Menulis; Mengapa Semua Orang Lebih Baik Menguasainya

by - 9/24/2014

Ada banyak manfaat yang bisa Anda peroleh dari kegiatan menulis

Sore ini seorang teman curhat kepada saya, ada seorang guru yang memiliki masalah. Delapan tahun sebagai guru pada sebuah yayasan bergaji 1.5juta/ bulan. Ketika sudah sertifikasi, mendapat tambahan uang sertifikasi setahun sekali sebesar 5juta.

Namun sayang, tambahan gaji setahun sekali ini masih dipotong 50% oleh Yayasan dengan alasan untuk dibagi-bagi dengan mereka yang belum tersertifikasi. Merasa perlakuan Yayasan tidak adil, Beliau ingin berbagi dengan dengan media, namun tak tahu bagaimana menuliskannya.

Kali ini saya tak ingin menyoal tentang ketidak adilan diatas, namun saya ingin menyoal tentang bagaimana menuliskannya.

Mengapa Kemampuan Menulis Sebaiknya Anda Kuasai

Sebetulnya menuliskan persoalan sendiri tentulah mudah, terlebih mengungkapkan persoalan yang kita alami sendiri. Saat mengikuti pelatihan menulis artikel pun, saran latihan menulis pertama, juga tentang persoalan atau pengalaman sendiri.

Karena tentu saja kita lebih mudah menuliskannya dan tentu tidak akan mengalami writers blok atau kebuntuan ide.

Biasanya rasa kebingungan muncul HANYA karena belum terbiasa menulis, mengurai apa yang dipikirkan kedalam tulisan. Sayangnya lagi, jika tidak ada motivasi yang kuat, orang cenderung untuk malas memulai latihan menulis.

Padahal, manfaat menulis ini telah banyak diklaim sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah. Menulis membuat kita mampu melihat akar sebuah masalah, sehingga penyelesain pun mudah untuk dicapai.

Menguraikan masalah melalui tulisan juga akan membantu orang lain untuk memahami kronologi masalah yang kita alami. Dan bisa jadi, membantu kita menemukan penyelesaian masalah pula.

Masih ingat 'kan kasus matematika 4x6=6x4 yang sedang ramai dibicarakan itu. Dari guru besar, sampai Wikipedia pun ramai membicarakannya. Entah itu memberikan pembenaran, solusi atau hanya sekedar mengomentari (eh, bedanya apa, ya? he he he). Itulah mengapa kemampuan menulis sebaiknya Anda kuasai.

Untuk contoh masalah sang Guru diatas, bisa saja Beliau memulai dengan menuliskan apa yang ia Beliau rasakan sekarang; apakah sedih, galau, kesal, atau jengkel setengah mati.

"Saat ini saya sedang merasa kesal, bahkan sangat marah atas ketidak adilan yang saya alami. Coba Anda bayangkan .... bla...bla...."

Atau mungkin yang sedikit lebih jaim

"Sebagai seorang guru, sesungguhnyalah saya merasa malu mengungkapakna hal ini. Karena saya kawatir jika tulisan saya ini akan mencederai ketulusan saya mengabdi sebagai guru. Namun ketidak adilan ini haruslah saya ungkapkan karena .,... bla... bla..."

Mudah bukan? So, let's start to write!

You May Also Like

6 komentar

  1. Ada baiknya ditulis saja mbak persoalan guru tsb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Saya dengernya juga geram. Tapi saya ga kenal je, sama Bapak/Ibu Gurunya ini. Mungkin juga Beliau kurang nyaman jika harus dipublikasikan. Makanya saya cyuma bisa menulis dari sisi kesulitan menulisnya saja.

      Delete
  2. Menuliskan pengalaman sendiri bisa membantu agar tulisan kita bisa begitu mengalir

    ReplyDelete
  3. Kebalikan dari saya ya Mbak, saya lebih mudah menceritakan orang lain (Mudah2n bukan bakat ghibah!) xixixi..
    Itulah... tulisan bisa mencerminkan sifat penulisnya ya. Mungkin saya termasuk orang yang tertutup? *maybe...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting nama asli disamarkan to, mbak. Dan jika bisa dipetik pelajarannya mengapa tidak?

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.