Plus Minus Pekerjaan Penulis Konten Freelance yang Sebaiknya Kamu Tahu

penuliskontenprofesional_rahayupawitri


Bekasi hujan deras hari ini. Dan setiap kali hujan, saya inget komentar temen

"Lo, mah enak, kerja nggak perlu kemana-mana. Bangun tidur langsung ketak-ketik leppi juga nggak bakal ada yang ngomel." 😀

Saya cuma bisa menghibur dia dengan berkata jika setiap pekerjaan pasti ada konsekuensinya. Termasuk dirinya yang harus berangkat kerja ditengah guyuran hujan.

Padahal aslinya hidup penulis konten freelance itu nggak selamanya enak dan indah.

Di beberapa poin memang terlihat nyaman, seperti kata teman saya, bangun tidur langsung ketak-ketik nggak ada yang ngomel, mau kerja jam berapa aja, juga nggak ada yang nglarang. Tapi ...

Tetep aja pekerjaan ini punya konsekuensi. Harus bisa penuhi deadlion, bisa membuat prioritas, mampu menjadi PR sekaligus manajer untuk jasa yang ditawarkan, dan seterusnya.

Fakta tentang penulis konten freelance

Penulis konten tu nggak selamanya freelance lho. Banyak juga yang in-house. Mereka tetep mesti ngantor, terikat peraturan perusahaan, dan penghasilan mereka pun juga sudah pasti setiap bulan.

Beda dengan penulis konten freelance, disatu sisi mereka mendapat keleluasan bekerja, disisi lain ada juga konsekuensinya. Apa aja? Berikut detilnya.

Fakta freelance #1, Jadi bos untuk diri sendiri


Cuaca lagi mendung, bikin males nulis dan pengen tidur? Ya udah, tidur aja. Minggu depan pengen jalan-jalan? Ya udah, buruan pesen tiket, tinggalin message buat klien, dan cuss...

Begitulah, sebagai penulis konten freelance, nggak bakal ada yang ngomel saat pengen libur, seharian pengen nge-rerun drakor, atau malah cuma pengen hibernasi selama 6 jam. Semua terserah kamu! Kuncinya hanya pada prioritas. Mana yang harus dilakukan sekarang dan mana yang nanti.

Garis batas kebebasan seorang penulis konten freelance adalah tanggung jawabnya terhadap klien. Dan tanggung jawab itu lah yang akan menentukan prioritas kegiatan atau jadwal seorang penulis konten freelance.

Fakta freelance #2, Bisa kerja dimana aja


Peralatan ngantor penulis konten freelance tu cuma koneksi internet dan laptop. Jadi, selama dua hal itu ada, mau kerja dimana aja bisa. Di teras rumah, di lapangan, sambil ngrumpi bareng tetangga, up to you. This world is your office, please enjoy your work. 😊


Fakta freelance #3, Punya banyak referensi pekerjaan


Menjadi seorang penulis konten freelance sama arti punya portofolio dari berbagai klien.

Iya si, menjadi penulis konten yang terspesifikasi itu lebih baik, pekerjaan jadi cepat selesai, kreativitas juga nggak akan macet. Tapi, setiap klien biasanya punya jobdesc yang berbeda, dan tentu aturan yang berbeda pula.

Menjadi seorang penulis konten yang profesional itu seperti seorang artis; harus mampu menulis dengan banyak gaya, point of view, bahkan karakter. And it is fun. Nggak cuma pengalaman, tapi ketrampilan juga akan semakin terasah dengan semakin banyaknya tantangan.

Fakta freelance #4, Semakin banyak referensi, pekerjaan semakin aman


Dulu saya juga menganggap pekerjaan penulis konten freelance itu "nggak aman"., karena potensi untuk nggak dapetin klien akan selalu ada setiap hari.

Kalau pas awal merintis si, bisa aja ya, karena klien masih belum tahu kemampuan yang kita miliki. Tapi dengan semakin banyaknya klien, portofolio makin komplit, ketrampilan juga semakin moncer, jalan untuk mendapat klien baru juga akan terbuka lebar.
Selain itu, penulis konten freelance nggak hanya tergantung dari satu sumber pendapatan (klien).

Diatas itu semua, kalau kita renungkan di dunia ini apa iya ada pekerjaan yang benar-benar aman, menjamin akan membuat kita happily ever after? Kayaknya kerja kantoran pun juga berpotensi PHK kan? Yang jualan juga berpotens nggak laku. Selama masih di dunia si, kayaknya nggak ada pekerjaan yang benar-benar aman. CMIW ya....

Fakta freelance #5, Punya banyak kesempatan menjadi ahli di bidang baru


Market terus saja berubah. Membawa harapan baru, kategori (niche) baru, area dimana seorang penulis konten freelance bisa menjadi expert selalu terbuka lebar.

Contoh paling mudah adalah perkembangan ecommerce dan market aplikasi. Area ini membuka peluang penulis konten freelance untuk mencoba niche baru.

Dan seiring perkembangan dunia digital kesempatan munculnya industri baru pun akan terus ada. Dan para penulis konten freelance bisa masuk ke area baru tersebut tanpa harus repot untuk mundur dari job yang sedang dikerjakannya sekarang.

Fakta freelance #6, Malas belajar = Job melayang


Seperti disebutkan diatas, markets yang selalu berubah, juga menuntut seorang penulis konten freelance untuk terus mau belajar. Well, I must say, this is another hardest part of a freelance content writer; especially when you're a mom also.

Kesibukan seorang emak aja udah nggak ada habisnya kan? Tapi wajib untuk terus mau belajar, mencoba hipotesa baru, tools baru dan seterusnya. Paling enggak sepertiga waktu seorang penulis konten freelance harus digunakan untuk membaca, mendengarkan podcast, nonton, atau menyerap informasi baru yang akan mengasah kemampuan menulis dan pengetahuan.

Kalau kata temen-temen di Arisan Link V saya ini gila belajar, tapi aslinya ya itu, belajar adalah bagian dari job seorang penulis konten freelance. Kamu berhenti belajar sama arti menghentikan aliran dollar ke PayPal.

Fakta freelance #7, Pekerjaan yang butuh cinta


Saya bukan penulis konten yang ahli splitting words, it ain't me at all. Biasanya malah jadi cepet boring kalau seperti itu.
Saya lebih suka mencari sumber baru, menulis dari titik pandang baru, atau menambahkan pengalaman pribadi dan hasil wawancara jika ada. Hasilnya, dulu saya sering ketinggalan target temen-temen yang lain. Akhire dapatnya cuma dikit dibanding dengan yang lain.

Bagi saya pekerjaan ini adalah tentang kepuasan. Saya sudah kadung jatuh cinta dengan pekerjaan ini. Sampai-sampai kalau nggak duduk depan kompi dan ketak-ketik, hidup saya terasa hampa *bhaaa....lebay tingkat dewa.

Begitulah, menulis konten tu kadang nggak melulu tentang dapat dollar atau rupiah. Sometimes it's just about fulfilling your dream, your desire.

Karena itu pekerjaan penulis konten freelance ini, butuh modal cinta nulis agar bisa keep going. Kalau memang nggak cinta banget, sebaiknya jangan milih kerjaan freelance.

Kawatir nanti effortnya akan terasa berat. Energi yang tersedia pun bisa jadi nggak optimal. So, kalau kamu pengen jadi penulis konten freelance, cintai dulu deh dunia kepenulisan, juga siapkan diri untuk mengambil semua konsekuensi yang dibutuhkan.

Fakta freelance #8, Harus berjuang sendiri untuk mendapatkan job


Kalau di perusahaan kan biasanya ada temen untuk dapetin project atau job tertentu; penulis konten freelance nggak punya itu. Semua benar-benar tergantung dari kemampuan dia negosiasi, menjual skill, pengalaman, juga pengetahuan.

Penulis konten seringkali menjadi pilihan ketika seseorang bicara tentang pekerjaan freelance. Ini membuat kompetisi dalam bidang ini semakin tinggi. Jadi, bila pengen jadi penulis konten freelance, kenali value kamu, dan terus asah kemampuan untuk negosiasi.

No one's going to hand you any jobs on plate; show your value and be willing to negotiate constantly.

Fakta freelance #9,  Harus punya goals biar kerjanya efektif


Tidak ada jalan yang mudah untuk menjadi seorang penulis konten freelance yang sukses. Tidak ada "7 Tips and Trik untuk Menjadi Penulis Konten Sukses" yang bisa kamu ikuti dan otomatis menjadikan kamu bersinar diantara penulis konten lainnya. Ada kala kamu harus berjalan, tapi seringkali kamu harus berlari.

Rentang job atau project seorang penulis konten freelance memang luas. Tapi tetap saja kamu musti sense yang kuat untuk dapat tahu apa yang dibutuhkan oleh klien. Entah itu back ground pengetahuan, pengalaman, atau apa aja yang bisa bikin klien kamu puas.

Jadi, buat goals yang pasti, misi yang jelas, kamu pengen drop di jenis job yang mana, kategori apa, bidnya berapa dan seterusnya. Tentu saja kamu juga harus memastikan jika value kamu sesuai dengan goals-goals itu.

Fakta freelance #10, Harus mengupayakan dana cadangan sendiri


Ya namanya manusia, tentu nggak selamanya dalam kondisi fit kan, ada kala sakit, sekedar butuh refreshing, atau malah lagi kena writers block.

Sayangnya,penghasilan penulis konten freelance itu benar-benar ditentukan oleh usaha yang sudah dikerjakan.

Kalau kamu kerja kantoran, dan lagi nggak mood atau sakit, kamu masih bisa dapat gaji, ada tunjangan ini itu, dana pensiun de el el.

Beda halnya dengan pekerja freelance; sekali kamu nggak nge-draft, kamu nggak dapat gaji. End!!!

Jadi, siapkan selalu dana cadangan pribadimu. Terserah si, mau kamu sisihkan berapa. Nah, saat kamu butuh istirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kamu masih punya dana cadangan. Ada banyak cara agar kamu bisa punya dana cadangan. Artikel lama saya "Dana Cadangan bagi Freelancer" mungkin bisa bantu kamu untuk menentukan pilihan.

Fakta freelance #11, Susah untuk menyeimbangkan hidup

Seperti disebutkan di poin ke-10, bagi pekerja freelance, sekali nggak kerja sama arti nggak gajian. Deadlion yang kadang datang beruntun mau tidak mau harus dikerjakan. Nggak peduli weekend, hari libur nasional, atau kapan pun.

Saat bilang pengen liburpun, seringkali pekerja freelance, utamanya penulis konten, nggak bisa jauh-jauh dari dunia nulis. Jadi, sebetulnya susah mencari waktu yang bener-bener nggak mikirin kerjaan atau sekedar berhenti dan jauh-jauh dari urusan nulis.

Fakta freelance #12, Harus bisa jadi PR, marketing, manajer, plus akuntan


Begitu kamu milih jadi penulis konten freelance, artinya kamu sedang memulai "bisnis" baru. Kamu harus bisa jadi marketing yang andal menawarkan ketrampilan, jadi PR yang pandai branding, manajer yang ngatur jadwal post, ngrencanain step ke depan, ngecek setiap pekerjaan bisa jalan dengan baik, dan seterusnya.

Tak kasih bocoran yo, paling sedih itu kalau lagi berprofesi sebagai akuntan, ngitung hasil kerja, potong pajak, dana darurat, biaya operasional, dan ternyata hasil kerja jauh dari impian. *Ah... lap keringat. 😭

Fakta freelance #13, Kamu bisa aja nggak punya temen


Ini beneran lho, coba siapa yang mau jadi temen nulis di jam satu pagi? Buka sosmed juga sepi, open chat paling juga dijawab sambil setengah tidur.

Nggak cuma itu, kalau lagi deal kerjaan, nggak ada temen yang bisa diajak ngrayain bareng. Lagi gagal job pun bakal bingung nyari pundak buat sandaran. Ya gitulah, you could be so lonely, very lonely...


So again, kerja penulis konten freelance tu nggak seindah dan semudah bayangan. Karena itu sebaiknya kamu bener-bener suka nulis baru pilihlah pekerjaan ini. 

CONVERSATION

25 komentar:

  1. lengkap sekali Mbak. bener kalo harus terus belajar, sesibuk dan serempong apapun. Selain membuka wawasan, menambah skill juga :)
    Salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mbak Wahyu, salam kenal juga.

      BEtul mbak, pekerjaan apapun memang seharusnya terus belajar ya

      Delete
  2. apaun itu profesi nya yg penting dinikmati aja dan bersyukur

    ReplyDelete
  3. Hihihihihihi, suka dukanya memang lumayan. Tapi tetap bisa dinikmati. :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak-e. tapi kalo pas sepi job aku suka kangen kerjaan kantoran je ha ha ha

      Delete
  4. Tapi lebih asyik freelance sih. Menantang. Apalagi sebagai ibu rumah tangga. :o

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya si, mbak. Kalau buat emak memang lbh pas freelance

      Delete
  5. Kalau irt seperti aku, emang freelance bisanya. Lagipula seru gitu kalau freelance, istilahnya melatih diri buat disiplin. :o

    ReplyDelete
  6. Tentang freelance, suka-suka ngatur waktunya, tapi tetap ada goalnya.

    ReplyDelete
  7. aku lebih suka kerja freelance daripada harus jadi karyawan ... lebih bebas aja

    ReplyDelete
  8. Mauu tau ceritanya wkt awal merintis, cari jobnya bgmn n dmana mbak'e? Trus kok freelance dipotong2 pajak jg. Pajak opo to?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yo kayak yang lain mbak-e, gabung agensi, trus kesana-sini baru akhire berani cari sendiri.
      biar freelance juga ada pajak penghasilan lho

      Delete
  9. yang jelas pekerjaan apapun pasti menyenangkan jika dijalani dengan ikhlas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ikhlas kok mbak-e...apalagi kalau lagi banyak job ha ha ha

      Delete
  10. Iya termasuk untuk ngeblog juga ya, Mba Wit. Aplikasi edit ini itu dan tekhnik nulis mesti upgrade terus. Harus semangat belajar biar nggak tergilas persaingan, haha...

    ReplyDelete
  11. utk poin terakhir, jadi bukan hanya penulis fiksi yg merupakan pekerjaan paling kesepian di dunia ya... penulis konten juga termasuk merasakannya :)

    ReplyDelete
  12. terimakasih infonya mba,
    siap dieksekusi

    ReplyDelete
  13. Haha point 13 bener banget! Dulu pas aku kerja di kantoran bisa kongkiw2 rumpi at as an kalo pas suntuk ati sebel. Skrg pas freelance writer mau curhat am a siapa yak...ujung2nya sih nulis di blog haha

    ReplyDelete
  14. hmmm kalo aku apalah-apalah...masih belajar ngeblog, ini pun kalo luang wkwkwk...nice share mbak..

    ReplyDelete
  15. Saya pernah baca dari blog luar mbak. Dia fully freelancer. Dan di awal dia selalu menekankan kalau kita harus siap dengan tujuan dan juga target, seperti yang mbak bilang.
    Nice share mbak. Moga bisa menjadi masukan untuk yang mau jadi freelancer.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon maaf untuk tidak meninggalkan link hidup.