Reuni-ku, Harapan Bisnis Masa Depanku

by - 2/06/2018

Akhir-akhir lagi posting yang nggak rapi banget, buru-buru dan asal jadi. Bukan kepengen asal update, si. Tapi  memang sdang ikutan event One Day One Post. Kemarin dari IIDN, tapi cuma bertahan 2 hari. Dan sekarang berhubung sedikit lega, saya ngikut ODOP punya \\indonesian Social Blogger. 

Dan tema hari ini ditantangin untuk nulis tentang reuni. Aduh, puyeng! Soalnya seumur hidup belum pernah datang reuni-an. Bukan karena nggak PeDe, tapi tiap kali ada event reuni, tanggalnya seringkali nggak pernah pas. 

Biasanya teman-teman saya membuat acara reuni di sekitar hari lebaran. Sayangnya, ditanggal tersebut biasanya saya sudah pulang Bekasi. Atu kalau waktu pas, eh, si Hana pas sakit.

Ya udah deh, selama hampir 20 tahun lepas dari bangku Sekolah Menengah Pertama, sama sekali saya belum pernah datang ke acara reuni. 

Begitu juga dengan kerja, sama sekali belum pernah. Mungkin karena sebagian besar teman masih bekerja di tempat yang sama, jadi ya... ngapain reuni-an kan?

Tapi jika artinya reuni adalah ketemu teman lama, maka ada satu momen yang nggak akan pernah saya lupa. 

Waktu itu saya sedang tidak ada pekerjaan, karena Hana baru saja lahi. Sementara suami juga sedang di rolling sehingga penghasilan keluarga sedang menurun sangat drastis.

Disinilah saya ketemu dengan teman SMA, sekaligus mantan teman kerja di sebuah perusahaan pengalengan ikan.  

Ketika tahu tentang kondisi saya, dia memberikan saya beberapa baju utuk dijual kembali. Teman saya ini juga mengajari saya untuk membuat kantong handphone untuk ditawarkan sebagai souvenir. 

Saat itu, rasanya campur aduk. Saya ini bukan dagang, dan menawarkan baju pada tetangga, sungguh bukan hal yang mudah. 

Teman saya ini terus menyemangati, dengan cerita-cerita saat dia juga menjalani masa kritis. Saat kami usai mengundurkan diri dari pabrik pengalengan, tapi malah di PHK di perusahaan baru. 

Saat itu, teman saya ini menawarkan jasa penelitian pengembangan produk. Tapi karena mandiri, maka bahan-bahan dasar harus ia sediakan sendiri. Dia bercerita bagaimana usahanya berkeliling pulau-pulau di Indonesia untuk mengumpulkan bahan dasar. Saat harus menahan lapar, karena uang belum di  transfer dari klien, atau saat dianggap main-main oleh Yusril Mahendra saat mengajukan proposal, hanya karena badannya yang kecil.

Pelan-pelan saya pikiran saya mulai terbuka (aduh, saya kok bukan revolusioner bener, ya). Sedikit demi sedikit mulai ada keberanian. Mulai berani menawarkan dagangan. Mulai berani promo dan seterusnya. 

Dari momen itulah saya mulai tertarik dengan enterprenuership. Hingga kemudian semuanya membawa saya samapai disini, seorang emak yang nyambi buka jasa content writing dan blogger. 

Begitulah, bagi saya momen reuni saya dengan teman tersebut adalah momen terbaik dalam hidup saya. Setiap kali saya hilang harapan, saya selalu ingat teman saya yang berperawakan kecil ini, tapi selalu punya usaha dan semangat yang besar. 

Ketika sering terdengar nada miring tentang reuni, Alhhamdulillah, saya malah mendapat manfaat dari momen tersebut. 

Bagaimana denganmu kawan, pernahka datang ke reuni, dan apakah momen tersebut membawa damapk positif buatmu?

You May Also Like

2 komentar

  1. Hiks belum pernah ikut reuni juga saya mba, soalnya jauh banget ama temen-temen SMP/STM.

    Tapi salut ya mba mau membuka diri untuk berdagang.
    Banyak orang yang dalam keadaan terjepit pun gengsi untuk jualan.

    Padahal yang namanya berdagang itu bukan cuman uang yang didapat, ilmu juga.
    Dan ilmu itu bisa kita pakai di mana saja, termasuk menjual keahlian kita :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kata bu Indari, profesi apapun yang dilakukan, harus pintar jualan; meski bukan jualan barang. Jualan keahlian, jualan jasa dan sebagainya.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.