-->

Optimalkan Pengetahuan, Masalah Gampang Terselesaikan

Problem Solving Steps
Perluas wawasan, kumpulkan, beri nama, dan kemudian optimalkan untuk menyelesaikan masalah Anda.
(Sumber foto: Bing.com)


Ada sebuah kisah menarik dari seorang teman. 

Di suatu siang seorang Ibu muda mendapat kabar dari sebuah toko minimarket langganannya bahwa ia mendapatkan hadiah sebuah kulkas satu pintu. Segera si Ibu muda mencari mobil sewaan untuk menjemput hadiah tersebut, karena ada pemberitahuan bahwa hadiah harus diambil hari itu juga. Setelah sesi foto-foto bersama sebagai bukti penyerahan hadiah, si Ibu muda pun pulang dengan riang sambil membawa kulkas satu pintu itu.

Sudah dua minggu lamanya si Ibu menikmati kulkas hadiah tersebut. Hingga siang itu, si Ibu mendapat SMS untuk membawa kembali ke toko hadiah kulkas yang ia terima kemarin. Alasannya, untuk pemotretan ulang waktu penyerahan hadiah. Foto pada saat penyerahan hadiah kemarin rupanya tanpa sengaja terhapus oleh salah satu staf. Dan karena pemotretan harus menggunakan latar belakang toko, maka mau tidak mau, kulkas satu pintu itu harus dibawa kembali ke toko tersebut.
Kontan si Ibu bingung bagaimana ia akan membawa kembali kulkas hadiah itu. Terbayang ongkos sewa mobil dan kerepotan yang akan ia alami. Sempat terjadi argumen antara kedua belah pihak hingga akhirnya, pihak toko mengalah dengan menjanjikan ongkos pengganti mobil sebesar Rp 60.000.

Kejadian, juga kesalahan, seperti di atas dapat saja terjadi oleh siapa saja. Sayangnya, di saat genting seperti itu, seringkali kita terlupa untuk mencari solusi terbaik dan termudah guna penyelesaian masalah. 

Mari kita andaikan si Ibu dan staf toko tersebut berkepala lebih dingin dan berupaya mencari win-win solution. Staff toko dapat saja mendatangi rumah si Ibu, setelah sebelumnya ia mengambil gambar foto toko yang sedianya akan digunakan sebagai latar pemotretan. Setelah mengambil gambar si Ibu beserta hadiahnya, ia tinggal pergi ke studio foto untuk memadukan kedua gambar tersebut. Langkah yang lebih mudah dan lebih murah bukan?

Namun, selalu saja, di saat krisis kita sering terlupa untuk menggunakan pelbagai pengetahuan yang sebetulnya lebih mudah digunakan untuk menyelesaiakn masalah yang sedang di hadapi. Hal ini dapat terjadi karena kita kurang pandai dalam mengatur pengetahuan yang telah kita peroleh.

Identifikasi pengetahuan untuk menyelesaikan masalah

Pengetahuan atau informasi yang kita miliki dapat berupa ilmu teknis yang kita peroleh dari bangku sekolah. Dapat pula berupa pandangan atau kesimpulan setelah kita membaca atau mengalami sesuatu dan biasanya dipengaruhi oleh nilai serta keyakinan seseorang. 

Sayangnya, bentuk pengetahuan yang kedua ini sering kali kita lupa gunakan dan malah tidak pernah kita pakai sama sekali. Padahal kerap, bentuk yang kedua ini justru yang mampu menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan kita.

Dengarlah selarik kalimat yang diucapkan oleh Lia, dalam sebuah film documenter “Eagle Award”. Lia bertekat untuk tetap bersekolah meski ibunya hanya berprofesi sebagai pengemis. Ketiadaan biaya tidak ia dijadikan alasan. Karena dengan bersekolah ia dapat mengenal internet. Dan melaui internet, akan selalu ada kemungkina baginya untuk meminta bantuan guna melanjutkan pendidikannya. (Eagle Awards, “Harapan Selangit Kelam", Metro TV, 22 September 2013)

Apakah pemikiran seperti Lia itu dipelajari disekolah? Tentu saja tidak. Pendapat Lia, yang ia gunakan untuk menyelesaikan masalahnya ini berasal dari pengetahuannya serta pengalaman hidup yang ia jumpai sehari-hari. Lia telah mampu memanfaatkan pengetahuan atau informasi yang ia peroleh secara utuh. Dan dengan informasi tersebut, ia mampu menyusun strategi untuk menyelesaiakn permasalahannya.

Individu seperti ini kadang kita temui di dunia nyata sebagai seseorang yang mudah sekali bergaul. Berbicara dengannya seolah membaca sebuah buku ensiklopedia, selalu nyambung. Ia mampu mangaitkan informasi yang ia miliki dengan penglaman pribadinya, buku yang baru saja ia baca dan lain sebagainya.

Agar mampu menjadi pribadi dengan kwalitas sedemikian, maka selalu pasang telinga Anda, tajamkan rasa, amati sekeliling. Selalu berusahalah untuk melihat apa yang tidak terlihat di depan mata. 

Sebagai contoh, bila mentor Anda mengatakan, bahwa ia melakukan pengembangan diri dan melakukan beberapa strategi untuk sampai pada posisi yang ia miliki sekarang. Maka jangan hanya berhenti sampai disana. Amati bagaimana orang tersebut melakukannya. Jika perlu copy apa yang dia lakukan. Strategi apa yang ia pakai, jika perlu ketahui juga bagaimana ia menggabungka kehidupan pribadi dan karirnya. Setelah itu praktekkan dalam hidup Anda. 

Yakinlah, pada saat melakukan hal tersebut, Anda akan menemukan hal-hal baru yang menjadi khas Anda. Inilah bekal yang akan menjadi "penolong" saat Anda dalam kesulitan. Tak lupa lengkapi pengetahuan Anda dengan memperluas pergaulan serta wawasan melalui pelbagai bacaan, baik online maupun offline.



Rapikan informasi dan pengetahuan yang diperoleh

Setiap hari, ada begitu banyak informasi yang kita peroleh. Semakin kita bertemu dengan banyak orang, berada di banyak tempat, akan semaikin banyak informasi yang masuk ke otak kita. 

Manusia memiliki kemampuan mengingat sebesar 7-9 digit pada momen tertentu. Karena itu, penting bagi kita untuk memilih dan memilah informasi mana saja yang hendak kita simpan atau kita buang. 

Cobalah sering-sering melakukan latihan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri dengan susunan pertanyaan 5W+1H. lengkapi pertanyaan tersebut dengan bagaimana jika, dan jadi apa yang seharusnya dilakukan.

Dengan terus berlatih mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, kita akan bertemu dengan pelbagai kesimpulan-kesimpulan baru. Informasi seperti inilah yang akan menjadi data base utama kita. Ia akan mudah kita tarik, karena sejatinya kesimpulan-kesimpulan tersebut merupakan hasil ciptaan dari pemikiran kita sendiri. Berpikir dengan rapi dan teratur, optimal serta efektif adalah cara terbaik untuk menyelesaikan pelbagai permasalahan yang kita hadapi hari ini.


Rahayu Pawitri
Content Writer| Blogger
+62821 1271 5376

Tips Mengenalkan Uang Kepada Anak



Mengenalkan anak dengan uang, sebaiknya diikuti juga dengan pengenalan untuk menabung dan investasi. (sumber gambar: id.asianparent.com)

Beberapa hari lalu saya membaca tulisan Safir Senduk, seorang financial plannner,, tentang pendidikan di negara kita yang masih belum di desain sesuai dengan kenyatan (kompas Jumat, 4 Oktober 2013). Kenyataan yang Beliau maksudkan adalah ajaran tentang bersosialisasi, mengatasi rasa takut, serta hal penting lainnya dalam hidup kita; uang.

Siapa yang bisa menyangkal betapa pentingnya uang dalam hidup kita. Coba kita ingat, nasehat apa yang biasa kita berikan untuk anak kita. “Sekolah dan belajar yang rajin, Dik. Kelak besar nanti akan mudah mencari pekerjaan dan dapat uang banyak.”

Nah, sayangnya nasehat itu tidak kita teruskan menjadi “Atur uang itu dengan baik gunakan untuk investasi, dan biayai hidupmu dengan hasil investasi itu.” (Kalimat terakhir ini saya kutip dari tulisan Safir Senduk pada artikel yang sama).

Ya, sebenarnyalah uang memang memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Dan mengatur keuangan dengan baik (being a smart financial) menjadi hal terpenting kedua ketika kita telah menggenggam uang di tangan kita. Disinilah kemudian tugas kita sebagai orang tua, untuk mengajarkan kepada anak bagaimana mengatur keuangan dengan sebaik-baiknya.

Cara mengenalkan uang dan mengajak anak mengatur keuangan dengan baik


1. Kenalkan padanya saat ia sudah dapat menghitung

Pada usia 3 tahun atau saat si Kecil mulai bersekolah, kita sudah dapat mengenalkannya dengan uang. Kenalkanlah nilai masing-masing uang mulai dari yang terkecil. Terangkan padanya apa saja yang akan ia peroleh dengan uang tersebut.

Kenalkan pula padanya tentang konsep “cukup”, “tidak cukup” dan “belum cukup”. Misalkan saat ia memilih sebuah makanan dengan nilai yang lebih dari uangnya, katakan bahwa uangnya tidak cukup, mintalah ia untuk mengganti pilihannya. Janganlah tergoda untuk memberi tambahan dari uang yang Sahabat bawa. Hal ini untuk membiasakan agar ia tidak pernah hutang untuk memenuhi apa yang ia inginkan.

2. Ajarkan padanya untuk mengenali barang yang ia beli

Saat ia ingin membeli sesuatu, coba tanyakan, apakah barang tersebut memang ia butuhkan, ia inginkan, atau sekedar mengikuti trends teman-temannya.

3. Jangan lupa ajarkan padanya dengan untuk menabung.

Sediakan 3 buah toples dan beri nama dengan “dibelanjakan”, “ditabung,” dan “sedekah”. Saat ia menerima uang, entah itu jatah hariannya, uang tambahan dari ulang tahun, atau lainnya, mintalah ia membagi dengan adil pada ketiga toples tersebut.

Katakan padanya bahwa ia boleh membelanjakan uang pada toples “dibelanjakan”. Sementara uang dalam toples “ditabung” dapat ia gunakan untuk membeli barang-barang yang lebih mahal yang ia inginkan dalam jangka waktu tertentu.

Anak-anak mudah sekali bosan dengan hal tertentu. Jadi, pastikan bahwa ia dapat membeli apa yang ia inginkan dalam jangka waktu sebulan. Misalkan dengan cara mengurangi jatah uang pada toples “dibelanjakan”. Namun, bila kira-kira ia tidak akan mencapai keinginannya tersebut dalam jangka waktu 1 bulan atau malah lebih pendek mulailah kenalkan ia pada konsep menyimpan uang di bank.

Jadi, buatkan ia satu rekening di bank. Dan ajak untuk memindahkan toples “ditabung” setiap awal bulan ke dalam rekeningnya tersebut. Tentu saja orang tua harus memberi contoh terlebih dahulu dalam hal ini. Tunjukkan buku tabungan Sahabat, dan ceritakan apa keuntungan yang di peroleh dengan menabung di Bank.

Untuk toples dengan tulisan “sedekah”, katakan padanya, bahwa ia boleh menggunakan uang itu untuk membantu teman yang sedang kesulitan, memasukkan ke kotak-kotak amal yang biasanya ada di tempat-tempat ibadah.

4. Kenalkan pada investasi

Misalkan bila si anak hobi mengoleksi buku, maka minta ia merawat koleksinya tersebut baik-baik; agar kelak, ia dapat menyewakan buku-buku tersebut kepada teman-temannya guna mendapatkan sejumlah uang. Uang yang ia peroleh dari hasil penyewaan buku tersebut dapat ia gunakan untuk menambah tabungannya atau membeli sejumlah barang kecil yang ia butuhkan atau ia inginkan.

Cara lain untuk mengenalkan anak dengan prinsip mengatur keuangan adalah melalui permainan. Ada aneka games online yang dapat Sahabat pilih untuk mengenalkan si Kecil cara membelanjakan uang, berapa banyak yang harus ia simpan, hingga bagaimana mengubah uang menjadi investasi yang akan mendatangkan uang lebih untuknya.