, dan membuat saya tidak memiliki kesempatan menulis selama beberapa hari karena mempromosikan produk mereka inilah yang membuat saya kesal.


Hingga sebelum salat asar kemarin, saya membaca status mas Rama Adityakara, hanya selarik status namun sungguh sangat mengena



Ingat juga nasehat Sang Guru Compassion melalui Ayah Edy, betapa semua kejadian memang begitu adanya. Dibuat dalam sebuah keseimbangan. Teratur dan tidak teratur. Terorganisir dan berantakan. Tinggal disisi mana kita berdiri serta bagaimana kita menyikapinya.

Terkadang Tuhan memang bertindak tidak seperti yang kita inginkan. Namun dengan cara itulah Ia mendewasakan kita.

Sujud saya panjangkan akhirnya pada rakaat terakhir salat Asar saya. Membiarkan semua amarah mengalir ke bumi dan menggugurkan kesombongan saya. Kesombongan yang membuat saya marah dan merasa tidak dihargai.

Padahal seharusnyalah kita tidak perlu terlalu perduli akan penghargaan manusia. Selama kita sudah berniat menghargai sesama makhluknya, Insya Allah catatan kebaikan itu sudah Allah tuliskan dalam buku kebaikan kita.

Dan, Alhamdulillah, pagi ini saya terbangun dengan ringan. Whatever will be, will be... My job is just doing the best; and Allah will get the rest.


Rahayu Pawitri

Web Content Writer

Bersedekah Tepat Sasaran bersama Yatim Mandiri



Sudah beberapa bulan ini, setiap tanggal-tanggal diawal bulan, peminta sumbangan atas nama masjid ini dan itu atau yayasan panti ini dan itu rajin sekali menyambangi ke rumah. Sehari bisa sampe 4-5 kali.

Bukan, bukan tak ingin bersedekah. Bisa saja mereka adalah benar-benar orang tulus yang "digerakkan" oleh Allah untuk mempermudah dan mengingatkan kita bersedekah. Tapi bukan lah rahasia lagi, seringkali para peminta-minta sumbangan hanya mengatasnamakan Yayasan A, atau membangun masjid B dan sumbangan untuk Panti C.

Memang jika mereka berbohong itu urusan mereka dengan Allah. Tapi tetep... hati kok ga sreg ya...

Karena itu, saya memilih bersedekah melalui yayasan resmi saja, selain lebih terpercaya, Insya Allah akan lebih tepat sasaran. Biasanya dana sedekah saya salurkan ke dompet Dhuafa, Daqu, Sedekah Rombongan atau malah sebuah panti asuhan yang pembangunan dan operasionalnya memang kelihatan di depan mata.

Dan kemudian Master Blogging Optimize saya mengenalkan Yayasan Yatim Mandiri, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dengan tujuan untuk memberdayakan anak yatim menjadi manusia-manusia yang mandiri.

Amaze, sekali waktu pertama mampir ke website resmi www.yatimmandiri.org. Disana ada kalkulator zakat, pendaftaran dan konfirmasi donasi, hingga tausiyah dan konsultasi agama pun ada disana.

Tentang Yatim Mandiri


Awal berdiri, 31 Maret 1994, lembaga non-profit ini berdiri dengan nama Yayasan Pembinaan dan Pengembangan Panti Asuhan Islam dan Anak Purna Asuh (YP3IS). Dibentuk sebagai wujud kepedulian anak-anak yatim yang sudah cukup dewasa agar dapat mandiri selepas mereka SMA.


Dana yang terkumpul pada lembaga ini memang hanya disalurkan kepada mereka yang yatim, dengan pertimbangan bahwa anak piatu masih memiliki Bapak yang mampu memenuhi kebutuhan anak piatu.

Program Donasi Yatim Mandiri


Bentuk donasi dari Yatim Mandiri sangatlah beragam, mulai dari SGQ atau Super Gizi Qurban yang merupakan bentuk pengawetan daging qurban ke dalam bentuk makanan siap saji; pembangunan tempat ibadah, bantuan pendidikan hingga bedah rumah seperti yang dilakukan Yatim Mandiri cabang Kudus.

Jadi, mari, jika saat ini Anda memiliki dana lebih atau ingin tahu apakah penghasilan Anda telah mencukupi, berbagi yuk, melalui Yatim Mandiri.

Menulis; Mengapa Semua Orang Lebih Baik Menguasainya

Ada banyak manfaat yang bisa Anda peroleh dari kegiatan menulis

Sore ini seorang teman curhat kepada saya, ada seorang guru yang memiliki masalah. Delapan tahun sebagai guru pada sebuah yayasan bergaji 1.5juta/ bulan. Ketika sudah sertifikasi, mendapat tambahan uang sertifikasi setahun sekali sebesar 5juta.

Namun sayang, tambahan gaji setahun sekali ini masih dipotong 50% oleh Yayasan dengan alasan untuk dibagi-bagi dengan mereka yang belum tersertifikasi. Merasa perlakuan Yayasan tidak adil, Beliau ingin berbagi dengan dengan media, namun tak tahu bagaimana menuliskannya.

Kali ini saya tak ingin menyoal tentang ketidak adilan diatas, namun saya ingin menyoal tentang bagaimana menuliskannya.

Mengapa Kemampuan Menulis Sebaiknya Anda Kuasai

Sebetulnya menuliskan persoalan sendiri tentulah mudah, terlebih mengungkapkan persoalan yang kita alami sendiri. Saat mengikuti pelatihan menulis artikel pun, saran latihan menulis pertama, juga tentang persoalan atau pengalaman sendiri.

Karena tentu saja kita lebih mudah menuliskannya dan tentu tidak akan mengalami writers blok atau kebuntuan ide.

Biasanya rasa kebingungan muncul HANYA karena belum terbiasa menulis, mengurai apa yang dipikirkan kedalam tulisan. Sayangnya lagi, jika tidak ada motivasi yang kuat, orang cenderung untuk malas memulai latihan menulis.

Padahal, manfaat menulis ini telah banyak diklaim sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah. Menulis membuat kita mampu melihat akar sebuah masalah, sehingga penyelesain pun mudah untuk dicapai.

Menguraikan masalah melalui tulisan juga akan membantu orang lain untuk memahami kronologi masalah yang kita alami. Dan bisa jadi, membantu kita menemukan penyelesaian masalah pula.

Masih ingat 'kan kasus matematika 4x6=6x4 yang sedang ramai dibicarakan itu. Dari guru besar, sampai Wikipedia pun ramai membicarakannya. Entah itu memberikan pembenaran, solusi atau hanya sekedar mengomentari (eh, bedanya apa, ya? he he he). Itulah mengapa kemampuan menulis sebaiknya Anda kuasai.

Untuk contoh masalah sang Guru diatas, bisa saja Beliau memulai dengan menuliskan apa yang ia Beliau rasakan sekarang; apakah sedih, galau, kesal, atau jengkel setengah mati.

"Saat ini saya sedang merasa kesal, bahkan sangat marah atas ketidak adilan yang saya alami. Coba Anda bayangkan .... bla...bla...."

Atau mungkin yang sedikit lebih jaim

"Sebagai seorang guru, sesungguhnyalah saya merasa malu mengungkapakna hal ini. Karena saya kawatir jika tulisan saya ini akan mencederai ketulusan saya mengabdi sebagai guru. Namun ketidak adilan ini haruslah saya ungkapkan karena .,... bla... bla..."

Mudah bukan? So, let's start to write!

Cara Menghapus Persyaratan "Google Plus" pada Kolom Komentar



Sejak ikut kelas Booster Blog punya Mbak Nunu, saya selalu diprotes Beliau karena setting komentar blog saya harus dengan akun Google plus. Sehingga pembaca yang tak memiliki akun Google plus tentu saja tak bisa berkomentar pada post saya.

Nah, Beliau meminta saya untuk mengganti setting tersebut agar lebih nyaman untuk pembaca.

Berhari-hari nguplek cara mengganti setting, serta menghilangkan persyaratan kepemilikan (hayah...) Google plus pada komentar saya. Nguplek sana-sini. Mulai dari tips-tips blogger di Indonesia sampai yang Western. Semua rata-rata harus menghapus akun google plus secara penuh. Dan itu artinya juga akun-aku yang berkaitan termasuk email.

Waduh, yo, semaput saya kalo seperti itu. Buanyak data dan link penting pada email dan google plus yang saya gunakan. Akhirnya... menggabungkan semua ilmu dan main ngawur, ketemu juga ni, cara yang ampuh agar semua orang bisa komentar di blog kita.

Monggo dipun simak.....

Langkah-langkah menghapus persyaratan kepemilikan Google Plus pada kolom komentar blog


1. Pilih opsi "Akun" di sebelah kanan dasbor






2. Nanti akan muncul seperti ini. Pilih Tab "Alat data"




3. Nah, klik seperti pada gambar




4. Edit profil blogger Sahabat





5. Lanjut ke pengaturan Dasbor Blogger




6. Selesai deh. 



Dah, gitu aja. Biar ga banyak sepams, kembali ke setting dasar dan pilih komentar, gunakan moderasi. Cakep dah.

Yang bernasib seperti saya, silahkan mencoba.

d'BCN, Tempat Membangun Bisnis dengan Modal Kecil


Huahhh... akhirnya saya anggota d'BCNers juga... Apaan si? Itu, tu, perkumpulan members Oriflame yang ditujukan untuk memantu downline mereka mencapai tujuan bisnisnya bersama Oriflame. 

Dah lama banget kenalan sama Oriflame. Kenal prooduk dan pake juga. Tapi, ga pernah kepikiran untukk terjun di dalamnya, tupo-nya yang bisa ampe 600 rebay tu... uh uh, enggak banget deh!

Hanya saja,  setelah "dikembalikan" ke dunia nulis oleh Dik Lis Dhaniati, eh, doi ngenalin juga dengan d'BCN.
Dia bercerita bagaimana kerennya d'BCN membangun dan membantu para downlinenya membangun bisnis mereka. Ga hanya sekedar menyuruh tupo dan rekrut, tapi detil langkahnya juga dibagi disana. 

Hmm... boljug ni, pikir saya. Tapi, waktu itu masih males mau gabung. Karena asli, saya bukan seorang perekrut yang baik.
Nah, gegara dapet order web content tentang Oriflame saya pun jadi sukaaaa banget dengan d'BCN. Waktu asik ngoprek product knowledge Oriflame, ketemu video presentasi Nadia Meutia (iye... Nadia yang penyiar ituuuhh). Ih, doi seger banget ya pikir saya. Jadi kalo kita bisa tampil sehat, cantik plus dapet penghasilan, why not? Jadi, Bismillah, I am sign in to Oriflame.

Masuk deh, ke grup privat para d'BCNers. Langsung ketemu sama upline Ibu Astriani Karnaningrum. Baca E-OOm mbak Aisyah, upliner juga, yang berbunyi kira-kira begini, "Ayo, setelah menetapkan tujuan yang ingin dicapai, ceritakan apa yang menjadi kelebihan dan kekuranganmu sama upline-mu; biar dibantu sama mereka untuk meraih impianmu".


Yup, bener banget, Oriflame, memang MLM, tapi disini juga diajari membangun bisnis dari zeroo banget. Salah satunya, ya itu, mengenali bakat dan kelemahan kita. Seperti seorang Wympy Diocta Koto, katakan, bahwa berbisnis haruslah disesuaikan dengan bakat atau talent kita.

Menjadi entrepenuer itu ga gampang, dan pasti akan terasa berat jika tidak sesuai dengan bakat kita. Bekerja tidak sesuai dengan bakat saja sudah sulit, apalagi berbisnis. 
Nah, begitu pula di Oriflame, dengan menceritakan apa kekurangan dan bakat kita, upline akan tahu jalan mana yang bisa kita tempuh untuk menuju tujuan kita. 

Selayak kita sudah sering dengar di MLM biasanya para membernya diminta untuk memakai produk dalam keseharian mereka.Tujuannya selain agar mudah menawarkan kelebihan produk kita juga bisa membangun brand dari produk yang kita jual. 

Masih mengutip tips bisnis dari seorang Wempy, CEO Wardour and Oxford, Konsultan Pengembangan Bisnis Internasional; setelah bakat, membangun Brand adalah penting bagi bisnis yang dimulai dari Nol.

Dengan melekatkan Brand produk pada diri kita, orang akan tahu, seperti apa si, pasar produk kita, apa keuntungan yang akan mereka peroleh dengan menggunakan produk kita dan lain sebagainya.

Meet Mr. Wempy Dyocta Koto
Langkah dasar selanjutnya menurut Wempy adalah menuliskan dengan detil apa yang ingin dicapai.Mulai dari yang besar, dan terus dibagi hingga tujuan per bulan jika perlu, harian. Dengan memasang target, hari ini mau apa, bulan depan mau kemana, apa saja resiko dan langkah antisipasinya. Target juga perlu dituliskan, selain agar mudah diingat, ini akan menjadi afirmasi bagi pikiran kita. 
Langkah terakhir adalah memiliki panutan dalam bisnis. Nah, kalo ini sih, Insya Allah d'BCN sudah menjadi kendaraan yang tepat. Semua upline yang telah sukses, bisa dikorek kisah dan perjuangannya untuk sampai pada posisi mereka sekarang. 
So, jika melihat semua tips dari Wempy Diocta diatas, sepertinya jalan sukses ke tujuan saya Insya Allah sudah terbuka lebar. What I need is simply making move, be strong and keep spirit. Ya, semoga Allah meridhoi dan mempermudah tujuan saya untuk memiliki Rumah Impian saya di tahun 2015 nanti. Amiien. 
(Again, Pray a Luck for me, yach, not wish he he he).


 Rahayu Pawitri
 Web Contenct Writer, d'Bcners




Peringatan untuk yang punya PAYPAL!!!!

Baru saja tadi cek forlder SPAM di email. Ga tahunya nemu pemebritahuan dari PayPal untuk konfirmasi ID lagi (????)
Aneh saja, secara verifikasi sekali biasanya ga butuh verifikasi lagi. Dan saat dibuka, katanya saya dapat transfer dana $6900. Uhuyyyyy... mantafs!
Eh, tunggu dulu, setelah dicheck lebih jauh, ternyata....

Nah, buat teman-teman yang baru kenalan sama Paypal, hati-hati ya. Do these check first! 
Dan ingat jangan sekali-kali klik web-link yang diberikan!!!!! 


Email Support Paypal Palsu
Email PayPal yang Mencurigakan. Hati-hati!!!!
Email Support Paypal yang Asli
Ini email Support yang bener

Nah, kalo nemuin hal seperti diatas, laporin juga ke Paypal support yang asli, ya....

Dana Cadangan bagi Seorang Freelancer

cara menyiapkan dana cadangan freelancer


Kalo ditanya teman, apa si, enaknya jadi Freelancer? Jawaban saya biasanya ada 3; waktu kerja yang flexible, melakukan pekerjaan dari manapun, dan ga perlu baju rapi waktu kerja ha ha ha. Bahkan sambil dasteran pun bisa (emaks gituh, loh)

Tapi jujur, jadi freelancer juga ga selamanya enak. Salah satunya, ga punya tunjangan kesehatan atau kesejahteraan seperti para pegawai tetap lainnya.

Itulah, makanya, menurut saya, penting banget bagi seorang freelancer untuk memiliki payung-payung financial yang akan melindungi kesejahteraan dan keberlangsungan hidup keluarga nantinya (ish, bahasanya ..)

Nah, berdasar kondisi keuangan yang (sering) tak menentu, ada beberapa produk simpanan dana atau investasi yang bisa dijadikan dana cadangan saat masa-masa sulit; diantaranya adalah:

1. Tabungan

Tabungan mungkin merupakan pilihan termudah dan termurah bagi seorang freelancer untuk menyediakan dana cadangan di masa depan. Selain bebas dari besaran dana yang harus disetor, tabungan juga mudah dicairkan jika sewaktu-waktu membutuhkan dana.

Namun, tingkat inflasi kadang membuat dana yang sudah dikumpulkan dengan susah payah, ternyata mengalami penurunan nilai. Untuk itu nasabah tabungan juga perlu merencanakan untuk menginvestasikan dana mereka dalam bentuk lain agar nilai dari tabungan tersebut tetap bahkan jika mungkin bertambah.

2. Reksadana

Investasi jenis ini sedang naik daun akhir-akhir ini. Banyak ahli keuangan yang menyarankan untuk berinvestasi dalam bentuk Reksa dana. Selain Reksa dana saat ini dapat dibeli dengan pembelian yang sangat ringan (sekitar RP 100.000,-), produk ini juga cukup menjajikan hasil yang lumayan.

Sayangnya, produk reksa dana sedikit rumit untuk dipahami. Seseorang perlu belajar untuk memahami istilah serta cara-cara berinvestasi reksadana agar tetap pada level menguntungkan.

3. Emas

Benda satu ini adalah favorit bagi banyak kalangan. Emas dalam bentuk perhiasan atau lempengan sesungguhnya adalah investasi yang cukup ringan serta paling mudah untuk dilakuka. Bulan ini mau beli, bulan besok enggak juga ga papa.

Kekurangan produk ini adalah, nilai penambahan emas seringkali belum begitu terasa bila disimpan dalam jangka waktu kurang dari 5 tahun. Selan itu harga emas yang terus naik setiap gramnya, membuat seseorang harus menyisihkan dana yang cukup besar bila ingin berinvestasi dalam bentuk ini.

Nah, kalo menurut Sahabat Rumah Hana, produk investasi mana ya, yang paling tepat untuk freelancer seperti saya?



Visit my others financial writing id.theasianparent.com

Dream Home

What a beautiful home living. Ngimpi punya rumah kayak gini boleh ga, ya......???

Tampil Rapi Sepanjang Hari bersama Simply Stay, Mustika Ratu




Kalau pas kelur rumah, saya sering merasa iri lho, kalau ketemu dengan wanita yang penampilannya bisa rapi jali dan bersih. Padahal dia juga nggak sibuk, bolak-balik ngurusin make-up yang nempel diwajah. Meski di bawah terik matahari atau berdesakan dipanasnya APB (tahulah angkot APB seperti apa penuhnya), make-up mereka tuh nempel ... banget. Saya jadi penasaran, apa sih, pelembab atau bedak yang mereka gunakan?

"Mereka pake foundation tu, atau mukanya didempul, biar bedaknya nempel rapi. Trus noda-noda atau bekas jerawat juga tertutupi," begitu komentar teman, saat saya berkeluh kesah.

Ah, masak iya, sih? Dempul? Wah kalau musti seperti itu kayaknya enggak ah. Bukannya produk seperti itu memberatkan wajah dan membuat pori-pori kulit sulit bernapas?

Tapi tetep saja penasaran he he he. Secara pernah kok ketemu teman online yang cuma pake make-up base tapi tetep rapi. Tapi sayang, harga produk make-up base yang ia sebutkan membuat saya berpikir dua kali untuk ikut memakainya.

Okelah, at least saya pengen pake pelembab yang bisa membuat bedak nempel saat dipakai aktivitas sehari-hari. So, saat suami di rumah, saya juga masih bisa tampil rapi (suit, suit....)

Atau, saat musti antar-jemput anak, dan bepergian dengan kendaraan umum, foundation atau make-up base yang saya pakai ngga akan membuat bedak mudah luntur.

.Ada empat kriteria penting yang saya jadikan dasar dalam memilih produk kecantikan, yaitu

* Halal(biar mentep make-nya gituhhh),

* Bukan termasuk produk pemutih atau lightening.

* tidak terasa panas sejak pertama kali diaplikasikan.

* Affordable, alias ringan dikantong (emaks, gitu loh!)
Kemarin (yang artinya beberapa bulan yang lalu), sebetulnya sudah nemu produk pelembab yang memenuhi kriteria halal, dan terjangkau, sayangnya, saat dipakai, produk tersebut membuat saya mudah keringatan, dan bedak, meski dari produsen yang sama, tidak bisa nempel dengan rapi.
Makanya, waktu BBlog membuat pengumuman review produk Simply Stay Mustika Ratu, langsung deh daftar. Terlebih saat browsing bahwa produk yang dilucurkan februari 2014 memang dibuat atau ditujukan bagi mereka yang serba ingin praktis. Beraktivitas banyak, tapi tetep ingin tampil rapi. Plus ga punya waktu banyak untuk sering-sering re-touch.Wah, cucok ni..

Dan eng, ing, eng, tanggal 12 kemarin, produk nyampe dirumah. begitu membuka, wuah, surprise sekali, kemasan sampel yang cantik dan lengkap.




Penasaran, saya langsung pakai pelembab dan bedaknya. Sengaja tanpa foundation dulu karena pengen tahu hasilnya seperti apa jika diaplikasikan tanpa foundation.






Hmm.. lumayan menurut saya. paduan dua warna bedaknya (Smmoth Yellow dan Pearly White) cukup menutupi noda menghitam bekas jerawat disisi kiri dan kanan pipi saya. Pelembabnya pun terasa dingin, sama sekali tidak lengket, dan mudah dibilas dengan air.

Karena sudah merasa cocok dengan produk pelembabnya, maka keesokan harinya saya coba aplikasikan make-up base Simply Stay ini secara lengkap.

Oya, sample Simply Stay yang dikirim terdiri dari 2 pilihan pelembap dan 1 set liquid foundation dan 1 set stick foundation.

Terdapat dua pilihan pelembab, yaitu untuk kulit normal cenderung berminyak (normal to oily) dan jenis kulit normal cenderung kering (normal to dry). Sementara foundation, baik stick dan liquid, berisi empat pilihan warna, yaitu Smooth Yellow, Pearly White, Caramel Latte dan Sweet Choco

Foundation liquid dipakai sebagai base foundation dan diaplikasikan merata pada wajah dan leher setelah penggunaan pelembab. Sementara foundation berbentuk stick atau padat, digunakan untuk menutupi kekurangan pada wajah seperti noda hitam atau bekas jerawat.

Untuk memilih warna foundation yang tepat untuk, kita dapat mengoleskan foundation tersebut pada area rahang atau pergelangan tangan. Foundation dengan warna kuning base biasanya lebih cocok untuk semua warna kulit. Pada produk Simply Stay, Smoothie Yellow atau Pearly White adalah dua warna yang paling netral untuk semua warna kulit.

1= Smoothie Yellow; 2= Pearly White; 3= Caramel Latte; 4= Sweet Choco


Saya sendiri lebih menyukai warna Pearly White sebagai shading dan Caramel Latte sebagai high-light.

Ya, warna lebih gelap memang disarankan sebagai pengoreksi kekurangan wajah termasuk juga kerut disekitar bibir atau dibawah kantung mata. Sebetulnya, temen saya bilang Smoothie Yellow lebih cocok, tapi saya ngga pede dengan riasan wajah yang terlalu putih.



Nah, warna Smoothie Yellow justru saya aplikasikan untuk Bedak padat yang saya pakai. Sedikit dicampur juga dengan Pearly White. Seperti inilah hasil akhir aplikasi Simply Stay pada wajah saya. Suka sekali, rapi dan memang tahan lebih lama.

Meski sudah berpanas terik jemput anak disekolah, make-up base tetep nempel rapi, tidak berantakan.




Penasaran juga bagaimana jika diaplikasikan pada make-up yang tersedia dirumah.
Hi hi hi, kayaknya mendingan make-up base aja ya... Enggak ada bedanya ginih...
So, these are the reasons why I like this product

1. Halal

Syarat penting untuk saya. Biasanya saya mengaplikasikan pelembab sesudah mencuci muka, mandi atau mengambil wudhu. Maklum cuaca yang panas, sepertinya kulit bisa terasa retak jika tanpa pelembab. Nah, makanya produk perawatan atau make-up yang halal penting banget untuk saya. Nggak lucu kan, kalau sehabis wudhu, trus pakai produk perawatan wajah yang masih diragukan kehalal-nya.

2. Adem dan lembut

Sesuai dengan product knowledge dan tagline Soft, Moist dan Long Last pada kemasan sampel ini, semua produk simply stay mengandung Curcuma Heynean Root Extract yang berfungsi untuk skin conditioning. Hasilnya kulit lebih terasa lembab, halus, juga lebih cerah. Cobain deh, efek ini akan terasa banget jika kita biasa memakai produk yang bukan water base atau krim.

Karena tekstur pelembab dan foundationnya yang lembut, membuat Simply Stay juga mudah diaplikasikan. Cocok banget buat yang belajar dandan, atau mereka yang suka dengan produk perawatan dan make-up yang ringan.

3. Tahan lama

Seperti tujuan produk ini dibuat, yaitu untuk mereka yang memiliki aktivitas tinggi hingga tidak memiliki kesempatan untuk sering-sering re-touch make-up. Simply Stay memang diformulasikan untuk tahan lebih lama. (sayang, yang ini saya belum tahu apa rahasia formulanya. Kalau tanya dengan tim R n D-nya boleh, ngga ya? he he he)

4. Mengandung Pelindung untuk wajah.

Produk Simply Stay mengandung vitamin E dalam bentuk Tocopheryl Acetat. Seperti kita tahu Vitamin E termasuk anti oksidan alami yang akan melindungi wajah dari efek penuan dini.

Simply Stay juga mengandung produk Octyl Methoxycinnamate yang berfungsi sebagai UV filter alami; pelindung wajah dariradiasi sinar jahat matahari, UVB.

5. Terjangkau, pake bingits!

Asli! Terjangkau banget! Dalam produk leafletnya pelembab Simply Stay hanya dibrandol seharga Rp15,000,- untuk ukuran 35ml. Buat saya bisa untuk 2 bulan.dengan pemakaian 3-4 kali sehari. Lha, ini aja yang sample 5 ml belum habis ni, seminggu he he he (makin dikit si iya )

Sementara foundation liquid seharga Rp20,000 untuk ukuran 35ml dan sticknya Rp50,000 untuk ukuran

Untuk bedak, Loose Powder-nya dibrandrol harga Rp60,000 serta Two Way Cake dengan harga Rp75,000.

Kekurangan produk ini menurut saya si, satu, susah banget dicari. Seminggu yang lalu mampir di Naga Swalayan dekat rumah serta Metland Tambun masih belum nemuin juga. Sementara di Rakuten juga masih kosong. Padahal biasanya Produk Mustika Ratu yang susah didapetin di toko ini

Ya, jadinya mesti sabar menanti untuk re-purchased. Padahal stock pelembab wajah dirumah juga mulai menipis.




Post ini berpartisipasi dalam "Everyday with Simple Stay" Blogging Competition [1]

Acara ini diorganisir oleh B Blog Indonesia 
dan 
disponsori oleh Mustika Ratu