Mini Workshop 10 Langkah Menjadi Financial Planner untuk Diri Sendiri (bagi Ibu Rumah Tangga dan Freelancer)

by - 1/30/2018

mengatur keuangan_freelancer_rahayupawitri


Dua minggu kemarin, saya merasa hopeless sekali. Pasalnya, bulan Januari sudah mau habis, tapi resolusi saya baru terlakasana beberapa hari. Baru sampai tahap rencana, eh, dapat karunia sakit.

Bukan sakitnya yang ku sesali (*jadi berasa pengen nyanyi) tapi kenapa saya tidak bersegera melakukan apa yang saya rencanakan. Akhirnya kacau balau, deh.

Alhamdulillah, diakhir minggu lalu, saya mendapat suntikan semangat. Yap, habis pulang dari mini workshop ngatur keuangan kemari, saya jadi punya sebuah rencana baru, untuk mengcounter resolusi yang tertunda kemarin.

Mini Workshop "Menjadi Financial Planner untuk Diri Sendiri"


Tanggal 27 Januari kemarin, saya mendaftarkan diri untuk ikut mini workshop belajar mengatur keuangan untuk freelancer dan ibu rumah tangga.

Ya, so far saya sudah mencatat, sudah nabung, tapi terasa masih ada yang kurang. Selain karena jumlahnya yang kurang 😀😀😀, saya masih sering tambal sulam antara kebutuhan sebagai freelancer dan sebagai ibu rumah tangga. Pokoke kacau, dan tujuan keuangan susah sekali untuk tercapai.

Karena itu, ketika mbak Kiki nyolek untuk ikut workshop ini, cuss deh, langsung daftar.

Workshop financial planning ini diisi oleh Bapak Lutfi Trizki dari  Rumah Cerdas Finansial. Selain sebagai Konsultan Perencanaan Keuangan, pak Lutfi juga sering menjadi mentor di banyak workshop kepenulisan dan keuangan.

And he's been a freelancer for almost 12 years, jadi pas kan kalau akhirnya berbagi pengetahuan bagaiman mengatur keuangan untuk freelance?

Bagaimana menjadi freelancer dan ibu rumah tangga yang pinter ngatur uang


Hal pertama yang pak Lutfi sampaikan kemarin adalah mengapa kita perlu untuk merencanakan keuangan. Jawabnya si simpel, agar tujuan keuangan tercapai. Sayangnya, kebanyakan dari kita justru tidak memiliki tujuan keuangan. Paradigma, 

Duit segitu-gitunya, gimana mau diatur?

sering menjadi tameng, dan membuat kita tidak berani untuk membuat tujuan keuangan. Padahal, justru inilah yang menjadi landasan ngatur keuangan. 

Ada alasan lain mengapa kita wajib mampu merencanakan dan mengatur keuangan. Di Indonesia ini, selain memenuhi kebutuhan diri sendiri dan anak, kita juga merasa perlu untuk membantu kebutuhan orangtua. 

Itulah mengapa, cermat mengatur pos-pos pengeluaran penting banget untuk dilakukan. Jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. 

Nah, jika sudah dapat mengatur keuangan berdasar tujuan keuangannya inilah, maka barulah kita sampai pada tahap "mengambil keputusan atas keuangan". Misalkan keputusan uang simpanan ini hendak disimpan pada instrumen apa, mengapa harus memilih instrumen tersebut, dan berapa prosentasenya. Kemampuan untuk memutuskan inilah yang disebut dengan kecerdasan finansial. 

Jadi gimana dong, cara mengatur keuangan yang betul?


Menurut Pak Lutfi, ada urutan yang harus dipenuhi dalam mengelola keuangan, yaitu: 

1. Antisipasi resiko dengan cara membentuk dana darurat

Jumlah dana darurat untuk yang belum menikah sebesar 6 bulan kebutuhan sehari-hari. Sementara bagi yang sudah menikah besarnya 10-12 bulan. 

2. Mengelola hutang produktif dan konsumtif

Saat terima gaji, menurut pak Lutfi, hutang inilah yang harus diprioritaskan pertama kali. 

3. Antisipasi resiko dengan asuransi

Asuransi yang dimaksud disini adalah asuransi untuk kepala keluarga, yang jumlah pertanggungannya memenuhi kebutuhan si Ahli Waris hingga terhitung memasuki usia produktif dan mampu bekerja sendiri. 

Jadi, kalau Anda masih jomblo, atau belum punya anak, ya nggak usah ambil asuransi. Belum perlu, lebih baik uangnya dimasukkan ke produk investasi

4. Membangun dana masa depan: berinvestasi (aset produktif)

Investasi tidak hanya berupa uang, bentuknya bisa berupa ternak, perkebunan, emas atau lainnya. Bisa juga berupa bisnis, namun haruslah bisnis yang bisa dijual. 

Bagi kita yang berpenghasilan UMR, saat ini juga sudah bisa berinvestasi, melalui instrumen reksadana atau menabung saham. 

Cara paling mudah sebetulnya melalui reksadana. Selain modalnya tidak terlalu besar, kita pun tidak terlalu pusing dengan perputaran investasi di pasar bursa. 

5. Kebutuhan keluarga 

Idealnya, jumlah yang bisa dipakai untuk kebutuhan ini, hanyalah 45% dari total pendapatan. 

6. Review berkala rencana keuangan

Seperti sekarang ini, banyak kebutuhan pokok yang sudah naik harganya, jadi beberapa pos mungkin perlu revisi. Karena itu review rencana keuangan secara berkala, perlu untuk dilakukan. 

Menurut pak Lutfi, merencanakan keuangan memang tidak menjadikan kita orang kaya. Tapi dengan disiplin mengatur keuangan, kekayaan bisa diraih di masa depan.

3 edisi cara menjadi Financial Planner untuk diri sendiri
(Pic by Kiki Handriyani @kikihand)


O iya, semua materi yang disampaikan pak Lutfi ini, sudah Beliau rangkum dalam tiga buku "10 Langkah Menjadi Financial Planner untuk Diri Sendiri" yang tebagi dalam tiga edisi yaitu untuk Freelancer, ibu rumah tangga dan untuk karyawan. 

Ketiga buku tersebut dapat diperoleh di toko buku Gramedia, atau kunjungi saja situs penerbit bukunya grasindo.id

Btw, saat ini saya sedang baca buku yang "untuk Freelancer". Ya, ampun isinya "gue banget". Buku ini nggak cuma berisi cara ngatur uang, tapi juga lika-liku kehidupan freelancer itu seperti apa, bagaimana cara agar freelancer bisa memenuhi kebutuhan plus jalan-jalan dan, membangun aset. 

Belum selesai baca si, tapi kemarin sudah langsung praktek 😃. Nanti saya buat post terpisah deh, sneak peak dari edisi yang saya punya (freelancer dan irt).  

Pokoknya kalau kamu nggak mau jadi freelancer ngenes, wajib deh beli buku ini. Dijamin bermanfaat. 

Oke, see you at another post, ya... 


You May Also Like

1 komentar

  1. wuih, mantab bener ulasannya... Hmm, boleh banget tuh tipsnya. Makjleb buat emak2 freelancer macam kita2 ini..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.