{Mati Kutu #2] Saat dapat Pertanyaan Sulit dari Anak ....

by - 4/10/2016

pertanyaansulit_pertanyaansulitanak

Prens, sering nggak sih, ditanyain anak pertanyaan sulit; yang seringnya bikin kita kelimpungan nge-jawab?

Saya sering banget tu, ngalamin  momen-momen seperti itu. Bener-bener mati kutu. Kalo nggak tanyanya yang beruntun seperti peluru, atau dijawab satu muncul 10 pertanyaan; kadang Hana tu tanya nggak lihat-lihat tempat. 

Iya, orang bilang menjadi orangtua itu harus terus belajar; mulai dari cara mendidik anak sampai nguplek ilmu lama agar saat anak bertanya pertanyaan sulit bisa menjawab tanpa gagap.

 “Kenapa capung terbang banyak saat mau hujan?”
 Atau 
“Bagaimana kuning telur bisa pas di tengah-tengah putih telur?” 

Sepertinya, itulah resiko menjadi orangtua generasi Z, harus siap mejawab pertanyaan berondongan pertanyaan kapan saja dan dimana saja. Tapi, tentu saja kadang orangtua terpeleset juga, terjebak pertanyaan yang begitu melelahkan atau malah canggung untuk di jawab. Saya sendiri seringkali terjebak pada situasi semacam ini. 

Dirumah kebetulan ada banyak buku, mula dari buku kepengasuhan, agama, atau ilmu-ilmu pengetahuan dasar. Disinilah kadang saya merasa terjebak dengan pertanyaan sulit putri kecil yang seolah tiada henti. 

Saya sadar dan tahu bahwa menjawab pertanyaan anak tidak boleh asal, harus bisa menghantarkannya pada logika, dan menjawabnya pun harus dengan bahasa yang mudah dipahami anak. 

Tapi kadang saya tak punya pilihan lain, saya terpaksa mengeluarkan lima jurus di bawah ini untuk sekedar menghentikan ia bertanya.

Lima jurus nge-less saat mendapat pertanyaan sulit

Disclaimer: jurus nge-less ini hanya boleh dicopy saat terpaksa saja ya, nggak boleh setiap saat; otherwise, your children won't believe you anymore. 

 #1. “Tunggu adik besar, ya, nanti adik akan tahu jawabnya kalau sudah besar”

Ini jawaban yang paling mudah untuk segera “menghilang” dari kejaran pertanyaan anak. Karena sungguh, pertanyaan “Mengapa harus ada angka “0” sebelum angka 1” itu tidak enak dijawab pada saat jam menunjukkan pukul 22.00 dan mata terasa memberat.

 #2. “Boleh di jawab lain kali nggak?”


Hana seringkali melontarkan pertanyaan rumit di sembarang waktu. Dan saat ia bertanya di atas angkot tentang bagaimana anak kucing masuk ke perut ibunya; saya terpaksa berkata akan menjawabnya lain kali. Yah, untunglah dia pun selalu setuju dengan jawaban itu (meski tetap akan ia tagih lagi jawabannya nanti). 

#3. Mengalihkan pembicaraan  
Terkadang, tiba-tiba saja ia ingat isi salah satu buku anatomi yang pernah ia baca dan ingin mendiskusikannya. Sayang, namanya juga anak-anak, ia bertanya tanpa melihat waktu dan tempat. Hari itu kami bersiap hendak makan malam ketika tiba-tiba ia bertanya “Apakah perutku seperti tempat sampah itu karena banyak makanan yang ku makan?” Sedetik saya tertegun, membayangkan bagaimana makanan tercerna dalam perut sebelum akhirnya berkata “Bisa ambilkan sendok diatas rak piring itu?”

 #4. Jawab asal 

Ketika akhirnya ia menagih jawaban mengapa harus ada angka “0” sebelum angka 1, saya terpaksa menjawab “Hmmm ... Angka 0 ada untuk menemani angka 1, membuat angka 10.” Terus terang, saya bukan seorang jenius yang bisa menjelaskan proses relativitas angka 0 pada anak umur 5 tahun. 

#5. "Itu sudah kehendak Allah" 

Kami mempunyai kegiatan ngobrol sebelum tidur. Entah itu ngobrol tentang dongeng yang baru dibaca, atau sekedar mengenang masa kecil Hana. Tiba-tiba dia bertanya, “Ibu, kenapa aku cewek, kan katanya ibu suka punya anak cowok?” Adakah jawaban yang lebih tepat selainberlindung kepada Allah untuk menghentikan pertanyaannya?

Bagaimana dengan Sahabat; pernah terjebak situasi awkward atau kesulitan menjawab pertanyaan sulit si Kecil juga? Apa trik Sahabat untuk "bersembunyi" sebentar dari berondongan pertanyaan mereka?


Oya, untuk Sahabat yang butuh tambahan ide untuk pertanyaan sulit anak, Asian Parent Indonesia punya beberapa jawaban bantuan pada artikel berikut ini:

10 Ide Menjawab Pertanyaan Sulit dari Anak dan Sex Education: Dari Mana Datangnya Adik Bayi, Ma?

You May Also Like

4 komentar

  1. Sikap anak yang kritis memang mau tidak mau membuat sebagai orang tua harus tetap mengupgrade ilmu ya mbak. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mbak. habis gimana ya, kadang ada anak yang kesel juga kalo bolak-balik tanya tapi jawaban ortu nggak tahu mlulu

      Delete
  2. Wah jurusnya boleh juga tuh mbak, nanti saya pakai jurus dari mbak kalo saya sudah punya anak mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi jangan sering-sering ya... kasihan anaknya. Kalo terpaksa aja,

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.