My Dream, My Pass, My Regret

by - 3/07/2013



Saat ini saya sedang menulis tentang Fashion Design. Bukan, bukan secara keseluruhan, hanya kebetulan saja topik itu menjadi salah satu konten yang harus saya buat.

Karena sudah lama tidak nyenggol-nyenggol masalah fashion design, mau tak mau saya pun berselancar untuk menemukan beberapa topik yang terkait dengan dunia fashin design.

Ketika kemudian saya menemukan apa yang saya cari; entah bagaimana dan datang darimana, tiba-tiba saja timbul sebuah perasaan menyesal dalam hati saya. Mengapa saya harus tinggalkan mimpi saya yang satu ini?

Dulu menjadi fashion designer, adalah mimpi saya semenjak SMP. Bukan hanya di akhir tahun SMP, tapi sudah menggenggam mimpi itu begitu saya lepas dari bangku sekolah dasar.

Bapak, terutama ibu sangat mendukung mimpi saya itu. Saya pun kemudian rajin mengumpulkan apa pun itu yang berkaitan dengan fashion. Bahkan saya sudah belajar menggambar sket baju dan sering mendesain baju saya sendiri (meski tetap saja Ibu yang menjahitkan baju saya).

Tidak hanya itu, saya pun mempunyai kumpulan foto-foto perkembangan fashion di Indonesia sedari tahun 80-an hingga tahun 95-an. foto-foto itu kemudian saya kumpulkan menjadi sebuah buku, selayak kliping di jaman dulu.

Waktu itu saya sungguh merasa, bahwa fashion benar-benar dunia saya. Namun sayang, ketika kemudian saya lulus dari SMP dengan nilai yang cukup memuaskan, kedua orang tua saya justru "memaksa" saya untuk masuk sebuah sekolah pertanian. 

Haduh, dunia saya serasa kiamat kala itu. Sebagai bentuk protes, di semester-semester awal saya sama sekali tidak mau belajar, tidak membuat laporan jika belum dead line, dan saya lebih enjoy dengan nonton Tivi dan baca buku non pelajaran.

Hasilnya tentu dapat di duga,nilai-nilai saya hancur, dan sama sekali tidak masuk dalam jajaran 10 besar. Saya menyesal memang, karena prinsip saya, ada di manapun saya, saya harus membuat sebuah prestasi. Saya akhirnya mati-matian belajar, dengan harapan saya dapat membalas dendam dengan kuliah di jurusan fashion design suatu hari nanti.

Namun lagi-lagi sayang, kehidupan lagi-lagi menghantarkan saya kepada tujuan-tujuan yang lain yang semakin menjauhkan saya dari mimpi saya yang satu itu. Ada sebuah penyesalan dan sebuah rindu yang saya tahu tak akan pernah terbalaskan. Saya berpikir andai, andai dan andai......

Dan di siang ini, saya sungguh menyadari, betapa saya merindukan hari itu, hari dimana pikiran saya di penuhi dengan fashio, fashio dan fashion. Ketika ide tentang baju-baju baru, aneka motif kain, aneka jenis kain dan sebagainya hampir setiap hari memenuhi di kepala saya. Sungguh saya menyayangkan kenapa dulu saya tidak begitu pandai bernegosiasi dengan kedua orang tua saya. Dan kini saya hanya bisa merindu, memandang iri pada kisah-kisah keberhasilan mereka yang tumbuh di dunia mimpi saya itu. Truly, it's torn me to pieces....

Hal ini pula yang kemudian menggiring saya dan menyemangati saya untuk menulis buku tentang betapa pentingnya seorang remaja untuk berusaha mewujudkan cita-citanya. Karena mempunyai cita-cita itu penting, namun akan lebih penting lagi apabila kita bisa mewujudkan cita-cita itu menjadi nyata.

Dan sebagai orang tua. catatan ini akan menjadi pengingat saya untuk tidak memaksakan kehendak, keinginan atau mimpi-mimpi usang saya kepada anak saya nanti.
*dedicated to those who always fight to make their dream come true

You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.