Tentang Warung yang Buka di Saat Puasa ....

by - 6/12/2016

Pic. source: Pixabay.com


Kemarin di timeline facebook, mampir sebuah berita yang di bagikan oleh seorang teman, tentang seorang ibu yang menangis karena jualannya diangkut Satpol PP. Tidak karena ia berjualan di tempat yang tidak semestinya, tapi karena ia jualan di siang bolong di bulan Ramadhan.

Entah kenapa, sejak Ramadhan ini saya menyetujui pendapat bahwa warung-warung tidak perlu menggunakan penutup atau ekstrimnya tutup, saat siang hari di bulan Ramadhan.

Sejak sebelum Ramadhan kemarin saya mencoba puasa sunah, alasannya sederhana saja. Kemana-kemana saya harus ngonthel, termasuk nganter sekolah Hana yang jaraknya dari rumah sekitar 1 Km, Kondisi jalanan ke sekolah Hana itu tidaklah mulus bahkan cenderung menanjak. Jadi saya pikir, tidak ada salahnya latihan puasa, daripada pas Ramadhan saya harus batal karena nggak kuat ngonthel.

Nggak mudah, lho prens, ngothel di siang bolong di perumahan pinggiran bekasi. Panasnya .... Tapi saya harus tetap menahan diri agar nggak mbatalin puasa kan? Kan? Meski ibu-ibu disekolahan Hana minum jus, ngopi, atau cemilan lainnya. Menahan diri untuk tidak nyolek-nyolek es doger Hana sepulang sekolah, meski badan panas dan punggung basah keringatan.

Ibadah itu bukannya tentang diri saya, urusan saya? Mau apapun terjadi di sekitar saya, saya nggak boleh protes. Apa karena saya puasa jadi semua orang harus ngumpet saat makan? Enggak kan? Paling mereka bilang “Eh, maaf ya” dan meneruskan menyuap makanan di depan saya.

So, kalau warung musti tutup, ibu jualan makanan harus brenti jualan di siang bolong hanya karena Ramdhan; ehm ... Nggak salah tu?

Untuk yang di warung-warung franchise mungkin menahan diri untuk tidak jualan si ya, santai-santai saja, duitnya mungkin dah banyak, investasinya bergelatakkan dimana-mana. Tapi gimana dengan para ibu penjaja yang menggantungkan penghasilan dari jualan? Jangan-jangan mereka harus buka puasa dengan air putih doang karena nggak ada duit untuk beli makanan.

Bukan warung yang seharusnya dikendalikan, tapi diri kita yang seharusnya mampu menahan diri. Apa beda puasa sunah dan puasa Ramadhan, hanya hukumnya saja kan? Intinya tetap latihan menahan diri.

Kalo saya sampai melambatkan sholat hanya karena teman update status pas adzan dan saya kegatelan komen; apa itu jadi salah teman saya? Enggak kan? Saya aja yang nggak bisa nahan diri.

Bukannya kalau anak-anak kita tanya mengapa kita harus puasa kita menjawab “Agar kita bisa merasakan yang keadaan dan perasaan mereka yang tidak bisa makan”?

Nah, kondisi “mereka” itukan memang “disekitar ada makanan, tapi mereka nggak bisa makan” to?

Lha kalau kita puasa dan meminta orang lain menyesuaikan diri dengan puasa kita; apa nggak aneh tu? Apa iya kita jadi bisa merasakan kondisi mereka yang sebenarnya?

Jadi kalau ada warung suka rela tutup, pasang korden, karena kita puasa; biarlah itu menjadi kebaikan mereka. Kita doakan semoga dagangan mereka laris dan berkah. Tapi kalau mereka nggak mau, ya sudah. Puasa ini puasa kita, urusan kita sama yang Kuasa. Ada atau tidak ada warung buka, kita tetap bisa dan harus puasa. Dah, ah! Mau ke pasar dulu.

Update: jam 13.00

Selain menulis disini, saya juga membuat status di facebook yang intinya sama dengan yang saya tulis di atas.

Tapi ada salah satu kawan yang komen, karena menjual makanan kepada muslim yang tidak berpuasa di siang hari (belum mendekati buka puasa) itu tidak boleh. Harus ada alasan Syar'i, dan tidak boleh makan di tempat, baru pesanan orang tersebut boleh dilayani.

Penasaran, saya tanya karib yang lebih paham, apakah benar demikian? Sambil nunggu jawaban, saya mencari di google. Ada beberapa sumber, tapi saya lebih paham membaca tulisan dari konsultasisyariah.com (https://konsultasisyariah.com/24992-hukum-buka-warung-di-siang-ramadhan.html) diunggah tanggal 11 Juni 2015.

Disana disebutkan bahwa para ulama telah berfatwa agar warung-warung makan tutup di siang hari. Silahkan baca sendiri ya, pada link-nya. Saya tidak bisa merangkumnya disini, takut salah.

Setelah membaca tulisan tersebut, menurut saya tidak mengapa satpol PP merazia, tapi tanyakan dulu apa sudah paham dengan hukum dari Tuhannya, bahwa apa yang pedagang makanan lakukan tersebut berarti membantu bermaksiat pada Allah? Apa sudah ditanya pembelinya, apakah tidak puasa karena alasan sesuai syar'i? dsb, dsb.

Jika ia tetap bandel, mangga jika dagangannya diambil sambil disebutkan bahwa yang petugas lakukan adalah mencegah pedagang berbuat maksiyat. Disebutkan juga bila dagangan bisa diambil kembali sore harinya. Jadi, ujungnya bukanlah tentang "karena undang-undang" tapi" Amar Ma'ruf Nahi Mungkar".

You May Also Like

17 komentar

  1. Nah ini dia...
    Saya setuju dengan ulasan mba Rahayu...
    Namun bukan berarti saya ga setuju dengan kebebasan menjual makanan matang maupun mengonsumsinya secara terang-terangan di bulan Ramadhan.

    Dalam satu sisi memang benar, semua tergantung pada niatnya...
    Namun,,,itu berlaku bagi orang Islam yang sudah baligh...
    Lalu bagaimana dengan nasib anak kecil yang sedang latihan puasa????

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya mengambil contoh pada anak saya sendiri dan juga teman-temannya di sekitar sini ya, mas. Kalo saya mereka itu malah kadang lebih lurus lho dibanding kita yang sudah besar ini.
      Beberapa teman anak saya tidak puasa, yang puasa nggak masalah tu ada yang makan, toh banyak dedek bayi yang ngemil juga kan? teman non muslimnya juga banyak, dan anak-anak yg puasa juga nggak tergoda kok.
      Saya tidak tahu kalau ditempat lain, tapi Alhamdulillah kalau disekitar rumah saya seperti itu.
      Oya, terima kasih sudah mampir

      Delete
    2. Ya lingkungan mba Rahayu berarti bagus tuh tuk masa depan anak-anak.

      He he, namun pada umumnya di lingkungan lain,,anak kecil ya ngiler ah kalau liat ada temannya lagi makan,,,apalagi jika mereka melihat orang dewasa yang sedang makan.

      Hmm, awal saya melatih anak tuk berpuasa juga cukup perjuangan mba. Di mana waktu itu, anak saya melihat adiknya yang tengah makan saja,,, malah pengin ikut makan.

      Delete
  2. Seharusnya pemerintah mensosialisasikan perda tersebut jauh jauh hari sebelum ramadhan sehigga mereka tahu kalau masih bandel baru ditindak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, pak Dwi. Mungkin ada prosedur yang terlewat, jadi rame deh

      Delete
  3. Suka tulisannya mbak. Buat saya pribadi juga itu kembali ke pribadi masing masing, tanyakan niatnya. Yang tidak puasa bukan hanya yang non muslim tapi bisa jadi anak kecil, ibu hamil, sakit, orang tua, dll. Saling tahu diri saja. Disini tentu saja gak ada toko/resto yang tutup karena bulan Ramadhan, godaannya lebih banyak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. He he he, larangan itu memang hanya berlaku di mayoritas negara muslim mbak (indonesia maksudnya, entah kalau negara lain). Kabarnya di eropa malah sampe lebih deari 12 jam ya, mbak? Wah, dobel tantangan tu :)

      Delete
  4. Berjualan itu hukumnya mubah. Boleh-boleh saja. Selama yang dijual barang yang bermanfaat.
    Termasuk, tidak ada larangan berjualan makanan di bulan ramadhan.

    Saya setuju ulasan mbak Wiwit, bila pedagang memilih libur atau menutup warungnya dengan kain itu menjadi kebaikan bagi dirinya sendiri karena diniatkan untuk menghormati bulan penuh berkah ini.

    Jadi sangat disayangkan tindakan satpol pp atau ormas yang mengobrak-abrik warung makan (kalo yg dihancurkan miras ya saya dukung, hehehe)

    Tindakan semena-mena ini tidak membawa kebaikan bagi umat hanya menimbulkan imej jelek.

    Akan lebih baik bila semua aturan disosialisasikan dan diberi solusi yang melegakan semua pihak.

    Nice share mbak Wit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak Za, syukurlah jika memang hukumnya mubah. Aku kawatir aja orang salah persepsi, dan hanya menyalahkan yg lain karena toleransi. Buatku ini bukan sekedar toleransi si.

      Delete
  5. Merujuk pada kasus di Serang itu, yang saya sesalkan sebenarnya bukan tentang hukum atau tindakan yang dilakukan petugas (itu mah tentang kebijakan, biarlah mereka yg ngurus, kita hanya bisa menilai). Tapi saya sangat kecewa dengan CARA yang dilakukan petugas. Terkesan kasar dan gak sopan, pendapat saya. Si Ibu kan sudah tua, harusnya mereka lebih menghormati dan menunjukkan sedikit sopan santun. Ini mah malah dibentak2, udah gitu keroyokan lagi razianya.

    Ironis. Terkadang 'tugas' dan 'kewajiban' bisa membuat kita lupa dengan 'attitude'.

    Anyway, nice post, mbak. Hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga ga tega ngliatnya. Kita ini kan bangsa Indonesia, masak harus sampe dengan emosi gitu.

      Oya, terima kasih sudah mampir.

      Delete
  6. Terus terang kemarin banyak banget berseliweran status ini di FB, tapi saya menahan diri tidak komentar.

    Yang saya tahu memang di daerah Pasar Rau, Serang itu katanya sih dari dulu memang siang hari buka, dan banyak yang makan di situ, yang notabene mungkin bukan orang yang tidak diwajibkan berpuasa.

    Aturan Perda ini juga sudah lama, sejak beberapa tahun yang lalu, seingat saya memang sudah ada. Dan kemarin juga sudah ditempel di semua warung makan, termasuk di warungnya ibu ini. Alasannya sih ibu ini tidak bisa baca. Tapi setelah di razia pun, masih menurut koran, hari ini pun si ibu masih berjualan.

    Saya tidak setuju dengan cara aparat yang melakukan razia seperti itu, tapi saya juga tidak setuju jika yang melanggar peraturan malah dibenarkan. Kalau baca di berita, lokasinya di Pasar Rau, ya berarti mirip2 dengan tanah abang, cuma skala kecil. Nah, setahu saya yang dilarang adalah makan terang-terangan di tempat. Kalau misalkan beli makanan untuk di bawa pulang biasanya diperbolehkan. Banyak kok yang menjual makanan siang-siang di Pasar Lama Serang, tapi ngga kena razia. Karena memang mereka menjual makanan (seperti ketan bintul, cuwer, dll) untuk dibawa pulang. Mereka tetep laris manis, bahkan yang beli pun antri.

    Jadi saya pribadi, saya tidak suka aksi yang keras penuh emosi begitu, tapi saya juga tidak mendukung jika orang yang melanggar peraturan dibiarkan. Karena kalau dibiarkan, lama-lama akan menular tidak terkendali. Kemudian, bagi saya pribadi, berlaku prinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Saya bukan orang Serang, awalnya saya pun terkaget-kaget, tapi lama-kelamaan saya terbiasa. Saya yakin, pemerintah daerah Serang, sebelum memutuskan perda itu juga telah berdasarkan pertimbangan dari para alim ulama dan MUI. Jadi mungkin tinggal ditinjau bagaimana cara yang baik untuk menertibkan warung2 yang tidak mau mematuhi peraturan.

    Duh, jadi panjang ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berita ini memang menjadi besar karena sikap aparat yang kurang menimbulkan simpeti ya, mbak. Kalau saya pribadi memang tidak masalah buka atau tidak buka, budaya di daerah saya juga begitu, dengan catatan, memang di bawa pulang (biasanya orang sudah malu sendiri kan kalau seharusnya puasa tapi malah tidak menjalankan?).

      Terus terang saya juga agak nggak sreg kalau hanya karena berita ini begitu ramai di sosial media, kemudian pemerintah tiba-tiba menghapus PERDA, reaktif, tapi blm tentu solutif. karena itu dalam tulisan di atas, saya tetap memilih berpegang pada fatwa ulama, karena Indonesia memang negara dengan mayoritas muslim. Dan ya memang benar, mbak, seharusnya cara menertibkannya yang harus ditinjau; seharusnya menjadi Amar ma'ruf Nahi mungkar, bukan sekedar pelaksanaan undang-undang.

      Delete
    2. Saya masih bingung sih Mbak dengan berita ini, masih simpang siur. Ada yang bilang framing pemberitaan di awal oleh salah satu stasiun tv. Entahlah, mana yang betul. Tapi katanya sekarang, tv tv yang lain udah mulai cover both side. Yang saya khawatirkan sih, bangsa ini gampang tersulut emosi, yang nantinya malah menimbulkan anarkis. sesama bangsa sendiri malah saling gontok-gontokan. Mudah-mudahan sih ngga begitu ya Mbak.

      Delete
    3. Feeling saya juga kesana mbak. Semakin riuh. Media itu kadang juga agak aneh, sering ada beberapa bagian yg di cut demi sebuah kepentingan. ABCD, bisa menjadi A dan langsung C saja. Waktu itu ada kan teman blogger yang unggah status seperti itu.

      Saya juga kawatir mbak, karena naga-naganya kok jadi kayak PEMILU tahun kemarin ya? Harapan saya si, enggak.

      Delete
  7. Bener banget mba memang selalu saja ada oknum tertentu yang membuka warung di siang bolong saat bulan puasa. Ehh tapi sih kalau di lirik sedikit warung tersebut seperti tutup dan ada papan tanda tutup tapi kalau di lihat lebih jelas apalagi sampai masuk ke dalam sungguh miris warung tersebut buka dan menyediakan berbagai macam masakan dan lebih miris nya lagi ada pula yang makan di tempat tersebut
    Untung saja permasalahan itu kemarin di tangkas rajia satpol PP . tapi saya yakin masih ada warung-warung seperti itu yang belum saya tahu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seingat saya, dari dulu budayanya memang seperti itu mas. Dimana-mana ya, seperti itu, tapi kalau sampai ada penyitaan dagangan kok baru dengar ya. Atau dulu mungkin ada tapi saya tidak tahu.
      Kalau saya si, lebih suka ditegur dan diperingatkan saja, seperti di tulisan di atas, amar ma'ruf nahi mungkar.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.