Ancaman Bahaya Obesitas pada Ibu yang Juga Seorang Blogger

by - 7/24/2016

Program tepat, akan membantu mencegah bahaya obesitas pada orang
dengan perilaku sedentary. (pic. source: pixabay.com)


Suatu pagi,

“Naik apa kamu nganterin Hana ke sekolah? Masih ngonthel? Ngapain sih, nggak naik motor aja?”

Seperti itulah pertanyaan yang sering saya dengar dari kawan, tetangga, bahkan saudara jika tahu kemana-mana saya ngonthel.

Ya, saya memang lebih senang naik sepeda kemana-mana, pun ketika nganterin Hana ke sekolah. Entah kenapa, rasanya kok kurang bersemangat untuk belajar naik roda dua bermesin itu. Ketika sepeda listrik menjadi trend pun, saya hanya sempat ingin, tapi nggak pernah berniat merealisasikannya.

Sepertinya ... ngonthel itu kok lebih asik ya? Anti mainstream, dan kelihatan klasik gitu, he he he. Nggak kok, nggak karena ngonthel kelihatan lebih gaya, tapi lebih karena gaya hidup saya.

Kegiatan saya seusai ngurusin rumah ya, cuma satu, ngetik, duduk manis depan kompi. Atau kalau lagi bete ya, nggak beda jauh dari kursi dan bantal; nonton streaming drama korea, yang umumnya jadi penasaran, sampai tak terasa kalau sudah berjam-jam. Nah!

Begitulah, gaya hidup saya yang cenderung sedentary (tidak banyak bergerak), seringkali membuat saya galau. Ditambah usia saya hampir 40 tahun dan jarang olah raga, saya mulai merasa lemak di perut mulai menebal, dan gampang capek. 

Bahaya obesitas dan gaya hidup sedentary

Seperti dikemukakan oleh dr. Sophia Hage, SpKO dalam healthy talkshow bersama Forum Liputan6 di SCTV Tower, Jakarta pada Selasa, 24 Mei 2016, seseorang yang kurang bergerak akan cenderung mengalami beberapa masalah kesehatan, seperti 
  • Penyakit kardiovaskuler
  • Diabetes,
  • Sindrom metabolik
  • Obesitas.
Yang terakhir itu biasanya paling mudah terjadi. Saya pernah lho, mengalami. Waktu itu karena jam efektif nulsi saya hanya malam hari, maka mau tidak mau saya harus bangun dari 12 malam agar semua tulisan bisa selesai tepat waktu. 

Bagi saya, bangun di malam = kopi + snack. Hasilnya, bobot saya mencapai 65kg dengan tinggi yang hanya 155cm. Jangan tanya rasanya, berat. 

Bagan aktivitas umumnya orang. Cenderung pada sedentary kan?
(pic. source: makalah presentasi dr. Sophie Hage, SpKO)
Ketika kurang bergerak sama arti dengan kurang bergeraknya otot besar tubuh. Ujung-ujungnya tubuh akan mengalami penurunan metabolisme, yang akan mempengaruhi kadar gula darah, tekanan darah, juga kemampuan mengurai lemak tubuh. 

Cara mengurangi bahaya obesitas karena perilaku sedentary


Sayangnya, konon dampak buruk sedentary tidak cukup diatasi dengan olah raga rutin, terlebih bila olah raga hanya dilakukan sesekali. Penelitian menunjukkan, mengubah perilaku menjadi lebih aktif, terbukti lebih efektif dibandingkan hanya melakukan olah raga sesekali. Karena itulah, bagi saya, ngonthel adalah salah satu cara saya bergerak lebih aktif.

Cara lain mengatasi dampak buruk obesitas karena perilaku sedentary, adalah menginterupsi atau mengambil jeda selama melakukan aktivitas sedentary. Misalkan dengan bangun dari duduk setiap 1 atau 2 jam sekali untuk sekedar merilekskan mata atau mengambil minum.

Jika mungkin, aktivitas sedentary ini sangat disarankan untuk dikurangi. Dan akan lebih baik bila diganti dengan aktivitas fisik yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Masih menurut dr. Sophia Hage, SpKO, setiap orang membutuhkan aktivitas fisik yang berbeda-beda, karena itu perlu konsultasi ke dokter jenis aktivitas apa yang tepat untuknya. Terlebih bila orang tesebut telah menderita obesitas, salah-salah,- bukan turun berat yang diperoleh, tapi cedera otot.

Obesitas kan juga macam-macam penyebabnya, bisa karena faktor keturunan, usai melahirkan, pengontrolan diri terhadap makanan kurang, dan masih banyak lagi. 

Untuk itulah, dokter yang tepat, tentu akan mendukung keberhasilan program penurunan berat badan seseorang.

Dan mencari dokter yang tepat untuk konsultasi semacam ini memang tidak mudah. Karena perubahan gaya hidup, seperti program diet untuk penurunan berat badan ternyata juga membutuhkan dukungan menyeluruh tidak hanya sebatas obat dan pembatasan makanan.

Karena itulah penting untuk mencari sebuah layanan kesehatan yang mampu membantu masyarakat untuk mencapai penurunan berat yang ideal sekaligus mempertahankannya. Seperti layanan yang ditawarkan oleh lightHouse Indonesia, sebuah layanan kesehatan yang mengfokuskan diri pada program penanganan berat badan secara menyeluruh, baik secara psikologis atau pun dengan pengobatan. Hasilnya, tentu saja, sebuah gaya hidup yang ideal untuk kesehatan yang lebih baik.


You May Also Like

6 komentar

  1. Saya kalau nulis malam udh gosok gigi, jadi kalau mau ngemil rasanya males banget, btw itu pernah 65KG?? omaygat saya yg 57 aja udh panik mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ciyuss..... dua tahun lalu bobot saya segitu.

      Delete
  2. Replies
    1. ngonthel juga? Atau sedentary juga? he he he

      Delete
  3. Ngonthel itu klasik #asyiik, saya dulu pernah belajar sepeda motor, Mbak, tapi ujung-ujungnya balik lagi naik sepeda. Dan sekarang, di perantauan gak punya sepeda onthel, jadilah lebih klasik *jalan kaki* hehe (kecuali ada yang nganterin naik sepeda motor) :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.