Inspirasi dari Seorang Guru PMP; Akibat “Sesekali” Sesal Kemudian Tiada Guna,

by - 7/24/2016

rahayupawitri
Yang telah lewat akan susah untuk diperbaiki atau kembali,
karena itu berhati-hatilah dengan kata "sesekali"
(pic.source: pixabay.com)


Ini cerita tentang hari Sabtu kemarin.

Selama seminggu Hana sekolah, dan dengan up and down-nya kegiatan rumah-sekolah, saya berencana istirahat sejenak dari semua pekerjaan domestik. YAng biasanya bangun jam 2 atau jam 3, sesekali bangun pas subuh. Habis subuh biasanya sudah bolak-balik ngingetin Hana untuk bergegas, sesekali nyantai dulu.

Nyuci yang bisanya jam 6 pagi saja sudah beres, sesekali jam segitu malah baru beranjak ngopi cantik, karena kebetulan hana juga bangun siang. Jam 7 baru kepasar, dan jam 8 baru masak.

Hasilnya ....
Masakan baru siap jam 10, cucian baru kelar jam 11. Jemur, beres-beres bekas masak, dan akhirnyasetengah satu baru mandi.

Karena capek, habis dzuhur, langsung tidur sampai jam 3. Bangun sambil nuggu asar, beresin jemuran, bekas makan siang Hana, nyiapin air Hana mandi .... Tahu-tahu sudah jam 5 sore. Jiah .... Apalagi tulisan, pegang leppi aja nggak sempat.

Sesekali itu memang melelahkan. Allah yang Maha Kuasa, sudah mengatur hidup manusia untuk bangun lebih pagi, beresin urusan dan pekerjaan sebelum matahari terbit, agar di siang hari nggak gedubrak-gedubruk.

Saat duduk di bangku STEMBA, saya pernah mendengar nasehat dari salah satu guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Beliau terkenal dengan kebijaksanaannya dan sangat-sangat hati dengan urusan dunia. 

Intermeso sebentar tentang kehidupan Beliau. Jika Beliau mau, jabatan hakim ketua bisa Beliau pegang, tapi Beliau menolaknya karena menurut Beliau, kaki hakim itu satu di neraka dan satu id surga. Jabatan DPRD pun bisa dengan mudah Beliau pegang, tapi Beliau memilih untuk tidak mengambil jabatan tersebut, karena tidak ingin hiruk pikuk dunia politik, yang kadang kotor.

Nasehat yang paling saya ingat dari Beliau adalah 

“jangan pernah bilang sesekali. Karena sesekali bisanya akan diikuti dua kali, tiga kali, dan akhirnya menjadi kebiasaan.”

Apa yang Beliau katakan memang ada benarnya. Hanya karena sesekali pengen nyantai, saya malah nggak dapat kerjaan apa pun. Semua rencana menulis kacau, dan akibatnya kerjaan mala numpuk di hari ini.

Ini baru masalah nyantai, bagaimana bila kata “sesekali” berkaitan dengan hal-hal yang membuat seseorang kecanduan?

“Sesekali saja dong, Bu, aku bolos sekolah”

“Sesekali saja dong, dik, Abang ... Kan kita dah lama pacaran”

“Ayo, sesekali aja kamu negak, nggak ada yang tahu ini.”

“Sesekali ngisep nggak papa kan?”


Lain hari temannya akan bilang, “Alah, waktu itu nggak papa, ayo kali ini juga pasti nggak papa”. Lama-lama ...?

Wah, bahaya kan .... Hanya karena terpeleset “sesekali” bisa berakibat panjang, dan ketika sadar nasi sudah menjadi bubur, susah untuk dikembalikan seperti sedia kala. Seperti saya, waktu yang tidak digunakan dengan maksimal, bisa menjadi pedang, yang memberangus banyak hal. 

So, masih berani bilang “sesekali ... aja”?

You May Also Like

11 komentar

  1. Betul itu. Sesekali bisa membuat kita ketagihan dan lupa diri hahaha
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Pak dhe, teratur dan terencana mungkin lebih baik ya

      Delete
  2. Semoga kedepannya gak ada penyesalan lagi ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mbak. Seharusnya istirahat pun sebaiknya direncanakan.

      Delete
  3. Tapi kalau sesekali dalam kebaikan nggak papa kan ya? Sesekali baca buku, tau-tau keranjingan, hehe :)

    asysyifaahs.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya, ya, kalau yang itu mungkin malah boleh ya?

      Delete
  4. Hm.... aih, jadi takut juga nih bilang sesekali. Sesekali ngasih komen di sini, mudah2an ntar balik lagi dan ninggalin komen di artikel lain, boleh donk, Mba? Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau itu mah nggak boleh sesekali, harus sering he he he

      Delete
  5. iya mbak sesekali itu kadang jadi pembenaran utk ngelakukan hal2 bodoh
    aku juga banyak penyesalan soal masa lalu yg sering dibentengi dengan kata sesekali

    ReplyDelete
  6. Sesekali sering dijadikan alesan buat ngurang2i rasa bersalah padahal ya tetap salah.

    ReplyDelete
  7. Mak jleb, kebiasaan saya yang sering mengatakan pada diri sendiri, "Ah, sesekali aja," tapi dampaknya harus ekstra usaha untuk menghilangkan kebiasaan "sesekali" :(

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.