-->

Belajar Membuat Komik

Saat membuat ide ingin membuat buku dengan model komik, saya tidak pernah berpikiran untuk dapat membuat gambar saya sendiri untuk buku saya itu. Ketika kemudian ide saya itu mendapat sambutan dari sebuah agensi naskah, saya di minta untuk membuat beberapa sample halaman atas buku tersebut. Gedebak, gedebuk lah saya...Secara, saya sama sekali tidak bisa menggambar, apalagi gambar sebuah karakter. 
walhasil, saya googling bagaimana cara membuat komik sendiri. Alhamdulillah, saya menmukan dua apikasi praktis yang lumayan cantik untuk komik saya tersebut; yaitu Bitstrips dan pixton
Nah, kira-kira inilah beberapa hasil gambar saya dengan 2 aplikasi tersebut.


Karikatur Bitstrip
Karikatur Pixton

Menurut Anda, bagus yang mana?


Prompt #4: Secuil Kisah Bayu dan Risa

"Ibu! Lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!"

Ibu tersenyum kemudian berkata, “Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?” Bayu mengangguk senang.  Ia pun melangkah mengikuti ibunya menuju kamar Risa, adik kembarannya yang tercinta.

“Risa, lihat apa yang Bayu bawa, sebuah boneka lucu untukmu,” kata ibu didepan pintu kamar  Risa



Seorang gadis terlihat sedang duduk mengongkang kaki di pinggir jendela kamar itu. Topi yang bertengger di atas kepalanya ia kenakan terbalik ke belakang, mulutnya terlihat sedang mengunyah sesuatu. Ia sedang memandang ke luar kamar saat ibu dan Bayu sampai di depan pintu kamar Risa



“Risa, Risa lagi. Si bocah lembek, doyan nangis itu tak ada di sini! Ia sudah aku suruh pergi, muak aku mendengar keluh dan tangisnya itu!” ucapnya sembari melangkah lebar-lebar, memperlihatkan amarah, mendekati Bayu dan Ibu



“Pergi kalian. Pergi!” usirnya mendorong Ibu dan Bayu. Ibu jatuh terduduk dan kotak boneka di tangan Bayu terhempas ke bawah kaki gadis itu. Gadis itu menunduk mengambil kotak itu.



“Ha ha ha… Kau pikir sebuah boneka dapat membuat Risa-mu kembali? Kau bodoh, kalian berdua orang dewasa bodoh. Nyawa, hanya nyawa lelaki itu yang bisa mengembalikan Risa!  Bawa mayat laki-laki itu kesini dan akan aku bawa Risa mu lagi!” ucap gadis itu dingin sambil membanting pintu. Bayu bisa melihat dengan jelas sorot kekejian di mata gadis yang sampai detik ini, ia kenal sebagai adik kembarnya.



Ibu segera memburu ke pintu kamar Risa, begitu melihat pintu itu tertutup lagi,” Risa, nyebut, Sayang, nyebut. Kamu itu Risa, Nak. Tolong buka, pintu Anakku…,” ucap Ibu membujuk meski sambil terisak menangis.



Bayu yang berdiri di belakang Ibu geram. Tidak sekali dua Risa menyebut dirinya sebagai orang lain. Kadang ia mengaku sebagai Anton, sosok yang saat ini ada di kamar; seorang bocah broken home yang sekarang menjadi preman di pasar. Kadang mereka menemui Nova, gadis cantik yang pandai memasak, anggun, tapi sama kejamnya dengan Anton jika sudah terluka. Masih ada lagi Nicholas, Serena, Luthfi dan entah siapa lagi. Dan mereka selalu bilang, Risa pergi, Risa tidur, Risa sedang stress dan sebagainya, dan sebagainya.



Bayu bingung, ia tidak mengerti entah apa yang terjadi pada Risa. Ia hanya ingin Risa pulang. Semua gara-gara lelaki itu! Ya, lelaki yang sudah mereka kenal sebagai adik ayahnya, pengayom mereka setelah ayah tiada, namun tega merenggut masa depan Risa. Baik, aku akan bawa dia kemari, batin Bayu. Apa pun itu resikonya. 



Bergegas ia menuruni tangga dan menuju ke ruang kerja ayah mereka dulu di lantai bawah. Sepucuk pistol ia keluarkan dari laci di bawah meja itu. Lima selongsong peluru segera mengisi badan si mungil yang mematikan itu. Setelah itu ia segera berjalan keluar. Sejenak ia berhenti dan mendongak ke lantai atas, ibunya masih ada di sana, masih membujuk Risa, atau Anton, atau entah siapa sekarang yang ada di sana. sedetik kemudian ia segera berlari keluar rumah. Tujuannya hanya satu, rutan di mana adik lelaki ayahnya itu di tahan.



Ibu yang melihat kelebat Bayu keluar dari rumah segera berhenti membujuk Risa saat tanpa sengaja ia melihat bayangan sepucuk pistol di balik kaos putih Bayu. Tergopoh ia lari menuruni tangga dan mengejar Bayu keluar.



“Bayu, kembali, nak, Bayu! Bayu!” teriak Ibu kalut.

Bayu menengok sebentar. Namun kemudian berlari lagi. Ia sudah bertekat untuk menyudahi duka Risa hari ini. ku hanya ingin Risa kembali, Ibu. Maafkan aku, andai doa tak bisa kau berikan untuk keselamatanku...






Woman Power

Kalo lihat judulnya sepertinya tulisan ini ”berkekuatan” banget ya. Tapi bener lho, seorang wanita, di balik segala atribut yang sering ditempelkan pada diri seorang wanita, sebenarnyalah ia  adalah makhluk yang sangat kuat. Contoh gampangnya saja dari rutinitas kesehariannya. Meskipun banyak lelaki sekarang yang berteriak juga tentang kesetaraan dan jender dengan membuktikan bahwa dia mampu membantu istrinya dalam pekerjaan rumah, tapi masih banyak juga dan ini yang saya lihat di kalangan masyarakat dengan kemampuan kelas ekonomi dan pedidikan seperti saya yang hanya lulusan SMA- lelaki yang sama sekali tak bersedia membantu pekerjaan istrinya. Kita andaikan si istri ini bekerja, sepulang kerja pasti dia juga yang memasak, menyetrika baju, mencuci pokoknya everything yang housewife things-lah, untuk keluarganya. Meskipun bisa di bilang mereka bekerja pada satu lokasi yang sama yang note bene si suami juga tahu bagaimana beratnya pekerjaan si istri di pekerjaannya.

Pandangan tentang pekerjaan ibu memang masih di anggap sepele, padahal kalo ditilik, mereka lah yang pertama kali akan membuka mata di pagi hari untuk keluarganya. Mereka pula yang kemungkinan terakhir menutup mata dalam keluarga tersebut. Belum lagi ketika kondisi keluarga memaksanya untuk keluar rumah. Saya mengenal seorang wanita, yang menurut saya sungguh perkasa. Beliau adalah salah seorang teman saya di Universitas Terbuka, meski kami tidak berada pada fakultas yang sama.  Setiap pagi dia harus bangun pukul 3 pagi untuk menyiapkan sarapan, mencuci dan memasak untuk keluarganya. Dan jam 7 pagi dia sudah ada di jalan untuk berebutan kendaraan umum ke tempat kerja. Kadang disaat yang lain sudah memejamkan mata kelelahan, dia masih berjibaku dengan diktat kuliah. 

              Sering saya berpikir, bagaimana dia mengatur waktu istirahatnya? Di dalam tubuh yang kecil itu, ternyata tersimpan sebuah energi yang sangat besar. Sewaktu saya bertanya tak lelahkah ia dengan segala rutinitas yang ia jalani? Dia hanya tersenyum.
            "Kalo aku jawab ga lelah pasti kamu bilang aku bohong kan?" Dia malah bertanya pada saya.
"Kadang aku ingin seperti yang lain juga. Pulang kerja nyantai di rumah, main sama anak-anak, ngobrol dengan suami atau sekedar ngrumpi bareng tetangga. Jam sembilan sudah bersiap untuk tidur dan bangun subuh sekedar untuk menyiapkan keperluan dan tenaga untuk untuk di kerjaan nanti. Tapi ada banyak hal di dunia yang memang sering terjadi di luar kehenak dan keinginan kita. Dan kita gak bisa protes selain harus menjalaninya. Ikhlas. Kurasa itu yang kita butuhkan." ungkapnya panjang lebar.
Ia pun melanjutkan, "Aku dulu juga sempat stress sampai sering aku bentak anakku sebagai pelampiasan ketidak berdayaanku. Tapi suatu hari aku pernah ngobrol dengan seorang ibu pendorong gerobak sampah. Dia bercerita bahwa diapun juga tidak ingin menjalani profesinya itu. Tapi apa hendak di kata, suami yang harusnya pencari nafkah keluarga menghilang tanpa kabar entah kemana. Sejak itulah aku selalu berpikir, masih lebih untung aku yang sering mempunyai banyak pilihan untuk di jalani. Sejak itulah aku berusaha untuk selalu ikhlas. Ikhlas di setiap apapun yang aku lakukan. Dan begitulah kekuatan itu datang begitu saja. Semua pekerjaan terlihat lebih mudah dan enteng," tuturnya lagi panjang lebar. Dan ia menyodorkan secangkir kopi kepada saya.

"Nah, kalo yang ini, ini adalah salah sumber kekuatanku yang lain, "kata saya sambil menerima cangkir darinya. Hmm...harumnya.

Let's Write!



Seharian kemarin saya tidak buka facebook. Sibuk nganter Hana trial di sekolah barunya. Saat malem sambil nemenin Hana nonton Film favouritenya, saya buka facebook. Sempat kaget saat ada pemberitahuan yang sampai puluhan dalam sehari. Dan lebih kaget lagi ketika saya mendapati tulisan saya yang di muat di web Pesantren Penulis .

Tulisan tersebut merupakan tulisan saya yang pertama kali di publikasikan (selain yang di blog dan catatan fb tentunya). Senang rasanya waktu mengetahui ada yang suka, bahkan ada yang bilang inspiratif (semoga kepala ndak membesar nih he he he).


Pesantren penulis itu apa ya? Penasaran, saya kulik-kulik blognya. Ada salah satu dari tulisan yang sangat inspiratif dan melecut saya untuk segera menulis dan selalu menulis.


Sang admin, mas Dwi suwiknyo menulis bahawa ia mentrigger dirinya untuk terus menulis dengan mentarget 10 halaman per hari. Waa... 10 halaman pikir saya? Selembar aja belum tentu bisa. he he he


Menulis memang butuh ketelatenan. Apalagi bila ini hendak di jadikan profesi, yang notebene salah satu tujuannya adalah looking for money. Menulis tidaklah seperti berdagang yang saat barang diberikan, kita bisa langsung dapat uang. Menulis merupakan suatu proses yang panjang. Butuh kesabaran dan tekad yang kuat untuk menyelesaikannya.


Di atas segalanya, menulis haruslah memiliki tanggung jawab moral. Pesan apa yang ingin Anda sampaikan di dalamnya. Pesan ini harus dapat tersampaikan dengan indah, tanpa si pembaca merasa digurui, apalagi sampai menyebut si Penulis Riya. Disinalah kemampuan seoarng penulis akan terasah. Itu pula mengapa seorang penulis harus selalu menulis (ya iyalah...). Apatah itu hanya satu kata perhari, ataupun berpuluh-puluh halaman per hari.


Untuk saya sendiri, saya memulai hari saya dengan satu kata. Satu kata itu biasanya akan membawa saya menuju ke banyak kata, bahkan sebuah cerpen dengan beberapa lembar halaman. Saya masih ingat isi sebuah buku motivasi menulis (sayangnya saya lupa judulnya) bahwa kita bisa memulai menulis dimulai dengan satu kata saja. Misalkan "Hana"


Hana seorang gadis lucu dengan mata besar dan pipi tembem. 

atau 

Hana yang berpembawaan ceria sering menginspirasi saya.....

atau 

Gadis berkerudung hitam itu ternyata bernama Hana. Ia terlahir dari keluarga ...bla bla and bla.... 


See? we can start writing from every piece of word. So, jika Anda ingin menulis, menulislah. Segera pegang pensil Anda, ambil selembar kertas, dan silahkan tulis satu kata saja yang terlintas di benak Anda. Setelah itu, jika Anda mati kutu, biarkan saja. Silahkan selesaikan pekerjaan Anda, sambil biarkan pikiran Anda terfokus pada kata yang Anda tulis tadi. Saya yakin, tidak lama lagi tulisan pertama Anda akan segera selesai. Kuncinya, tetaplah menulis.


Happy writing.

Rahayu Pawitri (ibu yang sedang berusaha menjadikan menulis sebagai profesi)









Close Your Eyes, and Let's Prepare for A Bright New Day



Beberapa hari ini, saya mengalami sebuah masa yang membuat jantung saya serasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Selama sebulan ini, saya telah bergabung dalam sebuah komunitas kepenulisan yang di gawangi oleh sebuah agency naskah dan sekaligus sebagai Personal Branding Agency , yaitu INDSCRIPT Creative

Komunitas ini mengadakan sebuah pelatihan kepenulisan selama 2 pekan. Pada akhir sesi kami diminta untuk membuat sebuah proposal karya buku yang pada nantinya hendak di propose ke sebuah penerbit ternaman di ibu kota.


Sungguh jantung saya terasa berdetak lebih kencang kala itu. Bukan mengapa, pada saat yang bersamaan, saya pun sedang mempunyai rencana menulis yang begitu banyak di kepala saya (meskipun itu bukanlah sebuah buku) juga ada beberapa rencana lain yang hendak saya rencanakan. Ada begitu banyak janji dalam rencana-rencana itu. Pada saat itu, saya merasa that I've been pushed to beyod of my limit.


Kondisi ini telah membuat pikiran saya terasa penuh; jika boleh saya bilang stress. Beruntunglah saya menemukan sebuah link (link yang sebenarnya merupakan PR menulis juga bagi kami) yang membahas tentang meditasi. Sebuah cara untuk menilai dan membawa kita pada kesadaran untuk mengenali siapa sesungguhnya diri kita, bagaimana cara pikiran kita bekerja, serta kesadaran mengenai hidup yang sesungguhnya.


Jon Kabat-Zinn, Profesor dari MIT (Massachussetts Institute of Technology) yang juga pakar meditasi, mengatakan, “Wherever You Go, There You Are“. Meditasi akan membimbing Anda menuju jalan terbaik yang harus dituju dan memberikan pengaruh positif pada keadaan di masa yang akan datang. 

Tidak peduli bagaimana masa lalu Anda, seberapa terluka hati Anda, dan sekuat apa masalah dalam hidup Anda, meditasi membuat Anda begitu percaya bahwa masa depan Anda akan berkilau seperti sebuah berlian. Kehidupan yang terus berkembang, berbagai persoalan dan pencapaian, tidak akan memberikan pengaruh besar pada sikap kita. Meditasi membantu si sukses untuk tetap memandang ke bawah dan si gagal untuk tetap tegap melangkah.

Secara praktis, meditasi adalah proses untuk mengendalikan arus pikiran kita. Benak manusia yang selalu aktif memikirkan banyak hal, rencana, atau ambisi dalam hidup kerapkali membuat kita merasa selalu sibuk, terburu-buru, dan tertekan. Meditasi membantu kita untuk berpikir dan bertindak lebih tenang.


Di Indonesia saat ini kita mengenal Adjie Silarus, seorang meditator yang selama 1 tahun terakhir ini menggagas tentang one moment meditation. Beliau adalah lulusan cumlaude dari sebuah Universitas ternama di Yogya.

Dalam salah satu sesi pelatihannya di Semarang, Beliau telah membuktikan bahwa masa depan sebetulnya kitalah yang menentukan. 

It begins with simple acts of closing your eyes. Own your breath your breath and nobody can steal your peace. Peace are in and Happiness will avaible for every moment...

Jadi, beberapa jam terakhir ini, saya mencoba metode tersebut. Terutama ketika kepala saya di penuhi berbagai rencana narasi yang hendak saya tulis. Dan memang efeknya sungguh terasa sangat berbeda.

Resep Kepepet

Sahur pagi ini, asli saya panik. bagaimana tidak, masakan yang sudah saya rencanakan untuk dimasak, ternyata bahan utamanya kurang.
Walhasil saya kelabakan, padahal sayuran sudah terlanjur di masak dan tidak mungkin diteruskan apa adanya. Beruntung di kulkas masih ada sedikit sayuran sisa. Ya, sudahlah, saya pun ngawur bikin resep "Lebanon" (istilah Lebanon sering dipakai suami saya untuk menyebut masakan eksperimen saya) yang ga tahu namanya. Nah, ini dia resep saya dari bahan kepepet 


Bahan:
  1. kacang panjang
  2. wortel
  3. bakso sapi
  4. saus tiram
  5. garam

Bumbu:
  1. bawang bombay
  2. bawang merah
  3. bawang putih keperek

Cara memasak:

Tumis bumbu, masukkan wortel hingga sedikit layu. Masukkan saus tiram, aduk rata. tambahkan air hingga sayuran cukup terendam. biarkan air mendidih. Masukkan kacang panjang, bakso dan garam sesuai selera (sebaiknya jangan banyak-banyak karena saus tiram mempunyai cita rasa cenderung asin). Masak hingga matang.

Alhamdulillah, meski tidak punya nama, suami saya cukup lahap menghabiskan tumisan tersebut 
Satu pelajaran lagi yang harus saya ingat, lebih teliti dalam menyiapkan sayuran stock he he he.


Pornografi dan Sarkastik dalam Tayangan Komedi



Beberapa hari lalu, salah seorang mentor kepenulisan saya, mengajak untuk membuat script komedi. Beberapa kali saya mengajukan selalu juga salah. Komentar Beliau, cerita saya terlalu flat. Akhirnya Beliau menyarankan untuk sering menonton acara-acara komedi. Penasaran dengan rasa ke-komedian saya, akhirnya saya nonton juga beberapa tayangan komedi di televisi. Dan malam ini, saya nonton salah satu tayangan dengan genre tersebut, yaitu Stand Up Comedi yang tayang di Metro Tv.

Saat salah seorang perserta kontesnya  manggung, saya kok ga bisa ketawa ya, senyum aja susah. Terus terang saya kurang cocok dengan gaya komedi sang kontestan yang, menurut saya, terlalu banyak mengekspos unsur komedi dari sisi pornografi dan sarkastik. Seperti kalimat, “Pel***r kalo main di... maka gratis, dan “itu yang didepan asisten saya. Dia bagian megangin... Nah, kalo saya pipis, dia bagian megangin ****(off the record) dan masih banyak lagi.

Bagi saya, komedi yang baik, seharusnya tetaplah tidak mengandung unsur sarkastik apalagi pornografi. Entah karena sense humor say yang terlalu konvensional atau karena alasan lain. Namun, ada satu hal pasti yang saya selalu ingat, bahwa Rasul sendiri, melarang kita bercanda yang berlebihan. Sabda Nabi


Berdasar Hadis Nabi diatas, saya melihat bahwa apa yang dikatakan sang kontestan, dapat digolongkan dalam sebuah kebohongan. Contohnya pada saat ia mengatakan cerita asistennya tersebut (bagi orang normal, tentu statement seperti diatas sangat bohong bukan?)

Jadi, bagi saya pribadi, saya lebih suka memilih untuk tidak dibilang lucu daripada harus membuat orang tertawa dengan perkataan yang kasar, menghina atau malah porno. Dan, masih menurut saya, tayangan sedemikian sebaiknya dikoreksi kembali oleh pihak televisi. Meskipun beberapa kata telah disensor, namun tetap saja kandungan bullying dan pornografinya masih bertaburan di sepanjang sang kontestan manggung. Sungguh sangat disayangkan bagi stasiun televisi sekaliber Metro TV. 
 

Menulis, Alternative Investasi (*tanpa modal) Bagi Ibu Rumah Tangga




Malam ini, saya membaca kembali sebuah buku karya Ellen Rachmawati yang berjudul “Menjadi Nomor Satu”. Dalam salah satu bab-nya, Ellen mengulas tentang mentoknya karier seseorang dalam pekerjaan. Beliau mengatakan bahwa seharusnyalah, seorang professional harus selalu meng-upgrade diri, berinvestasi seumur hidup. Entah itu dengan memperluas networking, ketrampilan atau pun pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaannya.


Lalu apa kaitannya pendapat Ellen Rachmawati diatas dengan menulis dan ibu rumah tangga? Tentu saja ada. Investasi bagi seorang ibu rumah tangga itu penting. Bukan investasi dalam bentuk materi yang saya maksud. Namun investasi yang akan membuat seorang ibu rumah tangga kaya dengan berbagai pengetahuan. Pengetahuan yang akan membuatnya lebih mudah menghadapi hambatan dan kejadian-kejadian tak terduga. Bagaimana mengatasi anak yang susah di atur, mengaturan keuangan keluarga,bermuamalah dengan baik dalam masyarakat, atau bahkan persoalan saat suami mendapat musibah yang dapat mengganggu income keluarga.


Terkhusus pada permasalahan terganggunya income keluarga, bagi keluarga yang berpenghasilan lebih dari cukup setiap bulannya, tentulah hal tersebut tidak akan menjadi permasalahan yang berarti. Mereka, Insya Allah sudah memiliki asuransi atau dana lebih untuk membuka usaha guna menutupi permasalahan yang terjadi. Namun, bagaimana dengan keluarga berpenghasilan “hanya” cukup, tentu saja berkurangnya pendapatan atau kejadian tak mengenakkan lainnya dapat membuat gonjang-ganjing keuangan keluarga.

Jadi mengapa harus berinvestasi dengan menulis?

Seperti kita ketahui, selain bakat, sesungguhnya menulis juga dapat di pelajari. Diasah agar menjadi hebat dengan cara latihan, belajar, latihan dan belajar lagi. Karena menulis butuh suatu pembiasaan. Diksi kata, kecermatan penempatannya serta rangkaiannya akan terasah dengan latihan, latihan dan latihan. Proses belajar inilah yang saya maksud dengan investasi.

Saat situasi masih “aman” seorang ibu ruma tangga dapat memulai karier menulisnya dari mulai tahap yang paling mula. Menjalani proses tersebut dengan tekun, hingga pada satnya nanti, keahliannya ini dapat dijadikan sebagai cadangan atau malah andalan pemasukan keluarga.

Dan mengapa saya sebut tanpa modal? Karena sesungguhnyalah menulis memang hanya butuh kertas dan sebuah alat tulis. Tidak perlu menunggu memiliki sebuah gadget canggih. Apa pun bisa dijadikan sarana untuk memulai. Pinjam atau malah minta selembar milik buah hati tercinta juga tak masalah.

Seorang ibu rumah tangga dapat mulai menuliskan pengalaman-pengalamannya dalam mengasuh anak, manajemen keuangan keluarga, tips-tips bersosialisasi dengan tetangga dan lain sebagainya. Kedepannya, ibu dapat menguji diri untuk mengikuti aneka ajang kompetisi menulis. Seperti lomba review produk, aneka tips-tips pengasuhan anak dan lain sebagainya. Jangan salah, ajang kepenulisan seperti ini bisa menjadi salah satu cara untuk mendulang rupiah atau pun memiliki aneka gadget terbaru.

Nah, bagaimana? Apakah ibu siap untuk menulis? Bila ya, semoga tips-tips berikut akan semakin membuat Ibu berani untuk mulai berinvestasi dengan menulis.

Tips menulis untuk pemula


1. Tentukan waktu yang tepat untuk menulis

Aturlah waktu, dan tentukan kapan sebaiknya ibu ingin menulis. Saat anak-anak tidur, beberapa menit sebelum terlelap atau malah 10 menit sebelum aktivitas di pagi hari. Meskipun begitu, tetaplah flexible. Bagaimanapun juga, kita hidup bersama dengan manusia, bukan robot. Aneka gangguan pastilah ada; entah mertua yang tiba-tiba berkunjung, teman bertandang untuk curhat dan sebagainya. Janganlah putus asa, yang penting kita tepati target kita untuk menulis, meskipun itu hanya 10 menit per hari.

2. Mulailah menulis dari apa yang ibu kuasai.

Pengalaman pribadi adalah hal yang paling mudah untuk dijadikan tulisan. Perkembangan anak, tips mengatur keuangan rumah tangga, resep-resep favorit keluarga adalah sumber inspirasi yang tiada habisnya. Jika sudah cukup “berani” Anda dapat memulai untuk menulis hal-hal yag lebih luas di luar pribadi Anda.

3. Jadilah pengamat

Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D. dalam bukunya yang berjudul “Write Where You Are: How To use Writing to Make Sense of Your Life” menyarankan, saat memutuskan untuk mulai menulis, maka jadilah pengamat. Perhatikanlah lingkungan sekitar Anda. Jika perlu buatlah dokumentasi-dokumentasi kecil, seperti foto atau video. Tidak perlu menggunakan gadget atau kamera canggih. Kamera handphone pun tak masalah. Semakin banya kita memperhatikan, akan semakin banyak pula ide bermunculan.
4. Perkaya diri dengan bacaan

Membiasakan diri dengan aktivitas membaca, akan memperkaya perbendaharaan kata, memperluas wawasan, dan tentu saja, tambahan ide-ide menulis.

5. Bergabunglah dengan komunitas menulis

Hah, adakah ibu-ibu yang membentuk komunitas menulis? Tentu saja ada. Ada komunitas yang bernama Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), kemudian Kelompok Penulis Perempuan (KPI), ada pula Kumpulan Emak blogger (KEB). Menurut Mas Irfan Hidayatullah, bahwa dengan bergabung dalam komunitas Anda akan merasakan aura kreativitas, semangat untuk terus berkarya dan bahkan mentor-mentor jawara dalam dunia tulis menulis (majalah “Story”, Desember 2012).

6. Ijinkan tulisan Anda di baca orang lain

Saran para mentor menulis, jika kita selesai menulis adalah: minta orang lain untuk membaca tulisan Anda. Jika belum begitu pede, tunjukkan hasil tulisan ibu kepada salah seorang sahabat atau kerabat. Sstt, orang bilang pembaca pertamamu adalah kritikus paling hebat, jadi dengarkanlah ia…


Selamat berinvestasi. Salam.