Cara Berkata Tidak, Meski itu Terasa Tidak Nyaman

by - 11/30/2018

cara_mengatakan_tidak


Pagi ini saya bangun dengan mata yang bener-bener, amat sangat mengantuk! Kepala juga terasa berat. Kalau nggak ingat Hana harus sekolah, bener deh, saya rasanya ingin peluk bantal lebih lama lagi.

Sudah beberapa hari ini saya sering lembur. Jika biasanya jam 9 (maksimal 9.30) sudah menutup mata, tapi sudah tiga hari kemarin tidur pasti diatas jam 11 malam.

Sudah dari awal minggu memang niat pengen lembur, dan sebetulnya semua akan berjalan baik-baik saja, jika pekerjaan yang sudah saya rencanakan selesai rencana.

Sayangnya, meski sudah lembur hingga malam, malah kadang hak Hana terabaikan, tidak ada satupun pekerjaan yang saya rencanakan selesai. Ada beberapa hal yang membuat saya harus merelakan waktu bekerja untuk hal lain.

Tak mengapa jika itu hanya 1 atau 2 pomodoro (sekitar 1 jam), sayangnya, koneksi internet yang kadang ngadat, membuat gangguan tersebut terpaksa saya kerjakan hingga malam.

Dan semua kegagalan tersebut membuat saya lelah banget! Akhirnya saya berpikir, It is time for me to stop and say "no".

Begitulah pada akhirnya, kita semua harus memilih kan? Meski sebetulnya saya juga kurang nyaman dengan pilihan tersebut.

Cara berkata "tidak" dengan perasaan yang lebih nyaman


Hidup di Indonesia dengan unggah-ungguh yang masih dipegang erat, berkata "tidak" memang bukan hal yang mudah, termasuk saya. Apalagi sebagai orang Jawa, ibu seringkali mengingatkan agar lebih "menimbang perasaan orang lain" sebelum berkata-kata atau berbuat; berkata "tidak" benar-benar bukan hal yang mudah.

Untunglah sejak sadar bahwa, bertahun-tahun level hidup saya tidak benar-benar maju, saya mulai belajar berani berkata "tidak".

Dan inilah beberapa hal yang pernah saya coba agar orang lain dapat mengerti jika adakalanya saya harus berkata "tidak".

#1. Katakan "tidak" dengan cara lain

Saya mengawalinya dengan memberitahu orang lain tentang keseharian saya.

Sejak beberapa bulan berprofesi sebagai freelancer, saya sadar jika 15 menit saja waktu terlewat dari jadwal, maka to-do-list di hari berjalan pasti berantakan. Itulah mengapa saya punya "jam tertentu" dimana saya tidak mau diganggu (istilah produktivasnya; blocking time).

Agar orang dalam lingkaran pertemanan saya tahu kebiasaan saya itu, sesekali saya unggah to-do-list atau planning mingguan saya di halaman media sosial dan/ atau status WA.

Dengan cara itu saya ingin memberitahu siapa saja dalam lingkaran saya, jika saya memiliki "time table" sendiri.

Alhamdulillah cara ini cukup berhasil. Saat ini jika ada yang hendak menelpon atau sekedar mengajak ngobrol biasanya bertanya dulu, "Lagi free, nggak?", "Jam istirahat nggak, nih?" atau malah janjian dulu, "Weekend aku mau ngobrol, ye". 😀


#2. Berikan saja alasan

Pengalaman lain, saat kemarin seorang kawan mengajak untuk berolahraga bersama.

Sayangnya, olahraga rutin yang biasa kawan saya lakukan ini durasinya terlalu lama, sehingga saya malah kelelahan dan tidak bisa melanjutkan aktivitas di hari berjalan.

Akhirnya, ketika ia mengajak olahraga bareng lagi, saya katakan saja keberatan saya apa adanya.

Jujur ada sedikit perasaan tidak enak waktu itu. Yach, bagaimanapun kita semua tahu, mengatur jadwal, punya time-table, masih belum terbiasa di masyarakat kita. Jadi, rasanya agak gimana gitu he he he.

Tapi memberikan alasan yang tepat ternyata benar-benar "menyelamatkan" semuanya, lho. 😀 Jadi cobalah, katakan saja apa alasan yang membuat Sahabat keberatan.

#3. Ulur waktu

Kadang perasaan ingin menolak muncul tanpa alasan yang jelas, sekedar tidak ingin saja.

Saya punya dua cara untuk mengatasi hal ini.

Bila momen tidak nyaman tersebut terjadi dalam komunitas, biasanya saya hanya diam saja, nggak komen apa-apa. Jika nanti sudah diputuskan, dan ternyata saya punya kewajiban, baru saya sampaikan keberatan saya.

Nah, jika momen tidak enaknya terjadi dalam hubungan personal, saya lebih suka mengulur waktu. He he he. Misalnya dengan bilang, "Aku mikir dulu, deh", atau "Aku cek jadwal dulu, ye...".

Nge-gantung jawaban alias PHP sebenarnya bukan hal yang baik (nyebelin yang pasti), tapi dengan mengulur waktu, kita bisa mengumpulkan keberanian untuk akhirnya berkata "tidak".

#4. Awal dengan kata "terima kasih"

Aslinya nih, kabar buruk akan selalu jadi kabar buruk, jawaban "enggak" tetap akan terasa tidak enak. Tapi kita bisa mengurangi kadar "ketidak enakan" tersebut dengan cara mengucapkan terima kasih.


  • "Terima kasih sudah meluangkan waktu, ...", 
  • "Terima kasih sudah bersedia mengundang, ...", 
  • "Terima kasih sudah mempertimbangkan dan mikirin aku ..." dan seterusnya.


#5. Pakai intro 😊

Masih belum cukup berani langsung bilang enggak? Coba awali dengan kalimat lain,

"Aku tertarik sih, tapi ..."
"Gimana ya, aku nggak berani kalau harus, ..."
"Hmm... kayaknya bisa sih, cuma aku ..."

Gimana, cukup nggak untuk latihan berkata "tidak"? Semoga cukup, ya.

Ngerti sih, bagi sebagian kita berkata "tidak" itu memang benar-benar berat. Pokoknya bisa jadi beban seumur hidup. Tapi menurut saya, daripada kita menyesal nanti dan akhirnya malah benci diri sendiri karena nggak bisa tegas, lebih baik mulai belajar deh, cara berkata tidak meski di awal terasa tidak nyaman.


Okay, thank you for dropping by, see you at another productivity post.  


You May Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.