Pornografi dan Sarkastik dalam Tayangan Komedi

by - 7/18/2013



Beberapa hari lalu, salah seorang mentor kepenulisan saya, mengajak untuk membuat script komedi. Beberapa kali saya mengajukan selalu juga salah. Komentar Beliau, cerita saya terlalu flat. Akhirnya Beliau menyarankan untuk sering menonton acara-acara komedi. Penasaran dengan rasa ke-komedian saya, akhirnya saya nonton juga beberapa tayangan komedi di televisi. Dan malam ini, saya nonton salah satu tayangan dengan genre tersebut, yaitu Stand Up Comedi yang tayang di Metro Tv.

Saat salah seorang perserta kontesnya  manggung, saya kok ga bisa ketawa ya, senyum aja susah. Terus terang saya kurang cocok dengan gaya komedi sang kontestan yang, menurut saya, terlalu banyak mengekspos unsur komedi dari sisi pornografi dan sarkastik. Seperti kalimat, “Pel***r kalo main di... maka gratis, dan “itu yang didepan asisten saya. Dia bagian megangin... Nah, kalo saya pipis, dia bagian megangin ****(off the record) dan masih banyak lagi.

Bagi saya, komedi yang baik, seharusnya tetaplah tidak mengandung unsur sarkastik apalagi pornografi. Entah karena sense humor say yang terlalu konvensional atau karena alasan lain. Namun, ada satu hal pasti yang saya selalu ingat, bahwa Rasul sendiri, melarang kita bercanda yang berlebihan. Sabda Nabi


Berdasar Hadis Nabi diatas, saya melihat bahwa apa yang dikatakan sang kontestan, dapat digolongkan dalam sebuah kebohongan. Contohnya pada saat ia mengatakan cerita asistennya tersebut (bagi orang normal, tentu statement seperti diatas sangat bohong bukan?)

Jadi, bagi saya pribadi, saya lebih suka memilih untuk tidak dibilang lucu daripada harus membuat orang tertawa dengan perkataan yang kasar, menghina atau malah porno. Dan, masih menurut saya, tayangan sedemikian sebaiknya dikoreksi kembali oleh pihak televisi. Meskipun beberapa kata telah disensor, namun tetap saja kandungan bullying dan pornografinya masih bertaburan di sepanjang sang kontestan manggung. Sungguh sangat disayangkan bagi stasiun televisi sekaliber Metro TV. 
 

You May Also Like

2 komentar

  1. Entah kenapa kok gak pernah pakai disensor. Sayang seribu sayang yaa mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo disensor iya, tp ga full. cuma dikit kalo pas ngomong yang terlalu vulgar. tp keseluruhan konten si, tetep...

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung; silahkan tinggalkan komentar, namun mohon untuk tidak meninggalkan link hidup, ya.