Kemana Perginya Sopan Santun?

by - 4/11/2016

sopansantun

Cerita 1
Seorang anak umur 6 tahun masuk ke dalam ruang tunggu sebuah lembaga bimbingan minat baca bersama ibunya.

Ia berlari menuju dua orang ibu yang duduk di lantai. Dengan santainya ia berdiri diantara dua ibu tadi, berusaha mengambil sebuah gambar yang tertempel tepat di atas kepala salah satu ibu. Sementara di seberang ruangan ibu si anak tadi malah duduk, dan langsung asik dengan handphone-nya.

Cerita 2

Sebut saja namanya ibu Fulanah. Disebelah rumah ibu Fulanah, tinggal pasangan muda yang sama-sama bekerja. Meskipun tinggal di komplek perumahan, pasangan tersebut  memelihara banyak ayam di halaman belakang rumah kontrakan mereka.

Suatu hari salah seekor ayam pasangan muda tersebut lepas. Karena bagian belakang rumah mereka dikelilingi oleh pagar seng yamg tinggi, si ayam tidak bisa kembali ke kandang. Akibatnya, belakang rumah ibu Fulanah yang biasanya digunakan untuk menejmur pakaian, penuh dengan kotoran ayam.

Ketika sore hari pasangan muda ini pulang, ibu Fulanah meminta kepada mereka untuk segera mengambil ayam mereka yang lepas. Ibu Fulanah merasa kelelahan karena harus bolak-balik membersihkan kotoran ayam yang berceceran hingga ke depan pintu belakang rumah bu Fulanah.

Bukannya meminta maaf, dengan muka dingin dan ketus pasangan muda ini berjanji akan mengambil ayam mereka yag lepas keesokan harinya.

Ahay, ...
Kemanakah perginya Sopan Santun? Apakah kami para orangtua telah lupa mengenalkannya pada anak-anak muda itu, hingga saat ia mengetuk pintu, anak-anak kami malah asik dengan games dan sosial media di tangannya?

Acap kali kita mendengar keluhan tentang anak remaja yang tak mau diatur, berani melawan kepada orangtua, bahkan merasa tidak sungkan memaksa dosen menyesuaikan jadwal konsultasi, padahal sudah jelas si mahasiswa yang butuh.

Saya tidak tahu sejak kapan sopan santun pergi, hingga ia lupa jalan pulang ke keluarga kita.

Apakah nasehat bahwa orangtua yang ideal adalah orangtua yang bisa menjadi teman anak telah di salah artikan; hingga sopan santun kepada sesama dianggap sebagai gila kehormatan? Untuk itu ia wajib untuk disingkirkan, dibuang jauh-jauh?

Atau ini karena pengaruh mudahnya akses tontonan dari negara diujung barat sana? Negara yang konon kabarnya mereka tak memiliki unggah-ungguh kepada orangtuanya?

Tapi tunggu, bukankah saat ini mereka berprinsip "Karakter adalah yang penting dalam pendidikan anak. Matematika, science juga penting. Tapi toh kebanyakan mereka hanya akan menggunakan tambah dan kurang dalam kehidupannya. Jadi, karakter dulu baru ilmu. pengetahuan."

Mereka juga berprinsip, bahwa kata "tolong", "maaf", "dan "permisi" harus menjadi nilai yang diajarkan dalam keluarga.

Jadi, apa kira yang menjadi penyebab Sopan santun pergi dari rumah kita?
Apakah kita telah lupa cara menurunkan nilai-nilai pada anak-anak kita?

Sepertinya PR kita sebagai orangtua bertambah satu lagi; mengembalikan Sopan Santun ke rumah-rumah kita.


You May Also Like

14 komentar

  1. duh iya maak...
    sedih liat anak2 yang gak sopan sama orang yg lebih tua. kadang suka disamain aja, berani dan percaya diri dengan tidak sopan -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mak. PR buat kita ya, karena itu berarti ada salah transfer nilai-nilai keluarga kan. Mumet juga ngliatnya.

      Delete
  2. Saya sebagai salah satu anak muda jujur juga merasa malu. Dulu sewaktu kuliah, dan aktif berorganisasi saya dan teman - teman selalu berupaya menumbuh kembangkan semangat 5 S kepada semua orang, yaitu senyum, salam, sapa, sopan, santun. Bagi organisasi lain yang kelihatan mentereng mungkin itu suatu hal yang biasa saja (karena mereka lebih sibuk berbenah urusan luar macam demo dll) tapi bagi kami, ini pencapaian yang luar biasa.
    Semoga, sedikit apa yang sudah dilakukan mampu untuk membenahi mental pemuda ya bu, aamiin.
    ohya, saya baru pertamakali mampir disini. saya ijin untuk memfollow. terimakasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, keren, apa yang adik lakukan sungguh layak untuk diapresiasi. Senang mendengarnya bahwa saat ini masih ada anak muda yang perduli dengan hal sedemikian.
      Terima kasih untuk berkunjung, dan juga follownya.

      Delete
  3. Iya mbak. Sangat terasa setelah jd ortu. Tapi jangan-jangan aku juga pribadi yang kurang sopan nih... #introspeksi

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak cuma kamu dik, aku juga. nilai-nilai yang kita pahami dulu sudah jauh berbeda. sambil nyari jawabnya, ayolah berbenah diri

      Delete
  4. Anak2 jaman sekarang mah mbak sangat jauh berbeda dengan anak2 jaman dulu, tidak tahu knp mungkin jaman yang berbeda ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. seharusnya, jaman berubah seperti apapun, nilai-nilai dasar tidak boleh berubah. tapi mungkin kita para orangtua yang keliru mentrasfernya. Mari koreksi diri

      Delete
  5. Klo sudah ada ayam di komplek memang serba susah ya mb
    Di depanku, tetangga jauh lebih tua sih tapi bilin kandsng ayamnya tepat di depan rumahku, pagi biasanya dilepas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama nggak mengotori pekarangan si sebetulnya tidak masalah; tapi kalo sudah mengganggu kenyamanan, wah .... lagian kandang kan harusnya 20 meter dari rumah bukan?

      Delete
  6. Semua, berawal dari kekuarga, bimbingan yang kita berikan. Semoga kita memiliki generasi penerus yang bisa diandalkan, baik akhlak dan budi pekerti serta jujur.. Aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Mbak. Masalahnya saat ini kita sudah ribut anak nggak bisa baca, tapi nggak pernah sedih kalo anak nggak tahu sopan santun. Benar-benar PR ni

      Delete
  7. Kemana ya? Sudah ditanya belum? Heheee.... Pernah ada anak kecil yg nggak sopan. Tadinya aku diemin krn aku msh mikir jangan2 dulu anakku jg gitu tp krn aku ibunya jd aku nglihatnya lucu aja. Tp waktu kelakuannya menjurus membahayakan dirinya sendiri, aku tegur dia. Eh, ibunya mlengos & mlerok. Padahal udah aku selametin anaknya yg kyk monyet itu. Kalau nggak, udah nangis meraung-raung dia diliput media krn anaknya celaka. Naudzubillahi min dzalik. Ya gitu deh, kembali ke ortunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah mak Lusi, sudah ku tanya kemana-mana, sama anak muda yang lagi nongkrong itu, siapa tahu dia lihat si sopan dan santun eh, katanya malah nggak kenal he he he
      Iya, mak, apa pun itu, orangtua memang panutan anak yang pertama

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.