Cara Menjadi Penulis Konten/ Content Writer

by - 8/08/2016

penuliskontenprofesional_rahayupawitri
Penulis konten/ content writer, profesi yang banyak
diisi oleh para freelancer

Beberapa waktu lalu pernah ditanyain sama adik kelas, gimana caranya jadi content writer atau penulis konten. Janjinya si, saat itu pengen bikin dalam bentuk video, tapi kayane kok ribet ya (*kata lain dari nggak bisa gitu). Jadi, sebaiknya ditulis saja ya...

Cara menjadi penulis konten atau content writer

Penulis konten dan content writer, adakah bedanya? Sebenarnya ya, enggak si, cuma masalah bahasa saja kan? Tapi saya kasih bocoran ya, ada dua kelompok orang dalam job ini lho.

Kelompok pertama adalah mereka yang menulis konten dengan cara melakukan analisa pengguna situs (user experience) terlebih dahulu, riset, baca buku, dan juga wawancara. Sementara kelompok lain, mengambil beberapa artikel sesuai referensi google, dan kemudian menuliskan ulang menjadi sebuah artikel baru.

Cara pertama biasanya artikel lebih organik. Teman-teman bisa menemukan hasil karya mereka di situs-situs media atau berita online, blog milik korporasi, e-commerce, atau bisnis start up. Mereka nggak 100% menulis organik si, kadang juga menulis artikel yang mirip dengan situs lain. Tapi biasanya hanya 1% saja, sekedar ngejar berita viral aja.

Penulis konten pada grup kedua biasanya menulis berdasar pesanan kata kunci tertentu. Mereka nggak bisa protes, meski kata kunci yang diberikan tidak mereka kuasai.

Untuk kamu yang pengen nyasar kelompok penulis konten pertama, ada syarat lain yang harus kamu kuasai. Biasanya pemahaman akan SEO, Google Trends, teknik penulisan content writing, serta pemahaman akan user experience, harus dikuasai dengan baik. Istilahnya, masih ada syarat lain selain kemampuan menulis yang harus kamu kuasai.

Syarat menjadi penulis konten


Sebelum ngomongin menjadi penulis konten, kita harus tahu dulu apa syarat menjadi penulis konten.

Syarat yang pertama tentu saja harus bisa menulis. Tentu saja nggak asal nulis, hasil tulisannya harus enak dibaca juga. Apalagi nulis konten biasanya mengandung kata kunci tertentu, dan kata kunci tersebut harus disebutkan beberapa kali dalam tulisan.

Meskipun begitu, nggak boleh juga kalau tulisannya terus kaku dan terkesan banget dipaksakan. Ntar jadi nggak enak dibaca dong.

Saya pernah dikasih tips oleh salah satu kawan seagensi, kabarnya rumus 5W+1H sangat membantu untuk menulis artikel dengan cepat. Untuk mereka yang ada di kelompok kedua, biasanya dituntut mampu meyelesaikan artikel minimal 3-5 dalam sehari.

Kalau kelompok pertama si, lebih bebas, meski ada juga yang memakai tenggat waktu 3 artikel sehari. Pokoke menjadi penulis konten itu harus siap untuk begadang, siap untuk depan kompi 6-8 jam sehari.

Syarat lainnya, ya seperti yang saya tulis diatas itu, paham Google Trends, SEO basic and edebrah-edebreh ...

Nah, sekarang gimana cara menjadi penulis konten? 


Menurut pengamatan (juga pengalaman) ada tiga cara untuk menjadi penulis konten. Yang pertama gabung di agensi kepenulisan (seperti re-media service, indscript, dll), bisa juga langsung ngalamar sendiri pada mereka yang membutuhkan tulisan kita. Cara lainnya, bantu temen yang lagi kebanyakan job, he he he (info detilnya, saya tulis di melekinternet.com)

Gampang kan cara menjadi penulis konten tu? Pengen nyoba? Hayuk ... siapakan portofolio kamu. See you ...


You May Also Like

12 komentar

  1. Oh pantesan kalau OL sampai malam banget. Menurut saya, conten writer dituntut harus pintar. Pintar dalam arti menguasai segala bidang, dan begitulah penilaian kasat mata terhadap Mbak Wiwit :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau banyak ilmu tu, memang bisa diuangin dari mana aja to, mbak. Sayang, aku nggak segitu pintarnya; mbak rani malah lebih oke.

      Delete
  2. Replies
    1. Yang mana, satu atau dua? Atau malah dua-duanya ha ha ha

      Delete
  3. banyak membaca buku kukira juga ngebantu banget nih kalo pas blocking ide, sekalian menambah perbendaharaan kata ya biar gak fakir kosa kata.

    Trus, kalo blogger sendiri...hmmm apa bisa disebut content writer kelompok kedua ya mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurutku kok enggak ya, mbak. Blogger kan suka-suka kita. Placement artikel kan juga yang sesuai dgn blog kita to? Kita masih berkuasa penuh atas tulisan tersebut. Menurutku blogger tu terpisah dari content writer.

      Delete
  4. yah intinya mah nulis content ga bisa sembarangan toh mba, kudu mnguasai materi biar ga salah nulis ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo yang kelompok kedua kadang nggak menguasai, tapi terpaksa nulis mbak. Asli, nggak bisa nawar.

      Delete
  5. Wah mantep... Yang pasti jadi content writer butuh me time biar tetap waras, wkwkwk.. Kalau saya sih :D

    ReplyDelete
  6. Whoaaaa...
    makasih banyak buat ilmunya nih mbaaaaak! Berasa nambah ilmu banget abis mampir sini :))

    Kemampuan nulisku masih cuma sebatas curhat nih mbaaak, iki piye dong urusannya inih kalo mau jadi content writer muahahaha...

    ReplyDelete
  7. Edebrah edebreh wkwkwkwk... makasih sharingnya mbak... jadi nambah banyak wawasan..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.