-->

Apakah Kamu Merasa Sedih Saat Ramadhan Berakhir?

saat ramadhan berakhir

Lebaran hari ke-4. 

Saat mendekati lebaran kemarin, saya nemu beberapa status iseng, nanyain 

"Yakin, kamu sedih karena Ramadhan pergi? Bukannya kamu seneng karena sudah lebaran?"


Well, pertanyaan tersebut cukup bikin nyengir, sih. 😁 Berpotensi membuat pertentangan di hati, dijawab "enggak", kok rasanya jadi hamba yang buruk gitu. Di jawab "iya", tapi kenyataannya seneng. Orang iseng itu memang ngeselin, ya. 😀


Jujurly, saya termasuk golongan kedua, "seneng karena lebaran sudah datang."


Ya, saya tahu, ada banyak pahala di bulan Ramadhan, tapi sepertinya iman saya belum seindah itu untuk merasa melow ketika Ramadhan pergi. 


Dan hei, siapa yang tidak suka lebaran; waktu untuk ketemu dengan sanak saudara dan keluarga besar yang tinggal berjauhan bukan? Apalagi seperti saya, kesempatan tersebut kadangkala hanya datang sekali setahun. Pulang kampung perlu nunggu anak atau suami libur kerja cukup panjang. 


Ya saya tahu sih. di luar sana ada beberapa teman, yang sudah mengubah budaya keluarga dan pandangannya tentang Idul Fitri. Hari raya besar mereka adalah Idul Adha, bukan Idul Fitri.

But again, itu belum terjadi di keluarga saya. Paling tidak sampai lebaran 1443 H ini, kami masih dengan budaya yang sudah turun temurun, Idul Fitri adalah hari raya yang sesungguhnya. So, asli saya seneng tuh, kalau lebaran sudah datang. 😁


Alasan yang kedua, karena sampai saat ini saya menganggap Ramadhan adalah bulan latihan. Yap, latihan untuk menyeimbangkan ibadah dan urusan dunia, mengusahakan bekal akhirat, tapi tetap mengusahakan dunia dengan sebaik-baiknya. So, the real challenge will be those days after Ramadhan


Setidaknya, sampai saat ini, ukuran keberhasilan saya beribadah adalah bagaimana saya mempertahankan kebiasaan baik selama Ramadhan selama setahun ke depan. 


Lalu bagaimana jika tahun depan tidak ada lagi kesempatan bertemu Ramadhan? Ya, itu kan sudah takdir, sudah tertulis dari jaman saya belum lahir. Itulah mengapa fokus saya malah pada bagaimana setiap hari memperbaiki ibadah, nggak hanya di bulan Ramadhan. Challenging banget itu. Ciyus deh. 😁.


Bagaimana dengan pahala? Ya tentu saya pengen. Tapi gimana ya, pahala kan di luar kendali saya juga, tugas saya mengusahakan sebaik-baiknya. Dan bagi saya, kalau selepas Ramadhan bisa mengusahakan kebiasaan baik seperti saat Ramadhan, -interaksi dengan Al-Quran tetap intensif, sholat tepat waktu, ibadah sunah malam tidak ketinggalan-, itu sudah termasuk pahala. 


Bener, lho, asli nggak gampang ibadah seperti itu, apalagi bila Sahabat hidup di lingkungan yang kuantitas ibadahnya "B" aja (saya nggak bilang kualitas ya, susah dinilai itu). 


Karena itu, usai lebaran begini, saya biasanya mulai review bagaimana saya menjalankan ibadah saat Ramadhan kemarin. Apalagi di tahun ini saya berusaha menyiapkan "membangun good habit saat Ramadhan" dengan lebih baik. Jadi agak exiciting gitu, review-nya, he he he. 


Ya, usaha saya memang tidak sekeren mereka yang dapat khatam Al-Qur'an berkali-kali di bulan Ramadhan. Bagi saya yang kuantitas ibadahnya (dan mungkin kualitas juga) masih "B" aja, sanggup membiasakan diri dengan konsisten itu sudah keren banget. 


Eh, ini nggak bermaksud sombong, ya, sekedar menghargai usaha diri sendiri saja. Modal membangun kepercayaan diri, bahwa hal yang awalnya saya pikir nggak mungkin, bisa juga saya kerjakan. Yang saya butuhkan hanya usaha, melebarkan sedikit zona nyaman


Jadi, bagaimana dengan Sahabat RPB, apakah biasanya merasa sedih saat Ramadhan berakhir? Share dong, ceritanya. 


PS. Semua yang saya tulis di atas hanya pendapat pribadi, ya, jangan dijadikan ukuran dan pedoman untuk Sahabat RPB. Dan jika pemikiran saya salah, tolong dikoreksi, ya. Colek saja saya di WA atau Instagram @rahayu_pawitri. Thank you for dropping by ....

How to Choose Bodysuit for Pear-shaped Women

bodysuit for pear-shape



As women, we often think that choosing the right clothes to wear is not easy. No wonder, guideline articles on how to choose perfect clothes are always on-trend. 

Well, in my opinion, choosing your best clothing should not be a daunting task as long as you know what is your shape and the clothes you are comfortable in. 

So, when it comes to choosing a bodysuit, let's start our hunting from our body shape. 

Choosing the perfect bodysuit for Pear-shaped 


If we summarize all of the tips from the clothes guiding articles that guide, there are two important measurements that must be considered in choosing clothes, those are model and size. 

But before jumping into a specific style for pear-shaped, let's remember some characteristics that often apply: 

Our hips and thighs are wider than our body 
We have a gorgeous waist, which is smaller than our hips 

So, what kind of bodysuit is perfect for pear-shaped women? 

 #1. Best style for pear-shaped 

Some of the advice we often get is to balance our shoulders, bust, waist, and hips. We also can do it by emphasizing our favorite parts and being smart about the colors we choose. 

So, if you love your waist most, you can opt for a bodysuit that shows your waist more like those with a belt or a structured waistline will define your smallest part. 

bodysuits for women
Pict. source: popilush.com



Another option to choose is a bodysuit that focuses on top detail, like a bodysuit with a dramatic neckline, or a V neckline. 

#2. The size 

One of the reasons why we love bodysuits is because they help us to tuck in our shirt or those high-waisted pants which just won’t cooperate. It also helps us to have more options on style. 

Thus it is important to choose the perfect size to wear. You may ever hear that we should go one or two upper than our original size. But it is best to go with the basic guidelines when choosing  bodysuits for women. 

Pict. source: popilush.com



The first thing we should consider is the length. Of course, we all want it to cover us without it riding up or being too baggy. So it is best to have it a try before deciding to bring it home. Don't forget to wear your best sports bra and do a few squats when you try it on.   

As for the overall fit, check how it fits your bum, bust, and tummy. There should not be any underarm spillage, a cheeky indent on your bum, or constricting feeling. 

Another option is choose a two pieces bodysuit, which allowing you to go with so many clothes. 

bodysuit for pear-shape
Pict. source: popilush.com



We hope this guide helps you to choose your best one or two (or perhaps three) bodysuits. Happy shopping.

Meraih Keberkahan Waktu Lewat Membangun Kebiasaan Baik Baca Al-Qur'an di bulan Ramadhan

agar bisa baca Qur'an seusai sholat


Bulan Ramadhan tinggal hitungan hari. Sebagian kita mungkin sudah mulai menyiapkan keperluan selama bulan puasa. Daftarnya bisa mulai bayar hutang puasa, menyiapkan aneka resep yang mudah dimasak di bulan puasa, hingga sounding ke anak apa yang harus dilakukan saat bulan Ramadhan nanti. 


Beberapa teman blogger juga mulai menulis artikel seputar bulan Ramadhan, seperti mbak Anis Khoir, Blogger Tuban yang menulis topik tips puasa saat menyusui, mbak Arinta (mamakepiting.com) dengan resepnya, dan masih banyak lagi.


Aku sendiri memilih memulai membangun kebiasaan baik membaca Al-qur'an selama 15 menit setiap habis sholat, dan dalam keadaan puasa. 


Kebiasaan baca Al-Quran sebetulnya sudah terbentuk, tapi tiap kali puasa, rasanya kok berat banget; terutama kalau habis sholat Dhuhur dan Asar. Bawaanya tuh, pasti pengen merem aja. Sementara tahun ini aku pengen bisa khatam Al Qur'an dalam sebulan. 


Artikel terkait: Agar Bisa Baca Qur'an Seusai Sholat


Dibayangan aku, target khatam Al-Qur'an selama Ramadhan masih terlihat besar dan berat, nggak yakin juga kalau aku bisa konsisten. Jadi, daripada langsung "terjun" masuk bulan Ramadhan bongkar pasang jadwal untuk kejar target, mendingan sebelum Ramadhan aja aku mulai cobain pola waktu yang pas agar target baca qur'an selaras sama aktivitas sehari-hari. 


Upaya meraih berkah waktu dengan membangun kebiasaan membaca Al-Qur'an

Judulnya keren, ya? 😀 

Tapi memang itu sih yang jadi salah satu resolusiku tahun ini, punya keberkahan atas waktu. Salah satu cirinya adalah bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan meski dalam waktu terbatas. 


Ide tentang berkah waktu ini aku peroleh dari cerita coach Darmawan Aji. Beliau pernah bertemu dengan seorang profesor yang menulis dua buku dalam bahasa arab setebal lebih dari 1000 halaman. Yang paling keren, aktivitas bapak Profesor ini banyak (mengajar, nulis buku, mengisi kajian), tapi selalu punya waktu untuk mengkhatamkan Al-Qur'an setiap minggu. 😮


Menurut bapak Profesor tersebut (maaf ya, aku lupa nama Beliau), inilah salah satu ciri dari keberkahan waktu; waktu yang kita miliki tidak banyak, tapi kita sanggup menyelesaikan target-target yang bermakna. 


Alasan kedua, selama ini setiap bulan Ramadhan, pekerjaanku malah sering keteteran. Dugaaanku, mungkin karena aku mesti masak lebih banyak, kalau hari biasa cukup sekali, maka di bulan Ramadhan jadi dua kali. Belum lagi harus kompromi dengan badan yang lemes dan mudah ngantuk. 


So, mumpung lagi punya target pengen bisa khatam Al-Qur'an selama Ramadhan, plus cari ritme yang pas buat kerja, ya udah sekalian aja, aku coba bangun sistem produktivitas lewat kebiasaan baca Al-Qur'an seusai sholat. 


Eh, tapi memang ada hubungannya antara sistem produktivitas sama baca Qur'an? 


Gini lho, buat muslim itu produktivitas tidak hanya terkait dengan "mampu menyelesaikan X pekerjaan dalam waktu Y", enggak gitu. Produktivitas dalam Islam itu tujuannya untuk menyeimbangkan tubuh, pikiran, dan jiwa.


Jadi, kalau ada porsi untuk kebutuhan dunia, maka perlu ada juga porsi untuk kebutuhan spiritual/ jiwa, dan juga sosial. 


Langkah untuk membangun kebiasaan baik baca Al-quran


Dan inilah pengalamanku saat mencoba membangun kebiasaan baca Al-Quran 15 menit seusai sholat. 


#1. Menentukan tujuan besar

Langkah pertama yang aku lakukan adalah menentukan tujuan besar terlebih dahulu, yaitu khatam quran selama Ramadhan. 


#2. Menentukan performance goals

Pernah dengar tentang performance goals dan goals process? Kedua goals ini termasuk dalam sub goals/ sub tujuan. 


Untuk mencapai sebuah tujuan besar, sudah sewajarnya kita membuat performance goals dan process goals. Saat membangun kebiasaan baik, action yang perlu kita lakukan sebaiknya mudah untuk dilakukan dan tidak membuat kita terllau terbebani. Dengan kata lain, aktivitas yang kita lakukan itu perlu yang actionable. 


Kadangkala, performance dan process goals ini jauh sekali dari tujuan besar. 

Misalnya, target atau tujuan yang diharapkan adalah sanggup lari maraton. Maka performance goal-nya bisa berupa "bagaimana berlari dengan benar" (lari dengan teknik tepat akan membantu mengatur ritme lari), sementara proses goal-nya adalah "lari setiap pagi keliling komplek sebanyak 8 putaran."


Kegiatan lari tersebut mungkin memang tidak mencerminkan jika "sanggup lari maraton", tapi kegiatan itu akan memberikan landasan yang kuat agar bisa lari maraton. 


Terkait dengan goal yang aku tetapkan, maka performance goal-ku adalah

  • Mencoba teknik mengatur energi agar tidak mudah ngantuk
  • Mengatur waktu agar setiap hari kebutuhan tidur terpenuhi


Sementara proses goal-ku adalah membaca Al-Qur'an selama 15 menit seusai sholat. 


Kedua goals ini memang bukan goals besar, tapi dari dua goals inilah aku berharap bisa membangun sistem (cara khusus) yang membantu bisa khatam Al-Qur'an


#3. Menentukan kuota terkecil

Tujuan dari penentuan ukuran terkecil ini untuk mencegah aku dari menghukum diri sendiri, sampai akhirnya memilih berhenti atau tidak melakukan karena alasan tidak sanggup memenuhi target. 


Seperti kita tahu, dunia itu tidak seindah drama korea, eh, maksudnya hidup kan nggak selalu berjalan sesuai rencana. Kadang jadwal sudah rapi dibuat, eh, nggak tahunya bangun kesiangan, anak tiba-tiba sakit, internet yang lelet bikin waktu kerja molor dan lain sebagainya, dan seterusnya. 


Dengan menentukan kuota terkecil, kita memotivasi diri kita sendiri agar tetap melakukan kebiasaan meski standarnya tidak sempurna 100%. Kalau James Clear bilang, "Reduce the scope, but stick to the goal"


Dan kuota terkecilku adalah "kalau tidak sanggup membaca 15 menit, maka paling tidak membaca 20 ayat".


#4. Antisipasi hambatan

Selain menentukan kuota terkecil, cara mengatasi hambatan yang mungkin muncul juga perlu ditentukan. 


Masalah terbesarku adalah, ngantuk 😀😀, terutama kalau habis sholat dhuhur. Agar target tercapai aku bisa dua pilihan, tidur sebelum dhuhur, atau membaca sesuai dengan kuota terkecil. 


Masalah yang kedua adalah jam sholat Asar biasanya adalah waktu masak. Jadi biar target baca Al-Qurannya nggak terganggu, maka pagi hari aku bisa potong sayur terlebih dahulu agar masak bisa tetep dilakukan seusai baca Qur'an. 


Hasil percobaan selama dua minggu

Susah, Mak ....! 😀
Aku bolak balik kebayang waktu kerja melulu. 😁
Sekuat tenaga aku afirmasi, "setiap aktivitas ada waktunya. Tenang, kamu sudah perhitungkan semua. Ayo, dicoba". 😀😀😀


Aku juga coba mengubah tujuan menjadi identitas, "mau jadi muslim yang seperti apa" biar goals proses tuh tercapai dengan lebih mudah. (Oya, ada dasar ilmunya sih, pemikiran ini, nanti kapan-kapan aku tulis, ya)


Hasilnya Alhamdulillah cukup lumayan, aku bisa selesai 5 juz. Prosentase bolong dari usaha baca 15 menit juga kecil, 20%. 



Oya, kondisi aku waktu itu bener-bener puasa full, karena kebetulan puasa tahun lalu belum kelar bayar. 



Masalah mulai datang di minggu kedua, saat si Ayah jadwal kerjanya bolak-balik berubah. Aku kurang tidur, dan akhirnya ambruk. Padahal minggu kedua ini aku puasanya selang-seling lho, nggak full seperti minggu pertama. 



Ya, begitulah, gangguan saat membangun sistem tuh memang akan selalu ada. Tapi pengalaman di minggu pertama, Alhamdulillah sudah bisa memberi gambaran, kendala dan solusi yang bisa aku lakukan agar target khatam Qur'an tercapai.


Hal lain yang aku peroleh adalah aku nggak bisa kompromi dengan masalah tidur, Kuota tidur 6-7 jam sepertinya wajib aku penuhi jika nggak pengen ambruk. Belum ketemu gimana akan ngaturnya, tapi kemarin dapat ide dari productive moslem untuk membagi waktu istirahat dalam 2-3 term. Belum aku pelajari lebih jauh sih, Insya Allah nanti aku coba baca lagi. 


Oke, itulah kegiatanku untuk mempersiapkan Ramadhan tahun ini. Semoga bisa jadi ide Sahabat RPB untuk mempersiapkan Ramadhan, ya. 


Oya, bagaimana denganmu, Mak, persiapan apa yang sudah kamu lakukan untuk menyambut bulan Ramadhan? Punya usaha membangun kebiasaan baik juga? Yuk, share. 


Rahayu Pawitri
untuk rahayupawitriblog.com

Cara Membantu Anak Belajar Mengatur Waktu

ide membantu anak mengatur waktu


Hari ini, selain aku isi dengan review kerjaan, aku juga beresin kertas-kertas catatan dan struk, dan printilan lain yang ada di atas meja. Saat itulah aku nemu kertas catatan saat ikut webinar Brainfit dengan topik membantu anak belajar mengatur waktu. Waktu itu memang nggak niat pindahin ke kertas, menurutku ditulis di blog sepertinya akan lebih bermanfaat. 


Acara bareng Brainfit Indonesia ini diadakan pada bulan November tahun lalu (2021), saat Hana sedang bersiap untuk UTS. 


Seperti biasa kalau mau UTS gitu dia kerepotan dengan buat rangkuman sekaligus mempelajari materi kisi-kisi UTS, plus masih menghadapi ujian praktek. 


Sebetulnya, sejak masuk bulan Oktober aku tuh, sudah ngingetin dia agar mulai buat ringkasan agar pas tes nanti cukup ngulang beberapa materi saja. 


Tapi ya gitulah; mulutnya memang berkata "iya", tangannya juga bergerak menyiapkan meja, tapi begitu duduk, perhatiannya mulai ke YouTube TV, alasannya, aku nggak bisa belajar kalau ga ada suara. Ga ada suara sama dengan bikin ngantuk" 


Terasa masih kurang, dia juga balesin chat temen, galfok sama notifikasi channel yang disubscribe, gambar Doodle buat catetan de es be de el el. Bikin emaknya pengen garukin tembok aja. 


Hasilnya, waktu duduk dua jam itu paling hanya dapat beberapa baris rangkuman saja. 


Cara membantu anak mengatur waktu 


Alasan aku keukeuh ngajarin Hana ngatur waktu dari sekarang


Sebetulnya, sudah dari dulu Hana belajar mengatur waktu. Apalagi dia juga terbiasa lihat aku bikin mapping waktu, tapi (lagi-lagi tapi ...) belum memberikan pengaruh nyata. Nggak heran, saat UTS dia masih sibuk membuat rangkuman dengan sistem kebut semalam. Akibatnya, dia sering berangkat tidur di atas jam 9 malam, tidur pun jadi tidak nyaman karena merasa belum belajar semua materi. 


Okay, dia memang masih anak-anak, masih SD, tapi buatku sudah waktunya dia mulai bertanggung jawab atas waktu yang dia miliki. Toh, dia sudah baligh, sebentar lagi SMP dan rencananya dia pengen masuk ke sekolah dengan sistem pembelajaran online. 


Kita semua tahu, kalau ingin berhasil sekolah online, kuncinya ada pada kemampuan mendisiplinkan diri dalam menggunakan waktu. 


Menurutku membiasakan diri aware dengan waktu dan bagaimana menggunakannya sejak awal, akan sangat membantu anak saat dia dewasa. Toh ini bukan tentang mendapatkan nilai 10 atau grade A, tapi membangun ketrampilan hidup. 


Alasan lainnya ....


Aku paling nggak suka kalau Hana belajar dengan metode seperti itu. Selain capek, dia jadi sering mengakhirkan waktu sholat atau malah ninggalin tilawah dengan alasan pekerjaan merangkumnya belum selesai. 😔


Jujurly, aku tuh bukan orang yang religius, tapi nggak tenang aja kalau Hana mulai sholat di akhir waktu. Khawatir jadi kebiasaan. 


Belajar dan sholat memang penting, tapi berapa lama sih waktu yang dibutuhkan untuk sholat dan tilawah sampai-sampai dilakukan di akhir waktu? 


Allah SWT mengatur waktu sholat sedemikian rupa tentu ada manfaatnya. Dan kalau Sahabat RPB pernah ngamati, sholat di awal waktu malah bantu kita lebih fokus pada pekerjaan yang kita lakukan karena kewajiban sudah dikerjakan. 


Artikel terkait: Mengatur Waktu untuk Seorang Muslim


Oya, menurut pengajar Brainfit, ternyata ada manfaatnya lho, ngajarin anak mulai mengatur waktu dari kecil. 


cara membantu anak belajar mengatur waktu

Kata ahli tentang anak belajar mengatur waktu sedari dini


Kemampuan mengatur waktu pada anak saat ini jadi semakin penting sejak diberlakukannya sekolah dari rumah. 


Pas pembukaan webinar kemarin, pengajar dari Brainfit mengemukakan beberapa masalah yang dihadapi orang tua terkait dengan tugas sekolah dan menajemen waktu, yaitu 

  • Keterlambatan mengumpulkan tugas 
  • Kebiasaan menunda
  • Belum tahu cara membuat prioritas
  • Bisa mengerjakan tugas tapi sangat lama karena terdistraksi 


Saat anak masuk usia remaja, sekitar usia 11-18 tahun, otaknya mengalami perubahan besar-besar-besaran karena berpindah dari fase otak anak ke fase otak orang dewasa. 


Kondisi otak dewasa adalah kondisi yang dipersiapkan untuk mengambil keputusan, mempertimbangkan resiko, menentukan  prioritas, bisa membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang, mampu mengontrol diri, termasuk bisa me-manage banyak hal, baik yang terkait diri sendiri ataupun orang lain. 


Karena itu wajar jika sering jadi "kacau", otak mencoba rekoneksi jaringan-jaringannya, karena sebagian jaringan ada yang hilang dan muncul jaringan baru. 


Meskipun begitu, para remaja tetap butuh dilatih agar otaknya nanti berkembang dan menjadi otak dewasa yang matang. Pada momen inilah, momen terbaik untuk melatih otak anak menjadi otak dewasa, agar kualitasnya nanti menjadi optimal. 


Masalah mengatur waktu sebetulnya adalah masalah tentang self management, dan jika tidak dilatih dengan baik dapat menganggu kehidupan sosial, menurunkan rasa percaya diri, hingga kebiasaan menunda (prokrastinasi).


Ini dapat terjadi karena koneksi jaringan pada otak saat usia awal kurang. Gejala yang biasa ditunjukkan antara lain: 
  • Susah fokus
  • Inkonsistensi
  • Sudah ada gejala keterlambatan

Jika saat SD gejala di atas sering terjadi, maka saat remaja biasanya akan terbiasa dengan penundaan dan sulit berpindah dari aktivitas satu ke aktivitas lainnya. 


Penyebab kurangnya koneksi jaringan ini memang bisa bawaan (nature) tapi juga bisa karena didikan orang tua.


Setiap anak memang terlahir unik, tapi perlu diingat jika otak juga punya sifat neuroplastisiti, otak dapat berubah dengan latihan. Tentu saja cara melatihnya akan berbeda dengan anak yang sudah punya kecederungan self management


Pada anak yang self managementnya kurang, kita perlu melatih misalnya dengan repeat atau perulangan, yang tujuannya untuk membentuk brain wiring


Inilah prinsip yang harus orang tua ketahui. Jadi jangan heran jika di usia ini anak masih perlu kita ingatkan terus-menerus. 

langkah membantu anak mengatur waktu

Hal yang bisa kita lakukan untuk membantu anak mampu mengatur waktu 


Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membantu anak mengatur waktu, antara lain; 


#1. Mengenalkan konsep waktu 


Tahu tentang jam, belum tentu memahami konsep waktu. Mereka hanya tahu waktu secara teori, tapi belum tentu menjadikan seorang anak memahami konsep waktu. 


Konsep waktu merupakan bagian dari self management, seorang yang paham konsep waktu akan  mampu memperkirakan waktu, misalnya jika melakukan aktivitas A dengan kecepatan tertentu akan membuat dirinya punya cukup waktu untuk semua aktivitas.   


Konsep waktu dapat diperkenalkan sejak anak masih bayi. Caranya dengan melakukan rutinitas bayi pada jam yang sama atau dengan urutan yang sama. Misal habis mandi, makan, main, istirahat, tidur, makan, dan seterusnya. Semua itu harus dilakukan dengan berurutan dan berulang. 


Perulangan ini akan membantu anak mengenali sequnce, atau urutan. Cara ini membantu anak mengenal waktu secara biologis ada awal dan akhir dari satu kegitan ke kegiatan yang lain. 


Pada tahap ini, anak memang belum mengenal konsep waktu secara nyata (jam), tapi mengenalnya melalui rutinitas yang dilakukan. Inilah yang menjadi alasan mengapa pada balita rutinitas menjadi hal yang sangat penting. 


#2. Membuat rutinitas


Masih terkait dengan mengenalkan konsep waktu, mengenalkan rutinitas akan membantu anak mengetahui nama waktu, misalnya pagi hari waktu makan pagi, siang hari main, dan seterusnya. 


Mengenalkan rutinitas juga akan membantu anak untuk mengenal prioritas, konsistensi, disiplin dan self control. Empat hal penting yang termasuk dalam ketrampilan hidup 


#3. Sering ngobrol tentang urutan


Selain dengan mengenalkan rutinitas, ngobrolin aktivitas yang sudah dilakukan anak (atau aktivitas yang dilakukan bersama orang tua) juga bisa membantu anak mengenal waktu. Misalnya ngobrol tentang kejadian/ aktivitas hari ini atau kemarin. 


Dan kalau anak sudah mulai mengenal waktu, kita juga bisa mengajak anak untuk merencanakan aktivitas. Nggak perlu yang rumit, misalnya cukup tanya, habis sarapan mau ngapain. 


Pada saat merencanakan ini, kita juga bisa sesekali menyisipkan pemahaman tentang prioritas. Misalnya jika anak setelah sarapan ingin nonton TV, coba tawarkan melakukan hal lebih penting seperti mewarnai, membereskan mainan, atau merapikan kasur bersama. 


#4. Kenalkan kosa kata waktu


Konsep dari pemahaman ini saat anak tahu "namanya" (kosa kata waktu) maka otak juga akan mulai mengenali konsepnya. 


Pengenalan ini bisa dilakukan melalui buku cerita yang berisi kosa kata waktu umum seperti tetang musim, matahari, bulan, pergantian hari, bulan dan lain sebagainya. 


#5. Gunakan alat mengatur waktu


Untuk anak yang sudah mulai membaca kita bisa mengenalkan dengan jadwal secara visual. Sementara untuk anak yang lebih besar kita mulai bisa menggunakan bentuk digital seperti Google kalender. Tapi jangan lupa untuk tetap mendampingi anak, ya. 


Kita dapat ajak anak membuat jadwal, dan diskusikan apakah kira-kira akan ada kendala pada saat pelaksanaan jadwal atau tidak. Jika terjadi jadwal yang tidak sesuai dengan yang direncanakan, ajak anak menelusuri apa yang menjadi penyebabnya; apakah karena anak sengaja melanggar atau ada sebab lain. 


Diskusi tentang mengatur wajtu ini juga akan membantu anak belajar memutuskan sesuatu yang terkait dengan waktu (make decision). 


Wah, udah panjang banget, ya, semoga poin-poin penting terkait dengan membantu anak mengatur waktu bermanfaat untuk Sahabat RPB. 

Terima kasih sudah mampir, sampai jumpa di artikel produktivitas lainnya. 

Rahayu Pawitri
untuk rahayupawitriblog.com
















Review Scarlett Brightly Essence Toner dan Glowtening Serum

review scarlett brightly ever after essence toner dan glowtening serum


Mak, sudah tahu belum kalau Scarlett Face Care punya rangkain produk baru? Namanya, Scarlett Brightly Essence Toner dan Glowtening Serum. 


Scarlett Brightly Essence Toner merupakan produk pelengkap pada rangkain produk Scarlett Brightly Ever Series, sementara Glowtening Serum merupakan produk baru yang membantu mencerahkan kulit wajah meskipun kondisi kulit kita berjerawat atau tidak. 


Sudah hampir sebulanan aku mencoba produk baru dari Scarlett ini. Awalnya cuma pengen melengkapi aja rangkain produk Brightly Ever Series Scarlett yang selama ini aku pakai. Ya, seneng aja gitu, akhirnya Scarlett punya toner juga. 


Sementara kalau Glowtening Serum-nya aku pengen cobain aja sih, apa bener bisa membantu mencerahkan kulit wajah? 


Sejak Hana mulai PTM lagi, mau nggak mau aku harus sering keluar rumah buat antar jemput. Keluar pagi masih fine-lah, tapi jemputnya ini, jam 12.30 WIB, pas matahari lagi panas-panasnya. 

Masih di tambah kebiasaan buat nge-drakor sebelum tidur (in the name of self reward 😃) dan ngopi dua cangkir sehari, maka lengkaplah daftar alasan "kenapa aku butuh produk pencerah wajah. 😃😃


Dan inilah pengalaman aku pakai Scarlett Brightly Essence Toner dan Glowtening Serum selama dua minggu terakhir ini. 


Sekilas tentang Scarlett Brightly Essence Toner dan Glowtening Serum 

Sebelum ngebahas pengalaman aku pakai Scarlett Brightly Essence Toner dan Glowtening Serum, kenalan lebih dulu ya, sama dua produk baru dari Scarlett ini. 


Scarlett Brightly Essence Toner 

Dalam rutinitas perawatan wajah, toner biasanya dipakai untuk membersihkan residu dari produk pembersih sekaligus menyiapkan wajah agar bisa menerima produk perawatan selanjutnya.


Toner biasanya merupakan produk perawatan berbahan dasar air dan bisa membantu menutup pori-pori yang melebar, serta mencerahkan kulit. Toner biasanya juga membantu menyeimbangkan keasaman (pH) kulit, plus menghindrasi dan menenangkan kulit wajah kita. 


Itulah yang menjadi alasan, kenapa aku pengen melengkapi rangkaian produk Scarlett Brightly Ever ku dengan Scarlett Brightly Essence Toner. 


Dan berikut ini kandungan atau bahan aktif yang ada dalam Scarlett Brightly Essence Toner


review scarlett brightly essence toner


Oya, seperti yang sudah kita ketahui, Scarlett punya dua kategori produk perawatan, yaitu Brightly Ever Series dan Acne Series. Toner baru dari Scarlett ini juga ada dua varian, yaitu Scarlett Brightly Essence Toner. dan Acne Essence Toner. 


Jadi, kalau Emak punya masalah kulit yang berjerawat, jangan salah pilih, ya. 

Okay, back to Scarlett Brightly Essence Toner.

Produk toner dari Scarlett ini punya kelebihan lain, yaitu

  • Bisa digunakan mulai usia 13 tahun
  • Aman digunakan oleh ibu hamil dan menyusui

Khusus untuk pemakaian ibu hamil dan menyusui, tetap disarankan untuk konsultasi pada dokter ya, dan sebaiknya gunakan setelah masa kehamilan memasuki usia 6 bulan. 

Glowtening Serum 

Scarlett Glowtening Serum  memiliki kandungan 
  • Tranexamide acid
  • Calendula oil
  • Olive oil
  • Allantoin
  • Licorice extract

Adapun kelima bahan tersebut disebut mampu 

  1. Mencerahkan dan membuat wajah jadi lebih glowing
  2. Memudarkan bekas jerawat
  3. Membuat kulit menjadi lebih sehat
  4. Menyamarkan garis halus dan flek hitam
  5. Menenangkan dan memperbaiki kondisi kulit

Mantap banget manfaat dari Glowtennng Serum Scarlett ini? 
Penasaran seperti apa powerfulnya kedua produk baru Scarlett ini? Lanjut baca di bawah, ya. 


review scarlett glowtening serum


Review Scarlett Brightly Essence Toner dan Glowtening Serum 


Seperti penggunaan toner pada umumnya, Scarlett Brightly Essence Toner aku pakai setelah menggunakan facial wash. 


Setelah mengeringkan wajah, aku teteskan 4-5 tetes di atas kapas, lalu usap pelan di wajah. 


Langkah selanjutnya, aku teteskan 2-3 Scarlett Brightly Essence Toner. di telapak tangan, dan usapkan pada wajah kemudian ditepuk perlahan. 


Setelah kering, aku lanjut ke Scarlett Brightly Ever After Serum, tunggu meresap, lanjut pakai Scarlett Glowtening Serum, kemudian Brightly Ever After Cream Day. 


** Scarlett Brightly Essence Toner**

Tekstur Scarlett Brightly Essence Toner menurutku agak kental, dan ada kesan sedikit lengket setelah digunakan, tapi cukup cepat meresap ke dalam kulit. Ada kesan wangi segar saat aku mencoba mencium aromanya. 


Dikemas dalam kemasan botol bening 100 ml, dan dilengkapi pumping untuk mempermudah mengeluarkan cairan toner di dalamnya. Model pumping begini menurutku cukup oke, karena memudahkan kita mengatur jumlah toner yang ingin kita gunakan. 





**  Glowtening Serum **




Berbeda dari serum pada umumnya, Glowtenning serum ini teksturnya kental, mirip dengan Scarlett Brightly Ever After Cream Day, bahkan aromanya pun juga mirip. 


Ada kesan segar sesaat setelah digunakan. Dan seperti serum lainnya, kita perlu menepuk-nepuk kulit ringan setelah mengaplikasikan Glowtening Serum ini. 


Dikemas dalam kemasan botol 15 ml dan dilengkapi dengan plastik pengaman yang membuat botol ini tidak mudah tumpah saat distribusi ataupun saat kita bawa bepergian keluar rumah. 


Dan inilah hasil pemakaian dari Scarlett Brightly Essence Toner dan Glowtenning Serum selama dua minggu. 


Before - After setelah pemakaian dua minggu


Kesimpulan:


Dari hasil pemakaian hampir dua minggu, perbedaan pada wajahku memang belum terlihat begitu cerah. Tapi selama itu aku juga sadar sih, aku lebih banyak begadang (drakor on-going lagi banyak yang bagus, euy) dan juga lebih banyak keluar rumah. 


Ya, mendapatkan kulit wajah yang cerah, memang nggak cukup cuma dengan produk tertentu, gaya hidup kita juga perlu beralih ke gaya hidup yang lebih sehat. Cukup tidur, lebih banyak minum air putih, konsumsi makanan dengan gizi yang seimbang tetap perlu dilakukan juga. 


Saat aku mengunggah review ini, aku sudah pakai toner dan glowtening serum selama sebulan. Menurutku produk Scarlett Glotening Serum ini memang bantu aku meyamarkan garis halus dan perbedaan warna kulit di wajah. 



Disclaimer: perubahan pada kulit wajah berbeda pada tiap orang, tergantung pada jenis kulit, dan kebiasaan individu. 


Beli dimana: 


Sudah tahu kan, kalau produk Scarlett ini termasuk salah satu produk yang mudah diperoleh dimana aja? Emak juga bisa belanja langsung di toko resmi Scarlett pada link berikut ini 


https://linktr.ee/scarlett_whitening 

atau kunjungi aja akun resmi Scarlett di Instagram 

@scarlett_whitening. 


Thank you for dropping by, see you at another product review

Rahayu for rahayupawitriblog.com

Saat Hidup Terasa Sulit; Yuk, Buat Perubahan!

saat hidup terasa sulit


Kemarin pagi, saya membaca satu post dari grup memasak di FB, curhatan seorang ibu yang merasa penghasilannya kurang. (btw, kadang aku nggak ngerti kenapa grup masak isinya juga curhatan, ya?)


Penghasilan keluaga tersebut Rp 4 juta, dengan rincian penggunaan, 1 juta untuk kontrak, yang tiga juta ... buat apa ya, lupa je, ya pokoknya untuk kebutuhan sehari-hari lah. 😁 Tapi intinya si Ibu ini merasa jika penghasilan keluarganya kurang dan hidup jadi terasa sulit. Dia meminta saran dari para angota, apa yang bisa ia lakukan, karena suami nggak mau mencari tambahan penghasilan. Si Ibu sebetulnya ingin mencari tambahan penghasilan, tapi Beliau merasa sudah kelelahan mengurus rumah tangga dan anak. 


Iseng, saya scrolling komentarnya dan ... wow! Banyak menyebut si Ibu tidak bersyukur. Banyak yang berkata, "masih mending ibu, saya aja ....", tanpa bertanya dimana Beliau tinggal, kebiasaan keluarganya, dan lain sebagainya. 


Saat hidup terasa sulit, lengkapi syukur dengan usaha

Jujurly, saya kurang setuju sih, hanya mengatakan "bersyukur saja, masih mending ...", karena ya, itu tadi, kita nggak tahu kondisi Beliau yang sebenarnya. Misalnya saja, apakah Beliau punya tanggungan kewajiban dari keluarga besar, apakah ada kewajiban khusus sehingga pengeluarannya cukup besar, dan lain sebagainya. 


Ingat, 


Bagaimanapun, kita nggak bisa memaksakan sepatu kita pada orang lain bukan? 


Apalagi si Ibu sebetulnya meminta saran, tidak sekedar penghakiman bahwa ia nggak bersyukur. Kita nggak tahu juga kan, sudah sejauh mana Beliau bersyukur, perjuangan Beliau mengatur pemasukan dan pengeluaran, juga sudah sejauh mana Beliau menerima keadaan? 


Bekerja dari rumah bisa menjadi alternatif saat hidup terasa sulit



Bagi saya pribadi, sebetulnya nggak masalah sih, jika ingin lebih, toh hidup nggak hanya saat ini; semakin besar anak, akan semakin banyak kebutuhan. Bagaimana jika anak sakit dan tidak ada biaya cadangan? Daripada ke pinjol, bukankah lebih baik mengusahakan punya dana cadangan sendiri?


Jadi, selain mengingatkan untuk lebih besyukur akan lebih jika kita juga memberikan solusi yang kira-kira dapat dilakukan si Ibu. 


Kondisi saya sebetulnya mirip si Ibu, hanya memang saya beruntung sudah bisa menemukan jalan untuk mencari tambahan, plus suami nggak keberatan. Tapi dulu pun saya seperti itu, melihat suami yang nggak mau mencari tambahan, "hanya pasrah pada keadaan", rasanya tuh, gemes-gemes gimana, gitu.😃 Padahal jelas kebutuhan sangat banyak, anak otw masuk sekolah formal, kontrakan rumah juga butuh dibayar, dan lain sebagainya. 


Oya, saya taruh kalimat "hanya pasrah pada keadaan" dalam tanda kutip karena kepasrahan itu belakangan baru saya tahu sebabnya. Suami saya mudah banget ambruk kalau waktu  istirahatnya kurang. Bagian pinggangnya juga terganggu, sehingga butuh istirahat lama setelah menggunakan sepeda motor meski hanya 1-2 jam. 


Artikel terkait: Suamiku Bukan Donald Trumph


Begitulah, akhirnya saya memilih nggak meributkan lagi suami mau cari penghasilan tambahan atau enggak.Toh, kalau dia kerja, tapi ujung-ujungnya sakit, malah berabe, kan? 


Dan berikut ini, beberapa hal yang saya lakukan, saat hidup terasa sulit, dan merasa perlu membuat beberapa perubahan dalam hidup. 


Langkah membuat perubahan yang mungkin untuk dilakukan

Jika bicara perubahan, biasanya kita akan terbayang perubahan yang revolusioner, ... BUMM! Langsung semua diubah. Tapi sayang, umumnya manusia bukan tipe-tipe goal getter atau seorang revolusioner. Umumnya kita lebih menyukai perubahan yang tidak terlalu drastis atau tidak  terasa sebagai beban yang berat. 


Sudah dari sananya juga kan, otak itu memang lebih menyukai kenyamanan? 


Ada satu prinsip yang saya pegang saat membuat perubahan, yaitu 

"Semua perubahan wajib tentang hal-hal yang ada dalam kendali saya."

Jadi, saya nggak ngarep si Ayah yang akan menjadi agen perubahan, tapi saya sendirilah agennya. 


Membuat perubahan pada hal-hal yang ada dalam kendali akan lebih mudah, kita juga akan menghemat energi. Kita nggak bisa mengatur cara berpikir orang lain, begitu juga cara mereka membuat keputusan. Jadi, bila memang menginginkan perubahan, pastikan dulu, perubahan tersebut ada dalam kendali kita.  


Dan inilah langkah-langkah yang saya lakukan saat memulai membuat perubahan. 


#1. Syukuri kondisi saat ini

Ya, tetap diawali dengan bersyukur. 

Sebetulnya, dalam kondisi seperti apapun kita, selama kita masih bisa bernafas dengan bebas, masih bisa tidur dengan nyenyak, beribadah tanpa rasa was-was, masih ada makanan dan minuman di atas meja, kondisi kita sebetulnya sudah cukup, dan itu wajib kita syukuri. 


Toh, bersyukur nggak hanya tentang uang, kan? 


Pada kasus si Ibu itu, Alhamdulillah Beliau masih ada uang untuk bayar kontrakan, masih ada rumah untuk berteduh, juga bisa ngajarin sendiri anak-anak di rumah, tanpa perlu repot harus ngelesin anak kesana-sini dan pening biaya. 


Anak-anak yang mau diajarin ibunya sendiri itu juga rejeki, lho. Nggak semua anak nurut dan ikhlas diajari ibunya. 


Dengan mensyukuri semua yang sudah dimiliki saat ini, Insya Allah pikiran akan lebih tenang Dan pikiran yang tenang tentu akan membantu membaca peluang kan?  



memetakan kondisi membantu mengatasi hidup yang sulit



#2. Petakan kondisi saat ini dan kondisi yang diharapkan 

Ada hal yang sering kita lupakan saat mengharapkan sebuah perubahan. Biasanya kita cukup menuliskan target, dan langsung melesat membuat perubahan. Hingga akhirnya loyo, kehabisan semangat dan tenaga di tengah jalan. 


Saat merencanakan atau membuat perubahan, penting banget untuk tahu dimana posisi kita seakarang. Perubahan itu nggak selamanya dimulai dari nol, ada beberapa yang perlu melanjutkan dari hal yang sudah ada, cukup hanya mengubah strategi agar tujuan lebih mudah dicapai. Karena itu, penting sekali memetakan kondisi saat ini, dan kondisi seperti apa yang diharapkan. 


Pada kasus si Ibu, bisa dimulai dari: 
  • Bagaimana Beliau menggunakan waktu sehari-hari 
  • Apakah benar waktu habis semata karena pekerjaan rumah tangga? 
  • Apakah semua pekerjaan rumah tangga benar-benar wajib selesai dalam satu hari, sehingga tidak ada waktu untuk kegiatan lainnya? Kebanyakan ibu sering terjebak pada hal seperti ini, rumah harus selalu kinclong, rapi jali seperti di Pinterest, sampai akhirnya merasa kelelahan sendiri. 


Ya tidak masalah jika tidak ada hal lain yang ingin dikerjakan, tapi jika sudah ada jadwal atau ingin beraktivitas lainnya, maka tahu mana yang bisa diselesaikan sekarang atau nanti menjadi hal yang sangat penting. 


Dari pemetaan ini nanti bisa di cek apakah ada cara baru yang bisa dilakukan agar nanti si Ibu jadi ada waktu untuk mencari tambahan penghasilan. 



 #3. Brainstroming

Jika kondisi sudah dipetakan, sekarang tinggal brainstroming untuk mengetahui apa yang menjadi kekuatan kita. 


Tentu saja hal ini juga perlu dibicarakan dengan suami, apa yang masing-masing bisa lakukan untuk mencapai tujuan perubahan. 


Oya, kadang nggak semua suami mau diajak diskusi juga. Seperti suami saya yang hobinya bilang "terserah". Kalau sudah begini, biasanya saya yang cerewet, cerita ke suami mau ini dan itu. Biasanya kalau memang agak nyerempet bahaya atau membuat anak jadi kurang perhatian, suami akan mengingatkan. 


Intinya, selalu fokus saja pada apa yang bisa kita lakukan. Jika suami kurang semangat atau nggak mau mikirin, ya sudah lakukan semampunya aja dulu. Tapi tetep infokan langkah-langkah kemajuan dan hambatan yang dihadapi untuk menghindari salah paham,.



 #4. Taking action

Perubahan tanpa action, hanyalah angan-angan.

Karena itu seusai memetakan kondisi dan kekuatan, mulailah membuat rencana apa yang bisa dilakukan. 


Pada cerita si Ibu, bisa mulai dari mengatur waktu sehari-hari agar ada kesempatan untuk memulai usaha. Entah dengan menjadi dropshipper, reseller, jualan kue, atau apapun. 


#5. Jangan lupakan doa


Sebagai umat beragama, sudah sewajarnya jika kita mengawali dan mengakhiri setiap kegitan dengan doa. Begitu juga ketika mengusahakan sebuah perubahan dalam hidup kita. 

Berdoa sebelum mulai merencanakan, selama proses melakukan action, dan seusai melakukan rencana. 
Dengan membawa Tuhan di dalam setiap rencana kita, insya Allah hidup yang terasa sulit, akan lebih ringan untuk dijalani. 


Semoga tulisan ringan di atas bermanfaat, terima kasih sudah bersedia mampir di blog rahayupawitriblog.com sampai jumpa di artikel inspirasi berikutnya. 

Rahayu Pawitri, for RPB