Belajar Jualan...

by - 10/20/2014

Menjelaskan benefit/ keunggulan produk kita,
juga bisa membantu jualan sukses

Waktu itu pernah diajakin sama teman utuk jualan buku edukasi Islami. Tapi saya beralasan, kalo saya tu ga pandai jualan. Alasannya karena malu nawarin ke orang. 

Iya, saya ini orangnya gengsian setinggi langit. Meski sering ngiri dan selalu kepengen kalo lihat teman-teman yang pandai jualan. Padahal, saya ini punya cita-cita jadi enterprenuer, lho; tapi entah, susyeh kali ngikis si Gengsi itu. 
Akhirnya, saya juluki "si Gengsi" itu sebagai si Musuh Besar. Sesuatu yang harus saya kalahkan kalo saya pengen maju dan naik kelas. 

Makanya, waktu masuk Oriflame, mau ga mau harus tebelin muka, kuatin hati untuk nawarin. Kok? Lha, iya, bukan rahasia kalo banyak orang masih antipati dan trauma dengan namanya MLM. No matter how good the product is, masiiihhh aja ada yang memandang sebelah mata MLM.

Padahal kan ga semua MLM jelek dan hanya memanfaatkan member atau malah menjadikan downline pijakan untuk kaya,
Tapi, teteeepppp, anggapan itu masih saja sama.
https://m.facebook.com/Citra.Marboen?v=info&refid=17
Malu hati lah, sama Leader Oriflame
yang begini, ni
So, begitu nyemplung Oriflame, yo, antepin aja. Tantangannya memang jadi double, menawarkan plus membawa nama MLM yang belum bersih itu.
Karena itu saya banyak belajar dari upline, ikut training online, keep in touch dengan jaringan, dan baca juga bagaimana memasarkan dengan cantik dan tetap di jalur kode etik Oriflame (memasarkan Oriflame ternyata ada kode etiknya lho, seabrek malah). 

Dengan semakin sulitnya jalan ternyata kemudian memunculkan banyak ide. Untuk Oriflame, saya sedang menyusun sebuah blog kecantikan yang rencananya akan berisi review produk Oriflame, juga beberapa tips kecantikan yang bermanfaat (Insya Allah reviewnya jujur).

Hasil belajar itu, juga membantu usaha saya yang lain, yaitu jualan nugget non-msg/ pengawet. Jualan nugget begini, juga butuh usaha, mirip Oriflame. Yaitu meyakinkan pelanggan bahwa produk yang kita tawarkan bagus dan sebanding dengan harga yang dibrandrol.

Butuh meng-edukasi pembeli dulu (lebay dikit boleh ya...) menjelaskan apa kelebihan produk yang saya tawarkan dibanding produk sejenis. Saya mengakalinya dengan menempelkan kertas pada termos juga plank yang saya pasang di depan rumah.

Is it work? So far, yes. Rata-rata saya bisa menjual 10-15 produk dalam sehari, meski ga menggelar lapak di pasar.
Makin yakin sekarang untuk jualan. Dan Insya Allah, si Musuh besar itu, akan kalah nanti...

You May Also Like

1 komentar

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.